
“Apa?” Sepasang mata biru milik Aaron, melotot tajam kepada Blaire. Amarah yang terlalu besar dan juga kian meningkat, membuat pria berambut pirang itu justru menjadi terlihat kebingungan. Aaron tak tahu harus berkata apa. “Katakan sekali lagi, Blaire.” Nada bicara putra sulung Anette Walsh tersebut penuh penekanan.
“Aku ingin mengundur rencana pernikahan kita!” ulang Blaire dengan yakin dan terdengar sangat lugas. Sedangkan raut wajah Aaron tampak semakin beringas saat gadis itu mengulang kembali apa yang dia ucapkan tadi. “Seharusnya aku mengatakan hal ini secara baik-baik padamu, lalu memberikan sebuah penjelasan yang dapat kau pahami. Namun ... sejujurnya aku tak menyukai ini, Aaron. Maaf.” Blaire berlalu begitu saja dari hadapan calon suaminya yang hanya berdiri membeku.
Tak ingin menyerah, Aaron segera menyusul Blaire yang belum terlalu jauh jaraknya dari tempat dia berada. Lagi-lagi, pria itu mencekal lengan ibunda Ainsley dengan kencang. “Katakan apa alasanmu, Blaire?” Pertanyaan Aaron terdengar penuh amarah, dengan helaan napas yang memburu.
“Kenapa kau masih bertanya?” Blaire terlihat sangat malas. “Alasan satu-satunya adalah Ainsley. Aku ingin fokus untuk merawatnya hingga pulih,” jelas Blaire yang tadinya menoleh kepada Aaron, kini mengalihkan pandangan ke depan. Dia sedang mencari taksi untuk kembali ke rumah sakit. Blaire sudah terlalu lama membuang waktu di jalan.
“Ainsley? Kenapa kau terus menjadikan anak itu sebagai tameng, padahal kuyakin jika alasanmu yang sebenarnya adalah Christian!” Nada bicara Aaron tak juga melunak dan terdengar bersahabat di telinga Blaire. Pria itu seakan ingin menghabiskan segala amarah dan rasa cemburu yang selama ini dia pendam.
“Terserah kau, Aaron. Aku tak ingin membahas hal ini lagi. Terlebih karena kita sedang berada di tempat umum.” Blaire kemudian mengulurkan tangan sebagai isyarat untuk memberhentikan sebuah taksi yang melintas. Sebelum benar-benar masuk ke dalam kendaraan, gadis itu sempat menoleh dan menatap Aaron sejenak.
“Pengkhianat!” cibir Aaron. Walaupun suaranya cukup pelan, tapi Blaire dapat mendengar apa yang dia ucapkan dengan jelas. Akan tetapi, gadis itu tak ingin menanggapi lagi. Blaire lebih memilih segera masuk dan menyebutkan alamat kepada sang sopir taksi.
Sementara Aaron berdiri terpaku untuk beberapa saat sambil menatap kepergian Blaire. Entah kebodohan apa yang telah dia lakukan. Setelah gadis itu tak lagi berada di hadapannya, Aaron baru tersadar. Dia terlampau dikuasai emosi atas kecemburuan yang telah menutupi segala akal sehat.
Dengan langkah lunglai, pria yang mengalami babak belur di wajahnya itu kembali ke dekat di mana dia memarkir kendaraan. Aaron merasa bodoh dan juga tak berguna. Dia baru menyadari bahwa apa yang telah dilakukan tadi, justru akan semakin menjauhkan Blaire darinya. “Sialan!” Dengan kesal, pria itu menendang ban mobil. Tak dia pedulikan orang-orang yang sempat menoleh dan menatap dengan heran ke arahnya.
Sementara Blaire telah tiba di rumah sakit. Dia berjalan dengan tergesa-gesa menuju ruang paviliun, di mana Ainsley dirawat. Ketika masuk, tampaklah Christian yang sedang menyuapinya.
“Ibu dari mana?” tanya Ainsley. Anak itu terlihat jauh lebih ceria jika dibandingkan dengan beberapa hari ke belakang.
“Aku baru dari luar sebentar. Bagaimana kabarmu, Sayang?” Blaire memaksakan diri untuk tersenyum, lalu mendekat dan mengecup kening putra semata wayangnya.
“Ayah memaksaku untuk makan banyak. Katanya agar aku bisa cepat berlari lagi seperti dulu,” ujar Ainsley dengan raut wajah yang tampak begitu polos.
“Ya, itu benar sekali. Ayahmu mengatakan hal yang sangat-sangat ....” Blaire tersenyum lebar, tapi dia menjeda kata-katanya dan segera menoleh kepada Christian yang memperhatikan dengan lekat. Gadis itu pun menunduk. “Aku ... aku ingin ke belakang sebentar,” pamit Blaire. Dia seakan hendak menghindari tatapan penuh selidik dari pria asal Meksiko tadi.
Hingga menjelang siang, Blaire tampak lebih banyak diam dari biasanya. Setelah Ainsley tertidur, Christian pun mendekat dan duduk tak jauh dari gadis itu. “Kupikir nyonya Shuterland akan marah, ketika tadi aku menghubunginya,” ucap pria tersebut. “Dia berbincang dengan Ainsley lewat panggilan video.”
“Ibuku tidak sejahat itu, Chris. Dia adalah wanita yang sangat baik, tapi terlalu cerdas dan rasional,” balas Blaire menoleh sejenak kepada Christian. Namun, tak lama kemudian gadis itu kembali menatap nanar ke depan.
“Apa ada masalah? Bagaimana dengan calon suamimu?” tanya Christian yang dapat merasakan bahwa ada sesuatu dengan ibu dari putranya.
“Tidak ada.” Blaire menggeleng lemah. “Aku sudah menyampaikan padanya untuk memundurkan rencana pernikahan. Entah dia akan mengerti atau tidak.”
“Jika dia benar-benar menyayangi Ainslay, Aaron pasti akan mengerti,” sahut Christian dengan nada tenang dan datar.
“Ya, kau benar.” Blaire tertawa pelan sembari menggeleng. Masih terngiang di telinga kata-kata pedas yang dilontarkan oleh Aaron tadi terhadapnya. Begitu pula sikap dan perbuatan sang calon suami yang kasar dan telah melukai hati. Tanpa terasa, air mata Blaire menetes di pipi. Dengan segera, dia mengusapnya agar tak terlihat oleh siapa pun.
“Tidak apa-apa." Blaire memalingkan wajah. “Tolong jangan tanyakan apapun padaku untuk sementara,” pintanya tanpa menoleh pada Christian.
“Baiklah.” Ayah kandung Ainsley tersebut menuruti permintaan Blaire. Dia tidak berkata apapun lagi hingga malam menjelang. Begitu pula Blaire yang hanya bicara seperlunya, kecuali pada Ainsley.
Hal seperti tadi terus berlangsung hingga keesokan harinya. Saat itu, terdengar ketukan pelan di pintu. Tak berselang lama, pintu ruang perawatan Ainsley pun terbuka. Tampak wajah cantik dan segar Viktorija yang menjinjing beberapa paper bag berukuran besar, menyapa semua orang termasuk Blaire dan Christian yang berdiri di samping kiri dan kanan ranjang.
“Bagaimana kabar jagoanku ini?” sapa Viktorija pada sang cucu yang baru terbangun dari tidur seraya mengecup keningnya.
“Apakah kau membawa pesananku, Nek?” tanya Ainsley pelan.
“Tentu saja.” Viktorija tersenyum lebar sambil menoleh ke arah pintu. Di sana telah berdiri Aaron yang terlihat canggung. Dia juga membawa tas jinjing berukuran besar yang berisi perlengkapan yang mungkin dibutuhkan oleh Blaire. Aaron kemudian menatap Blaire dan Christian secara bergantian. Pria itu semakin salah tingkah. Berkali-kali dia mengempaskan napas panjang.
“Mana dinosaurusku, Paman?” tanya bocah kecil yang masih tak berdaya di atas ranjang perawatan. Pertanyaannya sedikit menghilangkan segala sikap serba salah Aaron.
“Oh iya, Ainsley. Semua ada di sini.” Aaron memasang senyuman lebar sambil mengangkat tasnya. Dia lalu membuka tas jinjing tersebut dan mengeluarkan beberapa clay berbentuk dinosaurus, lalu meletakkannya di atas perut bocah tampan itu.
“Terima kasih, Paman,” jawab Ainsley sambil tersenyum. “Lihat ini, Yah.” Bocah bermata abu-abu itu memainkan dan menggerakkan dinosaurusnya ke depan wajah Christian.
“Cepatlah sembuh. Nanti akan kubuatkan yang banyak,” ujar Christian sambil mengusap kening putranya. Kelembutan pria asal Meksiko itu dalam memperlakukan Ainsley, menarik perhatian Viktorija. Perasaan wanita itu menghangat saat melihat interaksi ayah dan anak di hadapannya.
Lain halnya dengan Aaron yang berkali-kali mencuri pandang ke arah Blaire yang lebih banyak diam dan menunduk. Tak tahan dengan sikap diam calon istrinya, Aaron memilih untuk menyapa gadis cantik itu lebih dulu. “Bisakah kita bicara, Blaire? Sebentar saja,” pintanya.
“Bicaralah,” sahut Blaire malas-malasan.
“Jangan di sini. Kita bicara di luar saja.” Aaron memberanikan diri menyentuh tangan Blaire dan menggenggamnya.
“Baiklah.” Melihat sikap Aaron yang kembali normal, Blaire pun menurut. Dia mengikuti langkah tegap calon suaminya ke luar ruangan.
Aaron kemudian mengarahkan Blaire untuk duduk di kursi ruang tunggu. Cukup lama mereka berdua terdiam, sampai pria tampan bermata biru itu yang lebih dulu mengungkapkan sesuatu kepada Blaire.
“Maafkan aku yang telah lepas kendali, Sayang. Aku ... aku sangat menyesalinya,” ucap Aaron penuh sesal.
“Sudahlah, lupakan saja,” sahut Blaire singkat.
“Tidak bisa, Blaire. Aku ingin mendengar kata maaf langsung dari bibirmu."