Edinburgh

Edinburgh
To the Party



Blaire mengangkat sebelah alisnya, ketika mendapat peringatan dari Christian. Gadis itu memang merasakan ada sesuatu yang janggal, tapi dia berusaha untuk tidak terlalu berlebihan dalam menanggapi hal tersebut. "Bisa jelaskan apa alasannya?" tanya gadis itu dengan sikap yang terlihat sangat memuakkan di mata Christian.


Pria bermata abu-abu itu mengempaskan napas pendek, kemudian berdecak pelan. "Blaire Shuterland. Ternyata kau juga merupakan gadis yang sangat menyebalkan. Selain pengganggu, banyak bicara, keras kepala dan menyebalkan ... lalu apalagi?"


"Kenapa kau menjadi sangat sensitif. Chris?" Blaire masih terlihat tenang. Gadis itu tersenyum manis. "Aku hanya bertanya tentang alasanmu melarangku untuk keluar rumah. Kau tinggal mengatakannya padaku, tanpa harus menyembunyikan sesuatu yang tak dapat kupahami," ujar Blaire enteng.


"Untuk saat ini, aku belum bisa memberikan alasan yang benar-benar bisa membuatmu memahami situasinya seperti apa. Namun, aku hanya sekadar mengingatkan. Selebihnya ... terserah kau, Nona." Christian kemudian membalikkan badan. Dia hendak berlalu dari hadapan Blaire.


Namun, baru saja pria itu akan keluar dari pekarangan yang asri milik keluarga Shuterland, langkahnya harus terhenti saat dia mendengar seruan dari gadis tadi. "Sayangnya besok malam aku harus pergi ke pesta. Kau hanya memiliki dua pilihan, Chris. Pertama, cegah aku dan katakan apapun alasan yang bisa kupahami dengan detail. Kedua, pergilah bersamaku. Anggap saja kau sedang berbuat amal dengan menjaga seorang anak gadis dari bahaya yang akan menimpanya." Blaire tersenyum puas setelah berkata demikian.


Namun, nyatanya Christian hanya menoleh. Pria itu tak menanggapi ucapan Blaire sama sekali. Setelah menatap si gadis untuk sejenak, dia memilih berlalu begitu saja.


Blaire pun mendengus pelan seraya kembali masuk. Dia bahkan sampai membanting pintu, meskipun tidak terlalu keras. Dihadapkan pada pria dengan watak seperti Christian memang membuat dirinya merasa tertantang. Akan tetapi, perasaan kesal dan jengkel tetap saja tak bisa dia abaikan begitu saja.


......................


Keesokan harinya, Blaire sibuk memilih pakaian yang akan dia kenakan untuk pergi ke pesta nanti malam. Gadis cantik berambut pirang tersebut membuka pintu lemari lebar-lebar. Sepasang matanya yang berwarna hijau, awas menilik satu per satu.


Ada beberapa dress yang dia miliki. Namun, Blaire ingat jika semuanya pernah dia kenakan untuk pergi ke pesta teman-temannya pada liburan musim panas yang lalu. "Ck!" Gadis itu berdecak pelan. Dia terpaku sejenak sambil bertolak pinggang, menghadapi setumpuk pakaian yang tertata rapi di dalam lemari.


Sesaat kemudian, terdengar suara ketukan di pintu. Wajah cantik nan awet muda Viktorija muncul dari baliknya. "Aku akan berangkat ke kedai. Apa kau ingin pesan sesuatu untuk nanti sore?" tawarnya.


"Tidak, Bu," sahut Blaire. "Nanti sore Eileen dan Sandra akan menjemputku kemari," ucap gadis itu tanpa menoleh. Dia masih sibuk memperhatikan lemari pakaiannya. Blaire bahkan tak menyadari ketika sang ibu sudah berdiri di dekat dia.


"Apa kau punya masalah dengan isi lemarimu?" tanya Viktorija.


"Um ... sepertinya begitu," pikir Blaire ragu. "Aku bingung harus mengenakan dress yang mana. Semuanya sudah pernah kupakai untuk pergi ke pesta bersama mereka," jelas gadis itu lagi.


"Kupikir ada masalah yang sangat berarti," balas Viktorija menanggapi. "Ayo, ikutlah denganku," ajak wanita itu. Dia menuntun Blaire menuju kamarnya. Setelah tiba di sana, Viktorija segera membuka lemari pakaian berukuran hampir sama dengan yang berada di dalam kamar Blaire. Viktorija, kemudian membukanya, lalu mengambil sebuah halter neck dress berwarna navy. Dia menyodorkan dress tadi kepada gadis berambut pirang yang sejak tadi hanya memperhatikan. "Coba kau kenakan ini," sarannya.


"Ini bajumu, Bu?" tanya Blaire setengah tak percaya.


"Ya. Memangnya kenapa?" Viktorija balik bertanya.


"Tidak apa-apa, hanya saja ... um ... ini ... terlalu pendek untukmu ...." ujar Blaire seraya mengernyitkan kening. Dia menilik-nilik dress tadi, kemudian menoleh kepada sang ibu yang berpenampilan rapi dan tertutup. Setelah itu, Blaire kembali melihat dress yang masih dia pegang. "Aku tidak yakin kau pernah memakai pakaian seperti ini, Bu."


Sedangkan Viktorija hanya tertawa renyah mendengar ucapan polos putrinya. Dia lalu menutup kembali pintu lemari, kemudian berjalan menuju sebuah rak di mana dirinya menyimpan koleksi sepatu. Dia lalu mengeluarkan sebuah bungkusan rapi dari sana. Viktorija memperlihatkan sepasang kitten heels berwarna hitam, dengan pita besar pada bagian depan yang bermotif polkadot.


"Mendiang ayahmu memberikan sepatu ini pada saat ulang tahun pernikahan kami yang pertama. Aku menyimpan itu dengan baik, sehingga kondisinya masih sangat terjaga.Jika kau mau, kau boleh memakainya," terang Viktorija seraya menyodorkan sepatu tadi.


Blaire menerimanya dengan wajah berseri. Selama ini, dia selalu setia mengenakan brogue shoes dalam kesehariannya. Berbeda dengan Eileen ataupun Sandra. "Apa menurutmu aku akan cocok menggunakan sepatu manis seperti ini, Bu?" tanya Blaire terdengar ragu.


"Ini sepatu wanita, Blaire. Tentu saja kau akan cocok mengenakannya. Kenapa harus merasa ragu? Lagi pula, hak sepatu itu tidak tinggi. Kakimu akan tetap merasa nyaman," sahut Viktorija tenang. "Sudah, bawa saja ke kamarmu lalu kau coba. Aku rasa mereka adalah perpaduan yang manis. Lagi pula, ukuran tubuh kita sama. Dulu aku selangsing dirimu," ujar Viktorija seraya mengangkat kedua alisnya.


"Aku akan berangkat ke kedai," seru Viktorija dengan tidak terlalu nyaring, setelah sang putri melewati pintu kamar.


"Okay," balas Blaire yang sudah berlalu dan tak terlihat lagi dalam pandangan Viktorija.


Selama seharian itu, Blaire tak melakukan apapun selain sibuk berbalas pesan dalam chat grup. Mereka sedang membahas acara pesta untuk nanti malam, hingga keluarlah angka yang merupakan sisa pembayaran. Nominal itu harus dilunasi saat pesta telah selesai nanti.


"Astaga! Kenapa Bridget tega sekali terhadap kita?" protes Blaire saat Eileen dan Sandra telah datang menjemputnya.


"Haruskah kita menyalahkan tetanggamu yang tampan itu, Blaire?" sahut Sandra menanggapi tanpa keluar dari dalam mobil. Sama halnya dengan Eileen yang berada di balik kemudi.


"Ah, ya. Ini semua karena dia tidak bersedia ikut. Kemarin dia malah melarangku untuk keluar rumah," ujar Blaire dengan wajah yang sedikit tertekuk. "Bagaimana dengan yang lainnya?" tanya Blaire kemudian.


"Mereka langsung ke pub dan menunggu di sana," jawab Eileen. Sejak tadi, pandangannya tak lepas dari sosok Blaire. "Omong-omong, kau terlihat sangat berbeda hari ini. Aku suka dress yang kau pakai, Blaire," sanjungnya. Sedangkan Blaire tidak menjawab. Dia hanya menanggapi dengan cara mengibaskan ekor rambut panjangnya yang dikuncir rapi.


"Kuharap kau sudah mencukur bulu ketiakmu," gurau Sandra sambil terkekeh geli.


"Ah, jangan ingatkan aku dengan hal itu," protes Blaire yang sudah duduk manis di jok belakang. Volkswagen Beetle Final Edition warna platinum grey itu pun melaju dengan tenang, membawa ketiga gadis cantik tadi ke pub milik Bridget yang berada di pusat kota. Mereka tak memedulikan cuaca musim gugur yang terasa menusuk. Dalam benak ketiga gadis tadi adalah pesta dan bersenang-senang.


"Oh iya, Blaire," Sandra yang duduk di sebelah Eileen menoleh ke belakang. "Mengapa Christian melarangmu keluar rumah? Apakah kalian sudah saling membagi perhatian?" pancingnya.


"Tidak juga. Christian masih tetap seperti biasa. Aku tidak tahu kenapa dia tiba-tiba bersikap demikian," sahut Blaire seraya mengalihkan pandangan ke luar. Dia tak mungkin mengatakan yang sebenarnya kepada Eileen dan juga Sandra. Lagi pula, apa yang menjadi kecurigaan Blaire ataupun Christian belum dapat dipastikan serta dibuktikan kebenarannya.


"Aku akan menjadi orang pertama yang merasa iri, andai pria itu ternyata jatuh cinta padamu, Blaire," ujar Eileen sambil terus mengemudi.


"Ah sudahlah. Aku rasa itu tidak mungkin," bantah Blaire. Sorot matanya menyiratkan rasa kecewa yang tak dapat dia ungkapkan. Namun, tentu saja dia tak dapat memaksakan perasaan orang lain. Sama halnya dengan posisi dia dan Adam. Blaire pun tak ingin memaksakan diri untuk dapat menerima cinta dari pemuda yang kini telah menjadi yatim tersebut.


"Apa kita akan mampir dulu ke tempat Adam?" tanya Blaire yang teringat dengan rencananya kemarin bersama Eileen.


"Apa dia ada di rumah?" Sandra kembali menoleh kepada Blaire.


"Entahlah. Kita coba saja. Lagi pula, tempat tinggal Adam satu arah dengan pub milik Beidget," sahut Blaire.


"Ya, kau benar," timpal Eileen


Ketiga gadis itu pun terus berbincang seru selama dalam perjalanan, tanpa menyadari bahwa ada seseorang yang mengikuti mereka dari sejak awal mobil itu melaju.


🍒🍒🍒


Rekemondasi novel keren dan pastinya seru untuk diikuti. Ayo cek😉