
Blaire tertegun untuk beberapa saat. Gadis itu berpikir dengan dalam. Ini masih terlalu pagi, dan Aaron sudah berada di Glasgow dengan seorang wanita yang menanyakan handuk kepada dirinya. Tanpa berpikir panjang, Blaire pun memutuskan untuk menghubungi Anette. Tak perlu menunggu terlalu lama, panggilan gadis itu langsung terjawab.
"Hello. Blaire? Apa ini kau?" sapa Anette.
"Ya, nyonya Walsh. Ini aku," sahut Blaire. Ragu, dirinya hendak menanyakan tentang keberadaan Aaron.
"Ada apa, Blaire? Tak biasanya kau menghubungiku seperti ini. Padahal, kau bisa langsung datang kemari. Apalagi jika mengajak Ainsley," ujar Anette. Wanita itu memang sangat ramah dan juga menyayangi Ainsley dengan sepenuh hati.
"Aku ... aku hanya ingin bertanya tentang Aaron. Um ... kupikir dia akan datang kemari pagi ini, tapi tenyata ...."
"Oh, Aaron berangkat lagi ke Glasgow semalam setelah kembali dari rumahmu. Dia mengatakan ada urusan di kantor yang mengharuskannya hadir lebih awal. Jadi, putraku memutuskan untuk menginap di tempat sahabatnya," tutur Anette menjelaskan. "Memangnya ada apa, Blaire? Apa kau ada masalah dengan Aaron?" selidik janda tiga anak itu.
"Tidak. Tentu saja tidak sama sekali," sahut Blaire membantah apa yang Anette tanyakan.
"Syukurlah," balas ibunda Aaron tadi terdengar lega. Anette lalu terdiam sejenak, karena Blaire pun tak terlalu banyak bicara. Akan tetapi, sebagai seorang ibu, insting wanita berambut pirang itu sepertinya sudah dapat menebak bahwa ada sesuatu yang tak beres. "Tak lama lagi, kau dan Aaron akan segera menikah. Aku tahu, Blaire. Walaupun kau telah memiliki seorang anak, tapi ini adalah pernikahan pertama bagimu. Aku bisa memahami jika kau merasa gugup dan ...." Anette mengempaskan napas pelan.
"Aku pun merasakan hal yang sama denganmu, saat memutuskan untuk menerima lamaran dari mendiang suamiku dulu. Semalam suntuk mataku tak dapat terpejam sama sekali. Aku bahkan sampai memikirkan hal yang tidak penting. Salah satu contohnya adalah bagaimana jika tiba-tiba diriku terpeleset, karena menginjak bagian bawah gaun pengantin yang panjang. Setelah itu aku terjatuh, dan ... astaga." Anette berdecak pelan. Dia lalu tertawa renyah.
"Ya. Aku rasa ini hanya sindrom pra pernikahan," sahut Blaire. Dia tak mengatakan apapun kepada Anette. Setelah berbasa-basi sebentar, gadis itu pun mengkahiri perbincangannya di telepon. Perhatian Blaire kini tertuju sepenuhnya kepada Ainsley. Anak itu tengah asyik dengan mainan robot yang kemarin Aaron belikan untuknya.
Tanpa terasa, siang pun datang menyapa. Ainsley sudah berada di atas tempat tidur untuk beristirahat. Setelah memastikan anak itu berbaring hingga terlelap, Blaire pun keluar dari kamar. Bertepatan dengan gadis cantik tersebut yang kembali ke ruang tamu, Aaron datang ke rumah itu. Seperti biasa, dia selalu terlihat rapi dan tampan.
"Selamat siang, Blaire," sapanya. "Mana Ainsley?" Pria itu mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan, mencari sosok anak yang sudah dirinya anggap seperti darah daging sendiri.
"Selamat siang, Aaron," balas Blaire. Walaupun ada ganjalan besar dalam hatinya, tetapi gadis itu tetap berusaha untuk tersenyum dan menyambut kehadiran calon suaminya. "Ainlsey sudah tidur. Dia bermain sejak tadi dengan robot yang kau belikan kemarin," tutur Blaire. Gadis cantik berambut pirang tersebut mempersilakan Aaron untuk duduk.
Beberapa saat lamanya, dua sejoli tadi saling terdiam. Ada banyak pertanyaan yang ingin Blaire layangkan, kepada pria dengan blazer cokelat itu. Akan tetapi, entah mengapa dia seperti bingung merangkai kata-kata.
Sementara Aaron pun sama saja. Pria bermata biru tersebut tampak salah tingkah. Aaron pun seperti bingung hendak berkata apa. Dia hanya mengempaskan napas pelan beberapa kali. Pada akhirnya, Aaron memberanikan diri untuk menoleh kepada Blaire. "Apa kau sudah makan siang?" tanya pria itu membuka percakapan.
"Belum sempat. Sejak tadi aku menemani Ainsley. Aku belum menyiapkan makan siang sama sekali," jawab Blaire.
"Bagaimana jika kupesankan? Aku punya seorang teman yang membuka restoran cepat saji tak jauh dari perumahan ini. Akan kuminta dia untuk mengirim makanan kemari," tawar Aaron mencoba mencairkan suasana canggung di antara mereka.
“Sepertinya itu ide yang bagus,” sahut Blaire sambil mengangguk. Dia memamerkan senyumannya yang indah.
“Baiklah. Tunggu sebentar.” Aaron lalu mengetikkan sesuatu pada layar ponselnya. Tak berselang lama, dia kembali beralih pada sang calon istri yang ternyata terus memperhatikan dirinya. “Apa yang kau lihat, Blaire?” Aaron tersenyum lebar demi menutupi rasa gugup.
“Di mana kau menginap semalam, Aaron?” tanya Blaire membuat Aaron terkesiap. “Aku menelepon bibi Anette tadi pagi. Dia mengatakan bahwa kau kembali ke Glasgow,” jelasnya.
“Teman wanita?” tanya Blaire lagi terlihat ragu dan curiga.
Kali ini, Aaron tak langsung menjawab. Pria itu terdiam untuk beberapa saat, kemudian tersenyum. “Ada banyak orang di sana. Pria dan wanita. Kami tengah mendiskusikan sesuatu tentang pekerjaan,” terang Aaron seraya menggaruk tengkuk kepalanya, lagi-lagi demi menghalau rasa gugup.
“Oh syukurlah." Blaire tertawa lega. “Aku sempat berpikir yang tidak-tidak. Namun, aku segera menepisnya. Kau jelas tak mungkin berbuat macam-macam, Aaron. Kau terlalu baik dan manis,” sanjungnya.
“Astaga, Blaire.” Suara Aaron terdengar bergetar. "Maaf karena tadi aku langsung mematikan telepon. Mereka memang terbiasa berbuat iseng," ucap Aaron kembali mencari alasan. Si tampan berambut pirang itu, memaksakan diri untuk tersenyum senatural mungkin.
Perasaan berdosa memenuhi rongga dada dan membuatnya sesak. Kini, Aaron seperti tengah berada di sebuah persimpangan. Hanya beberapa langkah lagi, gadis pujaannya itu akan menjadi milik dia seutuhnya. Akan tetapi, tiba-tiba ada dosa dan rahasia besar yang dirinya sembunyikan dari gadis cantik itu.
“Blaire, aku ….” Kata-kata Aaron terjeda, ketika terdengar bunyi ketukan di pintu.
“Ah sepertinya makanan yang kita pesan tadi sudah datang,” sela Blaire. Dia segera bangkit dari duduk, kemudian membuka pintu. Tebakannya memang benar, seorang kurir datang sambil membawakan dua kantong coklat berukuran besar.
“Tunggu. Biar kubayar,” cegah Aaron cukup nyaring, ketika dia melihat Blaire hendak mengambil uang dari saku celananya. Aaron merogoh dompet dari saku belakang, lalu memberikan beberapa lembar poundsterling pada kurir tadi. Sementara Blaire menerima kantong berisi makanan pesanan, lalu meletakkannya di atas meja makan.
“Bau sup krimnya harum sekali,” ucap Blaire sambil menghirup dalam-dalam aroma masakan yang lezat dan gurih itu.
“Daging steaknya juga terkenal lembut,” timpal Aaron sambil berjalan mendekat ke arah Blaire. Dia lalu menarik satu kursi dan duduk di sana. Mata biru pia itu terus memperhatikan si gadis, yang tengah menata makan siang untuknya.
“Apa yang ingin kau katakan tadi, Aaron?” tanya Blaire. Dia kembali teringat akan ucapan calon suaminya yang terjeda begitu saja.
“Oh itu … aku … kita makan dulu saja, Blaire,” sahut Aaron, ketika ibunda Ainsley itu menyodorkan piring yang telah penuh berisi makanan.
“Apakah ada masalah dengan rencana pernikahan kita?” tanya Blaire lagi yang semakin merasakan keanehan dari sikap Aaron. Gadis itu terus bertanya dan terkesan seperti mendesak calon suaminya agar bersikap terbuka.
“Tidak. Sama sekali tidak ada. Kita hanya perlu menghubungi kembali wedding planner (perencana pernikahan) untuk menjadwal ulang semuanya,” jawab Aaron dengan nada dan sikap yang dibuat setenang mungkin.
“Katakan saja jika ada sesuatu. Sebisa mungkin aku akan membantumu. Bukankah ini adalah acara kita berdua?” ujar Blaire menatap pria di hadapannya.
“Tentu saja, Sayang. Aku akan mendiskusikannya denganmu jika ada masalah,” sahut Aaron. Dia lalu mengalihkan pembicaraan pada obrolan ringan, hingga tak terasa makanan dalam piring pun sudah habis tak tersisa. Blaire juga mengambil wadah kotor bekas Aaron, lalu mencuci bersih semua.
Melihat Blaire yang berdiri membelakanginya, Aaron kemudian meraih ponsel. Dia mengetikkan sebuah pesan kepada seseorang yang tak lain adalah Cathy. Luwes, dia mengetik sesuatu di layar telepon genggamnya.
Kurasa kita harus mengakhiri semua kegilaan ini, Cathy. Aku telah memutuskan untuk melanjutkan rencana pernikahan dengan Blaire.