Edinburgh

Edinburgh
Painful Memory



Aaron terdiam beberapa saat. Dia memandang paras cantik Blaire dengan lekat. Jantung pria itu berdebar kencang, ketika tatap mata Blaire terus menghujaninya dan seakan hendak menguliti. Akan tetapi, Aaron adalah seorang pria. Dia memiliki naluri yang sangat aktif dan dapat menangkap getaran-getaran kuat. Hal itu terasa seperti sebuah tarikan magnet, yang memaksa dirinya agar semakin mendekat.


"Blaire," ucap Aaron pelan, ketika mereka telah berdiri dalam posisi saling berhadapan dengan jarak yang sangat dekat.


Sementara gadis itu tidak menjawab. Dia masih saja memandang lekat kepada pria tampan berambut pirang tadi. Tatapan penuh arti dan juga tantangan bagi seorang Aaron Walsh.


Perlahan, Aaron menggerakkan tangannya. Dia memberanikan diri untuk menyentuh paras cantik Blaire, yang selama ini hanya dinikmati lewat sebuah tatapan. Namun, pada malam itu Blaire seakan mengizinkan dia melakukan apapun yang dirinya inginkan. Akhirnya, Aaron dapat merasakan betapa manis bibir yang selama ini tak tersentuh siapa pun, selepas berpisah dari Christian.


Untuk pertama kali setelah bertahun-tahun terlewati dalam sebuah penantian. Jika ini memang sebuah mimpi, maka Aaron pasti tak ingin terbangun. Dia akan memilih untuk tetap terlelap dalam indahnya bunga tidur tersebut.


Beberapa saat telah berlalu, ketika Aaron merasa apa yang dilakukannya cukup untuk permulaan. Bagaimanapun juga, itu hanya sebuah awal. Aaron berharap agar setelah malam yang indah ini, maka akan ada malam-malam yang jauh lebih indah lagi antara dirinya dengan Blaire.


"Maafkan aku, Blaire. Aku lepas kontrol," ucap Aaron setelah mengakhiri pertautannya, meskipun ada rasa bahagia di balik kata-kata penyesalan tadi.


"Kau tidak perlu meminta maaf, Aaron," sahut Blaire pelan. Gadis itu terlihat biasa saja. "Bukankah besok kau akan pergi ke Glasgow? Itu berarti kau harus segera beristirahat. Aku juga sangat lelah." Blaire mengempaskan napas pelan. "Selamat malam, Aaron." Dia tersenyum lembut, kemudian berbalik.


"Selamat malam, Blaire," balas Aaron. Pria itu berdiri mematung sambil memandang Blaire hingga menghilang di balik pintu. Namun, Aaron ternyata masih tetap di tempat dia berada, meski gadis itu sudah masuk. Aaron mendongak dan melihat lampu yang menyala dari jendela kamar gadis yang baru saja memberinya sebuah harapan indah. Itu berarti bahwa Blaire telah masuk ke sana.


Aaron kemudian mengeluarkan ponsel dari saku jaket. Dia lalu mengetikkan sebuah pesan yang dirinya kirimkan kepada Blaire. Beberapa saat kemudian, tampaklah jendela kamar gadis itu terbuka. Wajah cantik ibunda Ainsley pun muncul di sana dengan sebuah senyuman. Setelah itu, Aaron melambaikan tangan. Barulah dia beranjak dari tempatnya berdiri.


Aaron tampak sangat bahagia. Pria tampan berambut pirang tersebut bahkan berjalan sambil menari-nari kecil. Dia seperti seorang anak yang baru mendapatkan hadiah dari kedua orang tuanya. Aaron tak tahu, bahwa Blaire masih memperhatikan dia dari balik jendela. Blaire pun tersenyum melihat tingkah laku pria tiga puluh tahun itu, yang baginya teramat lucu dan juga konyol.


......................


"Ainsley, jangan ke mana-mana!" seru Blaire kepada putranya yang terus berlarian di dalam kedai. Untung saja karena saat itu mereka belum membuka tempat tersebut.


"Ainsley, kumohon diamlah!" tegur Blaire yang tengah sibuk menyiapkan meja. Dia hanya bicara tanpa melihat keberadaan putranya. Blaire bahkan terus fokus pada pekerjaan yang sedang dia lakukan, dan mengira bahwa sang anak masih berada pada tempat di mana tadi dia melihatnya. Namun, setelah beberapa saat berlalu, ibu satu anak tersebut baru tersadar bahwa Ainsley tak ada di sana.


"Astaga! Ainsley!" seru Blaire panik. Dia menghentikan apa yang sedang dilakukannya, kemudian berlari keluar dari kedai. Blaire berdiri sambil mengedarkan pandangan ke segala arah. Dilihatnya ke sebelah kiri, di mana terdapat deretan toko. Gadis itu pun berlari ke sana. Dari balik pintu kaca, dia melihat ke dalam dan mencari sosok putra semata wayangnya. Namun, hingga tiba di tiga toko yang berderet rapi di dekat kedai, Blaire tak menemukan keberadaan sang anak.


Panik dan juga teramat kalut. Blaire tampak mulai tak karuan. Dia yakin bahwa Ainsley pasti tak akan mungkin keluar terlalu jauh dari sekitar kedai. Gadis itu pun berjalan cepat ke arah sebaliknya. Dia kini menuju jalur sebelah kanan, di mana terdapat toko barang antik milik Christian yang telah lama tutup. Blaire bahkan hingga berlari dan kembali mencari putra kesayangannya tersebut. Akan tetapi, lagi-lagi dia tak dapat menemukan bocah lima tahun itu.


"Ya, Tuhan. Kau pergi ke mana, Ainsley?" Blaire hampir menangis karena tak kunjung menemukan keberadaan putranya. Dalam kekalutan seperti itu, dia tak tahu harus berbuat apa. Vikrorija tengah sibuk dengan urusannya. Blaire tak ingin mengganggu konsentrasi wanita itu. Sedangkan Aaron pun sedang mengurusi masalah pekerjaan. Lebih tidak mungkin lagi bagi Blaire untuk mengganggu pria tersebut. Blaire tak ingin membuat mereka jadi ikut merasa khawatir, sehingga membuat segala urusan menjadi runyam atau bahkan terbengkalai.


Blaire kemudian memutuskan untuk kembali ke kedai. Dia melangkah dengan gontai menyusuri trotoar. Tepat saat lewat di depan toko barang antik milik Christian, Blaire pun tertegun bahkan hingga mengernyitkan kening. Bagaimana tidak, dia melihat Ainsley ada di dalam toko tersebut. Anak itu tengah asyik melihat-lihat patung dari porselen. Ainsley tampak sangat antusias berada di dalam sana. Dia berjalan dari satu titik ke titik lain.


Perlahan Blaire melangkahkan kaki ke depan pintu. Dengan tangan gemetaran, dia menyentuh pegangannya kemudian memutar hingga pintu dengan kusen bercat hitam tadi terbuka. Ragu, gadis itu melangkah masuk ke dalam toko yang menyimpan banyak sekali kenangan baginya. Terlebih ketika pandangan Blaire terkunci pada meja di mana dia menyerahkan harta tak ternilai kepada seorang Christian.


Dalam benak seorang Blaire, kembali berputar rekaman kejadian beberapa tahun silam, pada suatu senja di musim gugur. Semuanya terlihat dengan sangat detail dalam pelupuk mata gadis itu. Blaire bahkan seperti dapat merasakan kembali setiap sentuhan hangat nan lembut, dan juga begitu indah dari pria yang telah mencampakkan dirinya selama ini.


"Ainsley," panggilnya dengan begitu lirih.


Anak itu menoleh, kemudian tersenyum. "Kemarilah, Bu. Lihat ini," ajaknya. Ainsley melambaikan tangan, berharap agar sang ibu segera menghampiri.


Namun, kedua kaki milik Blaire seakan terpasung di tempat dia berada. Gadis itu tak mampu untuk bergerak ke manapun dan hanya dapat terpaku. Sedangkan sepasang matanya berusaha untuk menahan butiran bening agar tak terjatuh lagi. Blaire sudah berjanji kepada Aaron, bahwa dia tak akan menangis karena mengingat seorang Christian.


Akan tetapi, pada kenyataannya hal tersebut tak dapat dia lakukan. Air mata yang berusaha untuk dibendung dengan sekuat tenaga, pada akhirnya lolos dan tertumpah juga. Tangis perih kembali hadir bersama rasa sakit yang telah dirinya lupakan. "Blaire." Suara berat nan maskulin itu kembali terdengar di telinganya dengan jelas.