
Perlahan Blaire membuka mata, ketika Christian menghentikan ciumannya. Seperti sebuah mimpi bagi seorang Blaire, karena dirinya dapat merasakan hal demikian. Seberapa istimewa apa yang pria tampan tersebut lakukan padanya, Blaire pun tak dapat mengukur dengan pasti.
"Tidurlah," ucap Christian. Suara pria berambut gelap itu terdengar sangat lembut tapi juga dalam. Dia tampak memejamkan mata.
"Apa kau baru saja menciumku, Chris?" tanya Blaire tak percaya.
"Aku tidak memiliki cara lain," sahut Cristian biasa saja.
"Apa itu berarti kau tidak akan melakukannya andai aku tidak banyak bicara?" tanya Blaire lagi.
"Aku sudah tidur dan tidak mendengarmu, Blaire," ujar Chirstian yang mulai lelah dengan sikap gadis itu. Entah mengapa, seorang Christian yang irit bicara harus dihadapkan pada gadis berisik seperti Blaire. Di satu sisi, Christian merasa begitu lelah. Akan tetapi, di sisi lain dia juga seakan mendapatkan sesuatu yang baru. Kehadiran Blaire yang dia anggap sebagai seorang penganggu, terkadang membuat dirinya dapat menyunggingkan senyuman, meski hanya sebuah lengkungan samar.
"Apa kau sudah tidur, Chris?" tanya Blaire lagi beberapa saat kemudian. Dia menoleh kepada Christian yang sudah memejamkan mata dan tak merespon dirinya lagi. "Astaga, kau tidur cepat sekali," ujar Blaire. Iseng gadis itu memutuskan untuk bangkit dari pembaringan. Dia lalu berdiri di dekat jendela kaca. Blaire melihat keluar dan mencoba untuk mencari tahu apa yang terjadi.
Suasana di depan motel tempatnya menginap malam itu sudah cukup sepi. Di jalanan hanya ada satu dua saja kendaraan yang lewat. Tak lama kemudian, Blaire melihat ada sedan lain yang berhenti di belakang mobil yang Christian anggap sebagai milik si penguntit.
Dari dalam mobil itu, keluar dua orang pria. Salah seorang dari mereka berperawakan tinggi dan agak kurus, sedangkan yang satunya lagi sedikit lebih pendek. Mereka berdua memakai mantel hitam dengan panjang di bawah lutut. Keduanya pun sama-sama mengenakan topi fedora hitam.
Kedua pria itu tampak berbincang, dengan seseorang yang baru keluar dari sedan yang telah terparkir sejak tadi. Salah satu dari mereka juga menunjuk pada motel dua lantai di mana Blaire dan Christian berada. Entah apa yang mereka bicarakan saat itu. Akan tetapi, dari bahasa tubuh yang terlihat, jelas menunjukkan bahwa mereka bukanlah orang biasa.
Merasa aneh dan juga takut, Blaire kembali ke atas tempat tidur. Sementara Christian tampak sudah terlelap dengan tangan yang masih terulur lurus ke samping. Gadis itu pun kembali merebahkan diri di dekat pria tadi. Dia yakin bahwa Christian bisa menjaga serta melindunginya dengan baik, meskipun sebenarnya Blaire teramat penasaran dengan para pria bermantel hitam di luar sana.
Blaire akhirnya memaksakan diri untuk memejamkan mata. Dia juga harus beristirahat. Gadis itu tak menyadari bahwa sudah ada belasan panggilan tak terjawab dari nomor milik Viktorija, karena dirinya sengaja menyeting ponsel dalam mode senyap.
Beberapa saat kemudian, Blaire pun tampak sudah terlelap. Kini, giliran Christian lah yang kembali membuka mata. Rupanya pria itu hanya berpura-pura tertidur di depan Blaire.
Sekilas, Christian menoleh kepada Blaire. Gadis itu terlihat sangat cantik meskipun dalam keadaan sedang tidur. Adalah hal terkonyol yang dia lakukan, ketika dirinya mencium seseorang dengan usia yang jauh lebih muda seperti Blaire. Perlahan, pria itu menarik tangannya. Christian kemudian bangkit dan mendekat pada jendela kecil tadi. "Akhirnya kalian menemukanku," ucap Christian dingin dan setengah bergumam.
Pria yang saat itu dalam keadaan bertelanjang dada, kemudian berjalan ke dekat kursi kayu di mana dia melingkarkan jaketnya tadi. Christian kemudian merogoh salah satu saku. Dia mengambil telepon genggam dari sana. Christian pun tampak mengetikkan sebuah pesan.
Mereka datang untuk mencarimu. Berhati-hatilah.
Setelah pesan terkirim, Christian kembali ke dekat jendela. Dilihatnya kedua mobil sedan tadi sudah tak ada lagi di sana.
......................
Pagi yang begitu indah, meskipun udara terasa dingin. Seperti biasa, Blaire tak akan bangun sebelum mendengar suara ceramah panjang dari sang ibu. Namun, lain halnya dengan pagi itu. Suara ketukan di pintu kamar, sudah berhasil membuat gadis dua puluh tiga tahun tersebut seketika terjaga.
Dilihatnya Christian telah kembali mengenakan t-shirt yang semalam dia lepas. Pria itu berjalan mendekat pada pintu, kemudian mengintip dari lubang kecil di sana.
"Siapa yang datang, Chris?" tanya Blaire cemas.
"Petugas layanan kamar. Sepertinya mereka membawakan kita sarapan," sahut Christian. Dia lalu merogoh ke dalam saku celana jeans, kemudian mengambil kunci dan membuka pintu.
"Sarapan untuk Anda, Tuan," ucap seorang gadis berambut pirang. Dia tersenyum ramah. Gadis itu pun masuk setelah Christian mempersilakannya. Setelah mengantar makanan tadi, gadis yang merupakan karyawan motel tersebut bergegas keluar dari dalam kamar.
"Kacau!" keluh Blaire saat memeriksa ponselnya.
"Kenapa?" tanya Christian seraya menatap heran, kepada gadis yang belum turun dari atas tempat tidur.
"Ibu menghubungiku berkali-kali dan aku mengabaikannya. Astaga! Apa yang akan dia pikirkan tentang diriku setelah ini?" Blaire terlihat gusar. Namun, sesaat kemudian gadis itu tersenyum kecil, saat Christian menyodorkan secangkir kopi panas untuk dirinya. "Terima kasih, Chris," ucap Blaire menerima cangkir porselen berwarna putih.
"Apa kita bisa pulang sekarang?" tanya gadis itu lagi.
"Kita memang harus pulang. Aku rasa penguntit itu sudah pergi sejak semalam," sahut Christian sambil sesekali meneguk kopinya. Raut wajah pria tampan tersebut menyiratkan sesuatu yang masih belum bisa Blaire tebak dengan tepat.
"Sekali lagi kutanyakan padamu, Chris. Siapa mereka?" Blaire berharap agar Christian bersedia untuk bersikap terbuka padanya.
"Aku merasa jika selama ini selalu bersikap baik dan ramah kepada semua orang. Kenapa tiba-tiba ada sekelompok pria misterius yang menguntit dan ... entah apa yang mereka inginkan dariku." Blaire meneguk kopi panas yang diharapkan dapat membuat rasa gusarnya sedikit berkurang.
"Maafkan aku, Blaire," ucap Christian penuh sesal.
"Maaf untuk apa?" Blaire mengernyitkan kening karena tak mengerti.
"Mereka mencariku," jawab Christian pada akhirnya.
Sedangkan gadis itu tak segera menanggapi. Dia hanya menatap pria tampan dengan mata-mata abu-abu yang indah di hadapannya. "Mencarimu? Untuk apa? Jangan katakan jika apa yang selama ini semua orang pikirkan tentangmu memang benar. Kau ... kau seorang buronan pemerintah yang berbahaya. Apa kau merupakan penjahat kelas kakap, psikopat, atau mungkin seorang pembunuh bayaran," cerocos Blaire tanpa henti.
"Atas dasar alasan apa mereka mencarimu, Chris? Kulihat sepertinya para pria itu bukanlah ... mereka terlihat seperti bukan orang sembarangan. Begitukah?" Blaire kembali menunjukkan sikap serta raut gusar, sebelum meneguk kopinya lagi.
Sedangkan Christian tak segera menjawab. Pria itu memandang lekat gadis yang semalam dirinya cium dengan tanpa rencana sama sekali. Tak pernah terlintas dalam benak pria yang mengaku berasal dari Meksiko tersebut, untuk melakukan hal seperti itu terhadap Blaire.
"Mereka mencariku karena sesuatu," ucap Christian beberapa saat kemudian.
"Sesuatu apa?" selidik Blaire begitu penasaran.
"Sesuatu yang belum bisa kukatakan secara gamblang padamu. Namun, yang pasti mereka bukanlah agen milik pemerintah. Aku juga bukan seorang buronan, psikopat, atau ... atau ...." Christian tak sempat melanjutkan kata-katanya, karena ponsel milik Blaire tampak menyala.
Adalah sebuah panggilan masuk dari Viktorija yang segera Blaire jawab. "Hello," sapa gadis itu pelan.
"Apa kau tak akan pulang lagi, Blaire?" tanya sang ibu yang membuat gadis itu seketika merasa tak enak hati.
"Kami ... ah maksudku ... aku akan segera pulang, bu," jawab Blaire gugup.
"Baguslah, karena aku juga harus segera pergi ke kedai," balas Viktorija. Setelah berbasa-basi sejenak, dia pun menutup sambungan teleponnya.
"Kau dengar itu bukan? Aku harus segera pulang," tegas Blaire.
"Sudah kukatakan bahwa kita akan pulang. Namun, sebaiknya kita cicipi dulu makanan yang sudah mereka hidangkan ini," sahut Christian dengan tenang.
"Baiklah. Aku akan ke kamar mandi dulu. Astaga, aku tidak bisa menggosok gigi," keluh Blaire sambil berlalu. Dia terus mengoceh, sampai suaranya tersamarkan oleh gemericik air yang mengalir dari kran. Tak berselang lama, Blaire telah kembali dengan wajah yang terlihat segar. "Ternyata mereka menyediakan sikat dan pasta gigi gratis," ujar gadis itu tersenyum lebar. Dia lalu duduk di dekat Christian yang sejak tadi tak menanggapi ocehannya.
Pria itu tengah sibuk dengan ponsel. Entah sedang berkirim pesan dengan siapa, tapi raut wajahnya tampak sangat serius. Blaire yang menunggu untuk memulai sarapan, hanya dapat mengempaskan napas panjang. "Apa kau belum selesai, Chris?" tanya gadis itu mulai bosan.
Christian tersadar. Dia segera menoleh dan menutup layar ponsel, yang kemudian dirinya letakkan di atas meja sebelah piring berisi makanan. "Mari makan," ajaknya.
Blaire pun mengunyah makanan dengan cepat seperti seekor kelinci. Hal itu membuat Christian yang sesekali melirik ke arahnya, hanya dapat tersenyum simpul.
Beberapa saat kemudian, mereka telah keluar dari motel. Keduanya langsung menuju mobil. Tanpa berlama-lama, Christian segera melajukan kendaraannya meninggalkan area parkir tempat mereka menginap semalam.
Selama dalam perjalanan, tak banyak hal yang keduanya perbincangkan. Blaire berkali-kali melihat kaca spion, lalu menoleh ke belakang. Dia hanya ingin memastikan bahwa tak ada siapa pun yang mengikuti mereka.
"Aku yakin jika pria yang menghadang kami kemarin, berbeda dengan orang yang berada di seberang motel semalam," ucap Blaire memecah kebisuan di antara mereka. "Apa menurutmu mereka masih satu komplotan?"
"Entahlah. Aku harus menyelidikinya dulu," jawab Christian datar.
"Beberapa hari yang lalu, pengacara keluarga Sheldon mencegatku di jalan. Dia berbicara aneh tentang kematian tuan Fraser," tutur Blaire.
🍒🍒🍒
Hai semua, kali ini ceuceu bawakan rekomendasi novel keren lagi.