DAN, Love Me Or Hate Me

DAN, Love Me Or Hate Me
Rindu Itu Sudah Terbalas.



Elivia sedang mondar-mandir di depan kaca kamar suite hotel JE. Ia menggigiti kuku jempol tangannya pertanda sedang ada yang dia fikirkan. Jam sudah menunjukkan lewat dini hari, bahkan beberapa jam lagi sudah pagi.


“Kenapa?” Tanya Zaydan yang bingung melihat Elivia.


“Aku harus pulang. Tapi bagaimana caranya agar orang-orang tidak melihatku? Aku malu jika orang lain melihatku dengan keadaan begini.” Adu Elivia.


Zaydan mengerti. Yang di maksud oleh Elivia adalah cara jalannya yang seperti pinguin itu. Dan jika sampai orang melihatnya, mereka sudah pasti akan berfikir macam-macam tentang Elivia. Atau bahkan menertawakannya. Dan Elivia sangat tidak ingin hal itu terjadi.


“Mau kubantu?” Tawar Zaydan. Tapi entah kenapa Elivia merasa tidak yakin setelah melihat ekspresi Zaydan yang sedang menahan tawa.


“Tidak, tidak perlu. Aku akan keluar dari pintu belakang.” Ujar Elivia penuh keyakinan setelah dia teringat ada jalan lain selain lewat lobi.


“Apa tidak apa-apa? Aku tidak tega membiarkanmu pergi sendiri.”


Elivia mengangguk.


”Baiklah, aku tunggu di basement.” Ujar Zaydan kemudian. Ia mbenar-benar tidak tega meninggalkan Elivia sendirian.


Setelah melihat Zaydan pergi lebih dahulu, Elivia memantapkan langkahnya. Ia berusaha sekuat tenaga agar bisa berjalan dengan biasa sambil menahan rasa perih yang luar biasa. Ia melongokkan kepalanya dari pintu, untuk mengintip apakah ada orang lain disana. Setelah memastikan dirinya aman, ia segera keluar dari kamar itu dengan hati-hati.


Kemudian ia masuk ke dalam lift dan langsung turun ke basement. Sesampainya disana, ia segera masuk ke dalam mobil Zaydan yang telah menunggunya di pintu keluar.


“Kau baik-baik saja?” Tanya Zaydan khawatir.


“Sudah, ayo cepat pergi.” Perintah Elivia.


Zaydan segera melajukan mobilnya menuju ke rumah Elivia. Itupun setelah mereka berdebat panjang karna Zaydan hendak membawa Elivia pulang langsung ke istana. Dan tentu saja Elivia menolak dengan keras keinginan Zaydan itu.


Ia memang sudah siap untuk kembali bersama denagn Zaydan, namun ia belum siap jika harus kembali ke istana saat itu juga. Ia harus mempersiapkan diri terlebih dahulu. Apalagi ia tau kalau Sophia juga berada di istana. Hatinya belum siap memaafkan wanita itu.


Setelah sampai di rumah Elivia, Zaydan segera membantu Elivia untuk turun dari mobil. Ia bahkan meminta kunci rumah kepada Elivia.


Walaupun dengan susah payah, Elivia berhasil juga masuk ke dalam rumahnya. Setelah menutup pintu rumah, tiba-tiba Zaydan membopong tubuh Elivia begitu saja dan menidurkannya di ranjang Elivia.


“Tidurlah lagi.” Ujar Zaydan saat sudah membaringkan Elivia di ranjang.


“Apa kau akan pulang?” Tanya Elivia. Ia membiarkan Zaydan membenahi selimut untuk dirinya.


“Tentu saja tidak. Aku akan pulang bersamamu.” Jawab Zaydan yang malah ikut menelusup ke dalam selimut di samping Elivia.


Zaydan terus mendekap erat tubuh Elivia dan megusap kepalanya sampai Elivia tertidur lelap. Setelah itu, barulah iapun berusaha untuk menjemput mimpinya karna sejak kemarin dia sama sekali belum tidur.


Terlelap di pelukan masing-masing, seperti saat dulu. Menimbulkan rasa nyaman untuk ke duanya. Rindu itu sudah terobati. Rindu itu sudah terbalas. Yang perlu mereka lakukan sekarang adalah saling menjaga perasaan satu sama lain.


*****


Sadila sedang mondar mandir di dalam ruangan kantor Zaydan sambil memegang ponsel di telinganya. Ia berkacak pinggang dengan ekspresi wajah super kesal setengah mati.


Sesaat kemudian, ia keluar dan menemui Lucas yang sedang duduk di luar ruangan Zaydan.


“Nona?” Lucas langsung berdiri saat Sadila datang.


“Kau benar-benar tidak tau kemana perginya Dan?” Tanya Sadila kemudian. Nampak sekali raut kemarahan di wajahnya.


“Aku sudah menelfonnya berkali-kali, tapi dia tidak mengangkatnya. Argh!” Pekik Sadila yang kembali masuk kedalam ruangan Zaydan. Ia kembali mencoba menghubungi calon tunangannya itu namun masih tidak ada tanggapan.


Sebenarnya Lucas tau dimana Zaydan berada saat ini karna tadi Zaydan menelfonnya untuk memberitahu kalau hari ini dia akan terlambat datang ke kantor. Namun ia tidak ingin memberitahukannya kepada Sadila karna ia berada di pihak Elivia.


Lucas bahkan sempat menahan tawa saat melihat Sadila uring-uringan tidak jelas karna Zaydan tidak mengangkat telfonnya.


Sadila kembali keluar dari ruangan Zaydan dan kembali menghampiri Lucas.


“Lucas.”


“Ya, nona?”


“Cepat cari tau dimana keberadaan Dan sekarang. Cepat!” Perintah Sadila.


Lucas diam saja dan tidak menggubris perintah itu.


“Kenapa kau diam saja? Apa kau tidak mendengarku? Aku bilang cepat cari tau keberadaan Dan.”


“Maaf, nona. Saya tidak bisa menuruti perintah anda karna hanya Yang Muia Dan dan istrinya yang bisa memerintah saya.” Tegas Lucas.


Sadila melotot mendengar Lucas yang berani membangkang padanya. Ia tidak tau kalau Lucas membicarakan soal Elivia. Maksud Lucas, hanya Zaydan dan Elivia sajalah yang boleh memerintahkannya.


“Kau? Awas saja kalau nanti aku sudah menjadi istri Dan. Kau adalah orang pertama yang akan ku pecat dari pekerjaanmu.” Ancam Sadila. Ia berharap ancaman itu mampu membuat Lucas menuruti perintahnya.


Tapi nyatanya Lucas tetap tidak bergeming. Ia malah kembali duduk dan fokus kepada layar komputernya dengan tidak mempedulikan lagi keberadaan Sadila disana.


Saking kesalnya, Sadila sampai menghentakkan kaki sambil berbalik meninggalkan Lucas dan kembali ke ruangannya.


Di dalam ruangannya, Sadila terus berfikir dimana kira-kira Zaydan berada saat ini. Terbersit fikiran kalau mungkin saja Zaydan tengah berada bersama dengan Elivia, namun Sadila segera menepis fikrian menakutkan itu dari kepalanya.


Tok, tok, tok.


Sadila bahkan tidak menggubris suara ketukan di pitu ruangannya.


“Nona, apa kita akan rapat sekarang?” Tanya asistennya dari balik pintu yang terbuka sedikit.


“Di undur saja. Kita tunggu Zaydan dulu. Dia belum masuk bekerja.” Jawab Sadila.


Sang asisten itupun kemudian menutup pintu dan kembali ke mejanya.


Sadila masih mencoba untuk menghubungi Zaydan, namun pria itu tetap tidak mengangkat telfonnya. Dan itu membuatnya semakin kesal saja kepada calon tunangannya itu. Padahal hari ini ia sudah janji akan pergi ke hotel JE untuk memastikan kesiapan mereka tentang konsep acara pertunangan mereka.


Akhirnya, Sadila berinisiatif untuk menelfon kenalannya yang bekerja di istana kecil untuk mencari tau keberadaan Zaydan.


“Apa? Jadi dia tidak pulang semalaman?!” Pekik Sadila terkejut. “Baiklah. Segera hubungi aku kalau dia kembali.” Perintahnya kemudian.


Kenyataan itu semakin membuat Sadila penasaran dimana kiranya Zaydan berada. Untuk menepis fikiran khawatirnya, ia berusaha meyakinkan diri kalau Zaydan pastilah pergi ke club atau semacamnya .


Pada akhirnya Sadila memaksa dirinya untuk fokus pada pekerjaan ketimbang memikirkan Zaydan. Ia masih punya pekerjaan yang menumpuk dan dia sudah harus menyelesaikannya sebelum pergi ke hotel JE. Hitung-hitung sambil menunggu Zaydan masuk ke kantor.