DAN, Love Me Or Hate Me

DAN, Love Me Or Hate Me
Hutang Nyawa



Sementara itu di istana....


Sophia sedang duduk bersimpuh dilantai di hadapan Ibu Suri. Dia menggenggam erat ujung bajunya yang terjuntai. Mengatupkan giginya kuat-kuat. Martanya tertunduk ketakutan. Dihadapannya, Ibu Suri sedang duduk di sofa dikamarnya. Menatap marah kepada Sophia.


“Berani sekali kamu menampar cucu menantuku?!!” Teriak Ibu Suri dengan marah.


“Ampuni saya Yang Mulia.” Mohon Sophia dengan suara bergetar.


“Sudah berkali-kali kamu kuperingatkan untuk tidak menyentuhnya. Tapi kamu malah menamparnya? Dengan tangan kotormu itu?!” Ibu Suri benar-benar berang.


Awalnya Ibu Suri tidak mengetahui tentang kejadian itu sebelum seorang pelayan kepercayannya melaporkan hal tersebut kepadanya. Dia langsung naik darah dan memanggil Sophia.


“Saat ini, kamu hanya punya dua pilihan. Pergi keluar negeri secara diam-diam, atau melihat Dan kehilangan posisinya diperusahaan.” Nada bicara Ibu Suri penuh dengan ancaman.


Sophia membelalakkan matanya terkejut dengan ancaman Ibu Suri.


“Yang Mulia,, saya mohon,, jangan ganggu Dan. Saya,, saya,, yang akan pergi. Tapi saya mohon biarkan Dan berada diposisinya.” Sophia memohon dengan putus asa. Dia tidak bisa kehilangan perusahaan hanya karna masalah ini. Lebih baik dia yang menyingkir dari pada Zaydan yang harus kehilangan posisinya di perusahaan. Nanti setelah kemarahan Ibu Suri sudah mereda, dia bisa kembali lagi.


Ibu Suri tersenyum penuh kemenangan. Dia tau kelemahan Sophia. Kali ini dia berhasil menjauhkan Sophia dari Elivia. Tapi dia tidak tau apa yang akan dilakukan Sophia selanjutnya kepada Elivia, mengigat wanita itu bukan wanita yang pantang menyerah.


Sophia keluar dari kamar Ibu Suri dengan wajah yang memerah. Dia tidak menyangka Ibu Suri akan tau kelemahannya dan menyingkirkannya seperti itu.


“Ma,, kenapa keluar dari kamar Nenek?” Tanya Zaydan yang baru saja kembali dari kantor.


“Oh,, eh,, tidak apa-apa. Kamu sudah pulang Dan? Cepat istirahat, kamu pasti lelah.” Sophia langsung pergi dengan tergesa-gesa masuk kedalam kamarnya.


Sebenarnya Zaydan sudah bisa menebak apa yang terjadi kepada ibunya. Nenek pasti sudah tau tentang kejaian penamparan itu. Zaydan menghembuskan nafasnya dengan kuat dan kemudian berjalan masuk kedalam kamarnya.


Setelah sampai didalam kamarnya, Zaydan menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Kemudian mengendurkan dasinya.


“Apa masih ada yang anda butuhnyan Yang Mulia?” Tanya Lucas.


“Tidak. Kamu sudah boleh pergi.” Perintah Zaydan. Lucaspun segera pergi setelah menutup pintu kamar itu.


Zaydan memandangi langit-langit kamarnya.  Seharian ini fikirannya sangat terganggu dengan perkataan Elivia. Ada rasa nyeri di hatinya. Kenapa? Kenapa dia harus kecewa mendengar Elivia berkata seperti itu? Toh Elivia bukanlah istri yang diharapkannya. Kenapa dia harus terganggu dengan itu? Tapi tetap saja, ada perasaan marah yang muncul dihatinya.


Setelah mandi dan berganti pakaian tidur. Zaydan merebahkan diri ke ranjang, menarik selimutnya sampai ke dada. Dia berusaha memejamkan matanya, tapi tidak bisa. Seperti ada yang kurang. Berkali-kali dia melongok sofa yang biasa ditiduri oleh Elivia. Hari sudah malam, tapi gadis itu belum juga pulang.


Zaydan meraih ponselnya dan mencari nomor kontak Elivia, dia bermaksud hendak menghubunginya.


‘Dimana kamu?’ ketik Zaydan dilayar ponselnya, tapi kemudian dia menghapusnya lagi.


‘Kamu baik-baik saja?’ dihapus lagi,,


‘Sudah malam, kenapa belum pulang?’ dan pesan itupun dihapusnya lagi sebelum dia melemparkan ponsel itu kesampingnya. Tiba-tiba dia merasakan udara yang semakin panas.


Zaydanpun bangun dari tempat tidur. Dia menghampiri sofa tempat tidur Elivia. Dia memperhatikan selimut dan bantal yang terlipat rapi diatasnya. Dia melihat sesuatu yang ada dibawah bantal itu. Zaydan kemudian menarik ujung kertas yang tersembul itu. Sebuah foto.


Zaydan memandangi foto itu dengan seksama. Dia seperti mengenal kedua sosok pria dan wanita didalam foto itu. Perlahan Zaydan membalik foto itu dan mendapati sebuah tulisan dibelakangnya.


Dengan tergesa-gesa, Zaydan segera lari keluar kamar dan menuju kekamar Ibu Suri.


Tok,, tok,, tok,,!!


Zaydan mengetuk pintu kamar Ibu Suri dengan tidak sabar. Tidak lama kemudian seorang pelayan membukakan pintu kamar dan Zaydan segera menerobos masuk.


“Yang Mulia Dan.!” Pekik pelayan itu. Ibu Suri yang sedang duduk membaca pun terkejut dengan kedatangan Zaydan.


“Tidak apa-apa. Tinggalkan kami sebentar.” Perintah Ibu Suri kepada pelayannya. Melihat wajah Zaydan, dia tau bahwa ada yang ingin dibicarakan cucunya itu.


“Ada apa Dan?”


Zaydan mendekati Ibu Suri dan menunjukkan foto yang dibawanya. Ibu Suri menerimanya dan melihat foto itu.


“Kenapa dengan ini?”


“Nenek sudah tau kan? Selama ini Nenek tau semuanya kan? Nenek tau siapa Elivia sebenarnya. Karna itu Nenek membawanya kepadaku?” Ucap Zaydan. Saat ini perasaannya sudah seperti mau meledak.


“Jadi kamu masih ingat kedua orang ini?” Kata Ibu Suri dengan masih memandangi foto itu.


“Seharipun aku tidak pernah melupakan mereka, Nek.”


“Tentu saja. Mereka memberikan nyawanya padamu. Kalau kamu sampai melupakan mereka, berarti kamu bukan cucuku.”


“Sekarang jelaskan semuanya Nek.”


“Apa yang perlu Nenek jelaskan? Bukankah kamu sudah bisa menyimpulkan semuanya?”


Zaydan terdiam. Perasaannya sekarang semakin berkecamuk. Kalau dia benar tentang siapa Elivia sebenarnya, dia tidak punya hak untuk menyakiti gadis itu. Tapi selama ini, itulah yang terus dia berikan kepada Elivia. Rasa sakit. Dia tidak pernah memperlakukan Elivia dengan baik.


Zaydan menyeret kakinya masuk kedalam kamar. Dia menggenggam foto kedua orang tua Elivia dengan tangan gemetar. Perlahan dia meletakkan kembali foto itu ketempatnya, dan duduk disofa. Mengusap-usap wajahnya dengan kasar. Tiba-tiba, timbul rasa penyesalan yang luar biasa dihatinya.


Berkat kedua orang tua Elivia lah, Zaydan bisa hidup sampai saat ini. Ketika kecil, Zaydan sedang mengikuti neneknya pergi kepinggiran kota untuk melakukan bakti sosial. Zaydan kecil sedang sibuk dengan fikirannya sendiri. Dia berlari kesana kemari, pengawalnya bahkan sampai kewalahan dibuatnya.


Zaydan kecil terus berjalan mengejar hewan-hewan kecil yang ditemuinya. Hingga tanpa sadar dia telah berada dipinggir sungai dan seorang diri. Dia tersesat. Saat itu sungai sedang banjir karna baru saja turun hujan. Karna tanah pijakannya yang terlalu licin, Zaydan kecil tergelincir dan tercebur kedalam sungai. Dia langsung hanyut terbawa arus.


Saat itu kedua orang tua Elivia baru saja pulang dari bekerja dipabrik yang tak jauh dari sana, saat mereka melihat ada seoarang anak laki-laki yang terseret arus sungai, tanpa berfikir panjang, ayah Elivia langsung menghentikan motornya diatas jembatan kecil berniat menghadang tubuh Zaydan yang hanyut terbawa arus sungai yang deras.


Ayah Elivia memposisikan dirinya diatas jembatan, sementara sang istri terus memegangi kakinya agar tidak terjatuh. Ayah Elivia berhasil meraih tangan Zaydan kecil yang sudah tidak berdaya. Dan membaringkanya di ujung jembatan.


Salah seorang pengawal Zaydan berhasil menemukannya, dan segera berlari menghampiri Zaydan yang sudah tergeletak diujung jembatan. Ayah Elivia segera kembali ketengah jembatan untuk mengambil motornya, tapi naas, saat itu, pondasi jembatan sudah banyak tergerus air, sehigga jembatan itupun roboh terbawa arus.


Dan ibu Elivia yang posisinya berada di ujung  jembatan pun ikut terseret sisa jembatan yang hanyut. Bahkan Zaydanpun hampir terjatuh kalau saja pengawalnya tidak cepat menariknya menjauh dari jembatan itu.


Keesokan harinya setelah dilakukan pencarian semalaman, jasad kedua orang tua Elivia diemukan dimuara sungai yang cukup jauh dari tempat kejadian.