
Prosesi pemakaman sudah selesai, namun Widya masih menatap tv walaupun ia sudah tidak menangis lagi. Elivia yang baru selesai mandi kembali menghampiri Widya kemudian ikut duduk di sampingnya.
“El?” Lirih Widya.
“Hm?”
“Ibu Suri, apa kau membencinya?” Tanya Widya tiba-tiba.
“Apa maksudmu Widya?”
“Kau tau kan kalau beliau sungguh-sungguh menyayangimu?”
“Tentu saja. Mana mungkin aku tidak tau hal itu.”
“Lalu, apakah kau sudah memaafkannya?”
“Sebenarnya kau ini bicara apa? Bicaralah yang jelas.”
Widya menatap nanar kepada Elivia kemudian menghela nafas berat. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan masuk kedalam kamarnya begitu saja. Meninggalkan Elivia yang menatap ke arah kamar dengan bingung.
Tidak lama kemudian Widya kembali keluar dengan membawa sebuah kotak di tangannya. Gadis itu kembali duduk di tempatnya semula. Ia menatap pias kotak itu kemudian mulai membukanya.
Pertama, Widya mengeluarkan secarik kertas yang sudah terlipat dengan sangat rapi itu. Ia menatapnya sebentar, kemudian menyerahkannya kepada Elivia.
“Apa ini?” Tanya Elivia bingung namun ia tetap menerima kertas itu.
Perlahan elviia membuka kertas itu dan mulai membaca isinya.
Kepada Elivia.
Saat kau menerima surat ini, mungkin sudah terjadi sesuatu padaku. Tapi jangan bingung, aku akan menjelaskan semuanya.
El, aku sungguh meminta maaf atas semua yang sudah kulakukan padamu. Seharusnya aku tidak memaksamu untuk menikahi Dan. Maaf aku telah membawamu pada penderitaan. Aku fikir aku bisa membayar semua hutangku pada ke dua orang tuamu dengan menikahkanmu dengan Dan. Tapi nyatanya itu hanyalah keegoisan dari seorang wanita tua.
Maafkan wanita tua ini, Elivia. Aku berjanji jika nanti aku bertemu dengan ayah dan ibumu, aku akan memberitahu mereka kalau kau baik-baik saja. Kalau kau dan Arina telah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Aku akan menceritakan semuanya kepada mereka dan meminta pengampunan mereka.
El, tolong maafkan Dan. Dia sama sekali tidak tau apa-apa. Yang dia tau hanya berbakti kepada orang tuanya. Mungkin aku sudah salah mendidiknya hingga dia menjadi pria yang menyakitimu. Aku tetap berharap kalau kelak kau bisa kembali bersama dengan cucuku, Elivia.
Dan lagi, aku berharap kau bisa memaafkan kesalahan bodoh dari wanita tua ini.
Selebihnya, Widya akan menjelaskan semuanya padamu, karna tanganku sudah gemetar dan tidak kuat lagi untuk melanjutkan tulisan ini.
^^^Nenek suri^^^
“Apa maksudnya ini, Widya? Kenapa surat nenek ada padamu?” Tanya Elivia menatap penuh pertanyaan kepada Widya.
Widya hanya menundukkan wajahnya. Ia menghela nafas kemudian mulai menjelaskan semuanya kepada Elivia.
“Apa maksudnya?!!!” Elivia sudah tidak sabar dengan penjelasan Widya yang bertele-tele.
“Sebenarnya, aku keluar dari istana bukan karna aku keluar dari pekerjaan. Tapi karna ibu suri mengutusku secara khusus untuk menemanimu. Pertemuan kita saat itu, itu bukanlah sebuah kebetulan. Aku sudah mengikutimu sejak kau pergi dari istana. Itu semua atas perintah ibu suri. Beliau ingin memastikan kau baik-baik saja. Alasan kau tidak diterima bekerja walaupun kau sudah melamar di berbagai tempat, itu semua juga merupakan rencana dari ibu suri. Beliau ingin kau bekerja di hotel JE bersamaku.”
Elivia mendengarkan setiap kata dengan seksama. Namun ia masih belum mengerti, kenapa ibu suri melakukan semua itu tanpa sepengetahuannya?
“Sebenarnya rumah ini bukanlah rumahku. Melainkan rumahmu, El. Ibu suri membelinya atas namamu. Begitu juga dengan mobil yang ada di luar itu, itu adalah milikmu. Biaya pengobatan Arina, juga sudah beliau lunasi sampai Arina benar-benar sembuh nantinya. Jadi kau tidak perlu khawatir lagi.”
Ternganga, itulah reaksi Elivia setelah mendengar semua penjelasan dari Widya. Ia masih tidak percaya dengan semua ucapan itu.
“Dan ini, juga milikmu.” Kali ini Widya menyerahkan amplop besar berwarna coklat kepada Elivia.
“Apa itu?” Elivia bertanya namun ia masih belum berani menerima amplop itu.
“Bukalah.” Widya memaksa Elivia untuk menerima amplop itu.
Dengan hati-hati Elivia membuka dan mengeluarkan beberapa lembar kertas dari dalamnya. Itu adalah sebuah surat tanda kepemilikan atas 80% saham hotel JE atas nama Elivia.
Elivia semakin di buat terkejut dan terbelalak membacanya. Ia sama sekali tidak percaya dengan semua hal ini.
“Hotel JE itu, sebenarnya adalah milikmu, EL. Sekali lagi maaf karna aku telah membohongimu. Sarah itu bukanlah sepupuku, melainkan orang kepercayaan ibu suri untuk mengurus hotelnya. Begitu juga dengan Vanye. Maaf kami semua sudah membodohimu seperti ini.” Widya menundukkan wajahnya saat mengakui semua itu.
Tubuh Elivia melemas seketika. Bahkan kertas yang ada di tangannya sampai jatuh ke lantai begitu saja. Widya yang mengetahui hal itu segera mengambil surat-surat penting itu dan kembali memasukkannya kedalam amplop.
Elivia sama sekali tidak menyangka, bahwa orang-orang yang ada di sekitarnya merupakan sebuah skema sistematis yang telah di rencanakan oleh ibu suri untuknya. Ia tidak tau karna mereka bekerja dengan sangat baik untuk menyembunyikannya dari Elivia.
“Kami semua bekerja di bawah perintah ibu suri. Beliau berpesan agar memberitahumu jika beliau sudah pergi atau terjadi sesuatu padanya.”
“Bagaimana,,, bagaimana,,, ini semua,,,” Elivia tidak mampu untuk melanjutkan kalimatnya. Suaranya tercekat di tenggorokan. Seketika air matanya tumpah ruah membasahi pipinya. Ia tergugu dan meraung. Widya sampai tidak tega melihatnya. Lantas iapun memeluk tubuh Elivia dengan sangat erat.
Bahkan setelah pergipun, ibu suri tetap memikirkan tentangnya dan Arina. Itu semua membuat perasaan kehilangan yang sudah susah payah ia tahan menjadi meluap tak terkira.
“Nenek.... Huhuhuhuhu....” Elivia meluapkan semua rasa sedihnya di pelukan Widya. Ia meraung sejadi-jadinya. Entah kenapa dia jadi merasa menyesal karna sudah menerima begitu banyak hal dari ibu suri.
Lama Elivia larut dalam tangisnya. Baru setelah ia sedikit tenang, Widya kembali menyerahkan kotak yang berisi surat-surat penting seperti sertifikat tanah dan rumah yang saat ini mereka tinggali.
Pantas saja saat pertama kali masuk kedalam rumah itu, Elivia merasa aneh karna tidak banyak barang yang ada di dalam rumah itu. Bahkan pakaian Widya juga bisa di bilang hanya beberapa saja. Bahkan lemari mereka di penuhi oleh pakaian milik Elivia.
Dan itu menjelaskan semuanya. Itu karna rumah itu bukan benar-benar rumah Widya. Widya juga menjelaskan alasan ibu suri lebih memilih rumah itu daripada rumah-rumah mewah. Itu karna ibu suri tau kalau Elivia tidak merasa nyaman dengan kemewahan.
Air mata Elivia kembali menetes saat ia terkenang semua kenangannya bersama ibu suri. Tiba-tiba ia sangat merindukan ibu suri dan ingin memeluknya.
“Pekerjaanku sudah selesai disini, Elivia. Dan mulai besok, aku akan pergi dari rumah ini dan kembali ke istana. Tapi tenang saja, Sarah dan Vanye akan membantumu mengurus hotel. Mereka sudah tau apa yang harus di lakukan saat mendengar ibu suri telah wafat.”
Ucapan Widya itu justru membuat Elivia semakin meraung saja. Ia baru saja kehilangan ibu suri, dan sekarang Widya juga sudah harus pergi dari rumah itu. Membayangkannya saja, sudah membuat Elivia bertambah sedih.