
Seketika, Blaire dan Christian menoleh secara bersamaan ke arah sumber suara. Tepat di ambang pintu yang terbuka, telah berdiri Viktorija dengan sorot mata yang tampak begitu tajam. Wanita paruh baya tersebut jelas tak suka, dengan pemandangan yang tersaji di depan rumahnya. "Masuklah, Blaire," suruh Viktorija. "Ainsley terbangun dan dia ...."
Belum sempat wanita paruh baya itu melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba dari arah dalam terdengar suara tangisan Ainsley yang cukup nyaring. Blaire dan Viktorija pun segera menghambur masuk, meninggalkan Christian yang terpaku kebingungan. Terlebih saat tangisan Ainsley semakin jelas terdengar.
Sepertinya Blaire dan Viktorija kewalahan menenangkan bocah itu, sehingga Christian memutuskan untuk ikut masuk. Tanpa permisi, dia menaiki tangga menuju lantai dua, di mana arah suara berasal. Christian kemudian berhenti di depan kamar yang penuh dengan mainan anak dan wallpaper bermotif bintang serta pesawat ulang alik.
“Apakah Ainsley baik-baik saja?” tanyanya dengan suara berat dan dalam, membuat Blaire dan juga Viktorija menoleh serempak ke arah pria itu.
“Apa yang kau lakukan di sini? Siapa yang mengizinkanmu untuk masuk?” Nyalang tatapan Viktorija dia arahkan pada Christian. Sementara tangannya sibuk menepuk-nepuk punggung Ainsley yang berada dalam gendongan Blaire.
“Bu, sudahlah,” cegah gadis cantik itu merasa tak enak.
Sedangkan Ainsley yang tadinya menyembunyikan kepala di bahu sang ibu, tiba-tiba langsung mendongak dan menoleh pada Christian. “Paman, aku takut. Aku bermimpi buruk,” ucapnya memelas sambil sesekali terisak. Tak hanya itu, bocah yang baru genap berusia lima tahun tersebut juga mengulurkan kedua tangan ke arah Christian, seakan berharap agar pria itu menghampiri dirinya.
Melihat isyarat dari Ainsley yang seakan ingin digendong, Christian segera maju dan merengkuh bocah itu dari gendongan Blaire.
“Tidak apa-apa, Ains. Itu hanya mimpi,” ucapnya dengan suara pelan serta begitu lembut. Jauh dari gaya bicaranya yang selalu terkesan datar dan dingin.
“Temani aku, Paman. Aku takut mimpi itu datang lagi,” rengek Ainsley memeluk erat Christian.
“Memangnya apa mimpimu barusan?” tanya Christian seraya mengusap-usap punggung anak itu.
“Aku bermimpi ada seseorang yang menarikku pergi menjauh dari ibu dan nenek,” jawab Ainsley lirih, “tapi untungnya kau segera datang, Paman. Kau sudah menolongku. Thank you,” imbuhnya.
Suara Ainsley terdengar bagaikan alunan nada yang begitu merdu, sekaligus menggemaskan di telinga Christian. Didekapnya tubuh mungil itu. Christian memeluk erat darah dagingnya tersebut dengan segenap perasaan. “Tidurlah,” bisik pria itu pelan seraya membelai rambut pirang Ainsley.
Apa yang Christian lakukan saat itu di kamar Ainsley, membuat Blaire dan Viktorija sama sekali tak dapat berbuat apa-apa. Bagi Blaire, adegan yang tersaji di depan matanya adalah hal termanis yang pernah dia alami seumur hidup. Hati yang bertahun-tahun kosong dan seolah membeku, kini mencair dan menghangat dengan perlahan.
Begitu pula Viktorija. Wanita paruh baya itu sama sekali tak dapat mengucapkan sepatah kata pun. Dia berdiri di antara kebimbangan. Kemarahan yang sedemikian besar, bertarung dengan iba teramat sangat, sehingga sulit baginya untuk menjauhkan Christian dari Ainsley.
Bagaimanapun juga, pria bermata abu-abu itu adalah ayah kandung dari sang cucu yang tentunya memiliki hak terhadap Ainsley. Pada akhirnya, Viktorija memilih untuk meninggalkan kamar sambil menutup pintu ruangan tersebut secara perlahan.
“Beristirahatlah, Blaire. Biar aku yang menjaga Ainsley,” ucap Christian setelah beberapa saat berlalu dalam kebisuan. Ainsley kembali tertidur di gendongannya. Bocah laki-laki tampan itu tampak begitu nyenyak terlelap dengan kepala bersandar di bahu lebar sang ayah.
Sementara mata hijau Blaire sama sekali tak bisa lepas dari sosok Christian, yang terlihat begitu memesona. Terlebih karena pria itu tampak sangat luwes dalam menggendong putranya.
“Apa kau pernah memiliki anak, Chris?” tanya Blaire begitu saja dengan setengah berbisik.
Bukannya menjawab, Christian malah tertawa pelan. “Ainsley adalah putra pertamaku. Kau adalah wanita pertama yang … yang ….” Pria itu menunduk dan tak melanjutkan kata-katanya. "Aku merawat Pandora sejak kecil. Kami berdua hidup tanpa adanya orang tua," tutur Christian pelan. Dia lalu menoleh kepada Blaire untuk sesaat.
"Astaga," desah Blaire tertahan. Rasa iba dan haru seketika menyeruak dari dalam dada. Untuk kali ini, sedikit demi sedikit sosok misterius itu mulai bersedia menampakkan dirinya secara nyata, meskipun Blaire yakin bahwa Christian masih memiliki segudang cerita yang dia simpan sendiri. "Aku turut bersedih, Chris," ucap gadis itu pelan.
“Terima kasih. Tidurlah, Blaire.” Christian bergerak membelakangi gadis cantik berambut pirang itu. Entah apa lagi yang berusaha dia sembunyikan dari gadis cantik tersebut.
“Apa kau tak pernah memiliki seorang kekasih sebelumnya?” tanya Blaire kemudian. Rasa penasaran gadis itu kembali muncul.
“Aku tidak pernah dekat dengan siapa pun. Profesiku dulu … kau tahu bukan? Aku tidak boleh terlalu banyak berkomunikasi dengan orang lain, termasuk adikku. Padahal dulunya kami dekat,” jawab Christian datar.
“Astaga.” Tawa Christian terdengar semakin lebar. “Sepertinya kau sangat cocok berporfesi sebagai detektif,” kelakarnya.
“Jawab saja, Chris. Kau tak tahu betapa tersiksanya aku selama lima tahun terakhir. Aku selalu menduga-duga segala sesuatu tentangmu yang sama sekali tidak aku ketahui. Setidaknya beritahu aku, seperti apa tuan Christian Alvarez sesungguhnya. Sedikit saja,” desak Blaire tak putus asa.
“Sebentar, biar kubaringkan anak kita lebih dulu,” ucap Christian tanpa sengaja yang segera disadari oleh dirinya maupun Blaire.
“Anak kita.” Blaire mengulum senyum dengan wajah memerah dan jantung yang berdegup kencang.
“Ya, aku … maaf.” Baru kali ini Christian terlihat salah tingkah. Dengan gugup, dirinya membaringkan Ainsley di atas ranjang, lalu menyelimuti tubuh mungil itu hingga ke dagu.
Namun, saat Christian hendak beranjak dari tepian ranjang, bocah kecil tersebut tiba-tiba menangis dan mengeluarkan tangannya dari dalam selimut. Dia seakan menggapai sesuatu dengan mata terpejam. “Paman, jangan pergi. Di sini saja,” racaunya.
Christian tertegun melihat hal itu. Dengan segera, dia kembali duduk dan menggenggam jemari Ainsley. “Aku di sini, tidurlah,” ucapnya pelan sambil mengusap pucuk kepala sang anak.
“Bagaimana rasanya?” tanya Blaire setengah berbisik.
“Apa?” Christian mengernyitkan kening karena tak mengerti.
“Bagaimana rasanya memiliki seorang anak?” bisik Blaire dengan suara tertahan.
“Ya ampun." Christian menggelengkan kepala pelan. “Kau masih cerewet seperti beberapa tahun yang lalu." Pria itu berdecak pelan. "Jadi, pertanyaan yang mana yang harus kujawab terlebih dulu ?”
“Oh.” Blaire kemudian tersenyum simpul. “Jawab dulu dari urutan teratas,” sahut gadis itu. Sorot matanya lekat dan penuh kekaguman, dia tujukan pada pria yang tengah melepas sepatu lalu setengah berbaring di sisi Ainsley.
"Ayahku tewas tertembak saat melaksanakan tugas. Dia pergi meninggalkan kami dalam kebimbangan besar, setelah ibu baru melahirkan Pandora, adikku satu-satunya. Ibu yang terlalu mencintai ayah, begitu terpukul dan putus asa. Dia ... dia kehilangan segala harapan, sehingga akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidup tanpa memikirkan kami berdua. Saat itu Pandora masih sangat kecil, jauh lebih kecil dari Ainsley." Christian lalu terdiam. Untuk pertama kalinya, dia menceritakan penggalan kisah memilukan itu kepada seseorang.
"Namun, itu tidak berlangsung lama. Aku yang belum terlalu dewasa, harus sering keluar rumah untuk mencari uang dan makanan sambil membawa Pandora. Jadi, tetanggaku membawa kami berdua ke panti asuhan terdekat. Pada usia remaja, aku keluar dari panti asuhan dan berpisah dengan Pandora. Bertahun-tahun menjalani hidup di jalanan hingga seseorang menemukanku,” tutur Christian lagi.
“Dia melihat potensi dalam diriku. Fisik yang kuat dan sedikit kemampuan bela diri, membuatnya tertarik untuk mengajakku ke sebuah kamp rahasia di suatu tempat khusus yang berada di wilayah negara bagian Nevada, Amerika Serikat. Kamp itu adalah milik seseorang yang sangat berpengaruh dalam pemerintahan. Di sana, kami dididik untuk menjadi mesin pembunuh,” lanjut Christian.
“Aku mendapat bayaran fantastis untuk setiap target yang harus dieksekusi. Target itu ditentukan oleh klien yang menyewa kami.” Christian menarik napas panjang sebelum melanjutkan ceritanya. “Hingga pada suatu hari, seorang klien datang dan membawa potret Pandora. Dia mengatakan bahwa adikku itu adalah target pembunuhan selanjutnya,” sambung Christian.
“Aku langsung bergerak mencari keberadaan Pandora. Setelah kami bertemu, maka aku segera membawa dia lari dari Amerika. Aku berusaha menyelamatkan dan menyembunyikannya. Kupikir di sini adalah tempat yang paling aman. Akan tetapi, aku keliru. Mantan kolegaku menemukan kami. Dia yang dulu pernah membeli kopi di tempatmu dan mengaku bernama Black Rifle,” tutur Christian lagi.
“Ya, aku mengingatnya." Ingatan Blaire kembali ke beberapa tahun silam, di mana dirinya melayani pesanan kopi dari pria yang mirip dengan Christian tersebut.
“Saat itulah, Pandora menyadarkanku bahwa membawamu ke dalam hidupku adalah suatu kekeliruan terbesar. Aku tidak bisa membahayakanmu, Blaire. Untuk itulah aku pergi menjauh darimu bersama Pandora, agar kau tetap aman. Dia juga terpaksa mengaku sebagai istriku, supaya kau tak berharap lagi. Namun, ternyata ….” Christian menjeda penjelasannya, lalu berpaling menatap Ainsley dengan sorot mata begitu sendu. “Aku tak tahu bahwa dia akan terlahir ke dunia,” ucapnya lirih.
Blaire sendiri hanya bisa tercekat mendengar penuturan Christian.
“Ke mana dirimu selama lima tahun terakhir ini, Chris?” Ragu-ragu, Blaire bertanya setelah beberapa saat berlalu.
“Menyelesaikan segala urusanku dengan orang-orang berkuasa di dalam organisasi, Blaire. Pada akhirnya aku menang dan kamp rahasia itu ditutup. Pemerintah Amerika tidak memberikan dakwaan apapun. Mereka bahkan membebaskanku, sebagai imbalan karena dianggap berjasa dalam memberantas organisasi yang selama ini menaungiku,” jawab Christian menjelaskan.
“Aku sekarang menjadi manusia bebas, Blaire. Tak ada lagi bahaya yang akan mengintai. Itulah sebabnya diriku kembali kemari dan berniat untuk memulai segalanya dari awal denganmu. Namun, sepertinya semua sudah terlambat. Terlalu banyak hal yang kulewatkan.” Christian tersenyum getir, lalu menunduk diam.