
"Hai, Tampan. Kau sudah berada di Glasgow lagi," sapa seorang bartender cantik. Dia berdiri dengan anggun, di antara botol-botol minuman yang siap memanjakan para pengunjung pub.
"Hai, Cathy," balas Aaron lesu. Pria itu memilih salah satu bangku, lalu duduk di atasnya. "Berikan aku segelas Wiskey," pinta Aaron dengan raut yang teramat kacau. Dia meletakkan blazer yang sejak tadi ditentengnya.
"Wiskey? Tak biasanya kau memesan itu, Aaron." Bartender cantik berambut panjang tadi tampak menautkan alis.
"Ayolah, Cathy. Jangan mendebatku saat ini," keluh Aaron malas.
"Hey, tenanglah." Bartender yang dipanggil dengan nama Cathy tadi tersenyum manis. Dia harus tetap tenang dalam menghadapi setiap pengunjung yang datang ke sana. "Pelanggan adalah raja. Jadi, apapun yang kau pesan pasti akan aku layani," ujarnya seraya menuangkan minuman yang Aaron inginkan.
Sesaat kemudian, tampak beberapa pengunjung lain yang datang. Cathy atau yang bernama lengkap Catriona McKay, segera melayani mereka. Dia membiarkan Aaron menikmati minumannya sendirian. Setelah selesai dengan para pengunjung tadi, Cathy pun kembali ke hadapan Aaron. "Apa kau menginap di Glasgow?" tanyanya.
"Entahlah. Tadinya aku akan tidur di rumah sakit," jawab Aaron sekenanya.
"Apa maksudmu? Kau baru menenggak satu gelas Wiskey dan sudah mabuk berat. Astaga," decak bartender berambut pirang itu menggeleng pelan.
"Aku belum mabuk. Tadinya aku memang akan menginap di rumah sakit untuk menemani putra kekasihku yang sedang dirawat," jelas Aaron seraya kembali meneguk sisa minuman sampai habis. "Tambah lagi," pintanya.
"Kau tidak takut akan mabuk berat, Aaron? Apa kau pulang dengan taksi?" tanya Cathy lagi.
"Sudahlah, Cathy. Kenapa kau cerewet sekali!" sergah Aaron dengan suara yang tidak terlalu nyaring. Dia kembali meneguk lagi dan lagi. Entah berapa gelas Wiskey yang dia habiskan malam itu, hingga Aaron akhirnya terkulai di atas meja dengan bertumpu pada tangan kiri.
"Hey, Bung! Jika kau ingin tidur maka sebaiknya jangan di sini," tegur seorang pria sambil menepuk pundak Aaron. Karena merasa terganggu, calon suami Blaire pun mengangkat wajah lalu menoleh. Sepasang matanya yang sudah memerah, dia arahkan dengan tajam kepada pria tadi. Aaron lalu meraih blazer yang dia letakkan di atas meja sambil tertawa meledek. "Sok jagoan," cibirnya. Sambil berusaha untuk berdiri, Aaron kemudian membalikkan badan.
Akan tetapi, langkah gontainya seketika terhenti, ketika dia merasa bahwa ada yang memanggilnya. Aaron kembali menghampiri si pria yang saat itu sudah duduk tenang. "Kau bicara padaku?" tanya calon suami Blaire tersebut dengan sikap yang seolah-olah menantang.
"Aku tidak bicara apapun padamu," jawab si pria.
"Alah! Jelas-jelas tadi kudengar kau bicara padaku. Sudahlah. Aku akan lebih senang bicara dengan anak perempuanmu dibandingkan kau, Pak Tua." Telunjuk Aaron mengarah ke wajah pria tadi sambil tertawa lepas.
"Bajingan tengik!" Satu pukulan pria tadi layangkan dan tepat mengenai hidung mancung Aaron. Seketika pria itu pun menjadi semakin limbung. Dia kehilangan keseimbangan, kemudian menabrak para pengunjung lain yang tengah minum. Beberapa dari mereka merasa terganggu, karena minuman yang tumpah dan membasahi pakaian.
Sementara Aaron justru malah tertawa sambil menunjuk-nunjuk dengan penuh ejekan. Tak ayal, sikapnya tadi langsung memancing kemarahan mereka yang merasa tersinggung. Satu, dua, dan tiga pukulan akhirnya pria itu dapatkan hingga dirinya ambruk di lantai pub. Ketika salah seorang pria hendak memukulnya dengan bangku, saat itu suara teriakan Cathy terdengar menghentikan keributan tersebut.
Cathy yang baru kembali dari toilet, begitu terkejut melihat kondisi Aaron yang mengenaskan. "Apa-apaan ini?" Suara Cathy terdengar begitu lantang. Dia seperti tak takut sama sekali menghadapi para pria di hadapannya. Tentu saja, Cathy tak terima saat melihat sahabat dekatnya tersebut mendapat perlakuan seperti itu. "Minggir kalian semua!" sentaknya. Dia lalu membantu Aaron untuk bangun. Cathy juga memapahnya berjalan hingga keluar pub.
"Um ... aku rasa ...." Aaron meringis kesakitan akibat luka-luka yang dia alami.
Mendapati hal itu, Cathy pun semakin merasa ragu. Dia lalu menyandarkan tubuh Aaron yang sudah benar-benar kehilangan keseimbangan, sehingga tak mampu lagi berdiri dengan tegak. Aaron tertawa saat Cathy meraba-raba beberapa bagian tubuhnya, untuk mencari di mana calon suami Blaire tersebut menyimpan kunci mobil.
"Apa yang kau inginkan, Cathy?" tanya Aaron sambil terus tertawa. Namun, sesekali pria itu meringis kesakitan.
"Katakan di mana kau meletakkan kunci mobilmu?" tanya Cathy tak sabar.
"Astaga ...." Aaron hanya menjawab demikian. Dia tak memberitahu Cathy di mana dirinya menyimpan kunci kendaraan, karena pria itu pun tak ingat.
Namun, beruntung karena Cathy telah menemukan benda yang dia cari. Dengan segera gadis manis berambut pirang itu memencet remote untuk mengetahui keberadaan mobil Aaron. Cathy pun kembali memapah pria yang sudah dalam kondisi mabuk berat, dan juga babak belur menuju kendaraan itu terparkir.
Setelah memastikan Aaron berbaring dengan nyaman di jok belakang, Cathy kembali ke dalam pub. Dia mengambil barang-barangnya. "Brenda, aku pulang lebih awal. Tolong sampaikan pada tuan Hudson," pesan Cathy kepada gadis lain yang merupakan rekan kerjanya di sana.
"Jangan khawatir, Cathy," balas gadis bernama Brenda tadi.
Dengan langkah cepat, Cathy bergegas menuju mobil Aaron terparkir. Gadis itu kemudian melajukan sedan milik Aaron menuju ke apartemen yang dirinya tempati.
Setibanya di tempat yang dimaksud, Cathy kembali memapah Aaron dengan susah payah hingga mereka berada di ruang apartemen gadis itu. Dia lalu membaringkan Aaron di atas sofa. Gadis berambut pirang tersebut kemudian mengambil kotak P3K dan mulai mengobati luka-luka yang diderita Aaron. Tepat di saat Cathy selesai menempelkan plester pada luka di dekat pelipis, terdengar suara dering telepon dari ponsel milik si pria.
Gadis itu tak memiliki keberanian untuk memeriksa telepon genggam, yang terus berdering dan cukup mengganggu. Lagi pula, Cathy tidak mengetahui di mana Aaron menyimpan ponsel miliknya. Dia pun beranjak dari sana untuk mengembalikan lagi kotak P3K ke tempat semula.
Akan tetapi, saat gadis itu kembali ke dekat sofa di mana Aaron terbaring, ponsel milik calon suami Blaire tadi lagi-lagi berdering. Merasa bahwa itu merupakan panggilan penting, akhirnya Cathy pun memberanikan diri untuk merogoh ke dalam saku blazer milik Aaron yang diletakkan di atas meja.
Cathy lalu memeriksa alat komunikasi canggih dan mahal milik pria itu. Nama Blaire tertera di layar sebagai pemanggil. Ragu, gadis itu hendak menjawab panggilan tersebut. Namun, dia juga merasa perlu memberitahukan kondisi Aaron saat ini.
Pada akhirnya, gadis manis berambut panjang tersebut menggeser ikon hijau. Akan tetapi, dia tak segera mengeluarkan suara untuk menyapa, sampai terdengar suara seorang wanita dari seberang sana.
"Hello. Aaron? Apa kau tidak jadi datang ke rumah sakit? Nyonya Walsh tadi menghubungiku. Dia menanyakan dirimu. Kau tidak pulang ke Edinburgh dan tidak juga mampir kemari. Jadi, sekarang kau di mana? Apa urusan pekerjaanmu belum selesai?" Blaire terus bicara tanpa jeda. "Aaron? Apa kau mendengarku?" tanya gadis itu lagi mulai cemas.
"Aaron ada di tempatku," jawab Cathy dengan gugup.