
Viktorija terpaku saat melihat sosok Christian, yang dia ketahui sebagai tetangga di rumah serta kedai miliknya. Namun, saat itu pria yang dikenal sangat misterius tersebut tengah berdiri di ambang pintu kamar Blaire. Viktorija pun tak tahu harus berkata apa. Wanita paruh baya tersebut terlihat kikuk.
Lain halnya dengan Christian. Pria berambut gelap tersebut masih terlihat sangat tenang. Rasa terkejutnya tadi telah sirna dan tak tersisa sama sekali. "Nyonya," sapa pria bermata abu-abu tadi sembari mengangguk sopan. "Permisi," ucapnya kemudian seraya berlalu begitu saja dari hadapan ibunda Blaire, yang masih tak percaya dengan apa yang didapatinya pagi itu.
Sementara Blaire yang tengah duduk tenang di atas tempat tidur, hanya bisa mengempaskan napas penuh keluhan sambil mengusap-usap kening. "Ini tidak baik," gumam si pemilik rambut pirang tersebut dengan pelan, ketika sang ibu berjalan ke arahnya. Dia segera menoleh kepada Viktorija yang tengah memandang dengan sejuta pertanyaan. Namun, Blaire berusaha untuk terlihat biasa saja. "Hai, Bu," sapa gadis itu. "Aku tidak mendengar suara mobil ibu masuk ke halaman," ujarnya basa-basi.
"Kau mungkin sedang sibuk, Blaire," balas Viktorija bernada sedikit menyindir. Tatapan lekat dan penuh selidik pun masih dia layangkan. Walau tak terlalu tajam, tapi terasa begitu mengintimidasi bagi gadis berambut pirang tadi.
"Jadi, apakah itu tetangga kita? Kuharap aku tidak salah lihat," ucap Viktorija lagi masih dengan nada bicara yang terdengar aneh di telinga Blaire.
"Ya. Ibu tidak salah lihat," sahut Blaire tak berani menatap wajah Viktorija.
"Baiklah. Jadi, dia memang tetangga rumah dan kedai kita ...." Janda satu anak itu tampak berpikir sejenak. "Sebenarnya aku cukup terkejut melihat pria itu ada di dalam rumahku, tepatnya di kamarmu. Ya, mengingat dari selentingan-selentingan yang beredar di sini. Kau tahu bukan jika dia ... dia ...." Viktorija menaikkan sebelah alisnya.
"Dia pria yang baik, Bu," sahut Blaire menoleh sesaat kepada sang ibu yang masih berdiri di dekat tempat tidurnya.
"Ya, tentu. Dia pasti pria yang baik dan juga sangat misterius. Apa kau sudah mengetahui siapa namanya atau kalian hanya berbicara dengan panggilan 'you and me'?" Wanita berambut sebahu itu kemudian meletakkan tangan kirinya di pinggang.
Sedangkan Blaire terdengar mengempaskan napas pendek. Dia yakin bahwa kejadian itu tak akan berhenti dengan begitu saja, jika sudah diketahui oleh sang ibu. Blaire sangat mengenal wanita berambut pirang tersebut. Viktorija bukan termasuk orang yang mudah percaya atau diperdaya dengan jawaban-jawaban ringan seadanya.
Blaire kemudian mengarahkan pandangan kepada sang ibu yang masih berdiri sambil menatapnya dengan intens. Dia tahu jika wanita paruh baya tersebut sedang menunggu sebuah penjelasan darinya. "Nama pria yang sedang kita bicarakan kali ini adalah Christian," ucap gadis bermata hijau itu kemudian.
"Christian? Hanya Christian?" Viktorija belum merasa puas atas jawaban anak gadisnya.
"Ya, hanya Christian. Masih beruntung dia bersedia menyebutkan namanya padaku," sahut Blaire salah tingkah.
"Baiklah. Namanya Christian dan dia berada di dalam kamarmu selama diriku tidak di rumah. Oh, jadi karena inikah kau ingin agar aku tak cepat-cepat pulang?" tukas Viktorija seraya berdecak pelan.
"Tidak. Tentu saja bukan karena itu," bantah Blaire dengan segera. Dilema kini dirasakan oleh gadis yang tengah mengalami luka tersebut. Blaire merasa bingung harus menjelaskan bagaimana kepada sang ibu.
Sementara Viktorija yang sejak tadi memandang lekat putrinya, kemudian memilih untuk duduk di tepian tempat tidur. Posisi wanita paruh baya itu menghadap langsung kepada Blaire yang terlihat tidak nyaman. Sebagai seorang wanita dan juga seorang ibu, Viktorija tentu sangat mengerti akan apa yang dirasakan oleh putri tercintanya.
"Sejak kapan, Blaire?" tanya wanita berambut pendek itu. Sedangkan Blaire hanya menaikkan alisnya karena tak mengerti arah pertanyaan sang ibu.
"Sejak kapan kau dan pria bernama Christian itu ... apa dia sering datang kemari dengan diam-diam?" selidik Viktorija dengan pertanyaan yang semakin aneh di telinga Blaire.
"Tentu saja tidak," sanggah Blaire dengan segera.
"Lalu? Rasanya terlalu aneh jika dia bertamu pada jam seperti ini dan langsung masuk ke kamarmu." Viktorija seakan membantah sanggahan dari putrinya.
"Dengarkan aku, Sayang," ucap wanita itu seraya meraih jemari lentik Blaire. "Seperti yang telah kukatakan sebelumnya bahwa kau telah berusia dua puluh tiga tahun. Adalah hal yang sangat wajar andai dirimu sudah memikirkan tentang masalah itu ...."
"Masalah itu?" ulang Blaire tak mengerti. Dia mengernyitkan kening seraya menatap aneh kepada sang ibu.
“Astaga!” Blaire membelalakkan mata, memotong begitu saja kalimat sang ibu.
“Video dan buku tentang reproduksi maksud Ibu?” tanyanya untuk memperjelas.
“Ya, kau pasti paham tentang apa yang kumaksud.” Viktorija menggeleng pelan seraya memijit pangkal hidungnya.
“Aku masih perawan jika itu yang hendak ibu tanyakan,” sahut Blaire, membuat wanita paruh baya itu menoleh sambil mengangkat satu alisnya. “Aku masih mengingat dengan jelas akan apa yang ayah katakan padaku dulu,” ucap Blaire lagi dengan mata menerawang.
“Dengarkan ayah, Bee. Anggaplah tubuhmu ini sebagai kuil suci. Tak boleh sembarang orang yang masuk ke sana kecuali orang-orang pilihan. Begitu pula dengan dirimu, jangan biarkan disentuh dengan mudah oleh siapa pun, karena kau sangatlah berharga bagi ayah.”
Sepenggal kata-kata mutiara sempat dilontarkan oleh Albert beberapa saat sebelum dirinya terkena serangan jantung dan meninggal dunia.
“Sampai saat ini, aku masih memegang teguh petuah itu, Bu. Ya, meskipun tidak semuanya.” Blaire tertawa kecil sambil melirik pada ibunya.
“Apa maksudmu tidak semuanya?” Viktorija menatap tajam anak gadisnya.
Tepat sesuai dugaan gadis itu, Viktorija tak akan melepaskan dirinya dengan mudah. Dia akan terus mengejar sampai semua rasa penasaran yang ada dalam hatinya terpenuhi.
“Aku memang belum pernah melakukan hal itu, tapi jika hanya sekadar berciuman ... aku pernah,” jawab Blaire dengan suara yang terdengar ragu. “Dengan Kenneth, waktu aku masih berkuliah dulu,” lanjutnya, “meskipun pada akhirnya hubungan kami tidak berjalan lancar. Itu semua karena Kenneth adalah pria brengsek. Dia tidak pernah menerima saat aku memutuskan hubungan kami ” Blaire mulai berceloteh. Satu hal yang menjadi kelemahannya adalah, jika dia sudah bercerita, Blaire akan kesulitan untuk berhenti. “Kenneth tidak pernah berkaca bahwa dia merupakan pria yang kasar dan suka memaksakan kehendak.”
“Ya, Tuhan. Apakah dia pernah berlaku kasar padamu?” tanya Viktorija.
“Dulu dia tidak berani bertindak kasar, Bu. Akan tetapi, kemarin entah mendapat bisikan setan dari mana, tiba-tiba saja dia menghadangku saat aku hendak pulang ke rumah. Dia mulai me ….” Blaire segera menutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua telapak tangan.
“Apa? Kau hendak mengatakan apa, Blaire?” Viktorija yang khawatir bercampur penasaran, segera menarik kedua telapak tangan putrinya.
“I-itu ....” keringat dingin mulai membasahi kening Blaire. Dalam hati, dia merutuki dirinya sendiri yang begitu mudahnya mengungkapkan segala sesuatu.
“Blaire,” desis Viktorija sambil beranjak dari duduknya. Wanita itu berkacak pinggang dengan sorot mata penuh ancaman.
“Aku seharusnya langsung pulang ke rumah, tapi Adam mengajakku ke pesta. Setelah itu, kami pulang. Padahal waktu belum menunjukkan tengah malam, tapi Kenneth berani menghadangku. Dia juga sempat melawan Adam. Beruntung Christian datang dan melumpuhkannya. Dia juga yang membawaku ke rumah sakit … ups …. Ya, Tuhan ... mulutku.” Blaire memejamkan mata rapat-rapat seraya menampari bibirnya sendiri.
“Kenapa Christian membawamu ke rumah sakit? Blaire Sutherland, jawab aku atau kudatangi rumah pria itu!” ancam Viktorija dengan nada tinggi.
“Ja-jangan, Bu. Christian tidak ada hubungannya dengan semua ini. Dia yang membantu dan melindungiku. Christian pula yang melumpuhkan Kenneth saat mantan tidak berguna itu menusuk pinggangku!” cegah Blaire, yang seketika membuat Viktorija terbelalak sambil memegangi dadanya karena rasa terkejut yang luar biasa.
🍒🍒🍒
Hai semua, cuma dua kata untuk novel ini : rekomended banget.