Edinburgh

Edinburgh
Second Kiss



"Katakan apa yang mereka inginkan darimu, Chris?" tanya Blaire sekali lagi. Kali ini, gadis cantik tersebut tampak jauh lebih serius dari sebelumnya.


"Aku harus segera ke toko, Blaire," jawab Christian. Dia memang tak berniat untuk mengutarakan yang sejujurnya kepada gadis itu. Christian lalu berbalik. Pria dengan jaket kulit tadi bermaksud untuk kembali ke dalam mobil.


Akan tetapi, dengan segera Blaire menahan langkah si pria dengan cara meraih lengan serta mencekalnya dengan sangat erat, menurut gadis itu. Kenyataannya, Christian dapat menyingkirkan tangan Blaire dengan begitu mudah. "Astaga," desah si pemilik mata hijau tersebut. "Kau membuatku takut, Christian."


Blaire segera berbalik. Dia melangkah tergesa memasuki pekarangan rumahnya yang asri. Melihat sikap si gadis, Christian tentu saja tak tinggal diam. Dengan segera, dia menyusul Blaire ke dalam. Pria itu menahan pintu yang akan segera ditutup oleh sang pemilik rumah.


"Pergilah, Chris! Aku muak padamu!" usir Blaire dengan kesal. Dia berusaha untuk menutup pintu, meskipun Christian terus memaksa hendak membukanya. Namun, karena melakukan gerakan yang terlalu kuat, Blaire pun menyerah. Dia merasakan tak nyaman pada pinggangnya.


Blaire menjauh dari pintu. Dia membiarkan Christian membukanya, sehingga pria itu dapat masuk dengan leluasa. Sementara dia sendiri memilih untuk duduk di atas sofa sambil menenangkan diri.


Untuk beberapa saat, mereka berdua hanya saling membisu. Blaire tengah sibuk mengatur napas agar rasa tak nyaman pada bekas operasi sedikit mereda.


Sementara Christian hanya terpaku memperhatikannya. Namun, pria itu tak ingin membuang waktu terlalu banyak dengan sia-sia. Dia segera mendekat kepada Blaire yang masih duduk tanpa bersedia menoleh.


"Blaire." Christian menurunkan tubuh di hadapan gadis itu, dengan posisi bertumpu pada tumit kaki yang dia lipat. "Tolong mengertilah. Aku belum bisa menjelaskan ini secara terang-terangan padamu," ujarnya pelan.


"Kenapa? Apakah itu terlalu berbahaya? Lihatlah kenyataannya saat ini. Aku harus terlibat dalam masalahmu, Chris. Aku yakin kau pasti sangat menyadari hal itu." Blaire menundukkan wajahnya karena rasa kecewa. "Aku takut. Sejujurnya diriku belum pernah mengalami hal seperti ini. Rasanya memang menantang, tapi saat melihat dirimu ... astaga, aku benar-benar bingung bagaimana cara menjelaskannya." Blaire kembali terdiam.


"Baiklah." Christian kembali berdiri. "Aku harus pergi. Kunci pintu dan jendela dengan rapat. Jangan bukakan pintu untuk siapa pun yang tidak kau kenal," pesannya seperti kepada seorang anak kecil.


"Buktinya mereka dapat masuk ke dalam rumahmu dengan mudah," bantah Blaire begitu saja. "Bukan tidak mungkin hal itu akan terjadi pada rumah yang lain."


"Blaire ...." Belum pernah Christian berkata dengan nada bicara seperti itu sebelumnya.


"Pergilah," balas gadis berambut pirang yang masih duduk di atas sofa. Dia tak memberikan wajahnya sama sekali.


Walaupun ada rasa was-was dan tak enak hati, tapi Christian pun memilih untuk kembali ke dekat pintu. Sebelum benar-benar membukanya, dia terlebih dulu menyibakkan tirai yang menutupi kaca pada pintu tersebut. Tatap mata pria yang hingga saat ini masih menjadi misteri bagi Blaire, begitu tajam serta awas melihat ke luar pekarangan.


"Apa mereka datang lagi?" tanya Blaire yang tiba-tiba sudah berdiri di sebelah Christian.


"Aku masih menerka apa yang mereka inginkan dengan menguntitmu," jawab pria itu tanpa mengalihkan pandangannya.


"Ah, aku tidak peduli. Lagi pula, aku merasa tak ada masalah dengan siapa pun." Blaire membalikkan badan. Dia bermaksud untuk beranjak dari sebelah Christian. Namun, dengan segera pria itu meraih pergelangan tangannya.


Christian memegangi tangan Blaire begitu erat, sejalan dengan tatap matanya yang lekat tertuju kepada gadis cantik tersebut. Blaire pun seperti tak berniat untuk melawan. Dia diam saja ketika Christian makin mendekat. Pria itu tak mengatakan apapun. Dia hanya memandang Blaire yang lebih memilih menyembunyikan wajahnya. Tak seperti biasa, gadis itu jauh lebih pendiam saat ini. "Blaire ...."


Gadis cantik dengan mini halter dress navy tadi kian membisu, saat merasakan sentuhan tangan Christian di pipinya. "Maafkan aku." Dalam dan begitu berat suara Christian terdengar di telinga Blaire. Namun, putri semata wayang Viktorija tersebut tak menjawab. "Kau marah?" tanya Christian palan. Pria itu sedikit menunduk, demi melihat paras cantik Blaire yang terus gadis itu sembunyikan darinya.


Blaire tahu apa yang akan Christian lakukan. Mungkin saja pria itu bermaksud untuk membujuk dirinya dengan memberikan sebuah sentuhan lembut pada wajah. "Chris ...." Blaire tak tahu harus berkata apa. "Siapa kau sebenarnya?" Lagi, pertanyaan yang sama meluncur dari bibir polos Blaire.


"Kenapa kau begitu penasaran, Blaire?" Christian balik bertanya.


"Karena aku tertarik padamu," ungkap gadis itu apa adanya. Itulah karakter dari gadis berambut pirang tersebut. Dia tak pandai menyembunyikan perasaannya. "Aku bukan tipe orang yang pandai menutupi sesuatu dalam diriku. Jika tidak kuceritakan, maka ... rasanya akan seperti ada sebuah gelombang besar yang terus menerjang dan menghantam tanpa henti. Itu sangat tidak nyaman."


Blaire terdiam sejenak. Dia menatap pria di hadapannya dengan sayu. "Aku tahu bahwa diriku memang sangat mengganggu dan juga berisik. Kau mungkin berpikir bahwa aku adalah gadis konyol yang tak bisa berpikir jernih. Akan tetapi, di mataku kau terlihat begitu berbeda."


Christian tidak berkata sedikit pun. Dia hanya menatap lekat paras cantik Blaire, gadis muda yang lebih cocok menjadi seorang adik baginya.


"Katakan sesuatu, Chris?" pinta Blaire penuh harap.


"Apa yang harus kukatakan padamu. Tak ada sesuatu yang menarik dari diriku. Aku tak dapat membanggakan apapun di hadapan seorang Blaire Shuterland," bantah Christian. Pada akhirnya pria itu mau bersuara juga.


"Apa kau tidak tertarik sama sekali padaku, Chris?" Nada pertanyaan Blaire menyiratkan rasa kecewa atas ucapan pria di hadapannya.


Christian lagi-lagi tak menjawab dengan sesuatu yang pasti. Namun, sorot mata pria itu tak setajam biasanya. Lembut, dia menangkup paras cantik Blaire. Kembali diciumnya bibir polos gadis tersebut.


Mendapat perlakuan demikian, Blaire justru semakin merasa bingung. Namun, lagi-lagi pikirannya menjadi kosong, ketika merasakan nikmatnya sentuhan bibir Christian. Blaire melupakan segalanya, termasuk rasa tak nyaman di pinggang.


Pertautan manis tadi terus berlangsung. Mereka seperti hendak menghentikan waktu dan membuatnya tetap pada saat seperti itu. Namun, semuanya harus terjeda ketika Christian tiba-tiba melepaskan ciuman di antara mereka, membuat Blaire yang masih ingin menikmati hal tersebut hanya dapat menggigit bibir bawahnya.


Christian tampak merogoh ponsel dari dalam saku jaket. Untuk beberapa saat, pria itu lekat memperhatikan benda tadi. Sepertinya dia tengah membaca sebuah pesan masuk. "Aku harus pulang dan ke toko. Ini sudah terlalu siang," ucapnya.


"Apakah orang-orang itu masih ada di depan?" tanya Blaire khawatir.


"Aku rasa tidak ada," jawab Christian meski terlihat ragu. "Jika ada apa-apa, jangan sungkan untuk menghubungiku," pesannya sebelum membuka pintu dan keluar.


Blaire mengangguk pelan seraya memaksakan diri untuk tersenyum. Dia segera menutup kembali pintu setelah Christian berlalu. Namun, pria itu tampak berhenti di tengah-tengah jalur yang membelah pekarangan asri rumahnya. Blaire pun terus mengawasi dari balik tirai yang terpasang di pintu.


Christian rupanya menjawab sebuah panggilan telepon. Hal tersebut membuat rasa penasaran Blaire terbangkitkan. Gadis itu membuka pintu dengan perlahan, hingga dia dapat mendengar suara berat si pria meski tak terlalu jelas. Entah apa yang tengah Christian bicarakan. Namun, satu yang pasti hal itu membuat Blaire merasa semakin tak nyaman. Terlebih, ketika dia mendengar kata-kata yang pria tadi ucapkan sebelum menutup sambungan teleponnya. "Tenangkan dirimu, Pandora. Semua akan baik-baik saja."


🍒🍒🍒


Rekomendasi novel seru untuk semuanya. Yuk, segera mampir dan ramaikan.