
"Apa maksudmu, Bu?" Blaire mengalihkan sejenak perhatiannya kepada Viktorija. "Sejak kapan kau jadi kehilangan pemikiran yang dulu sangat modern dan kritis?" protes gadis itu.
"Segala pemikiran itu hilang saat melihat jalan hidupmu yang tak sesuai dengan harapanku!" jawab Viktorija yang tampak kesal. "Kenapa, Blaire? Kenapa setelah mengenal Christian kau menjadi gadis yang sangat bodoh seperti ini?" tegas dan juga penuh penekanan nada bicara wanita paruh baya tersebut. Namun, Viktorija masih berkata dengan suaranya yang tidak terlalu nyaring. Bagaimanapun juga, dia tak ingin jika Ainsley sampai mendengar perselisihannya dengan Blaire.
"Kenapa kau masih saja mempermasalahkan hal itu, Bu? Kau tahu bahwa aku ...."
"Jangan katakan jika kau belum bisa menghilangkan perasaanmu terhadap pengecut itu!" sergah Viktorija.
"Christian bukanlah seorang pengecut, Bu!" sanggah Blaire dengan tegas. "Dia adalah ayah dari anakku. Kami terikat oleh Ainsley. Hubungan tersebut merupakan sesuatu yang tak mungkin dapat diputuskan dengan begitu saja."
"Aku tahu itu, Blaire! Namun, kau juga jangan pernah lupa dengan kehadiran Aaron di dekatmu!" tegas Viktorija lagi. "Ingatlah siapa yang selama ini telah dia lakukan. Selain itu, aku juga merasa tak enak hati terhadap Anette. Kami sudah berteman dengan sangat baik."
"Kau ingin aku mengorbankan perasaanku, Bu?" Blaire menatap kepada Viktorija dengan sorot tak percaya.
"Ini bukan tentang mengorbankan perasaan, tapi lebih menekankan bagaimana caranya agar akal sehatmu kembali bekerja!" Nada bicara Viktorija masih saja terdengar sangat tegas dan amat mengintimidasi. "Kau sudah tahu seperti apa karakter Christian. Dia bukanlah pria yang bertanggung jawab. Saat ini bisa saja dia memberikan perhatian kepada Ainsley, dan memperlihatkan seolah-olah dirinya adalah ayah yang perhatian."
"Akan tetapi, sampai kapan hal itu akan berlangsung? Berapa lama dia bisa bertahan harus mengurusi seorang anak berumur lima tahun. Kau saja yang merupakan ibu kandungnya masih sering mengeluh ini dan itu. Lalu, bagaimana dengan Christian? Sekadar bicara dan tersenyum saja, pria itu bahkan sangat kesulitan untuk melakukannya." Viktorija mendengus kesal
"Lalu, apa yang Ibu lihat pagi ini?" Blaire tetap berusaha membela Christian. Satu sisi batin gadis itu, telah berniat untuk mengungkapkan alasan di balik kepergian pria tersebut lima tahun yang lalu. Namun, dengan segera hati kecilnnya mencegah. Blaire tak ingin ada siapa pun yang mengetahui masa lalu kelam dari pria yang dirinya cintai. Ibunda Ainsley tadi lebih memilih diam dan mengalihkan perhatian kepada sang anak. "Ayo, Ainsley. Kita harus segera pergi ke kedai," ajaknya.
Ainsley yang telah lupa dengan segala hal yang tadi membuatnya merajuk, langsung saja menerima ajakan sang ibu. Dia tampak sumringah dan segera meraih tangan Blaire yang terulur padanya.
Tanpa banyak bicara, Blaire menuntun anak berambut pirang itu keluar rumah. Dia tak ingin berselisih paham lebih lama lagi dengan Viktorija. Wanita paruh baya tersebut bukanlah tipe orang yang mudah mengalah dalam sebuah perdebatan.
Mentari bersinar hangat pagi itu. Kota Edinburgh pun tidak terlalu tampak muram. Namun, suasana tadi tak sejalan dengan perasaan Blaire. Ibu satu anak tersebut berjalan dengan pikiran tak karuan, sambil terus menuntun Ainsley yang kini tampak lebih ceria.
"Apa aku boleh bermain di toko milik paman tampan, Bu?" tanya Ainsley menoleh kepada Blaire dengan tatapan penuh harap.
"Kenapa kau memanggilnya dengan sebutan 'paman tampan'?" Bukannya menanggapi pertanyaan dari Ainsley, Blaire justru malah balik bertanya kepada anak itu.
"Apakah menurut Ibu paman itu tidak tampan?" Ucapan yang meluncur dari bibir Ainsley terdengar begitu polos. "Jika aku sudah dewasa nanti, maka aku juga ingin jadi setampan dia," ujar Ainsley lagi seraya berjalan sambil sesekali melompat-lompat kecil.
"Hati-hati dengan langkahmu, Ainsley," tegur Blaire. Sesaat kemudian, gadis itu tersenyum kecil. Bayangan paras tampan Christian hadir dan menari-nari di pelupuk matanya. Walaupun pria tersebut jarang sekali bicara dan juga tersenyum, tapi justru itulah yang menjadi daya tarik si pria asal Meksiko.
Bayangan indah tentang Christian terus hadir, hingga tanpa sadar mereka telah tiba di depan kedai. Saat itu, Blaire melihat pria yang sejak tadi memenuhi pikirannya tadi sudah berdiri di luar toko.
"Paman!" seru Ainsley yang langsung berlari ke arah Christian. Sementara pria itu sendiri segera menyambutnya dengan hangat.
"Apa kau menghabiskan sarapanmu tadi?" tanya Christian seraya menggendong Ainsley dengan sebelah tangan. Anak itu pun mengangguk saat menanggapi pertanyaan tadi. "Kuharap kau tidak berbohong, Ains." Christian menyunggingkan sebuah senyuman kepada putranya. Sikap dan bahasa tubuh pria tersebut, memang terlihat sangat berbeda terhadap Ainsley.
"Benarkah itu, Blaire?" tanya Christian ikut mengalihkan pandangan kepada gadis berambut pirang, yang hanya tersenyum sambil menyelipkan rambut ke belakang telinga.
"Ibuku juga mengatakan kepada paman Aaron bahwa kau adalah ayahku. Apakah itu benar, Paman?" tanya Ainsley lagi yang seketika membuat Christian kembali mengarahkan pandangan kepada Blaire. Tatap mata pria itu seakan meminta sebuah penjelasan kepada ibu dari darah dagingnya.
"Aaron bertanya tentang siapa kau. Aku hanya menjawab seadanya. Tak ada yang harus kututupi tentang statusmu sebagai ayah biologis Ainsley. Namun, kau tak perlu khawatir. Kisah masa lalumu tetap aman bersamaku." Blaire tersenyum simpul. Dia lalu membalikkan badan. Gadis itu melangkah ke depan pintu kedai, kemudian mulai membuka kuncinya. Sebelum masuk, gadis itu kembali menoleh. "Maukah kau menjaga Ainsley selama aku merapikan kedai?" tanyanya.
"Dengan senang hati," jawab Christian seraya tersenyum cukup lebar. Dia masuk ke dalam toko bersamaan dengan Blaire yang juga memasuki kedai untuk memulai rutinitasnya seperti biasa.
Setelah Blaire selesai merapikan kedai, Viktorija baru muncul di sana. Tanpa bicara apapun, wanita paruh baya itu langsung saja menuju ke dalam dapur. Blaire juga tak hendak menanggapi sikap sang ibu. Dia tahu jika Viktorija tengah merasa kesal padanya. Namun, tak lama kemudian wanita yang menghabiskan sisa hidup dengan menjanda tersebut kembali keluar dari dapur. "Di mana Ainsley?" tanyanya datar.
"Dia sedang bersama Christian," jawab Blaire tanpa menghentikan aktivitas yang tengah dia lakukan.
Sementara Viktorija tak menanggapi lagi. Wanita berambut pendek tadi memutuskan kembali ke dalam dapur, dan tak keluar dari sana hingga waktu makan siang tiba.
Karena Ainsley yang tak kunjung kembali, Blaire pun mengambil kotak makan siang sang anak, kemudian berpamitan untuk pergi sebentar. Dia berjalan menuju toko milik Christian. Namun, ternyata dirinya mendapati bahwa Ainsley sedang tertidur lelap di atas sebuah matras yang tidak terlalu tebal, dalam ruangan kecil belakang toko.
"Ainsley tidur sejak beberapa saat yang lalu. Sepertinya dia sangat mengantuk." Christian memperhatikan anak itu yang tengah terlelap dengan posisi tak beraturan.
"Padahal ini waktunya makan siang. Namun, kasihan juga jika harus dibangunkan." Blaire masih memegangi kotak makan siangnya.
"Apa kau sudah makan siang?" tanya Christian.
"Tentu saja belum?" sahut Blaire menoleh sesaat kepada ayah dari putra semata wayangnya.
"Bagaimana jika kita makan siang bersama?" tawar Christian.
Sedangkan Blaire tak segera menjawab. Dia menoleh sekilas, lalu menunduk sambil tersenyum. "Apa kau sedang berusaha untuk merayuku lagi?" tanyanya dengan tatapan penuh arti.
"Terserah akan kau artikan apa," sahut Christian. "Kau terlihat jauh lebih kurus, Blaire. Aku suka melihat tubuhmu yang dulu ...." Seketika, Christian mengulum bibirnya, lalu tertunduk karena ucapannya tadi. "Maksudku ...." Christian mencoba untuk menjelaskan. Namun, dia justru malah terlihat salah tingkah.
"Aku tak pernah melihatmu seperti ini, Chris? Apa kau memang sudah banyak berubah?"
"Apakah begitu menurutmu?"
Blaire tak menjawab. Gadis itu hanya tersenyum. Namun, senyuman tadi perlahan memudar, ketika Christian mendekat. Pria tampan tersebut lalu menyentuh pipi Blaire dengan lembut. "Chris ...." Suara Blaire tertahan, karena Christian lebih dulu menciumnya dengan mesra. Lima tahun berlalu, kini bibir mereka tak lagi terasa kering.