
"Aaron, kenapa kau ...." Belum sempat Blaire melanjutkan kata-katanya, Sabrina terlebih dulu memanggil sang kakak.
"Ayolah, Aaron. Jangan sampai kita kemalaman di jalan," ujar gadis berambut pirang itu sambil memberi isyarat.
Aaron mengalihkan pandangan kepada sang adik. Dia lalu mengangguk pelan. "Baiklah, Blaire. Aku kemari lagi besok, sekalian hendak melihat keadaan pabrik." Seusai berkata demikian, pria tampan bermata biru itu pun segera mengecup kening Blaire. Dia lalu beranjak pergi diiringi tatap mata ibunda Ainsley tersebut.
Setelah Aaron dan yang lainnya kembali ke Edinburgh, Blaire pun segera masuk kamar yang sengaja Christian pesan di paviliun rumah sakit. Ruangan itu terasa begitu nyaman dengan sofa, ranjang tambahan, dan tentu saja televisi layar datar yang menjadi hiburan bagi Ainsley yang telah mulai berkomunikasi, meski masih terlihat sangat lemah.
"Hai, Sayang. Bagaimana kabarmu?" sapa Blaire sesaat setelah berada di dalam kamar rawat sang anak. Dia melihat Christian yang setengah merebahkan tubuh di sisi sebelah kiri Ainsley. Pria itu seakan tak menghiraukan keberadaan Blaire di sana.
“Aku tidak merasakan apa-apa, Bu,” sahut Ainsley begitu pelan dan tampak lemah.
“Tidak apa-apa. Itu artinya kau akan segera sembuh, Sayang. Sekarang tidurlah. Kau harus banyak beristirahat,” balas Blaire seraya mengusap kepala putranya dengan lembut.
“Iya, aku akan tidur. Akan teapi, aku ingin berbaring sambil menghadap ke samping,” rengek Ainsley.
“Kau tidak boleh terlalu banyak bergerak, Ains. Lihatlah kakimu,” tunjuk Christian ke arah kaki kanan Ainsley yang berbalut gips putih, dan harus digantung pada sebuah tali khusus agar posisinya tetap lurus juga sedikit terangkat.
“Aku tidak bisa tidur tanpa bantalku,” ucap Ainsley dengan bibir melengkung. Sedikit lagi, bocah itu akan menangis.
“Hei sudahlah, Sayang. Untuk sementara, kau harus bisa tidur dalam kondisi seperti ini,” bujuk Blaire.
“Gunakan tanganku sebagai bantalmu, Son. Kurasa sama saja empuknya,” ujar Christian sedikit berkelakar. Pelan-pelan, dia menelusupkan tangan kanan ke bawah kepala Ainsley yang diperban, sementara Blaire mengangkat kepala putra semata wayangnya itu dengan sangat hati-hati.
Ternyata cara itu cukup manjur. Segera saja Ainsley dapat dengan tertidur lelap, ditambah pengaruh obat bius yang masih tersisa. Blaire kembali menitikkan air mata saat melihat putranya yang lemah tak berdaya. Aisnley yang ceria, kini harus berada dalam kondisi mengkhawatirkan seperti saat ini. Namun, dengan segera Blaire pipi yang mulai basah ketika Christian menatap tajam padanya.
“Ainsley tidak apa-apa, katamu?” ujar Christian tiba-tiba. Suaranya terdengar begitu pelan agar tidak mengganggu tidur putranya. “Dia hampir saja kehabisan darah akibat luka sobek di pinggang dan patah tulang terbuka di kaki karena benturan keras. Beruntung kepalanya hanya sedikit tergores. Kau tak tahu betapa marahnya aku, Blaire!” geram Christian, masih dengan suaranya yang teramat dalam dan pelan tapi penuh penekanan.
“Kau tak perlu mengatakannya secara berulang-ulang, karena diriku memang salah.
Ainsley juga putraku, Chris. Aku yang telah melahirkannya, sehingga sudah pasti dapat merasakan seberapa sakit yang dia alami saat ini. Jika bisa, maka biarlah diriku yang menanggung semua lukanya.” Blaire terisak. Dia menunduk dalam-dalam sambil berdiri di tepian ranjang untuk beberapa saat, sampai gadis cantik itu memutuskan untuk berbaring di sofa besar dekat jendela.
Christian hanya mendengus kesal menanggapi ucapan Blaire sambil membuang muka. Cukup lama mereka saling terdiam, hingga akhirnya Blaire tertidur tanpa sadar. Dia baru terbangun saat ponsel yang dirinya letakkan di dekat kepala, bergetar cukup kuat. Sambil memicingkan mata, Blaire melihat nama Aaron tertera pada layar.
“Halo,” sapa gadis cantik berambut pirang tersebut segera menjawab panggilan masuk tadi.
“Bagaimana keadaan Ainsley sekarang?” tanya Aaron dari seberang sana.
“Kondisinya mulai stabil. Saat ini dia sudah tertidur pulas” jawab Blaire setengah berbisik.
“Sangat kacau, Aaron. Aku bahkan masih menggunakan gaun pengantin yang penuh dengan noda darah,” desah ibunda Ainsley tersebut.
“Baiklah, Blaire. Aku akan membawakan pakaian ganti serta perlengkapan lain yang kau butuhkan. Aku tidak ingin mengganggu lagi, karena kau juga harus beristirahat. Selamat malam, Sayang. Sampai jumpa besok,” tutup Aaron sebelum mengakhiri panggilannya. Dia tak menunggu hingga Blaire membalas apa yang dia ucapkan.
Setelah mendapat telepon dari Aaron, Blaire menjadi kesulitan untuk tidur. Berbagai posisi dia coba agar bisa kembali terlelap. Susah payah dirinya memejamkan mata. Namun, rasa kantuk dalam diri gadis itu rupanya benar-benar menghilang.
Blaire akhirnya bangkit lalu duduk termenung. Cukup lama dia berada dalam posisi seperti tadi, sampai akhirnya beranjak dan mendekat ke ranjang Ainsley. Seutas senyuman tersungging dari bibir indah ibu satu anak tersebut. Hati Blaire begitu damai saat melihat Ainsley dan Christian sama-sama tertidur nyenyak. Ayah dan anak itu memiliki ekspresi tidur yang sama, membuat rasa perih muncul dari dasar hati Blaire.
Dengan segera, dia berlari ke arah sebuah pintu yang menghubungkan ruangan paviliun dengan balkon. Gadis itu kemudian menutupnya dengan pelan, lalu mendekat ke dekat pembatas balkon. Kedua tangan Blaire pun mencengkeram erat tepian pagar yang terbuat dari besi.
Segala rasa sakit yang dia tahan, akhirnya tumpah saat itu juga. “Apa yang harus kulakukan, Tuhan? Aku tidak sanggup lagi,” isaknya begitu lirih. Blaire yakin jika tak ada seorang pun yang berada di sana, sehingga dia berani mengeluarkan semua beban yang menumpuk di dalam hati.
“Aku perempuan yang buruk. Aku bukanlah seorang ibu yang pantas untuk dibanggakan. Aku tak layak menjadi pendamping siapa pun, apalagi menjadi seorang ibu,” racaunya sembari tertunduk, lalu menggeleng pelan.
“Kenapa bukan aku saja yang tertabrak oleh mobil itu dan mati sekalian,” imbuh Blaire seraya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
“Blaire.” Terdengar suara berat seseorang dari arah belakang.
Seketika tubuh gadis itu membeku. Dia membuka kedua telapak tangannya, lalu berbalik menghadap ke arah sumber suara. Tampaklah Christian yang berdiri gagah di ambang pintu dengan pandangan yang sulit diartikan. “Ka-kau? Kenapa kau ada di sini? Bu-bukankah kau sedang tidur?” tanya Blaire terbata.
“Aku terbangun saat mendengarmu menerima telepon yang kuyakini berasal dari Aaron,” jawab Christian sambil berjalan mendekat, lalu berdiri di sebelah Blaire. Dia menumpukan kedua siku tangannya pada pagar. Sedangkan mata abu-abu pria itu menerawang jauh, menembus pekatnya langit malam di Kota Glasgow. Tampaklah di bawah sana lalu lintas kendaraan yang masih cukup ramai, padahal waktu sudah menunjukkan tengah malam.
“Kau tidak mendengar kata-kataku barusan, ‘kan?” Blaire menelan ludah seraya menatap was-was pada paras tampan Christian.
“Sayangnya ... iya,” jawab pria itu datar.
“Astaga.” Blaire yang teramat malu, bermaksud untuk pergi dari sana. Akan tetapi, belum juga ada satu langkah, Christian lebih dulu mencekal erat pergelangan tangannya.
“Maafkan aku,” ucap pria itu. Terlihat jelas sorot mata yang menyimpan sejuta kesedihan. “Aku sudah bersikap terlalu keras padamu,” lanjut Christian.
“Kenapa kau harus meminta maaf, Chris? Aku memang bersalah. Jangankan dirimu, aku juga marah pada diriku.” Blaire tertawa getir. Satu tangannya menyeka air mata yang tak berhenti mengalir.
“Kau benar. Ainsley akan baik-baik saja. Dia anak yang kuat, seperti yang pernah kukatakan dulu. Aku hanya hilang kendali saat melihat anak kecil itu terluka,” ujar Christian.
"Aku bisa memahaminya, Chris. Perasaanku tak jauh berbeda. Selama ini, setiap hari, setiap saat, kulihat Ainsley dalam kondisi sehat. Walaupun dia tidak termasuk anak yang terlalu aktif, tetapi ...." Blaire kembali tertunduk.
"Sudahlah. Apa yang dokter katakan memang benar. Sebaiknya kita bekerja sama untuk merawatnya agar dia segera pulih," ucap Christian lagi. Rasa dalam hati ingin sekali mendekap serta menyeka air mata, saat melihat gadis yang teramat dia cintai menangis seperti itu. Namun, Christian mulai membatasi diri, untuk tak menyentuh seseorang yang akan menjadi milik pria lain.