
Seperti yang sudah dikatakannya semalam, Aaron datang pagi-pagi dengan membawa tas jinjing berisi pakaian serta berbagai perlengkapan yang Blaire dan Ainsley butuhkan. Namun, karena untuk urusan pekerjaan, pria berambut pirang itu tak bisa berlama-lama di sana. “Aku akan mampir lagi nanti setelah meninjau kondisi pabrik,” pamit Aaron sebelum benar-benar pergi. “Apa kau ingin kubawakan sesuatu, makanan mungkin?” tawarnya.
“Tidak usah. Di kantin rumah sakit ada banyak sekali makanan yang dijual,” tolak Blaire dengan halus. Dia sudah jauh lebih nyaman karena telah berganti pakaian dan juga membersihkan diri.
“Baiklah.” Aaron tersenyum, kemudian menangkup paras cantik calon istrinya. Tanpa merasa sungkan lagi, dia melayangkan sebuah ciuman lembut untuk Blaire. Sementara gadis itu merasa serba salah. Tak ada alasan baginya untuk menolak hal tersebut. Blaire pun hanya berdiri tanpa melakukan apapun.
Bersamaan dengan itu, Christian yang sejak tadi berada di dalam kamar mandi tampak keluar. Tentu saja menjadi pemandangan yang ingin sekali dirinya hindari, saat harus melihat adegan tersebut. Pria bermata abu-abu itu pun segera memalingkan wajah dan berpura-pura tak memedulikan mereka berdua.
Sementara Blaire yang menyadari kehadiran Christian, segera menghentikan ciuman tadi. Dia bahkan sempat menoleh kepada ayah dari putranya. Namun, Christian berlagak tak terganggu sama sekali. Pria asal Meksiko itu segera mendekat ke ranjang Ainsley yang sedang tertidur pulas, setelah seorang perawat memberinya obat.
“Baiklah. Aku pergi dulu,” pamit Aaron, “terima kasih untuk semuanya, Chris,” ucap calon dari ayah sambung Ainsley tersebut.
“Ini adalah kewajibanku sebagai ayahnya,” balas Christian dengan t-shirt yang menggantung di atas pundak. Pria itu baru selesai mandi, karena masih terlihat titik-titik air yang membasahi tubuh atletis berukir tato di beberapa bagian.
Aaron bahkan sempat merasa terganggu dengan penampilan Christian yang pria itu tunjukkan di hadapan Blaire. Harus diakui bahwa secara fisik, Christian memang terlihat jauh lebih gagah dan juga macho jika dibandingkan dengan dirinya.
Namun, Aaron berusaha untuk tak memikirkan hal-hal tidak penting seperti tadi. Sulung dari tiga bersaudara itu mencoba untuk menepiskan bahkan membuang jauh-jauh segala rasa cemburu terhadap Christian, karena tak lama lagi dia akan segera dapat memiliki Blaire seutuhnya. “Aku pergi dulu, Sayang. Sampaikan salamku untuk Ainsley jika dia bangun nanti,” pesan Aaron. Sekali lagi, pria itu mengecup lembut bibir si pemilik mata hijau di hadapannya.
“Berhati-hatilah, Aaron,” balas Blaire. Dia mencoba untuk menunjukkan rasa pedulinya terhadap sang calon suami. Sementara Christian tak menoleh sama sekali. Dia tak peduli dengan apapun, karena saat itu dirinya tengah fokus memandangi paras lugu sang anak.
Sepeninggal Aaron, Blaire kemudian membuka pintu belakang ruang perawatan. Dari sana, dia mengambil handuk yang tadi dirinya pakai. Tanpa diduga, gadis cantik berambut pirang itu menyodorkan benda berwarna putih yang dia bawa kepada Christian. “Keringkan tubuhmu, Chris. Setelah itu segeralah berpakaian sebelum ada perawat yang masuk kemari,” ucap Blaire pelan.
Christian yang tengah fokus menatap Ainsley, segera menoleh. Pandangannya kini teralihkan pada paras cantik Blaire. Sepasang mata hijau gadis di hadapannya yang bercahaya, tampak begitu menggoda bagi Christian. Apalagi saat itu Blaire mengikat rambut, sehingga memperlihatkan leher jenjang berhiaskan kalung kecil yang masih dia kenakan sejak beberapa tahun lalu.
Pikiran nakal Christian sempat datang dan memberikan sebuah bisikan nakal padanya. Pria tampan tersebut lalu berdiri tepat di hadapan Blaire yang masih memegangi handuk putih tadi. Christian sedikit menundukkan wajah, saat memandang ibunda Ainsley yang juga tengah menatapnya sambil mendongak.
Seberkas kenangan tentang adegan panas yang pernah mereka lakoni, hadir dan mengusik ketenangan dua sejoli itu.
Blaire pun terlihat gelisah. Dia ingin menolak, tapi kenyataannya tak mampu menghindar sama sekali. Harus dirinya akui, bahwa hingga detik itu pesona seorang Christian memang tak pernah lekang dari dalam hatinya.
Akan tetapi, lain dengan pria berambut gelap itu. Bayangan adegan ciuman antara Blaire dengan Aaron, tiba-tiba datang mengacaukan segala getaran yang hampir terbangunkan dengan sempurna. Pria itu pun segera tersadar. Christian kemudian meraih handuk yang tadi Blaire sodorkan untuknya. Dia lalu menyeka tubuh yang memang sudah hampir kering. Setelah itu, ayah kandung Ainsley tersebut segera mengenakan kembali t-shirt panjang yang belum sempat dirinya ganti.
“Kau belum berganti pakaian, Chris,” ucap Blaire.
“Aku tidak sempat membawa baju saat datang kemari,” sahut Christian datar. Dia meraih kembali handuk yang dirinya letakkan di atas sandaran sofa. Pria itu lalu berjalan keluar untuk menjemurkannya.
“Aku akan keluar sebentar untuk membeli makanan. Apa kau ingin memesan sesuatu?” tawar Christian tanpa ekspresi yang terlalu berlebihan.
“Boleh,” jawab Blaire. “Aku ingin kopi dan juga croissant, jika kau bersedia untuk membelikannya.” Gadis itu menyunggingkan senyuman manis, membuat raut datar Christian sedikit memudar. Pria tampan asal Meksiko tersebut membalasnya dengan sebuah senyuman meskipun samar. Tanpa banyak bicara lagi, Christian pun berlalu keluar dari sana.
Beberapa saat kemudian, Christian datang sambil membawakan pesanan untuk Blaire, bersamaan dengan seorang dokter dan beberapa perawat yang memasuki ruangan untuk melakukan pemeriksaan terhadap Ainsley.
“Tuan dan Nyonya, kami harap anda bersedia menunggu di luar selagi dokter memeriksa kondisi pasien,” ujar salah seorang perawat.
Mau tak mau, orang tua dari Ainsley tersebut harus menurut dan memilih untuk duduk di kursi tunggu yang terletak di luar paviliun.
Kesempatan itu Blaire gunakan untuk memakan croissantnya. “Kau mau, Chris?” tawar Blaire. Tanpa merasa sungkan, gadis cantik itu menyodorkan croissant yang sudah dia gigit pada pria tampan di sebelahnya.
“Habiskan saja, aku sudah sarapan di kafetaria tadi,” tolak Christian halus dengan sepasang mata abu-abu yang lekat memandang Blaire.
“Oh, baiklah.” Ibunda Ainsley itu kembali memakan kuenya hingga habis tak tersisa. Semua gerak-gerik gadis cantik teraebut tak lepas dari perhatian Christian. Dia bahkan memperhatikan remahan croissant yang mengotori sudut bibir Blaire.
Tanpa ragu, pria rupawan itu mengusap pipi dan bibir gadis yang dia cintai dengan menggunakan ibu jari. Blaire pun sempat tertegun atas perlakuan manis pria bermata abu-abu tersebut. Mereka berdua terdiam dan saling pandang. Hampir saja Christian kehilangan akal sehat dan mendekatkan bibirnya pada Blaire, ketika seorang dokter memanggil mereka berdua.
“Tuan dan Nyonya.” Sang dokter berjalan mendekat, sehingga Blaire dan Christian buru-buru berdiri. “Keadaan putra anda berdua kini sudah makin stabil. Tanda-tanda vitalnya juga bagus. Kami sempat memeriksa bekas jahitan operasi yang sudah mulai mengering. Secara keseluruhan, putra anda semakin membaik,” tuturnya dengan senyum ramah.
“Ah syukurlah.” Blaire bernapas lega dan spontan memeluk Christian. Namun, dia segera tersadar, lalu cepat-cepat melepas pelukannya. Sikap gadis itu membuat Christian merasa begitu canggung, meskipun tak dia tampakkan dengan jelas.
“Apakah kami bisa memindahkannya ke rumah sakit di Edinburgh?” tanya Christian kemudian.
“Kami sarankan tunggulah hingga beberapa hari, sampai kondisinya benar-benar kuat,” jawab dokter itu seraya mengangguk, kemudian berlalu meninggalkan Blaire dan Christian yang terlihat grogi.
“Bagaimana ini? Kau jadi tidak bisa membuka toko,” gumam Blaire.
“Tidak masalah bagiku. Tanpa membuka toko pun, aku masih bisa membayar seluruh biaya pengobatan dan rumah sakit Ainsley,” jawab Christian sambil tersenyum penuh arti.
"Chris ...." Blaire tak tahu harus berkata apa. Dia hanya dapat memandang pria tampan yang akan selalu menjadi idola terdepan. "Terima kasih." Ada jutaan kata yang ingin Blaire ungkapkan, tapi hanya itu yang keluar dari bibirnya.