Edinburgh

Edinburgh
Blonde Hair



"Aku senang jika Blaire masih bisa berpikir demikian. Itu berarti akal sehat yang dia miliki tak sepenuhnya menguap, karena terbawa perasaan cinta buta. Itu jauh lebih baik daripada putriku harus memilih pria seperti dirimu," balas Viktorija dengan nada bicaranya yang selalu terdengar ketus.


"Aku rasa Blaire masih dapat berpikir dengan baik, Nyonya." Christian menoleh sejenak kepada wanita paruh baya yang berdiri di sebelahnya.


"Christian," cibir Viktorija sinis, "aku tidak memiliki masalah apapun denganmu sebelumnya. Aku bahkan sangat menghargai, ketika kau membantu Blaire saat dia masuk rumah sakit. Namun, perasaanku sebagai seorang ibu begitu terluka, ketika diriku tak dapat lagi menghitung berapa tetes air mata yang telah membasahi wajah Blaire saat kau mencampakkannya!"


"Dia adalah gadis yang sangat ceria, penuh senyuman. Tak pernah ada masalah yang berarti bagi Blaire. Lalu, apa yang terjadi setelah kau datang dan merampas segalanya dari putriku. Semua berubah secara drastis. Kau penjahat! Kau adalah seorang pembunuh yang telah melenyapkan kebahagiaan dari putriku! Karena itulah aku tak mengharapkan kau mendekatinya lagi." Viktorija menatap tajam kepada Christian.


Penjahat, pembunuh. Dua kata yang terdengar begitu mengerikan bagi seorang Christian. Walaupun dia telah melepaskan predikat tersebut dari dirinya, tapi masa lalu kelam itu akan tetap melekat dan tak akan pernah dapat dihapuskan. Saat ini, Viktorija memang belum mengetahui seperti apa kehidupan seorang Christian dulu. Akan tetapi, cepat atau lambat segala keburukan dari masa lalu sang mantan pembunuh bayaran, pasti akan sampai juga di telinga wanita paruh baya tersebut.


"Blaire memang tak mengatakan apapun padaku. Apa kau tahu bagaimana dia saat pertama kali mengetahui bahwa dirinya dinyatakan hamil? Kau tak ada di sini, Christian. Entah apa yang menjadi alasanmu. Akan tetapi, aku akan selalu mengingat hal itu. Masih terbayang jelas dalam benakku, ketika dia terduduk di lantai sambil memunguti pecahan beling akibat kemarahan dari ibunya. Untuk pertama kali, aku membentak putri yang selama ini kubesarkan dengan limpahan kasih sayang." Viktorija mengatur napas agar jauh lebih teratur. Dia juga harus menjaga intonasinya, agar Blaire ataupun Ainsley tak mendengar apa yang dia katakan kepada Christian.


"Putriku boleh saja dibutakan oleh cinta, sehingga bersedia untuk menerimamu dengan tangan terbuka. Namun, tidak denganku. Aku masih dapat berpikir jernih. Tak ada alasan yang membenarkan keberadaanmu di dekat Blaire, tidak juga Ainsley. Kami bisa merawatnya dengan baik selama lima tahun ini. Akan tetapi, kau tak perlu khawatir. Aku tak akan menjadi orang jahat yang membatasi kasih sayang antara ayah dan putranya. Itu juga jika memang dirimu memiliki perasaan demikian." Selesai berkata demikian, Viktorija berlalu begitu saja dari samping Christian yang masih terpaku.


Situasi pelik ini memang semua bertumpu padanya. Namun, haruskah dia merasakan sebuah penyesalan yang terus-menerus? Sementara waktu tak dapat diputar. Satu hal yang masih bisa Christian lakukan saat ini demi menebus segala kesalahan di masa lalu, yaitu dengan cara menjadi ayah yang bertanggung jawab bagi Ainsley. Lalu, bagaimana dengan cintanya terhadap Blaire?


Malam belum terlalu larut, ketika Christian nekat mengunjungi kediaman Aaron. Rasanya begitu aneh, saat dia kembali memasuki halaman yang kini telah banyak berubah dan tampak jauh lebih terawat. Tanpa ada rasa canggung sama sekali, pria asal Meksiko tersebut mengetuk papan dengan kaca dan hiasan di bagian tengah. Sambil menunggu seseorang membukakan pintu, pria bermata abu-abu tadi berdiri tegap. Sementara kedua tangannya tersembunyi di dalam saku jaket.


Tak berselang lama, terdengar ada yang membuka kunci dari dalam. Wajah cantik Sabrina pun muncul, meski dia terlihat memasang raut keheranan. "Selamat malam. Ada yang bisa kubantu?" sapa gadis berambut pirang itu dengan ramah.


"Selamat malam," balas Christian dengan seutas senyuman di sudut bibirnya. "Aku ingin bertemu dengan Aaron Walsh. Apa dia ada di rumah?" tanya ayah dari Ainsley tersebut.


"Oh ya, tapi Anda siapa?" tanya Sabrina lagi hati-hati. Satu kesalahannya, karena dia telah membukakan pintu untuk orang asing yang belum pernah dirinya lihat.


Namun, belum sempat Christian menjawab pertanyaan tadi, suara Aaron telah lebih dulu menyela. "Christian?" ucapnya. Dia pun berjalan mendekat, lalu berdiri di belakang sang adik yang kini telah berusia dua puluh lima tahun. Sabrina memiliki postur yang yang tinggi dengan bentuk tubuh sintal. Penampilan gadis itu pun terbilang sopan.


"Kau mengenalnya, Aaron?" tanya gadis itu sambil menoleh kepada sang kakak yang berada di belakangnya.


"Ya. Masuk dan buatkan kami minuman," suruh Aaron dengan enteng. Dia segera mempersilakan Christian untuk masuk dan duduk. Akan tetapi, pria berambut gelap tadi lebih memilih berbicara di beranda. Mereka pun duduk di atas sepasang kursi rotan dengan meja bulat berhiaskan pot bunga kecil.


"Apa dia adikmu?" tanya Christian basa-basi.


"Ya. Namanya Sabrina. Dia adik keduaku," jawab Aaron. Dia memandang penasaran kepada Christian. Adalah sesuatu yang aneh ketika pria itu datang menemuinya. "Ada yang bisa kubantu?" tanya Aaron setelah beberapa saat kemudian.


"Aku ingin bicara tentang Blaire dan juga Ainsley," sahut Christian datar, seperti biasanya.


"Blaire dan aku akan segera menikah. Pertengahan musim panas ini," ujar Aaron dengan penuh percaya diri. Ada rasa bangga yang terpancar dari sorot matanya, ketika mengatakan hal demikian di hadapan Christian.


"Aku tahu itu. Blaire sudah mengatakannya padaku," ucap Christian pelan dan datar. Dia duduk dengan setengah membungkukkan badan. Sesekali, dirinya menoleh kepada Aaron.


"Lalu? Kuharap kau tidak berusaha untuk memengaruhi apalagi mengacaukan keputusan yang telah diambil oleh Blaire," ujar Aaron bernada setengah curiga. Baginya, Christian adalah pria yang patut untuk diwaspadai, karena ayah kandung Ainsley tersebut tampak sangat misterius dan sulit ditebak.


"Cukuplah kau membuat satu kesalahan dengan mencampakkan Blaire begitu saja. Kesalahan yang tentu saja sangat aku syukuri, karena akhirnya kesempatan ini tiba juga dalam hidupku." Aaron tersenyum puas atas ucapannya barusan. Dia menatap lekat Christian yang tak menanggapi kata-kata tidak menyenangkan itu.


"Lalu, apa yang ingin kau bicarakan denganku?" tanya Aaron lagi.


"Aku hanya ingin mendapat akses yang leluasa untuk menemui Ainsley, jika nanti kau dan Blaire sudah menikah," jawab Christian dengan lugas.


"Seberapa leluasa?" tanya Aaron kemudian. "Aku harus tetap berhati-hati, jangan sampai kau menjadikan Ainsley sebagai alasan untuk dapat bertemu dengan Blaire," tukasnya sambil menaikkan sebelah alis.


"Astaga." Christian berdecak pelan. Dia tak segera melanjutkan ucapannya, karena saat itu Sabrina muncul dengan membawakan dua cangkir minuman ditemani kudapan, yaitu berupa kue buatan Anette.


"Cicipilah. Kue buatan ibuku sangat enak." Aaron mempersilakan tamunya untuk menikmati hidangan yang disuguhkan oleh Sabrina.


Sementara gadis itu tersenyum manis sambil melirik Christian yang tengah menoleh ke arahnya. "Kau tidak seperti seseorang dari Britania Raya," pikirnya tak yakin.


"Aku berasal dari Meksiko," sahut Christian tanpa ekspresi yang berlebihan, meskipun harus dia akui bahwa Sabrina merupakan gadis cantik dengan mata biru yang indah. Selain itu, dia juga berambut pirang. Sama seperti warna rambut milik Blaire.


"Ow, pria dari Amerika Latin." Sabrina tersenyum. "Baiklah. Aku masuk dulu." Gadis bertubuh sintal itu pun berlalu dari hadapan kedua pria tampan yang kini kembali memasang raut serius dan dingin.


"Aaron Walsh terlihat sangat takut kehilangan Blaire. Apakah karena kau menyadari bahwa Blaire tidak pernah mencintaimu, karena itu kau merasa begitu was-was?" Ekor mata Christian melirik ke arah Aaron. Nada bicaranya pun terdengar setengah meledek.


"Aku memiliki perasaan yang tulus untuk Blaire. Kupikir, suatu saat nanti dia akan menyadari siapa yang jauh lebih pantas untuk dirinya cintai," balas Aaron setengah menyindir. Dia pun tak ingin mengalah begitu saja.


“Aku sudah menyerahkan semuanya kepada Blaire. Dia berhak memilih siapa pun. Andai suatu saat nanti pada akhirnya dia berbalik mencintaimu. Aku harus siap untuk merelakannya, yang terpenting bagiku adalah … Blaire dapat hidup bahagia. Aku ingin, dia benar-benar bahagia.” Christian tersenyum samar, lalu meraih cangkir teh dan meminum isinya.


Sementara Aaron hanya terdiam. Dia memperhatikan Christian lekat-lekat. Pria asli Meksiko itu sempat mengambil sebuah kudapan, lalu memakannya. “Biskuit ini lezat sekali,” celetuknya sembari mengunyah.


Akan tetapi, Aaron tak menanggapi sanjungan itu. Dia masih asyik memperhatikan Christian yang kini tengah menghabiskan teh. “Aku berencana membawa Blaire tinggal di Glasgow setelah kami menikah,” ujarnya beberapa saat kemudian.


“Kurasa itu tidak mungkin,” sahut Christian dengan segera.


“Memangnya kenapa?” protes Aaron.


“Blaire sempat mengatakan padaku jika dia tak akan pernah meninggalkan nyonya Sutherland sendirian di kota ini,” jawab Christian datar.


“Kapan dia mengatakan hal itu padamu?” Aaron memicingkan mata birunya yang indah, sambil menunggu jawaban dari Christian.


“Beberapa hari yang lalu, saat dia datang ke tokoku bersama Ainsley.” Pria tampan itu bangkit dari tempat duduknya, lalu berdiri di hadapan Aaron.


“Baiklah, terima kasih atas jamuannya. Aku sangat menghargai itu,” ucap Christian. “Sebagai orang yang sangat mencintai Blaire, kurasa kau pasti sudah memahami satu hal, bahwa kebahagiaan dari orang yang kau cintai adalah hal terpenting,” imbuh Christian seraya berbalik meninggalkan kediaman keluarga Walsh.