
Sudah seminggu sejak mereka pergi untuk mengunjungi makam ibu suri. Malam ini, Zaydan dan Elivia sedang menikmati waktu berdua di dalam kamar. Zaydan sedang bermain dengan ponselnya sementara Elivia sedang bergelayut di dada pria itu juga sambil berkirim pesan dengan adiknya.
“Sayang?”
“Hem?
“Apa kau ingin pergi kesuatu tempat? Negara mana yang paling ingin kau kunjungi?” Tanya Zaydan tiba-tiba.
“Negara? Ehmmmm,,, negara D.” Jawab Elivia setelah berfikir agak lama.
“D? Kenapa?”
“Karna terlihat keren di tv dengan gedung pencakar langitnya. Hahahahhaha.”
“Alasanmu klasik sekali.”
“Entahlah, aku tidak punya waktu memikirkan hal-hal seperti itu. Aku tidak terlalu ingin mengunjungi sebuah negara, aku hanya ingin melihat kompetisi ice skating paling bergengsi di seluruh dunia.” Ujar Elivia dengan tidak menganggap serius pertanyaan dari Zaydan.
Zaydan hanya tersenyum saja mendengarnya. “Kalau begitu, ayo kita berlibur ke negara D.” Ajak Zaydan tiba-tiba.
Elivia langsung mengalihkan kepalanya dan duduk tegap sambil menatap suaminya itu tidak percaya.
“Kau bercanda, kan?” Selidik Elivia. Padahal hatinya sangat senang luar biasa jika Zaydan benar-benar mengajaknya pergi kesana.
Zaydan hanya tersenyum tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel. Namun ia kemudian menelfon Lucas.
“Lucas, besok pagi, kami akan pergi ke negara D.” Ucap Zaydan singkat.
“Baik, Yang Mulia.” Jawab Lucas. Ia sudah tahu apa yang harus ia persiapkan untuk pangeran dan istrinya itu.
Elivia hanya menatap Zaydan tidak percaya. Ia ternganga melihat Zaydan. “Benarkah?”
Zaydan mengangguk, kemudian kembali meraih tubuh istrinya kedalam pelukannya.
“Kalau begitu, aku harus mempersiapkan barang-barang yang akan kita bawa.” Elivia jadi bersemangat setelah di janjikan akan pergi liburan ke luar negeri. Ia mencoba untuk bangun dari ranjang namun Zaydan tetap menahannya dengan lengannya.
“Sudah. Tidak usah repot-repot. Nanti pelayan yang akan menyiapkan semuanya.” Ujar Zaydan lagi.
Ah, awalnya memang sulit menyesuaikan diri dengan kehidupan istana, namun perlahan-lahan, Elivia mampu untuk mengatasinya. Ia sudah tidak canggung lagi jika ada pelayan yang membantunya dan mengurusi setiap keperluannya.
Pagi hari, Elivia sedang menikmati sarapan bersama dengan Zaydan. Sementara Widya dan beberapa rekannya sedang mempersiapkan keperluan mereka untuk pergi ke luar negeri.
Tidak butuh waktu lama bagi Widya dan rekannya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Karna saat Elivia sudah selesai sarapan, Widya juga sudah turun dengan mendorong troli berisi dua buah koper milik Elivia dan Zaydan.
“Sudah selesai, Nona.” Widya memberitahu.
“Oh, terimakasih, Widya.”
“Sama-sama, Nona.”
Setelah sarapan, Elivia dan Zaydan kembali pergi ke kamar untuk mengganti pakaian mereka. Zaydan terus saja tersenyum melihat Elivia yang sepertinya sangat semangat untuk pergi berlibur.
“Kali ini, Widya dan Lucas juga akan ikut bersama dengan kita.” Jelas Zaydan sambil merapikan kaus berlengan pendek yang ia kenakan.
“Mereka juga? Wah, ini akan semakin menyenangkan.” Pekik Elivia tambah kegirangan.
“Kau sesenang itu?”
“Tentu saja. Karna Widya ikut, aku jadi punya teman disana.”
Zaydan dan Elivia keluar dari kamar kemudian turun dan langsung masuk ke dalam mobil yang sudah di persiapkan oleh Lucas. Widya juga sudah menunggu di samping mobil.
Sejak di umumkan secara resmi kalau Elivia adalah istri Zaydan, kemanapun mereka pergi tidak lepas dari pengawalan karna awak media masih gencar mengejar mereka demi mendapatkan berita ekslusif. Begitu juga dengan hari ini.
Namun, hari ini jauh lebih sepi dari biasanya. Tidak ada awak media yang mengikuti mereka saat keluar dari istana.
“Tumben, sepi.” Ujar Elivia sambil memperhatikan jalan.
“Kita akan pergi diam-diam. Aku tidak ingin momen liburan ini terganggu.” Jawab Zaydan.
Dan benar saja, ternyata Lucas sudah mempersiapkan semuanya. Bahkan setelah sampai di bandarapun, mereka tidak melihat awak media yang mengikuti mereka.
Pesawat pribadi keluarga kerajaan sudah menunggu pasangan itu tiba. Pilot dan awak kabin pun langsung menyambut kedatangan mereka. Tapi yang membuat Elivia terbelalak adalah, disana ada seorang pria yang sedang berkacak pinggang lengkap dengan kaca mata hitam yang bertengger di wajahnya sedang berdiri di samping tangga pesawat.
“Kafa?!!!!” Pekik Elivia tidak percaya. Ia langsung menghampiri pria itu. “Bagaimana kau bisa ada disini?” Elivia masih tidak percaya.
“Aku dengar akan ada yang pergi liburan. Jadi tidak ada salahnya jika aku ikut. Aku juga sedang butuh liburan.” Seloroh Kafa.
Sementara Zaydan hanya tersenyum saja. Ia sama sekali tidak cemburu lagi kepada Kafa. Ia memilih untuk yakin pada perasaan Elivia padanya dan tidak mencurigai apapun hubungan Elivia dengan Kafa.
“Benarkah?” Kini Elivia beralih menatap Zaydan. Pria itu kembali mengangguk dan tersenyum.
“Begini kan lebih enak. Aku senang melihat kalian berdua kembali akrab seperti ini. Ehmm,, kalau begitu, apa kita masih bisa menunggu sebentar lagi?” Tanya Elivia tiba-tiba. Ia mendapat ide cemerlang tentang perjalanan mereka kali ini.
“Apa?” Tanya Zaydan.
“Tunggu sebentar.” Ujar Elivia yang berlari menghampiri Widya kemudian membisikkan sesuatu.
Widya nampak langsung mengangguk setuju dengan ide Elivia. Ia segera menelfon seseorang dan menyuruhnya untuk segera datang.
Sudah lebih dari dua puluh menitan Zaydan dan Kafa mengalah demi menuruti keinginan Elivia. Entah apa yang sedang di rencanakan oleh gadis itu , yang jelas, keduanya tidak berani untuk membantah. Keduanya menunggu dengan bosan di dalam pesawat sedangkan Elivia masih berada di luar untuk menunggu seseorang.
Tidak lama kemudian, Widya sudah kembali dengan Vanye yang berjalan di sampingnya.
“Nona, ada apa ini?” Tanya Vanye kebingungan karna ternyata Widya tidak memberitahu alasan kenapa ia harus pergi ke bandara. Widya hanya memberitahu untuk membawa pakaian dan perlengkapan karna Elivia sedang membutuhkan bantuannya.
“Oh, bu Vanye sudah datang? Ayo.” Ajak Elivia dengan menggandeng Vanye dan naik ke dalam pesawat.
Sedangkan Widya menyerahkan koper Vanye pada awak kabin dan kemudian ikut masuk kedalam pesawat mengikuti Elivia.
Kafa ternganga? Tentu saja. Bahkan Vanye lebih ternganga saat melihat Kafa yang sedang duduk di salah satu kursi di dekat Zaydan. Dia belum mengerti ada apa ini sebenarnya. Vanye yang melihat Zaydan langsung membungkuk hormat kepada pria itu.
“Apa ini? Ternyata kau mengajaknya?” Tanya Kafa heran.
“Kalau begini, lengkap sudah.” Seloroh Elivia yang langsunge mngajak Vanye duduk di sebelahnya.
Jujur, Vanye menjadi salah tingkah saat Kafa terus melihat kearahnya. Wajahnya bahkan sudah bersemu merah karna salah tingkah. Entah kenapa dia harus merasa seperti itu.
Dan Elivia, hanya bisa tersenyum melirik bergantian kepada keduanya. Ia bahkan mengacuhkan Zaydan yang bertanya lewat tatapan.
“Nona, sebenarnya kita mau kemana?” Tanya Vanye penasaran.
“Liburan.” Jawab Elivia santai. “Kafa, bisakah kita bertukar tempat duduk? Aku ingin duduk di sebelah suamiku.” Rengek Elivia dengan senyuman anehnya.
Zaydan bahkan sampai mengernyit heran kepada istrinya itu. Ia penasaran, sebenarnya apa yang sedang Elivia rencanakan dengan mengajak Vanye ikut serta dalam perjalanan mereka?