
Blaire menoleh sejenak kepada pria berjaket kulit yang masih berdiri menatapnya. Gadis cantik bermata hijau itu tersenyum, kemudian melambaikan tangan. Jarak kediaman mereka yang hanya terhalang dua rumah, membuat keduanya masih dapat bersitatap dengan cukup jelas.
Gejolak dalam hati, terus menahan kedua kaki Blaire agar tetap berdiri di depan pintu pagar rumahnya. Akan tetapi, gadis itu tersadar bahwa sang ibu sudah menunggu di dalam. Viktorija juga mungkin sangat mengkhawatirkan dirinya yang memang tak terbiasa pulang terlambat, selain beberapa malam kemarin tentunya. Harus Blaire akui, semenjak hubungan antara dirinya dan Christian kian dekat, gadis cantik itu memang kerap merasa gelisah jika berlama-lama di dalam rumah.
“Kupikir kau tak jadi pulang, Blaire,” ujar Viktorija yang sudah menunggu di meja makan.
“Apa Ibu belum makan malam?” tanya Blaire tanpa menanggapi ucapan sang ibu.
“Aku menunggumu. Namun, sepertinya kau sedang tidak lapar.” Viktorija menopang dagu dengan kedua tangan yang dia satukan. Wanita paruh baya tersebut menatap aneh kepada putri semata wayangnya.
Sedangkan Blaire tampak salah tingkah. Sesekali, dia menyibakkan rambut yang digerai dengan bebas, tak seperti tampilan Blaire biasanya. “Chris membelikanku roti saat kami pulang tadi. Karena itu, rasanya perutku sudah cukup kenyang,” sahut Blaire dengan raut wajah yang terlihat mencurigakan. “Um ... sebaiknya aku ke kamar dulu,” pamit gadis itu. Lagi pula, dia sudah tak nyaman karena mengenakan celana sobek.
Akan tetapi, baru saja Blaire hendak menaiki undakan anak tangga pertama, suara Viktorija kembali terdengar dan menahannya. “Jadi, Christian membuatmu benar-benar merasa nyaman?” tanyanya.
Blaire pun kembali menoleh dan tersenyum. “Sepertinya iya, Bu,” sahut gadis itu seraya menyelipkan beberapa helai rambutnya yang indah ke belakang telinga.
“Apa rencana kalian ke depannya?” tanya Viktorija yang seperti tengah menginterogasi Blaire, dan gadis itu yakin bahwa hal tersebut pasti akan memakan waktu sedikit lebih lama. Ya, Blaire mengetahui dengan jelas karakter sang ibu.
“Entahlah, Bu. Aku sendiri juga tidak begitu yakin,” jawab Blaire mulai gugup, ketika dia juga tak memiliki gambaran tentang masa depannya bersama Christian.
Pria itu memang tak memberikan petunjuk maupun kepastian dalam hubungan mereka secara jelas. Namun, satu hal yang pasti adalah karena Blaire sangat menyukai kebersamaannya bersama pria rupawan tersebut, sehingga dia tak ingin merusak hal itu dengan pertanyaan-pertanyaan yang terlalu berat. Lagi pula, kedekatannya bersama Christian baru terjalin meski mereka telah bercinta sebanyak dua kali.
Luar biasa!
Bisik hati kecil Blaire seakan mencemooh gadis itu, yang begitu mudah menyerahkan diri kepada pria tampan berdarah Meksiko itu. Padahal, tak pernah ada ikrar cinta di antara dirinya dengan Christian yang menegaskan seperti apa hubungan mereka.
“Selalu ingatlah akan nasihatku, Blaire," pesan Viktorija dengan gaya bicaranya yang masih terlihat sangat tenang. "Berhati-hatilah agar kau tidak jatuh terlalu dalam, dengan begitu kau pun tak akan terluka dengan parah." Viktorija kembali berkata sambil mendekatkan piring ke hadapannya.
Untuk sejenak, wanita berambut sebahu itu memperhatikan makanan yang sudah dia siapkan. “Sepertinya aku akan makan malam sendiri malam ini,” gumam janda cantik tersebut sambil tersenyum simpul.
“Oh, Bu. Maafkan aku,” sesal Blaire. Gadis itu mengurungkan niatnya untuk pergi ke kamar. Blaire memilih duduk di samping sang ibu. Akan tetapi, bukannya mengambil hidangan yang ada, gadis itu malah memperhatikan sang ibu yang tengah menyantap makanannya hingga habis.
“Sepertinya tidak. Empat hari lagi aku akan menghadiri seminar sebagai pembicara. Aku harus mempersiapkan materinya dari sekarang,” jawab Viktorija sembari mendekat ke arah sang putri tersayang.
“Blaire,” sebut wanita yang masih terlihat cantik itu. Dia meletakkan tangannya di atas pundak sebelah kanan gadis itu. “Entah mungkin aku salah lihat atau bagaimana. Akan tetapi, tadi saat aku berjalan pulang dari kedai, aku melihat sosok wanita tengah berdiri di balik jendela rumah Christian,” tuturnya pelan dan hati-hati.
Blaire yang telah selesai mencuci piring, segera menoleh ke arah sang ibu. “Berarti apa yang kulihat dulu tidak salah, Bu! Aku memang pernah melihat seseorang di sana!” sahutnya dengan yakin.
“Apakah Christian pernah mengatakan padamu tentang statusnya? Maksudku, apakah dia menikah, bertunangan, atau mungkin memiliki pacar?” tanya Viktorija bernada penuh selidik.
Wajah antusias penuh semangat tadi seketika memudar saat mendengar pertanyaan sang ibu. “Ti-tidak, Bu. Christian tak pernah mengatakan apapun padaku,” jawabnya pelan. Sorot matanya pun tampak ragu. Terlalu banyak hal yang tidak dirinya ketahui dari seorang Christian Alvarez Teixeira.
Viktorija menghela napas panjang. Dia menatap sang putri yang terlihat semakin cantik, seiring bertambahnya usia. “Saranku sebagai seorang ibu hanya satu. Kupikir sebaiknya kau jauhi dia, Blaire. Aku merasa ada sesuatu yang tak beres dengan tuan Alvarez,” ucap Viktorija membuat perasaan Blaire kian tak karuan.
Blaire pun tertegun mendengar ucapan sang ibu. Meskipun demikian, dia sama sekali tak hendak membantah. Sebab pada kenyataannya, Christian juga tak pernah mengungkapkan apapun kepadan dirinya. Dia bahkan tak pernah menjawab segala rasa penasaran Blaire selama ini.
“Aku mengerti, Bu. Jangan khawatir. Aku menyayangimu,” balas gadis itu. Dia mengecup kedua pipi sang ibu, sebelum berjalan cepat menaiki tangga untuk menuju kamar.
Setibanya di dalam ruangan kesukaannya itu, Blaire segera menutup dan mengunci pintu rapat-rapat. Gadis itu kemudian merebahkan diri begitu saja ke atas ranjang. Kalimat Viktorija kembali membuat gadis itu berpikir dalam-dalam tentang semuanya. “Apakah kau hanya mempermainkanku, Chris?” gumamnya lirih. Keraguan yang besar tiba-tiba menyeruak dan mengalahkan segala getaran-getaran indah nan manis yang sempat menguasai hatinya selama beberapa waktu terakhir.
Blaire akhirnya memutuskan untuk merogoh ponsel dari saku mantel. Dia bermaksud hendak menghubungi Christian. Namun, sebelum gadis itu sempat menyentuh ikon memanggil, ternyata Christian meneleponnya lebih dulu.
“Apa kau belum tidur, Blaire?” tanya suara berat nan seksi dari seberang sana.
“Tidak, maksudku belum. Chris, aku ....” Blaire terdiam sejenak. Segala pertanyaan yang memenuhi benaknya, seketika menguap begitu saja kala mendengar dengan jelas suara helaan napas berat Christian di telepon. Hal itu mengingatkannya pada kebersamaan di antara mereka.
“Aku ingin mengajakmu lagi besok,” ucap pria itu, karena Blaire hanya terdiam.
“Ke mana?”
“Satu tempat dengan pemandangan yang akan membuatmu takjub,” jawab Christian dengan segera.