Edinburgh

Edinburgh
Best Friend



Blaire tak dapat membantah lagi. Apa yang Viktorija katakan memang benar adanya. Kehamilan adalah sesuatu yang tak dapat disembunyikan dari siapa pun. Pada saatnya nanti, perut gadis itu akan membesar dan tak mungkin ditutupi lagi. Dia hanya perlu mempersiapkan mental, untuk menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi.


Salah satunya adalah dari seseorang yang kini telah menjadi sahabat dekat, yaitu Aaron Walsh. Pria tampan bermata biru tersebut datang berkunjung, dengan membawakan Blaire buah-buahan segar.


"Kau pasti sudah mendengar seperti apa kondisiku saat ini," ucap Blaire, sebelum Aaron mengatakan apapun kepadanya.


"Aku sangat terkejut, Blaire," sahut Aaron menanggapi. Dia terlihat tak nyaman. Akan tetapi, pria itu mampu menguasai diri dengan baik. "Jadi, selama ini ...." Aaron terlihat kebingungan. Dia tak tahu harus berkata apa.


"Ya." Blaire mengangguk pelan. "Aku ... dia ... um pria itu bernama Christian. Dia adalah orang yang telah menjual rumahnya pada keluargamu," jelas gadis cantik yang kini tengah mengandung tersebut.


Sedangkan Aaron tampak sangat terkejut. Dia menautkan sepasang alisnya, kemudian menyugar rambut pirang belah dua yang cukup tebal. "Maksudmu pria botak dengan perut buncit itu? Astaga. Aku sungguh tak percaya jika kau ...."


"Apa?" Blaire terbelalak tak percaya. Dia seakan hendak melakukan protes keras terhadap apa yang Aaron katakan.


"Ya, Blaire. Orang yang bertransaksi denganku dan ibu waktu itu adalah pria paruh baya bertubuh tambun dengan kepala plontos. Apa dia kekasihmu?" Aaron meringis kecil, membayangkan gadis muda secantik Blaire bermesraan dengan pria yang dirinya maksud.


"Tentu saja bukan," sanggah Blaire dengan segera. "Christian adalah pria yang sangat tampan, berkulit cokelat dengan rambut gelap dan mata abu-abu yang indah. Dia memiliki tubuh atletis, tegap, lengan yang kokoh dan kuat. Christian ...." Blaire terdiam, kemudian menunduk dan memandang perutnya yang telah terisi benih dari pria itu.


"Kenapa dia meninggalkanmu?" tanya Aaron. Ragu, pria itu bertanya demikian kepada Blaire. Namun, rasa penasaran yang besar dengan kisah cinta gadis berambut pirang tersebut begitu menggelitik hatinya. "Lalu, kenapa Christian tidak menemuiku dan ibu secara langsung? Dia malah menyuruh pria bernama Gerard Aguila untuk mengaku sebagai pemilik dari rumah yang dijualnya." Aaron tampak berpikir. "Kuharap bangunan yang kami tempati bukan merupakan barang sengketa," ucap pria bermata biru itu lagi.


"Seingatku, rumah itu dulu dibeli oleh keluarga Harrington sebelum Christian menempatinya. Namun, aku tidak tahu seperti apa proses pindah tangan kepemilikannya. Kurasa nyonya Clarkson pasti mengetahui tentang hal itu, berhubung dia adalah warga senior di sini," pikir Blaire.


"Ya, kapan-kapan aku akan memperkenalkan diri padanya," ujar Aaron menanggapi.


"Dia menjanda jauh lebih lama dari ibuku," balas Blaire setengah berbisik.


"Kalau begitu, kau saja yang bertanya padanya," cetus Aaron dengan diiringi tawa renyah yang sedikit nyaring, membuat Blaire harus segera memberi isyarat agar pria itu memelankan suara. "Maaf," ucap Aaron pelan seraya mengusap-usap tengkuk kepalanya. Dua muda-mudi itu saling diam selama beberapa saat lamanya.


“Apa kau tak berangkat bekerja hari ini?” tanya Blaire memecah keheningan.


“Aku berencana berangkat setelah menjengukmu.” Aaron lalu bangkit dari sofa. Tubuh jangkungnya membuat Blaire harus mendongak lebih tinggi agar dapat memperhatikan wajah tampan itu dengan saksama.


“Jangan lupa untuk menghabiskan buah-buahan itu. Vitaminnya sangat bagus bagi calon bayimu,” pesan Aaron seraya berjalan menuju pintu depan yang terbuka lebar. Dia bermaksud untuk pergi dari rumah Blaire. Namun, entah kenapa langkahnya seakan terasa begitu berat.


Aaron kemudian berbalik ke arah Blaire lagi. Dia memandang dengan sorot penuh arti. “Lalu, apa rencanamu selanjutnya? Ehm, jika dia lahir nanti … apakah kau akan merawatnya sendiri atau ….” Pria tampan itu tampak kebingungan merangkai kata.


“Apakah kau masih yakin jika suatu saat dia akan kembali?” tanya Aaron lagi.


“Ya. Dia pasti akan kembali, Aaron. Aku akan selalu menunggunya,” jawab Blaire penuh keyakinan.


“Hm. Baiklah." Aaron mengangguk dan terdiam. Tanpa sadar, jemarinya mencengkeram erat gagang pintu rumah Blaire. “Sekadar informasi untukmu, aku sudah memutuskan bahwa diriku akan terus menemanimu dalam rangka menunggu kehadirannya. Sebisa mungkin aku akan membantu dan menyediakan apapun yang kau butuhkan, Blaire. Apapun itu. Jangan pernah sungkan untuk meminta tolong padaku,” pungkas pria tampan tersebut seraya tersenyum lembut. Setelah itu, dia keluar lalu menutup pintu dengan rapat.


Setelah mendengar apa yang Aaron katakan, Blaire hanya bisa terdiam dan tercenung. Begitu banyak orang baik di sekitarnya, bahkan Viktorija yang benar-benar kecewa atas kebodohan itu, masih menerima keadaan dia dengan tangan terbuka.


Blaire sepenuhnya sadar bahwa bukan hanya dirinya yang terluka, melainkan juga sang ibu. Untuk beberapa saat, rasa sesak itu kembali hadir, sehingga dia memutuskan untuk kembali ke kamar dan berbaring sampai Viktorija kembali dari kedai.


Begitulah yang Blaire lakukan setiap harinya. Dia berkutat dengan kesibukan ringan di dalam rumah. Jika merasa lelah, maka dia akan masuk ke kamar dan berbaring hingga gelap menjelang. Namun, ketika malam tiba, gadis itu akan kesulitan memejamkan mata. Entah karena pengaruh hormon, atau memang bayangan Christian penyebabnya.


Seperti malam itu, Blaire membolak-balikkan badan dengan gelisah. Tubuhnya terasa panas, padahal cuaca begitu dingin, sampai-sampai kaca jendela bagian luar kamar membeku terkena titik-titik air yang bertemu dengan hawa dingin yang mencapai sembilan derajat.


“Ah.” Gadis itu mende•sah lirih. Dia yang semula berbaring kini bangkit dalam posisi duduk, lalu meraih segelas air di atas nakas.


Blaire meneguknya perlahan hingga tersisa separuh. Dia berniat untuk berbaring lagi, ketika mendengar suara aneh yang berasal dari luar. Blaire menajamkan pendengaran dan mendapati suara itu berasal dari jendela. Dia lalu turun dari ranjang dan berjalan mengendap-endap ke dekat jendela. Blaire membuka tirai, bersamaan dengan kerikil kecil yang terlempar dan tepat mengenai kaca. Akhirnya, dia paham dari mana suara aneh itu berasal.


Gadis itu kemudian menaikkan jendela ke atas sampai terbuka lebar. Dia membiarkan angin dingin musim gugur masuk dan menerpa wajah cantiknya. Blaire memejamkan mata untuk beberapa saat, demi menikmati sensasi udara yang begitu menusuk.


“Blaire!” Panggilan tertahan dari suara yang tak asing di telinga.


“Aaron? Apa yang kau lakukan malam-malam begini?” Gadis itu mengalihkan perhatiannya ke arah bawah, di mana Aaron tengah menengadah memandang ke atas. Dia memegangi bebatuan kecil yang siap dilemparkan ke arah jendela kaca.


“Sedang apa kau? Kenapa belum tidur?” Aaron malah balik bertanya.


“Bagaimana aku bisa tidur jika kau menggangguku,” sahut Blaire.


“Betul juga.” Aaron tertawa tertawa lalu cepat-cepat menutup mulut. Dia tidak ingin jika sampai viktorija mendengar suaranya. “Kebetulan jika kau belum tidur. Aku ingin mengajakmu,” ujar pria tampan itu kemudian.


“Ke mana?” tanya Blaire seraya mengernyitkan kening sambil bersedekap.


“Turunlah. Nanti kau juga akan tahu,” jawab Aaron sambil menyeringai lebar.