
Blaire yang sudah hendak membuka pintu, segera mengurungkan niatnya. Dia terpaku dan tampak begitu tegang. Darah dalam tubuh gadis itu berdesir dengan sangat cepat. Sementara tulang-tulangnya seakan tak dapat lagi menjadi penopang, sehingga Blaire merasa begitu lemah dan juga tak bertenaga sama sekali.
"Itulah kenyataannya, Blaire," ucap Christian lagi. "Kenapa aku menutup diri dari semua orang. Darimu. Alasannya hanya karena aku tak ingin jika mereka mempertanyakan siapa dan seperti apa hidupku." Suara pria itu masih terdengar begitu tegas, meskipun nada bicaranya sedikit pelan dan dibalut aroma penyelasalan yang mendalam.
"Sekarang kau sudah mengetahuinya ...." Christian tak melanjutkan kata-kata yang akan dia sampaikan kepada Blaire, karena gadis itu sudah terlanjur membuka pintu kemudian bergegas masuk. Pria tampan dengan jaket kulit hitam tersebut begitu sadar, dengan risiko yang harus dirinya terima dari kejujuran tadi. Christian pun tak berharap lebih atas cinta yang terlambat kepada seorang Blaire. Namun, dia masih mengharapkan sebuah keajaiban untuk kebersamaannya dengan Ainsley.
Tanpa harus menundukkan wajah, Christian membalikkan badan. Dia melangkah di atas jalanan dalam suasana malam yang begitu sunyi, seperti kehidupan yang dia jalani selama ini.
Sementara Blaire duduk termenung di dalam kamar Ainsley. Anak itu sudah tertidur lelap di atas tempat tidurnya sendiri. Dia tak mengetahui bahwa sang ibu tengah meratapi hati yang kembali hancur berkeping, dan menjadi tak karuan atas pengakuan seorang Christian. Namun, apakah adil bagi pria itu untuk mendapatkan penghakiman dari dirinya?
Blaire mengempaskan napas pelan. Pandangan gadis cantik tadi tertuju pada paper bag yang Christian berikan. Dia lalu meraih benda tersebut, kemudian mengeluarkan semua isinya satu per satu dengan hati-hati. Sebuah senyuman nanar pun terlukis di wajah ibu satu anak itu. "Lihatlah, Ainsley. Ayahmu membuat ini semua. Dinosaurusmu kini tak akan merasa kesepian lagi karena sekarang dia sudah memiliki banyak teman." Setitik air mata terjatuh di sudut bibir polos Blaire. Sesuatu yang ternyata tak mampu membasuh luka di dalam hatinya.
......................
Malam yang sunyi telah berganti dengan pagi. Christian sudah bersiap untuk memulai harinya. Ini merupakan awal dari musim panas di bulan Juni yang terasa jauh lebih hangat. Sementara musim semi di mana bunga-bunga sakura yang bermekaran, telah berlalu dengan tanpa terasa.
Pagi itu, Christian sudah selesai merapikan diri dan juga membuka toko. Akan tetapi, kedai milik Viktorija ternyata masih dalam keadaan tutup. Christian pun tertegun beberapa saat memandangi bangunan yang tidak terlalu besar, dengan cat berwarna hijau tersebut.
Sementara itu di tempat lain, pada sebuah gereja yang sangat indah tengah berlangsung acara pemberkatan pernikahan antara Natalie dengan calon suaminya yang merupakan seorang pria dari London. Acara tersebut berlangsung dengan tenang dan juga khidmat.
Saat itu, Blaire duduk bersebelahan dengan sang ibu. Sementara di sisi lain ada Anette yang tampak begitu terharu, melihat putri bungsunya berdiri di altar dalam balutan gaun pengantin putih. Untunglah karena Ainsley merupakan tipe anak yang tenang. Dia duduk manis dengan mainan yang dirinya bawa dari rumah.
Sementara Aaron yang juga tengah mengikuti jalannya acara dengan serius, nyatanya tak mampu untuk tidak melirik ke arah Blaire. Gadis itu terlihat sangat cantik dalam balutan gaun pesta yang dia belikan beberapa waktu lalu. Blaire juga menyanggul rambut pirangnya yang panjang. Walaupun hanya berupa tatanan sederhana, tetapi terlihat begitu indah dan juga mampu membuat gadis itu menjadi sangat berbeda dari biasanya.
Perasaan Aaron yang berbunga-bunga, ternyata tak sejalan dengan apa yang ada di dalam hati seorang Blaire. Pikiran si gadis masih tertuju pada pengakuan Christian tentang siapa dirinya. Sebuah jawaban yang teramat mengejutkan dari pertanyaan yang telah tersimpan selama bertahun-tahun.
"Kau sangat cantik hari ini," bisik Aaron, ketika acara pemberkatan telah selesai. Mereka kini tengah menikmati acara jamuan.
"Aku ingin bicara berdua denganmu," ucap Aaron lagi.
"Astaga, Aaron." Blaire tertawa renyah. "Bukankah saat ini kita sedang bicara berdua?" Gadis itu tampak menautkan alisnya karena tak mengerti dengan maksud dari pria tampan tersebut.
"Maksudku ... maksudku ...." Tanpa berkata apa-apa lagi, Aaron kemudian meraih jemari Blaire dan menuntunnya keluar dari tempat pesta berlangsung. Entah akan ke mana dirinya membawa Blaire. Gadis dengan gaun panjang di bawah lutut itu pun menjadi semakin tak mengerti.
"Aaron, pelan-pelan. Aku tidak bisa berjalan cepat dengan sepatu ini." Blaire yang tak terbiasa memakai sepatu hak tinggi, cukup kesulitan dalam langkahnya.
Menyadari hal itu, Aaron pun tertegun kemudian menoleh. "Astaga, aku lupa jika saat ini kau sedang menjadi Cinderella," guraunya. "Baiklah, kita bicara di sini saja." Dia lalu mengajak Blaire untuk duduk pada sebuah tembok pembatas setinggi lutut, yang mengelilingi sebuah kolam indah di taman gedung tempat berlangsungnya pesta.
"Apa ada sesuatu yang penting?" tanya Blaire dengan raut sedikit cemas.
Namun, lain halnya dengan Aaron yang justru tampak berseri. Pria itu kemudian meraih jemari lentik berbalut kulit putih nan halus terawat. Aaron menggenggamnya erat. "Aku ingin mengatakan sesuatu padamu, Blaire," ucap si pemilik rambut pirang tadi tanpa melepaskan genggaman tangannya.
"Apa?" tanya Blaire penasaran.
"Begini." Aaron mendehem pelan demi menetralkan rasa gugup dalam dirinya. "Aku tahu jika hubungan yang kita jalin baru berlangsung beberapa waktu. Akan tetapi, kau dan aku sudah saling mengenal sejak lama. Kita berdua memiliki kedekatan yang sangat intens. Selain itu, kehadiran Ainsley pun rasanya menjadi nilai tambah dalam hubungan antara diriku dan juga dirimu. Aku sama sekali tak merasa keberatan, dan justru sangat bahagia dengan adanya anak itu." Aaron tersenyum menahan rasa haru dalam dada, yang tiba-tiba menyeruak begitu saja.
"Lalu?" Blaire menatap lekat pria yang duduk di sebelahnya itu.
Sementara Aaron tak segera menjawab. Dia setengah menghadapkan tubuh kepada Blaire, dan semakin mengeratkan genggaman. Terlihat jelas jika pria tampan tersebut sedang berusaha menghalau rasa gugup dalam dirinya.
"Kau kenapa, Aaron?" tanya Blaire heran bercampur penasaran.
"Blaire aku ... aku ...." Aaron kembali menjeda kata-katanya. Sesaat kemudian, sulung dari tiga bersaudara tadi melepaskan genggaman tangan dari Blaire. Dia lalu merogoh sesuatu ke dalam saku jas yang dikenakannya. Dari sana, Aaron mengeluarkan sebuah kotak kecil berlapis beludru hitam dan berpolet warna emas. "Menikahlah denganku, Blaire," ucap pria itu pada akhirnya.