Edinburgh

Edinburgh
Stairaway to Castle Rock



“Aku hanyalah pemilik toko barang antik di sebelah kedai nona Blaire Sutherland,” jawab Christian kalem.


“Jangan bercanda, Mate. Apa kau kira aku ini bodoh? Tidak semua orang bisa memiliki black card sepertimu. Apalagi hanya sekadar pemilik toko barang antik,” sanggah Aaron.


“Sudahlah, Aaron,” bisik Blaire saat dirinya memperhatikan raut Christian yang mulai berubah garang. Pria itu mulai tak menyukai ucapan serta pembahasan yang Aaron lontarkan saat itu.


“Siapa pun diriku itu tidaklah penting. Apapun yang kulakukan akan menjadi urusan pribadi.” Sorot mata Christian begitu dingin dia arahkan pada calon suami Blaire tersebut.


“Ayah, ayo! Aku tidak sabar berjalan-jalan ke kastil,” ajak Ainsley. Beruntungnya karena suasana tegang tadi kembali tercairkan oleh ajakan bocah lima tahun tersebut.


“Tentu, Nak. Ayo. Kita harus bergegas ke sana.” Wajah mengerikan Christian berubah seketika menjadi raut yang begitu hangat. Senyuman lebar yang teramat jarang dia perlihatkan pun tampak begitu memesona. Pria itu lalu menuntun Ainsley, kemudian mengajak sang buah hati masuk ke dalam mobil. Christian sama sekali tak menoleh lagi kepada Aaron yang masih terpaku menatapnya.


“Aku merasakan ada sesuatu yang tak beres dengan mantan kekasihmu itu, Blaire,” desis Aaron sesaat setelah dia membukakan pintu mobil untuk calon istrinya.


“Dia orang yang baik, dan aku tak suka jika kau membahasnya seolah-olah bahwa Christian adalah penjahat, Aaron. Dia adalah ayah kandung Ainsley dan selamanya akan tetap demikian. Tak ada siapa pun yang bisa mengubah posisinya, meski dia pernah pergi meninggalkanku. Namun, itu juga karena dia memiliki alasan tersendiri,” protes Blaire.


Entah kenapa, Blaire yang tak mudah tersulut emosinya di hadapan Aaron, kini menunjukkan raut dan sikap yang tak suka, bahkan terkesan seperti marah. Wajah ramah gadis cantik tersebut, segera tergantikan oleh mimik tak bersahabat, walaupun pada akhirnya dia menyesali sikap yang tadi ditunjukkan kepada Aaron.


“Maafkan aku,” ucap Blaire beberapa saat setelah kendaraan Aaron bergerak mengikuti mobil Christian yang telah lebih dulu melaju. “Apakah tidak cukup bagimu, Aaron? Aku sudah memilih dan memutuskan untuk menjalani sisa hidupku bersamamu. Apalagi yang kurang?”


Sedangkan Aaron hanya dapat mengempaskan napas pelan. Pria itu sempat melirik kepada Blaire yang terlihat menitikkan air mata. “Ayolah, Sayang. Kenapa kau harus menangis? Baiklah, aku minta maaf. Tak sepatutnya aku bersikap demikian. Hanya saja ….” Pria tampan berambut pirang tersebut menghentikan kalimatnya begitu saja.


“Apa?” Blaire yang selalu penasaran, tak tahan juga untuk tidak bertanya.


“Hanya saja … cara kau memandangnya ... betul-betul membuatku iri. Seolah tidak ada hal lain di sekelilingmu selain Christian,” jawab Aaron ragu. Dia takut membuat Blaire merasa tersinggung lagi.


“Semua butuh waktu, Aaron. Sebagai permulaan, aku sudah memutuskan untuk bersamamu. Selanjutnya, biarlah waktu yang menentukan seperti apa. Aku juga akan berusaha untuk menjadi yang terbaik bagimu,” sahut Blaire. Suaranya begitu lirih, tertelan oleh deru angin dari jendela mobil yang terbuka.


Akan tetapi, Aaron dapat mendengarnya dengan jelas. “Terima kasih, Blaire. Terima kasih atas kesempatan yang kau berikan.” Dia bermaksud untuk meraih telapak tangan kekasihnya, ketika tiba-tiba kendaraan Christian berhenti mendadak. Aaron pun segera mengikuti apa yang ayah kandung Ainsley lakukan. Dia segera menginjak rem.


Aaron tadinya hendak turun dari kendaraan dan bertanya kepada Christian. Namun, hal itu segera dia urungkan saat melihat Ainsley yang keluar dari mobil dengan dibantu oleh sang ayah. Mereka berjalan ke sisi trotoar dan mendekati seorang peniup Bagpipe.


Adalah sebuah alat musik tradisional Skotlandia lengkap dengan pakaian adat yang bernama Kilt, yaitu rok selutut bermotif kotak-kotak dipadu dengan setelan jas hitam dan topi khas Skotlandia yang berbentuk baret. Topi ini juga bermotif sama dengan rok Kilt, ditambah dengan hiasan berbentuk bulat di bagian atas tengah topi.


Ainsley tampak ceria. Dia berjoget penuh irama mengikuti alunan nada yang keluar melalui Bagpipe. Bocah pirang itu menari berputar sambil menarik lengan sang ayah yang hanya diam mematung, agar segera mengikuti gerakannya.


Blaire terkikik geli melihat hal itu. Segera saja dia turun dari mobil dan berlari menghampiri. Sama halnya dengan Ainsley, gadis cantik bermata hijau itu juga ikut memaksa Christian untuk menari. Blaire bahkan sudah menggoyangkan pinggulnya sambil berputar serempak bersama Ainsley.


“Astaga.” Aaron begitu takjub melihatnya. Sosok Blaire yang ceria dan tidak pernah dia lihat sejak pertama kali mengenal gadis itu, kini dapat dia saksikan sendiri secara langsung. Tawa lepas Blaire dan sorot mata bahagianya tampak begitu cantik di mata Aaron. “Blaire,” desisnya tanpa sadar.


“Seharusnya kau juga ikut menari, Aaron,” jawab Blaire sembari tertawa.


“Ya, ampun.” Aaron membalas tawa itu dengan senyuman lebar, sambil mengarahkan kemudi mengikuti mobil Christian yang mulai bergerak.


Kali ini, Christian tak berhenti lagi hingga mereka tiba pada area parkir luas yang terletak di bawah kawasan kastil. Sambil menuntun Ainsley, dia menghampiri Aaron dan Blaire yang juga baru keluar dari dalam mobil. “Apa kalian siap meniti anak tangga menuju ke puncak bukit?” tanya Christian iseng.


“Kau pikir kami ini sepasang manula?” balas Aaron seraya berdecak kesal.


Tak disangka, pria asal Meksiko itu tergelak mendengar jawaban Aaron. Tawa yang sangat indah dan menawan di mata Blaire. Namun, dengan segera, gadis itu menguasai diri dan meyakinkan bahwa kekasih hatinya adalah Aaron.


“Ayo.” Ainsley yang tak sabar, menarik-narik tangan Christian. Bukannya menuju anak tangga, bocah itu malah menyeret Christian ke arah penjual es krim yang gerainya berada tepat di sebelah pintu masuk area parkir. “Belikan aku satu saja , Ayah,” pintanya memohon.


“Tidak boleh, Ainsley! Ini masih pagi dan hawanya terlalu dingin!” tolak Blaire yang segera melarang buah hatinya.


“Tidak apa-apa, Blaire. Tubuh manusia memiliki sistem pertahanannya sendiri. Ainsley adalah anak yang sangat kuat, lebih dari yang kau tahu. Dia tidak akan sakit hanya karena memakan es krim di tengah hawa dingin,” ujar Christian.


“Tapi ....” Blaire merengut, walaupun pada akhirnya tetap menuruti permintaan Ainsley.


Bocah berusia lima tahun itu bersorak riang. Terlebih saat dia menerima sebuah es krim berbentuk cone dengan rasa coklat. “Sekarang gendong aku di pundakmu, Ayah! Aku ingin seperti Mark yang selalu digendong ayahnya di pundak,” pinta Ainsley.


“Bukankah aku juga sering menggendongmu di pundak, Mate?” ujar Aaron yang berjalan di belakang Christian.


“Ya, tapi paman bukan ayahku,” jawab Ainsley dengan enteng, membuat suasana kembali menjadi canggung.


“Maafkan Ainsley. Dia tak tahu apa yang dirinya katakan.” Blaire yang merasa tak enak, segera melingkarkan tangan di lengan Aaron sembari mengusap-usap bahu calon suaminya.


“Jangan khawatirkan itu, Blaire. Aku sungguh-sungguh mengerti.” Lagi-lagi, Aaron harus menyembunyikan luka hatinya dalam sebuah senyuman.


“Oh ya. Kusarankan kau untuk berhati-hati, sebab tangga menuju kastil sangatlah curam,” pesan Aaron berusaha mengalihkan pembicaraan dengan memperingatkan Christian yang melangkah cepat di depan mereka berdua.


“Ayah, sekarang giliran paman Aaron yang menggendongku!” seru Ainsley yang seakan mengerti keresahan kekasih ibunya tersebut.


“Baiklah, jika itu yang kau mau, Na.,” Christian mengangkat tubuh kecil Ainsley, lalu memindahkannya ke pundak Aaron. Mereka pun kembali berjalan meniti anak tangga.


Hingga tiba di anak tangga terakhir, Blaire tiba-tiba hilang konsentrasi dan keseimbangan. Dia terpeleset dan hampir jatuh terguling ke belakang, jika saja Christian tidak buru-buru menangkap tubuh ramping itu dan mendekapnya dengan erat.