
Blaire berjalan mendekat ke pintu. Dengan tangan gemetaran, dia lalu menyentuh pegangannya. Baru saja Blaire akan mendorong pintu tadi, tiba-tiba dari dalam ada yang membukanya terlebih dulu. Paras tampan Christian pun muncul. Dia berdiri di hadapan gadis dengan gaun pengantin yang sudah dalam keadaan lusuh tersebut. "Blaire? Kau di sini?" tanya Christian tanpa mengalihkan perhatiannya dari wajah cantik Blaire, dengan riasan yang terlihat kacau. “Bukankah seharusnya kai menikah hari ini?”
Bukannya menjawab, gadis cantik bermata hijau tadi malah menghambur ke arah Christian. Dia menumpahkan segala rasa sedih dan kecewanya di dada bidang pria tampan itu. Blaire menangis dengan sangat kencang. Sampai-sampai beberapa orang yang tengah lewat di trotoar depan toko barang antik, langsung menoleh dan memperhatikan mereka untuk sejenak.
“Ada apa, Blaire? Apa yang terjadi?” Christian balas mendekap ibunda Ainsley tersebut. Lembut dan hati-hati, dia mengurai pelukannya setelah beberapa saat, kemudian menatap lekat paras cantik yang telah basah oleh air mata.
“Aku seorang pecundang, Chris. Aku benar-benar bodoh,” ucap Blaire pilu.
“Ayo masuklah dulu,” ajak Christian. Tanpa berpikir dua kali, dia langsung membalik plakat yang tertempel di pintu kaca, dari kata ‘open’ menjadi bertuliskan ‘closed'. Christian membawa Blaire ke bagian belakang toko yang biasa dia jadikan sebagai tempat untuk beristirahat.
“Duduklah.” Perlahan, pria berdarah Meksiko itu mendudukkan Blaire dan meluruskan kaki jenjang gadis cantik tersebut di atas matras. “Akan kuambilkan kau minum.” Tubuh jangkung Christian kemudian berlalu ke sisi lain ruang belakang toko. Tak berselang lama, dia kembali sambil membawa segelas air untuk Blaire. “Minumlah,” suruhnya lembut.
Tanpa berkata-kata, Blaire segera meraih gelas itu lalu meneguk air di dalamnya dengan cepat. Dia lalu mengembalikan gelas yang sudah kosong kepada Christian. Diusapnya bibir yang basah menggunakan punggung tangan.
Sementara Christian terus memperhatikan setiap gerak-gerik gadis dengan gaun pengantin itu. “Apa yang terjadi, Blaire?” Dia bertanya untuk kesekian kalinya.
“Aku … Aaron ….” Blaire terbata. “Dia membatalkan pernikahan kami,” jawabnya begitu lirih, lalu kembali terisak. “Aku sangat malu dan kecewa, Chris.”
“Apa yang membuatmu kecewa? Seharusnya kau bahagia, Blaire. Pada akhirnya, kau bisa menentukan pilihan sesuai kata hatimu tanpa ada beban lagi,” sahut Christian. Kali ini justru dirinya yang terdengar kecewa atas jawaban Blaire. “Kecuali jika kau benar-benar jatuh cinta terhadap Aaron,” imbuh pria itu pelan.
Sementara Blaire tak menjawab. Dia menatap pria yang merupakan ayah kandung Ainsley dengan sorot penuh arti. Ditangkupnya rahang kokoh yang ditumbuhi bulu-bulu halus itu. “Aku bahkan tak mengerti lagi akan perasaanku yang sebenarnya,” ujar Blaire pilu. Setetes air mata kembali terjatuh dan membasahi pipi.
“Maafkan aku, Blaire. Jangan terlalu dipikirkan. Beristirahatlah di sini. Aku tak akan bertanya atau mengatakan apapun lagi,” balas Christian lembut sembari mengecup kening wanita yang teramat dirinya cintai. “Beristirahatlah sejenak. Aku akan membereskan toko sebentar.”
Christian pun beranjak ke bagian depan toko tanpa menunggu tanggapan dari Blaire. Dia lalu duduk dan termenung di belakang meja kasir. Christian menumpukan sikunya sambil terus berpikir. Angannya melayang kembali pada beberapa minggu lalu, saat dirinya memergoki Aaron yang tengah mencumbu Blaire di kediaman Keluarga Sutherland.
Saat itu, insting Christian merasakan ada sesuatu yang berbeda, pada diri pria tampan calon suami Blaire tersebut. Hingga pada saat Aaron berpamitan pulang, Christian memutuskan untuk mengikutinya. Dia mengambil tempat yang cukup tersembunyi di balik pohon rindang depan rumah Aaron.
Cukup lama Christian berdiri di sana, sampai Aaron keluar lagi sambil mengendarai mobilnya. Dengan segera, Christian menghadang kendaraan milik calon suami Blaire tersebut. Apa yang dilakukannya telah membuat Aaron menjadi terkejut.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Aaron dengan nada keberatan.
“Bolehkah aku menumpang kendaraanmu?” Christian balik bertanya tanpa basa-basi.
“Memangnya kau hendak mana? Aku akan pergi ke Glasgow. Ada urusan bisnis di sana yang membutuhkan kehadiranku,” dalih Aaron.
“Kebetulan sekali. Aku juga hendak ke Glasgow. Ada beberapa barang yang harus kuambil di jasa pengiriman pusat,” sahut Christian dengan raut yang datar, seperti biasanya.
Aaron tampak berpikir sejenak sambil mengetuk-ngetukkan jemarinya pada kemudi. “Baiklah. Ayo masuk,” putus pria bermata biru itu pada akhirnya.
“Terima kasih,” sahut Christian tanpa ragu. Dia membuka pintu, lalu duduk di samping kursi kemudi. Sepanjang perjalanan, tak satu pun dari mereka berdua yang membuka percakapan. Mereka saling terdiam dan larut dalam pikiran masing-masing.
“Maaf, aku harus menurunkanmu di sini. Kantor pengiriman berada tak jauh dari tempat ini. Kau bisa melanjutkan dengan berjalan kaki ke sana,” ujar Aaron, ketika mereka sudah tiba di Glasgow dan berhenti di depan sebuah gedung apartemen lima lantai.
“Kau hendak ke gedung itu?” Christian mengernyitkan kening.
“Ya. Teman kantorku tinggal di sana,” jawab Aaron seraya memalingkan muka ke arah jendela samping.
“Baiklah. Terima kasih atas tumpangannya,” ucap Christian. Dia segera turun dari kendaraan, lalu berdiri di sisi trotoar. Mata elang pria itu terus mengawasi mobil Aaron yang memasuki halaman parkir gedung hingga tak tampak dari pandangan.
Setelah itu Christian setengah berlari, menyusul mobil Aaron yang sudah masuk lebih dulu di area parkir. Dari kejauhan, dilihatnya Aaron yang baru turun dari kendaraan. Diam-diam, Christian memperhatikan dan terus mengikuti gerak-gerik pria tersebut. Christian berlari mendekat, ketika Aaron masuk ke lift. Dia melihat lampu angka yang berada di atas pintu lift menyala di nomor lima. Mantan pembunuh bayaran tersebut pun menyimpulkan bahwa tujuan Aaron adalah lantai dengan angka tersebut.
Dia mengintip dari sana dan melihat sebuah pemandangan yang membuatnya terkejut.
Aaron mengetuk sebuah pintu, lalu masuk ke dalamnya. Tak jelas apakah pemilik apartemen itu laki-laki ataukah perempuan. Christian memilih untuk bertahan sampai beberapa jam kemudian, Aaron keluar dari sana dengan rambut acak-acakan. Dia kembali bersembunyi sambil merunduk di bawah pagar besi, sampai calon suami Blaire tadi memasuki lift dan tak terlihat lagi.
Saat itu, Christian merasa ragu antara mengikuti Aaron ataukah mencari tahu siapa pemilik ruang apartemen yang sebenarnya. Selagi pria itu berpikir, pintu ruang apartemen yang tadi dimasuki Aaron pun terbuka. Seorang wanita cantik berambut pirang keluar dari sana. Mata indah wanita tersebut tampak sembap. Sama seperti Aaron, wajah cantik si pemilik rambut pirang tadi pun terlihat kacau.
Merasa ada sesuatu yang mencurigakan, Christian mengikuti wanita tersebut hingga masuk ke lift. Untuk sesaat, wanita yang diikutinya tadi memperhatikan dia dengan tatapan penuh selidik.
“Kau siapa? Aku tak pernah melihatmu di gedung ini. Apa kau penghuni baru?” tanya wanita yang tak lain adalah Cathy.
“Bukan. Aku sedang mencari teman, tapi sepertinya diriku salah alamat. Ini bukan gedung yang dimaksud,” dalih Christian.
“Memangnya di mana alamat temanmu itu?” tanya Cathy lagi.
“Gedung Southwest 21,” jawab Christian asal.
“Southwest 21? Itu jauh sekali dari sini. Distriknya saja berbeda. Apa kau tak salah?” Cathy menautkan alis sembari memperhatikan wajah tampan Christian yang tetap terlihat tenang.
“Entahlah. Sepertinya aku salah menulis alamat,” sahut Christian sambil menyunggingkan senyuman kaku.
“Hubungi saja dulu temanmu,” saran Cathy.
“Baik. Terima kasih.” Christian mengangguk, lalu terdiam sampai pintu lift terbuka di lantai dasar.
Tanpa Cathy sadari, Christian yang sempat berdiri di tempatnya untuk beberapa saat, mulai mengikuti wanita itu hingga ke tempat kerja. Pria bertubuh atletis tadi ikut masuk ke sebuah pub, mengikuti langkah Cathy.
Pub yang Christian datangi malam itu cukup besar dan ramai. Walaupun malam belum terlalu larut, tetapi tempat hiburan tersebut sudah cukup penuh pengunjung. Awalnya, Christian memilih duduk di meja yang dekat dengan pintu masuk. Namun, ketika melihat Cathy yang sedang membersihkan counter (meja bartender), pria itu pun langsung menghampiri. “Tequila. Please,” pintanya.
Cathy yang tengah sibuk mengelap meja, langsung mendongak. “Kau lagi? Sedang apa kau di sini? Bukankah kau tengah mencari alamat temanmu, atau kau sengaja mengikutiku?” Cathy memberondongnya dengan pertanyaan tanpa jeda.
“Aku tak tahu bahwa kau bekerja di sini. Aku merasa bosan menunggu mobil sewaan. Akhirnya diriku berjalan tanpa tujuan, lalu merasa lelah dan tiba-tiba melihat tempat ini,” dalih Christian.
“Hm, kenapa kau tidak menghubungi temanmu?” tanya Cathy lagi.
“Aku sudah mencoba untuk menghubungi dia, tapi nomornya berada di luar jangkauan,” jelas Christian sambil menggaruk-garuk kening dan bergaya seolah-olah sedang kebingungan. “Mungkin aku harus minta bantuan Aaron Walsh,” lanjutnya kemudian, membuat tubuh Cathy seketika menegang.
“Aaron Walsh?” ulangnya. “Si mata biru dan rambut pirang?”
“Kau mengenal pria itu?” Christian mengarahkan tatapan tajam penuh selidik.
“Ya. Dia seorang teman, atau … bisa juga kau anggap kekasihku.” Cathy tampak gugup. Jemarinya tampak gemetaran saat menyelipkan helaian rambut ke belakang telinga.
“Kekasihmu? Mana mungkin? Setahuku, dia akan melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat. Aku bahkan mengenal calon istrinya. Namun, yang jelas wanita itu bukan dirimu.” Christian menegakkan tubuh, lalu membetulkan posisi duduknya di kursi bar.
“Kau juga mengetahui tentang hal itu?” desis Cathy tak percaya.
“Tentu saja aku tahu. Aaron adalah tetanggaku. Kami tinggal di perumahan Greenville, Kota Edinburgh. Aku beralamat di nomor lima, sedangkan dia di nomor empat. Rumah kami bersebelahan,” jelas Christian dengan senyuman lebar tersungging dari bibirnya.
“Oh.” Hanya kata itu yang keluar dari mulut Cathy. Sebuah ekspresi yang cukup bagi Christian untuk menilai siapa wanita di depannya. Seseorang yang ternyata memiliki kaitan erat dengan batalnya pernikahan Blaire dan Aaron hari ini. Setidaknya itulah yang dapat Christian simpulkan.