
Elivia tiba-tiba terbangun, seperti ada yang mengejutkannya. Dadanya berdegup kencang sekali. Nafasnya juga jadi terengah-engah. Ia melihat ke arah Zaydan yang ternyata masih serius menatapi dokumen-dokumen di mejanya. Ia merasa sangat lega bahwa ternyata Zaydan tidak memperhatikan kalau dia sempat tertidur.
Tok,, tok,, tok,,
Terdengar pintu ruangan Zaydan di ketuk dari luar.
“Masuk.” Perintah Zaydan tanpa memalingkan wajahnya dari dokumen.
Sadila masuk dengan menjinjing beberapa dokumen. Ia tersenyum lebar sambil mendekat kepada Zaydan.
Cup.
Sadila langsung memberikan kekasihnya itu sebuah kecupan di pipi. Elivia yang menyaksikan hal itu sampai terbelalak di buatnya.
“Iiih. Apa-apaan itu? Menjijikkan.” Gumam Elivia. Ia menyembunyikan wajahnya di balik hiasan bunga yang ada di mejanya.
“Dila. Tolong jangan begini.” Ujar Zaydan. Membuat Sadila sedikit terkejut.
“Memangnya kenapa?”
Zaydan mengarahkan Sadila kepada Elivia dengan matanya. Dan tentu saja gadis itu langsung terbelalak walau hanya sesaat. Ia berhasil menjaga keanggunannya dengan tidak marah kepada gadis yang sedang menyembunyikan wajahnya di balik tanaman.
“Kenapa dia ada disini?” Selidik Sadila.
Zaydan memang tidak memberitahu Sadila kalau Elivia sudah mulai bekerja di kantornya sebagai asistennya.
“Nenek yang menyuruhku.” Zaydan terpaksa berbohong dengan mengatas namakan neneknya.
Diluar dugaan, Sadila justru duduk di pangkuan Zaydan begitu saja.
Kali ini Elivia benar-benar terbelalak. Tubuhnya merinding.karna merasa tidak seharusnya melihat adegan itu.
“Sial. Bisa-bisanya mereka melakukan hal itu padahal ada aku disini?” Geram Elivia.
“Sudah ku bilang jangan seperti ini.” Kali ini Zaydan berbicara dengan nada tegas kepada Sadila. Dia memaksa kekasihnya itu untuk
turun dari pangkuannya.
“Memangnya kenapa? Biasanya juga kau tidak peduli dengan orang lain jika kita melakukan sesuatu.”
“Tapi kali ini berbeda, Dila. Ada dia.” Zaydan kembali menunjuk Elivia dengan dagunya. “Dia bisa mengadukanku kepada Nenek. Dan kamu
tau itu tidak baik untuk kita.”
Tidak punya pilihan lain, Sadila terpaksa menuruti perkataan Zaydan. Ia kembali berjalan dan berdiri di depan Zaydan. Menyodorkan dokumen yang tadi sempat dia letakkan begitu saja di sisi meja kerja Zaydan.
“Itu adalah agensi periklanan terbaik di negeri ini. Kita akan menggunakan itu untuk mempromosikan produk terbaru yang baru saja di luncurkan.” Jelas Sadila.
“Siapa yang akan jadi modelnya?”
“Kita, sayang.”
“Apa? Aku?”
Sadila mengangguk. “Tidak ada yang bisa melebihi pesonamu. Jadi kenapa tidak kita maksimalkan sumber daya yang ada saja? Untuk menekan biaya pengeluaran. Jadi kita bisa mengalihkan biaya pembayaran model untuk hal lain.” Ujar Sadila mengutarakan idenya.
Sadila memang gadis yang cerdas, Zaydan mengakui itu. Kalau masalah pekerjaan, gadis itu tidak pernah mengecewakan Zaydan.
“Baiklah, lakukan seperti apa yang kau katakan. Jadi kapan.syutingnya?”
“Dua hari lagi. Jadi tolong suruh sekretarismu untuk mengosongkan jadwalmu hari itu.”
“Baiklah.” Zaydan sepenuhnya menyetujui ide Sadila.
Dari balik dinding kaca, Elivia berusaha berjalan
mengendap-endap untuk keluar dari ruangan. Tapi usahanya itu gagal saat Zaydan memegokinya. Padahal dia sudah hampir membuka pintu.
“Kau mau kemana?”
Merasa sudah ketahuan, Elivia meluruskan tubuhnya untuk berdiri sempurna. Ia membalikkan badan dan berusha tersenyum walau dengan terpaksa.
“Kalau boleh aku minta tolong? Ambilkan pesananku di meja resepsionis di lantai satu. Tidak perlu mengambilkanku minum.” Ujar Sadila dengan senyum yang terlihat sangat ramah.
“Baik, Nona.” Jawab Elivia. Itu adalah kesempatannya untuk.segera pergi dari sana. Ia langsung membuka pintu dan menghilang di baliknya.
Elivia berkali-kali mendengus kesal saat turun ke lantai satu. Tapi ia juga senang karna tidak harus melihat dua sejoli yang sedang bermesraan di depan matanya. Tapi entah kenapa dia seperti merasakan sesuatu yang aneh dengan hatinya.
“Permisi, saya di suruh mengambilkan barang titipan Nona Sadila.” Ujar Elivia kepada resepsionis wanita itu.
“Barang titipan direktur pemasaran?”
Elivia mengangguk. “Iya.”
“Maaf, tapi tidak ada barang seperti itu di sini.”
Elivia menjadi bingung. “Coba tolong cari lagi.” Pinta.Elivia. Tidak mungkin jika Sadila membohonginya. Atau ia sedang di kerjai? Rasanya itu lebih tidak mungkin.
Resepsionis itu mencoba bertanya kepada rekannya, tapi.rekannya itu juga bilang tidak ada barang titipan Sadila pada mereka.
Elivia semakin bingung. Tapi ia memutuskan untuk tetap.berbalik dan pergi dari sana.
“El!” Panggil Kafa yang tengah berlari menghampiri Elivia.
“Kafa? Bagaimana bisa kau ada disini?”
“Tentu saja karna aku ingin menemuimu. Apa kau sudah makan malam?” Tanya Kafa.
Elivia melihat jam tangannya, ternyata benar, hari sudah.beranjak malam. “Ehm, belum sih.”
“Kalau begitu, ayo makan malam denganku.” Ajak Kafa lagi.
Elivia nampak berfikir. “Bisakah kita makan malam lain kali.saja? Soalnya jam kerjaku belum selesai. Aku tidak ingin membuat kesalahan di hari pertamaku bekerja.” Elivia memberikan alasannya.
Padahal bukan karna itu. Fikiranya terus tertuju kepada Zaydan dan Sadila. Apalagi saat dia berfikir kalau Sadila pasti sudah mengerjainya.
“Begitukah? Baiklah. Maaf aku sudah mengganggu waktumu, El.” Ujar Kafa. Pria itu nampak sedang memaksakan senyuman di balik kekecewaannya.
“Aku benar-benar minta maaf.”
“Tidak apa-apa. Salahku karna tidak menghubungimu terlebih dulu. Kalau begitu aku pergi dulu, nanti aku akan menghubungimu.” Pamit Kafa kemudian.
“Baiklah.” Elivia mengangguk sambil mengantarkan Kafa sampaindi depan lobi.
Sebenarnya dia juga merasa bersalah dan tidak enak hati karna harus menolak niat baik Kafa. Tapi dia benar-benar tidak berselera untuk makan.
Elivia kembali ke ruangan Zaydan dengan memendam perasaan sebal kepada Sadila. Bisa-bisanya wanita itu menipunya begini. Kalau memang dia tidak ingin di ganggu, mereka bisa menyuruh Elivia untuk keluar tanpa harus membodohinya. Perlahan perasaan sebalnya menular kepada Zaydan.
“Dari mana saja kau?!!” Teriak Zaydan saat Elivia baru saja masuk. Dia terkejut bukan main.
“Astaga! Kau mengejutkanku. Kenapa kau berteriak begitu padaku?”
“Kenapa kau tidak mengangkat ponselmu?”
Elivia meraba saku celananya, tapi tidak menemukan ponselnya disana. “Sepertinya aku meninggalkannya di mejaku.” Jawab Elivia.
“Dasar ceroboh. Apa kau tau betapa khawatirnya aku?”
“Kenapa kau khawatir?
“Karna aku,, aku takut kau tersesat.” Jawab Zaydan pada akhirnya.
“Hah. Memangnya seberapa luas gedung ini?Aku tidak sebodoh itu sampai aku tersesat.”
“Kau ini. Sukanya membantahku saja. Cepat bereskan barang-barangmu. Kita pulang.”
Setelah berbicara seperti itu, Zaydan langsung ngeloyor meninggalkan Elivia yang terus menerus mendengus kesal.
Elivia berjalan ke mejanya untuk mengambil tas dan ponselnya. Entah kenapa dia merasa lelah padahal kerjaan dia hari ini cuma menunggu saja. Tapi itu benar-benar membuatnya lelah.
Gadis itu berjalan di belakang Zaydan saat mereka keluar dari kantor. Ia terus melirik sebal kepada punggung kekar yang bergerak di hadapannya. Sempat ia mengepalkan tangan dan bertindak seperti hendak memukul Zaydan, tapi tidak jadi karna Lucas keburu muncul entah dari mana.