Edinburgh

Edinburgh
Thirst Quencher



“Tidakkah kau menyadari bahwa hubungan kalian berdua terlalu dipaksakan?” pikir Cathy hati-hati setelah mendengarkan curahan hati Aaron beberapa saat yang lalu.


“Apakah salah jika aku berusaha memperjuangkan cintaku?” Aaron malah balik bertanya.


“Kau terlalu mencintai dan memaksakan perasaanmu padanya. Sedangkan dia ... kurasa hanya merasa tak enak atas segala kebaikan yang telah kau berikan. Aku melihat itu dari sudut pandang seorang wanita. Tak jarang kami harus berpura-pura tersenyum dan mengatakan 'iya' hanya demi sebuah rasa terima kasih yang tak bisa dibalas dengan hal serupa,” tutur Cathy. "Aku yakin jika gadis itu pasti sangat menghargaimu, Aaron. Karena itulah dia tak berani menolakmu secara terang-terangan, meskipun pada akhirnya hanya mendatangkan beban bagi kalian berdua."


“Aku tak pernah memaksanya untuk menerimaku, Cathy. Dia sendiri yang dengan senang hati menyambut cintaku, setelah aku menunggu bertahun-tahun lamanya.” Aaron menggelengkan kepala perlahan.


“Sudah kukatakan bahwa mungkin saja dia menerimamu hanya karena perasaan tak enak, Aaron. Mengertilah.” Jemari lentik Cathy mengusap lembut bahu lebar calon suami Blaire tersebut.


“Menurutku, kalian berdua membutuhkan waktu sendiri untuk memikirkan langkah selanjutnya. Ingat, Aaron. Pernikahan bukanlah paksaan. Kenapa hingga saat ini aku belum berpikir ke arah sana, karena hal itu merupakan sebuah keputusan besar yang benar-benar harus kau ambil dengan penuh keyakinan. Jika tidak, maka salah satu dari kalian akan berakhir sengsara. Pernikahan seharusnya membahagiakan, bukannya semakin menyengsarakan,” tutur Cathy lagi.


“Aku tak pernah jatuh cinta kepada seorang gadis, seperti ketika diriku mencintai Blaire,” desah Aaron. Wajahnya tampak begitu terluka.


“Itu karena kau tak pernah mencoba untuk membuka hatimu pada yang lain,” ujar Cathy seraya mengulum senyum. “Percayalah padaku, tak sesulit itu melupakan seseorang yang telah menyakitimu. Cukup bukalah pandanganmu seluas-luasnya pada dunia sekitar, maka kau pasti akan menemukannya." Cathy masih terlihat sangat tenang saat berkata demikian kepasa Aaron.


"Lihatlah aku. Entah sudah berapa kali diriku gagal dalam menjalani hubungan percintaan. Pernah suatu ketika ada seorang pria yang telah melamar dan merencanakan masa depan indah. Namun, rencana yang terlalu sempurna dan penuh dengan bunga-bunga, tak menjamin akan berakhir dengan memuaskan. Kuakui memang membutuhkan waktu yang tak sebentar untuk dapat kembali menata hati. Akan tetapi, nyatanya aku masih dapat menikmati hidupku hingga saat ini." Cathy kembali tersenyum, lalu menyodorkan bungkus camilan yang kembali dia nikmati kepada Aaron.


“Aku hanya ingin memiliki Blaire seutuhnya, hanya untukku,” sahut Aaron lirih, sambil memasukkan tangan ke dalam bungkus camilan tadi dan mengambil isinya.


“Dengarkan aku, Tampan.” Cathy meletakkan kembali camilannya di atas meja. Dia lalu menggerakkan jemari lentik berhiaskan kuteks berwarna biru langit, kemudian membelai lembut rahang kokoh Aaron. “Kau kuibaratkan tengah menggenggam pasir. Semakin erat kau menggenggamnya, maka semakin pasir itu tumpah dan luruh di sela-sela jarimu.”


“Lalu, apa yang harus kulakukan?” tanya Aaron seraya memegangi kepala dan membiarkan jemari Cathy di wajahnya.


“Lepaskanlah, Aaron. Biarkan semua mengalir apa adanya,” jawab Cathy kalem. “Jika memang kalian ditakdirkan bersama, lambat-laun kau akan menemukan jalannya. Namun jika tidak ….”


“Apa?” Aaron mengernyit kala Cathy sengaja untuk tidak melanjutkan kalimatnya.


“Aku tidak percaya bahwa kau tak bisa jatuh cinta pada wanita lain selain Blaire.” Cathy mengerling nakal sambil tersenyum penuh arti.


“Memang begitu kenyataannya,” sahut Aaron yakin.


“Apa yang kau lakukan, Cathy?” Nada bicara Aaron terdengar keberatan. Akan tetapi, tidak dengan sikap tubuhnya yang seakan tak hendak menolak.


“Katakan padaku, seberapa hebat calon istrimu saat di atas ranjang,” tanya gadis cantik itu dengan suara penuh desa•han pelan.


“Aku belum pernah menyentuh tubuh Blaire sekali pun. Hal paling jauh yang pernah kami lakukan hanyalah berciuman.” Selesai berkata demikian, Aaron menelan ludahnya. Bagaimana tidak, gadis yang kini duduk nyaman di atas pengkuannya itu tengah menggerakkan pinggul dengan gaya yang cukup sensual.


“Astaga.” Cathy menghentikan gerakannya. Mata indah gadis itu terbelalak tak percaya saat mendengar jawaban dari Aaron. “Jadi, selama bertahun-tahun kau menahan hasratmu terhadapnya?" Cathy menautkan alisnya yang cantik.


“Begitulah,” jawab Aaron seraya memalingkan wajah, saat Cathy terus memandanginya dengan intens.


“Kau benar-benar pria yang setia. Kupastikan bahwa Blaire akan menyesal, karena telah kehilangan seorang pria baik sepertimu.” Cathy tersenyum menggoda, sebelum memberanikan diri untuk melu•mat bibir Aaron dengan mesra.


"Cathy ...." Ucapan Aaron tertahan, ketika gadis itu melepaskan tautan di antara mereka. Dia memandang lekat kepada gadis cantik di hadapannya.


"Kapan terakhir kali kau bercinta?" tanya Cathy yang terdengar seperti sebuah tantangan bagi Aaron.


"Entahlah. Aku rasa ... sebelum wisuda kelulusan," jawab Aaron yang masih berusaha untuk mengendalikan gejolak dalam dada. Dia tengah menetralisir segala perasaan aneh yang perlahan mulai menyerangnya.


Sementara Cathy lagi-lagi hanya tertawa manja. Masih duduk di atas pangkuan Aaron, gadis itu kemudian menaikkan t-shirt press body yang dikenakannya, sehingga tampaklah pemandangan indah yang membuat kesetiaan Aaron mulai tergoyahkan. "Buktikan padaku bahwa kau tak bisa melepaskan diri dari jerat cinta calon istrimu, Aaron," ucap Cathy sambil melepas pengait bra yang dia kenakan, lalu melepas dan melemparkannya dengan sembarang ke lantai. Apa yang bartender cantik itu lakukan, telah membuat Aaron makin tak mampu mengendalikan aliran darah yang berdesir semakin kencang.


"Sentuhlah, Aaron." Cathy membusungkan dadanya yang terlihat sangat menantang ke hadapan pria itu.


Sementara Aaron masih terlihat ragu. Namun, nalurinya sebagai seorang pria normal yang kian bergejolak, tentu saja tak bisa dia abaikan dengan mudah. Perlahan, tangan Aaron terulur ke depan. Lembut, dia meraih dan merasakan apa yang tadi Cathy tawarkan padanya. Sekian lama pria berambut pirang itu tak lagi merasakan kenakalan, seperti apa yang sedang dilakukannya saat ini terhadap Cathy. Aaron terlalu sibuk mengejar cinta seorang Blaire.


Desah napas pelan meluncur dari bibir Cathy. Gadis itu memejamkan mata, ketika Aaron membenamkan wajah di dadanya. "Ya seperti itu," racau bartender cantik tersebut, sambil mere•mas pelan tengkuk kepala pria yang tadi berkeluh-kesah padanya.


Siapa sangka, kesetiaan dan penantian cinta yang panjang dari Aaron selama ini, terhapuskan dengan mudah saat pria itu menghadapi seonggok daging yang begitu menggugah selera. Dia tak mampu melawan hasrat yang telah sekian lama dirinya pendam, dan tak terlampiaskan kepada Blaire. Petang itu, Aaron habiskan dengan sebuah pergumulan panas bersama Cathy, di atas sofa di mana dirinya menyatakan bahwa hanya Blaire seorang wanita dalam hidupnya.


Lalu, bagaimana kenyataannya saat ini? Satu yang pasti, Aaron tersenyum penuh kebahagiaan, ketika menikmati tubuh indah Cathy. Bayangan tentang Blaire pun sirna seketika, saat dia mendapat pelayanan istimewa dari seseorang yang selama ini dirinya sebut sebagai teman. Hingga mentari terbenam di pertengahan musim panas itu, Aaron tak juga merasa puas. Rasa hausnya teramat besar, sehingga dia melakukannya lagi dan lagi.