
Zaydan masih sibuk berkutat dengan dokumen-dokemen di meja kerjanya. Saat Lucas mengetuk pintu dan masuk untuk menemuinya.
“apa yang kau temukan?” Tanyanya dingin.
“yang dirawat dirumah sakit merupakan adik dari Nona Elivia yang mulia. Yang Mulia Ibu Suri yang membawanya dan menanggung semua biayanya. Juga menjamin kesembuhannya” jelas Lucas.
“Hah! Sudah kuduga. Ternyata dia serendah itu. Berani sekali dia merayu Nenek untuk kesembuhan adiknya? Dia sama saja dengan perempuan lain, hanya mengincar harta kami saja. Dia bahkan berpura-pura tidak menyukaiku!” Zaydan merepet. Lucas hanya diam mendengarkan.
Zaydan jadi tidak perlu merasa bersalah karna sudah mencium Elivia, toh wanita itu tidak punya harga diri. Dia menjual tubuhnya demi uang. Percuma saja dia merasa bersalah.
“Baiklah, kau boleh keluar.” Kata Zaydan kemudian.
“Tapi, kenyataannya bukan sperti itu Yang Mulia.” Kata Lucas yang masih belum meninggalkan ruangan.
“Apa maksudmu?”
“Yang Mulia Ibu Suri lah yang memaksa Nona Elivia untuk menikah dengan Anda. Beliau membawa adik Nona Elivia tanpa sepengetahuannya.”
“Apa?”
“Karna itu nona Elivia tidak punya pilihan selain menikah dengan Anda. Dia tipe orang yang tidak suka berhutang budi, Yang Mulia Ibu Suri
tau kelemahannya itu dan memanfaatkan keadaan adiknya.”
Perasan benci Zaydan berubah menjadi rasa iba. Dia kasihan dengan gadis itu. Dengan polosnya dia masuk kedalam jebakan Ibu Suri hanya demi hutang budi.
Zaydan memainkan polpennya, dia memutar-mutar benda itu ditangannya. Rasa bersalah itu kembali menyerangnya.
“Dan ini, nomor telfon yang anda minta.” Kata Lucas sambil menyerahkan selembar kertas berisikan nomor telfon Elivia.
“Kalau tidak ada yang anda butuhkan, saya permisi dulu Yang Mulia.” Pamit Lucas.
Setelah Lucas keluar, seorang sekretaris wanita masuk dan memberitahu bahwa ada Sadila yang meminta bertemu dengan Zaydan. Zaydan pun menyuruh sekretaris itu untuk mempersilahkan Sadila masuk ke ruangannya.
“Sayangg!!!” Pekik Sadila. Dia langsung menghambur kepelukan Zaydan. Memeluk kekasihnya itu dengan erat. Zaydan hanya diam saja, dia tidak membalas pelukan Sadila.
“Aku merindukanmu,,,” katanya lagi.
“Ada apa kemari?”
“Kok begitu? Apa kamu tidak merindukanku?”
“Tentu saja aku rindu sayang.” Kata Zaydan. Dia meletakkan polpen yang ia pegang kemudian beralih mengecup bibir kekasihnya itu.
“Bagaimana rasanya menjadi CEO sayang?” Tanya Sadila, dia menggelayut di lengan Zaydan. Seperti yang selalu dia lakukan.
“Hebat, rasanya sungguh luar biasa.”
“Jadi kapan kamu akan menceraikan gadis itu dan menikahiku?”
“Sabar ya sayang, aku baru sehari disini, nanti kalau posisiku sudah lebih kuat, aku akan menceraikannya. Kamu kan tau kalau Nenek ada di pihak gadis itu. Aku tidak ingin membuat kesalahan.” Jelas Zaydan.
“Baiklah,,” kata Sadila cemberut. Dia sudah tidak sabar ingin segera menjadi istri Zaydan. Sudah cukup lama dia menanti kesempatan itu, tapi karna Ibu Suri, rencananya jadi gagal. Selama ini dia sudah mencoba berbagai cara agar Ibu Suri merestui hubungan mereka, tapi hasilnya nihil. Ibu Suri malah memilih Elivia, yang latar belakangnya tidak jelas. Dan juga berasal dari kalangan biasa.
Aktifitas itu terhenti saat Sadila menerima telfon dari seseorang, setelah berbicara sebentar, Sadila pamit kepada Zaydan.
“Aku ada urusan sayang, aku pergi dulu ya,, mmuuaahh.” Sadila mengecup bibir Zaydan. Kemudian keluar dari ruangan itu.
**********
Elivia sedang melayani pelanggan, hari ini restoran dipadati pengunjung. Kaki Elivia sampai lecet karna sepatunya. Dia berdiri sampai jam makan malam tiba. Tiba-tiba terjadi keributan di barisan antrian. Salah satu pelanggan menyerobot antrian pelanggan lain hingga kedua pelanggan wanita itu beradu mulut. Suasananya riuh sekali.
“Sudah, Kak, tolong hentikan.” Kata Elivia. Hanya dia yang berani melerai kedua pelanggan itu.
“Kamu jangan ikut campur! Dia yang menyerobot duluan! Semua bisa jadi saksinya!”Teriak Anita yang antrinnya diserobot.
“Enak saja, aku lebih dulu disini, tadi aku hanya pergi kekamar mandi sebentar!”
Aarrggg!!!! Mereka saling jambak, saling tampar, dan saling pukul. Elivia berusaha keras untuk melerainya, tapi tak berhasil. Pada akhirnya Luna berlari ke lantai atas dan memanggil Bu Fira.
“Sudah Kak,, tolong hentikan!”
Kedua pelanggan itu tidak menggubris Elivia, mereka terus saja menarik rambut satu sama lain.
“Au.!!”
Bruk.!!!
Karna mencoba melerai, Elivia malah terdorong hingga terjatuh. Lengannya mengenai kursi hingga sikunya terluka. Dia mengaduh sebentar, kemudian kembali berdiri. Untung Bu Fira segera datang dan berhasil melerai perkelahian itu. Tapi tetap, tidak ada yang mempedulikan Elivia.
“Aaaaaa!!!” Tiba-tiba para pelanggan histeris.
“Yang Mulia Pangeran Dan!” Pekik mereka,,
Dengan gagahnya Zaydan melangkah memasuki restoran itu. Seketika semua orang langsung menyingkir dan memberi jalan kepadanya. Elivia berjalan tergopoh-gopoh menuju tempatnya berdiri untuk menerima pesanan. Dia sama sekali tidak perduli dengan pria yang kini sudah berdiri dihadapannya itu. Dia tidak peduli kalau itu adalah Zaydan.
“Mau pesan apa Yang Mulia?” Tanyanya dengan nada yang sangat sopan. Dengan ekspresi yang biasa saja.
Mau apa dia kesini? Tidak pernah-pernahnya. Gumam Elivia dalam hati.
Zaydan menyebutkan pesanannya satu persatu. Elivia pun segera mencatatnya di komputer yang ada di atas meja. Setelah selesai, Elivia memberitahu Luna dan segera disiapkan oleh Luna.
Elivia meringis menahan sakit disikunya. Zaydan sempat melirik siku Elivia yang berdarah. Tapi selanjutnya pria itu sibuk berfoto dengan para pelanggan disana. Bahkan dua pelanggan wanita yang bertengkar tadi sudah terlihat akrab saat berfoto bersama Zaydan.
“Anda tampan sekali Yang Mulia Dan.” Celetuk salah seorang dari mereka.
“Iya, anda lebih tampan jika dilihat secara langsung.”
Cih! Tampan apanya? Mereka tidak akan berkata seperti itu saat sehari saja bersama si kodok itu. Mereka tidak tau saja bagaimana sifat aslinya. Gumam Elivia dalam hati. Dia menatap Zaydan dengan sinis.
“El! Sikumu berdarah.” Kata Luna.
“Tidak apa-apa, hanya tergores sedikit saja.” Kata Elivia. Dia melihat sebentar kearah sikunya lalu melanjutkan pekerjaannya.
Hampir tengah malam saat Elivia dan Luna menyelesaikan pekerjaan mereka. Mereka merasa sangat lelah.
“Mau kuantar?” Luna menawarkan tumpangan di motornya.
“Tidak, kamu juga pasti capek. Lagian rumah kita berlawanan arah.” Jawab Elivia, dia tau diri bahwa temannya itu juga pasti merasa lelah.
“Baiklah, sampai jumpa besok.” Lunapun melajukan motornya. Sementara Elivia berjalan menuju ke halte bis terdekat. Dia melihat jam tangannya, ternyata sudah larut malam, dan bis terakhir sudah lewat.
Jadi Elivia memutuskan untuk menunggu taksi saja. Sambil menunggu Elivia memijat kakinya yang terasa pegal. Ada luka juga disana. Dan itu lumayan terasa perih.
Tin,, tin,,
Sebuah mobil mewah berhenti didepannya. Lucas keluar dari dalam mobil dan menghampiri Elivia.
“Nona, silahkan masuk.” Kata Lucas membukakan pintu mobilnya. Elivia melihat ada Zaydan didalamnya. Apa dia menunggu selama ini? Menunggu Elivia pulang?
“Cepat masuk!” Perintahnya. Eliviapun masuk kedalam mobil itu dan duduk disamping Zaydan. Lumayan, hemat ongkos taksi. Walaupun ia masih membenci sikap pria itu.
“Apa anda menunggu saya Yang Mulia?” Tanya Elivia to the point.
“Apa kamu sudah gila?! Kenapa aku harus menunggumu?”
“Kalau tidak ya sudah, kenapa harus marah?”
Lucas yang mendengar itu tersenyum dengan menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia teringat saat tadi Zaydan memaksanya untuk menunggu Elivia. Dandia tidak punya pilihan lain selain mengikuti perintah tuan pangerannya itu.