
Blaire duduk di atas matras yang biasa menjadi alas tidur Christian. Gadis itu juga masih mengenakan gaun pengantinnya yang lusuh. Ibunda Ainsley tersebut seakan ingin bersembunyi di ruangan kecil dalam toko barang antik tadi. Dia hanya termenung, memikirkan segala hal yang baru saja dialaminya.
Beberapa saat kemudian, Christian datang menghampiri. Dia membawa baskom kecil, lalu meletakkannya di dekat matras. Pria tampan asal Meksiko tersebut, kemudian memeras sebuah sapu tangan di dalam baskom berisi air tadi. Tanpa diduga, Christian membantu membersihkan riasan Blaire yang acak-acakan.
"Apa tokomu sudah tutup?" tanya Blaire yang membiarkan Christian mengelap wajahnya hingga bersih. Gadis itu pun merasa jauh lebih segar kini.
"Ya. Aku menutup toko lebih awal dari biasanya," jawab Christian yang sudah selesai dengan aktivitas barusan. "Ini terlihat jauh lebih baik," ucap pria bermata abu-abu itu kemudian. Seutas senyuman muncul di bibirnya yang dihiasi kumis dan janggut tipis.
"Terima kasih, Chris," balas Blaire. Perasaannya kali ini sudah jauh lebih baik. Berbicara dengan Christian adalah obat mujarab bagi segala keresahan di dalam hati.
"Apa yang akan kau lakukan setelah ini?" tanya Christian dengan suaranya yang terdengar begitu berat.
"Entahlah. Aku akan mengembalikan gaun pengantin ini kepada Aaron." Blaire tertawa pelan. "Ini lucu sekali," ucapnya lirih.
"Apanya yang lucu?" tanya Christian. Pria itu terus memusatkan perhatian kepada gadis cantik di hadapannya.
"Gaun pengantinku yang pertama dipenuhi noda darah Ainsley. Aaron melarangku untuk memakainya lagi. Dia lalu membelikanku gaun yang baru. Namun, gaun ini juga tetap tidak kugunakan untuk berjalan di altar." Blaire tersenyum getir.
Sementara Christian masih melayangkan tatapannya kepada Blaire. Dia seakan tengah menganalisa setiap hal yang ada pada diri gadis cantik tersebut. "Apa kau merasa sedih karena Aaron telah membatalkan pernikahan kalian?" tanyanya dengan nada bicara yang terdengar lain di telinga Blaire.
"Maksudmu? Apa aku terlihat begitu terpuruk, Chris? Apakah sangat kacau?" Blaire mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan kecil dengan suasana temaram itu. Dia seakan tengah mencari sesuatu. Namun, Blaire tak menemukan apa yang dirinya butuhkan.
"Apa yang kau cari?" tanya Christian. Dia merasa heran saat melihat sikap Blaire.
"Cermin. Aku butuh cermin untuk melihat seberapa berantakannya diriku," jawab Blaire seperti orang yang sedang meracau.
"Kau tak memerlukan hal itu. Penglihatanku sudah cukup untuk memberitahu seperti apa keadaanmu saat ini," ujar Christian. "Aku yang akan selalu mengingatkanmu Blaire. Aku yang akan memberitahu seberapa cantik atau jeleknya dirimu, karena kau tak memerlukan lagi penilaian dari orang lain."
"Chris ...." Blaire tak tahu harus berkata apa. Dia hanya dapat memandang ayah dari putranya tersebut dengan tatapan sayu.
"Gantilah bajumu. Aku yakin jika kau tak nyaman harus mengenakan gaun ini terus-menerus." Christian lalu menyodorkan sebuah t-shirt berwarna hitam polos kepada Blaire. Setelah itu, dia beranjak dari duduknya sambil membawa baskom berisi air tadi. Christian membiarkan Blaire mengganti pakaiannya seorang diri.
Blaire pun tak membantah. Dia meraih baju yang Christian letakkan di atas matras, tak jauh dari dirinya. Tak membutuhkan waktu yang lama, gadis itu sudah berganti pakaian. Rasanya memang sangat nyaman. Blaire merasakan jauh lebih ringan. Namun, gadis itu masih membiarkan rambutnya dalam keadaan tersanggul seperti tadi.
Setelah Blaire selesai berganti pakaian. Christian kembali ke ruangan kecil itu. Dia terpaku untuk sejenak, saat melihat Blaire yang sedang berdiri dalam balutan t-shirt besar miliknya. Ya, baju tadi terlihat sangat longgar di tubuh ramping Blaire. Sebagian paha dan kaki jenjang gadis cantik itu pun terekspos dengan jelas. "Aku sudah menghubungi nyonya Shuterland dan mengatakan bahwa kau ada di sini," ucap Christian, membuat Blaire yang sedang melipat gaun pengantinnya segera menoleh.
"Ainsley tadi sempat menangis. Namun, ibumu berhasil menenangkannya. Nyonya Shuterland juga sudah berbicara secara baik-baik dengan ibunya Aaron," terang Christian. Sedangkan Blaire hanya menarik napas dalam-dalam, saat mendengar penuturan dari Christian. Dia kembali duduk di atas matras. "Apa kau akan pulang sekarang, atau ingin menenangkan diri dulu di sini?"
"Apa kau tidak keberatan jika aku di sini untuk beberapa saat lagi?" Blaire balik bertanya.
"Tentu saja tidak. Kau ingin sesuatu? Makanan atau ...."
"Aku hanya ingin menangis," sela Blaire diiringi keluhan panjang.
"Blaire ...." Christian segera duduk di dekat gadis itu. Tanpa banyak bicara, dia meraih kepala Blaire kemudian menyandarkannya di atas pundak. Christian pun menahan kepala si gadis agar tak bergerak ke manapun. "Aku tahu jika kau membutuhkan ini," ucapnya.
"Ya. Kau selalu tahu segalanya," balas Blaire.
"Aku sudah menyuruhmu untuk mundur sejak awal," ucap Christian pelan. "Mulai saat ini, semua balas budimu terhadap Aaron sudah terbayar lunas. Kau tak harus merasa terbebani lagi." Christian menarik napas dalam-dalam.
"Terkadang, aku merasa kasihan dengan pria itu. Namun, dia membutuhkan seseorang yang mampu mengarahkannya dengan kuat. Menurutku kau terlalu lembut, Blaire." Christian kembali menarik napas dalam-dalam.
"Begitukah?" Blaire sedikit mendongak, demi melihat wajah tampan Christian. Namun, pria itu tak membalas tatapannya. Christian hanya mengangguk pelan. Mereka berdua kembali melanjutkan perbincangan.
Tanpa terasa, siang merayap pelan menyambut sang malam. Suasana pun masih terbilang terang, meski saat itu waktu telah menunjukkan pukul delapan belas tiga puluh. Pada musim panas seperti saat ini, matahari akan terbenam pada pukul delapan malam.
Blaire yang sudah menenangkan diri, bersiap untuk pulang. Dia memeluk gaun pengantin yang akan dirinya kembalikan kepada Aaron. Sambil berdiri di depan toko, gadis cantik itu memperhatikan Christian yang sedang mengunci pintu.
"Bagaimana jika kubawakan gaun itu untukmu?" tawar Christian yang melihat Blaire berdiri sambil memeluk gaun pengantinnya.
"Tidak usah, Chris. Lagi pula, ini bisa menyamarkan paha bagian depanku," sahut Blaire seraya tersenyum kecil.
"Baiklah. Akan tetapi, paha bagian belakangmu tetap terlihat," balas Christian.
"Kau bisa berjalan di belakangku," ujar Blaire sembari memandang penuh arti kepada pria tampan berkulit eksotis itu. "Cukup kau saja yang melihatnya," lanjut Blaire terdengar sangat enteng.
"Oh baiklah." Christian mengangguk pelan. Dia lalu memposisikan dirinya sedikit di belakang Blaire, mengiringi langkah gemulai gadis dengan t-shirt hitam tadi. Tak sedetik pun Christian mengalihkan pandangan dari sosok semampai yang berjalan di depannya. Dia tak peduli, meskipun sepanjang perjalanan itu hampir tak ada percakapan di antara mereka berdua. Bagi Christian, dirinya sudah berbicara terlalu banyak kepada Blaire. Kini, saatnya memanjakan mata.