Edinburgh

Edinburgh
Watched



“Anda siapa?” Blaire mundur beberapa langkah, lalu melipat tangan di dada.


“Ah, maaf. Kenalkan, namaku Sylvester Mason. Aku adalah pengacara pribadi keluarga Sheldon,” ucap pria itu memperkenalkan diri.


“Sheldon?” Blaire mengernyitkan kening. “Bukankah mereka adalah anggota parlemen sekaligus pengusaha yang terkenal itu?” tanyanya. Baru tadi malam, Adam menyebutkan nama tersebut.


“Tepat sekali. Bisakah kita bicara sebentar?” pinta pria itu lagi.


“Untuk apa? Kurasa aku tak ada hubungan apapun dengan kalian,” tolak Blaire seraya menggeleng dan berniat untuk pergi.


“Aku tahu bahwa Anda berteman akrab dengan Adam Fraser,” ujar Sylvester.


“Lalu?” Blaire semakin merasakan keganjilan dari sikap pria di hadapannya.


“Tadi aku berusaha menemuinya di rumah keluarga Fraser. Namun, tak seorang pun dari mereka yang bersedia menemuiku,” terang pria itu lagi.


“Kalau begitu, Anda tidak berhak memaksa,” sahut Blaire dengan sikap cukup tenang. “Mereka sedang dalam suasana berduka.”


“Justru itu, Nona. Tolong dengarkan aku sebentar.” Pria itu masih terus berusaha untuk mendesak Blaire.


“Dengar, Tuan. Aku tahu bahwa keluarga Sheldon sangat terpandang di kota, bahkan negara ini. Akan tetapi, itu tidak berarti bahwa mereka bisa berbuat seenaknya.” Blaire juga bersikeras menolak.


“Setidaknya tolong sampaikan kepada Adam untuk tidak memperpanjang kasus tentang kematian ayahnya,” pesan Sylvester dengan raut penuh arti.


“Apakah ini sebuah ancaman?” desis Blaire sambil memicingkan mata. Gadis itu semakin sinis memandang pria di hadapannya.


“Ah, tentu tidak. Aku tidak berani untuk berbuat sejauh itu. Aku hanya mengingatkan. Biarlah tuan Fraser beristirahat dalam damai. Jangan kaitkan kematiannya dengan kasus yang tengah dia tangani,” tutur pria itu. Raut wajahnya kini berubah tenang dan datar, tak seperti tadi.


“Bagaiman Anda bisa menyimpulkan bahwa Adam akan mengusut kematian ayahnya?” selidik Blaire penuh curiga.


“Aku hanya menebak saja,” kilah Sylvester.


“Aku tidak ingin berbicara denganmu lagi!” tolak Blaire sangat tegas. Gadis itu berlalu dari sana tanpa berkata apa-apa lagi. Dalam hatinya, dia merasa begitu kesal atas sikap angkuh pengacara keluarga Sheldon.


“Memangnya dia pikir dia itu siapa? Bisa mengatur orang seenaknya." Blaire menggerutu sendiri. Dia membawa perasaan jengkel itu hingga dirinya tiba di depan rumah Eileen. Rasa tak nyaman tadi seketika menghilang, ketika dirinya bertemu dengan Eileen yang langsung menyambut di depan rumah.


“Aku sangat bersemangat waktu kau mengabari bahwa akan datang kemari. Bagaimana lukamu? Apakah kau sudah sembuh? Kau seharusnya tidak berjalan terlalu jauh, Blaire,” celoteh Eileen tanpa henti.


“Aku bosan terus berdiam diri di rumah,” sahut Blaire lesu. “Ibu juga tidak mengizinkanku bekerja di kedai.”


“Kalau begitu masuklah. Akan kubuatkan coklat hangat untuk teman kita mengobrol!” Eileen terlihat ceria dan penuh semangat. Dia lalu mengajak Blaire untuk masuk ke dalam kamarnya.


“Tunggu sebentar.” Setelah memastikan bahwa Blaire duduk dengan nyaman di ranjang, gadis itu buru-buru keluar.


Tak lama kemudian, Eileen kembali masuk ke dalam kamar sambil membawa dua mug coklat panas. “Biar kutebak. Apakah kau membawa kabar bagus?” tanyanya.


“Sebenarnya kabar buruk. Christian tidak bersedia datang. Kuharap kau sudah mempersiapkan uang tambahan untuk membayar Bridget."


“Entahlah. Selama ini, aku yang selalu menolak para pria. Sekarang, giliranku yang ditolak berkali-kali oleh Christian. Kurasa aku sudah kehilangan pesonaku, atau mungkin ini sebuah karma,” celetuk Blaire yang membuat Eileen tergelak.


“Ya, sudah. Tidak apa-apa, yang penting kau sudah berusaha. Aku sungguh menghargainya,” hibur Eileen. Dua gadis itu akhirnya tidak membahas tentang Christian lebih jauh lagi. Mereka membicarakan ha lain yang tak kalah seru, hingga Blaire tak sadar bahwa waktu sudah menunjukkan lewat tengah hari.


“Astaga, aku harus pulang. Aku tidak boleh terlambat meminum obat.” Blair segera berdiri dan berpamitan kepada Eileen. Terlebih karena Viktorija sudah berkali-kali mengirimkan pesan kepadanya.


“Baiklah. Kalau begitu sampai berjumpa besok malam, Blaire. Jaga kesehatanmu baik-baik, karena kita akan berdansa sampai tengah malam!” ujar Eileen antusias. “Aku jadi teringat kepada Adam. Seharusnya dia ikut bersenang-senang bersama kita. Kasihan sekali.”


“Bagaimana jika sebelum berangkat ke pesta kita mampir ke rumahnya?” cetus Blaire.


“Itu adalah ide yang bagus. Kurasa tak masalah jika setiap hari kita datang ke rumahnya untuk memberikan semangat, sampai prosesi pemakaman minggu depan,” balas Eileen setuju.


“Ya, sudah. Tetapkan saja jamnya. Aku pasti akan ikut,” pungkas Blaire yang sudah berada di beranda rumah Eileen sambil melambaikan tangan. Gadis itu berniat untuk kembali berjalan kaki. Akan tetapi, dia merasakan perutnya semakin nyeri. Blaire berhenti sejenak di trotoar sembari membungkuk memegangi pinggang. Setelah kuat, barulah dia melanjutkan langkah.


Ketika Blaire hendak berbelok di perempatan, gadis itu tiba-tiba merasakan keanehan. Dia seperti tengah diawasi atau diikuti seseorang. Blaire segera mengedarkan pandangan ke sekitar. Namun, dirinya tak menemukan sesuatu yang mencurigakan, selain beberapa kendaraan yang lewat dan pejalan kaki di kedua sisi jalan raya.


Blaire kembali meneruskan langkah. Dia bernapas lega, ketika sudah berhasil sampai di depan rumah. Dengan tergesa-gesa, dirinya membuka kunci pintu lalu masuk ke dalam. Tak lupa, Blaire mengunci pintu dan menutup tirai-tirai jendela.


Gadis cantik bermata biru itu kemudian menaiki tangga perlahan ke kamarnya. Di sana, Blaire mendekat ke jendela dan mengawasi sekeliling. Suasana saat itu benar-benar sepi. Kebanyakan tetangganya memang pekerja atau pegawai yang beraktivitas dari pagi hingga sore. Sedangkan warga yang berusia lanjut, lebih banyak berdiam diri di rumah.


Blaire mengembuskan napas lega. Sepertinya, dia bisa makan siang dan minum obat dengan nyaman. Selesai menghabiskan makanan dan meminum obat, gadis itu bermaksud untuk membersihkan meja makan. Namun, dia mendengar ketukan pelan di pintu depan.


Blaire sempat terpaku untuk beberapa saat. Dia tidak segera beranjak ke arah pintu. Akan tetapi, ketukan itu terdengar semakin kencang, sehingga dia memutuskan untuk mengintip siapa yang datang melalui lubang pintu.


Blaire seketika melonjak kegirangan sampai tak ingat akan sakitnya, saat melihat Christian lah yang datang. Gadis itu lalu merapikan rambut dan pakaian sebelum membuka pintu. “Hai, Chris. Kukira kau sedang berada di toko,” sapa Blaire berbasa-basi setelah mempersilakan pria rupawan itu masuk, walaupun Christian menolak dan memilih untuk berdiri di ambang pintu.


“Aku baru saja mengambil sesuatu yang tertinggal di rumah. Lalu, aku teringat kau. Kupikir sekalian saja memeriksa keadaanmu,” jelas Christian dengan nada datar dan dingin.


“Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja,” sahut Blaire ceria.


“Baguslah kalau begitu. Aku pergi dulu.” Christian mengangguk dan bermaksud untuk meninggalkan Blaire, tanpa menunggu tanggapan dari gadis cantik tersebut. Entah kenapa, tiba-tiba saja pria itu berhenti di tengah-tengah jalan setapak yang membelah halaman rumput rumah Blaire.


Christian kembali berbalik pada gadis cantik tadi lalu memandangnya. “Apa kau baru saja keluar rumah?” tanyanya.


“Ya, memangnya kenapa?” Blaire malah balik bertanya penuh keheranan.


“Untuk sementara waktu, kusarankan kau jangan berkeliaran ke mana-mana,” jawab Christian, masih dengan sikapnya yang dingin.


🍒🍒🍒


Yuk rileks sejenak dengan membaca novel keren di bawah ini.