DAN, Love Me Or Hate Me

DAN, Love Me Or Hate Me
Serba Salah.



Perasaan yang dimulai sebagai orang ketiga, terasa sangat menyakitkan. Begitu pula yang dirasakan oleh Elivia. Ia sepenuhnya menyadari tentang perasaannya. Maka dari itu ia berusaha untuk menghentikannya. Ia tidak ingin menjadi perusak bagi hubungan baik Zaydan dan kekasihnya.


Hari sudah malam saat Elivia pulang ke istana dengan di antar oleh Lucas.


Sesampainya di istana, ia melihat Ibu Suri yang tengah asyik menonton tv. Lantas iapun menghampirinya.


“Kenapa Nenek belum tidur?” Tanya Elivia.


“Oh, El. Kau sudah pulang? Mana Dan?” Tanya Ibu Suri.


“Dan masih banyak pekerjaan, Nek. Jadi aku pulang lebih dulu diantar oleh Lucas.” Jelas Elivia.


“Sudah makan?”


Elivia menggeleng. “Nanti saja, Nek.”


“Baiklah. Oh ya, aku lupa memberitahumu, kemarin aku pergi ke rumah sakit dan menjenguk Arina. Keadaannya sudah jauh lebih baik. Dan aku senang sekali melihatnya.”


“Benarkah itu, Nek? Kenapa Nenek tidak mengajakku? Aku bisa menemani Nenek kesana.”


“Tidak apa-apa. Kau kan sibuk di kantor. Aku tidak mau mengganggumu. Jadi bagaimana pekerjaanmu di kantor? Apa Dan memperlakukanmu dengan baik? Kalau dia macam-macam, beritahu aku. Aku akan menarik telinganya untukmu.”


Elivia mengangguk dan tersenyum. Kemudian menundukkan kepalanya dalam. “Nenek tidak perlu khawatir. Dan memperlakukanku dengan sangat.baik.” Ujar Elivia.


Elivia tidak sepenuhnya berbohong. Dan memang.memperlakukannya dengan sangat baik. Hanya saja perasaannya yang tersiksa saat melihat Dan dekat dengan kekasihnya. Sungguh perasaan jahat yang tidak seharusnya ada didalam.hatinya.


Untuk Arina. Semua ini hanya untuk Arina.


Berkali-kali Elivia meyakinkan dirinya sendiri tentang tujuan awalnya menikahi Dan. Ia tidak pernah menyangka kalau ia akan terjebak dengan perasaannya sendiri hanya karna pria itu memperlakukannya dengan baik. Apa hatinya selemah itu? Hanya karna mendapatkan sedikit perhatian, ia langsung jatuh hati begitu saja?


“Nek, aku mau ke kamar dulu.”  Pamit Elivia.


Ibu Suri hanya mengangguk. Ia seperti tau kalau sesuatu telah terjadi kepada gadis itu. Ekor matanya mengikuti Elivia yang menghilang di balik dinding.


Selesai mandi, Elivia merebahkan tubuhnya di atas sofa. Fikirannya kembali melayang kepada kedua orang tuanya. Ia merogoh ke bawah bantal untuk mengambil foto mereka. Tapi ia tidak menemukannya.


Elivia bangkit dan menarik bantalnya. Benar, foto ke dua orang tuanya tidak ada disana. Seketika rasa panik menyerangnya. Ia mencarinya ke segala arah. Tapi tetap tidak menemukannya.


Sampai pandangannya terhenti pada sebuah bingkai indah yang ada di atas nakas. Tepat di sebelah sisi ranjang yang biasa ia tiduri.


Ia berjalan mendekati nakas dan meraih bingkai itu. Bingkai yang membungkus foto kedua orang tuanya dengan sangat indah.


Perasaannya sedikit trenyuh mengetahui kalau Zaydan ternyata peduli dengan hal penting miliknya. Elivia bahkan tidak menyadari, kapan Zaydan meletakkan bingkai itu disana.


Elivia kembali duduk di sofa dan berkirim pesan kepada Arina. Hal ayng selalu dia lakukan saat ia sedang tidak mengerjakan sesuatu.


Tok, tok, tok. Terdengar pintu kamar di ketuk dari luar.


“Masuk.” Ujar Elivia.


Widya muncul dari baliknya dengan membawakan nampan berisi minuman teh hangat. Ia langsung meletakkan gelas itu di meja di depan Elivia.


“Terimakasih, Wid.”


Elivia hanya mengangguk saja. Ia masih serius berkirim pesan dengan Arina.


Waktu sudah menunjukkan hampir jam 10 malam. Tapi belum ada tanda-tanda Zaydan muncul. Entah kenapa tiba-tiba dia khawatir kalau pria itu tidak pulang malam ini.


Tapi itu lebih baik. Gumam Elivia. Karna ia tidak perlu bertemu dengan pria itu malam ini. Dan dia bisa menikmati ranjang empuk itu sepuasnya.


Elivia merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan berniat untuk tidur. Baru saja ia hendak menarik selimutnya, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dengan kasar.


Zaydan muncul dengan wajah lebam penuh luka. Bahkan ada darah yang mengalir di sudut bibirnya. Membuat Elivia terkejut bukan main. Ia langsung bangun dan menghampiri Zaydan.


“Kenapa wajahmu? Kau berkelahi?” Tanya Elivia dengan nada panik.


Zaydan hanya menepiskan wajahnya agar Elivia tidak menyentuhnya. Ia kemudian duduk dengan membanting tubuhnya di atas sofa. Melemparkan jasnya ke sofa yang ada di sampingnya.


Elivia yang merasa tidak di anggap, tidak peduli dengan sikap itu. Ia berjalan menghampiri Zaydan dan duduk di sebelahnya. Ia memperhatikan wajah lebam milik Zaydan dengan seksama. Kemudian ia keluar dari kamar dan meminta kotak obat kepada Widya.


Setelah kembali, ternyata Zaydan masih di posisinya semula. Elivia kembali mendekat dan duduk di samping Zaydan. Ia masih enggan bertanya karna sepertinya pria itu malas untuk menjawabnya.


Perlahan Elivia mulai membersihkan luka Zaydan dengan cairan alkohol. Pria itu nampak meringis kesakitan. Tapi ia tidak mengalihkan wajahnya seperti tadi.


“Apa yang terjadi padamu? Kenapa sampai kau terluka seperti ini?” Tanya Elivia dengan mengoleskan salep ke pipi Zaydan.


Zaydan tidak menjawabnya. Ia hanya menangkis dan menggenggam pergelangan tangan Elivia. Kemudian menoleh dan menatap gadis itu.


“Kenapa? Kau khawatir? Kau bilang akan menghentikan perasaanmu? Tapi kenapa kau masih khawatir? Seharusnya kau bersikap tidak


peduli.”


“Dan?”


“Kau seharusnya tau bagaimana perasaanku padamu, El. Kenapa kau masih mempedulikan statusku dengan Sadila? Kalau kau mau, aku bisa memutuskan hubunganku dengannya sekarang juga.”


“Tidak. Aku tidak mau kau melakukan itu. Kau bukan pria jahat yang dengan mudah mengalihkan perasaanmu kan? Bayangkan betapa sakitnya Sadila jika kau melakukan itu. Karna aku juga akan merasakan hal yang sama jika aku di posisinya. Sejak awal kehadiranku sudah salah.”


“Kalau begitu berhenti mengkhawatirkanku. Tidak usah peduli padaku.” Hardik Zaydan. Ia menghempaskan tangan Elivia dan mengusap semua obat yang sudah Elivia oleskan di wajahnya dengan tangan.


Pria itu bangkit dengan perasaan marah yang memenuhi rongga dadanya. Emosinya sedang berjalan menuju ke puncaknya.


Elivia sudah meringsut di sofa. Ia tidak berani bergerak sedikitpun. Padahal ia sudah berdiri dan hendak menyusul Zaydan. Hatinya terasa


sakit luar biasa. Bahkan setelah dia mengetahui perasaan Zaydan yang sebenarnya pun, malah membuat rasa sakit itu bertambah. Perasaan Zaydan seperti sebuah beban baginya. Beban yang membuatnya merasa serba salah.


Zaydan tidak jadi melanjutkan langkahnya. Ia justru berbalik dan merengkuh tubuh Elivia kedalam pelukannya. Erat sekali.


“Aku menyayangimu, El. Jadi kumohon berhenti memikirkan hal lain. Cukup fikirkan aku saja. Aku berjanji akan mencari jalan keluar dari hubungan rumit ini. Aku tidak ingin menyakiti Sadila. Tapi lebih dari itu, aku tidak bisa melihatmu terluka.” Zaydan mengusap kepala Elivia dengan lembut.


Elivia merenggangkan tubuhnya dari dekapan pria itu. Menatap dalam ke netra Zaydan. Tatapannya memancarkan sebuah ketulusan. Perlahan Zaydan mengalihkan tangannya ke pipi Elivia. Dan sentuhan lembut bibir Zaydan berhasil terpaut di bibir ranum Elivia. Gadis itu hanya bisa memejamkan mata demi


menikmati debaran hatinya yang semakin menajdi.