DAN, Love Me Or Hate Me

DAN, Love Me Or Hate Me
Aku Sedang Bahagia.



Sejak pagi, Elivia sudah sibuk mempersiapkan pakaiannya untuk di masukkan ke dalam koper. Setelah difikir-fikir, ternyata ia jadi antusias dengan perjalanan itu. Ia memutuskan untuk menganggap bahwa itu adalah kesempatan yang sedang diberikan Tuhan untuknya. Kapan lagi dia bisa pergi ke luar negeri?


Setelah sarapan bersama, Ibu Suri dan Sophia mengantarkan Zaydan dan Elivia sampai di depan istana. Berbeda halnya dengan Ibu Suri yang tersenyum lebar melihat keduanya pergi, Sophia hanya melirik tidak suka kepada Elivia.


“Apa kita akan ke bandara?” Tanya Elivia saat mereka sedang di perjalanan.


“Kenapa?”


“Lucas, sebaiknya kau turunkan aku di tempat yang tidak ramai. Setelah itu kau bisa mengantarkan Dan.”


“Apa maksudmu?” Zaydan menoleh. Tidak terima dengan usulan Elivia.


“Disana pasti ramai. Aku tidak ingin orang-orang melihatku bersamamu. Tenang saja. Aku akan berjalan tidak jauh di belakangmu.


“El...”


“Ku mohon, Dan.” Elivia menatap Zaydan dengan sungguh-sungguh.


“Heeemmmppphhh. Terserah kau saja. Tapi jangan jauh-jauh. Nanti kau tertinggal.” Pada akhirnya Zaydan tetap menuruti Elivia.


Benar yang di katakan oleh Elivia. Sesampainya di bandara, orang-orang yang melihat Zaydan langsung berkerumun dan meminta foto bersama. Untung saja Elivia sudah turun sebelum mobil berhenti di depan terminal


keberangkatan.


Beberapa orang yang berlari bahkan ada yang menyenggol Elivia sampai membuat gadis itu terhuyung. Untung tubuhnya tertahan oleh Lucas yang memang berjalan di sampingnya. Tentu saja keberadaan Lucas disana atas perintah dari Zaydan.


“Anda tidak apa-apa, Nona?” Tanya Lucas.


“Tidak apa-apa. Terimakasih.”


“Mari Nona, sebaiknya anda segera masuk.” Ajak Lucas kemudian.


Sementara Zaydan masih sibuk berfoto dengan penggemarnya. Ia sengaja memberikan waktu agar Elivia bisa masuk terlebih dahulu.


Setelah mendapat pemberitahuan dari Lucas bahwa Elivia telah masuk, Zaydan segera mengakhiri sesi foto itu kemudian bergegas masuk kedalam.


Elivia nampak kebingungan saat berada didalam gedung. Disana hanya ada dirinya sendiri. Ia tidak melihat penumpang lain. Setelah melihat Zaydan muncul, ia bergegas menghampiri pria itu dan bertanya.


“Karna ini adalah jalur khusus untuk keluarga kerajaan. Jadibtidak akan ada penumpang lain di dalam sini.” Jelas Zaydan. Membuat Elivia mengangguk-anggukkan kepalanya.


Elivia terus saja mengikuti langkah Zaydan. Sementara Lucas berjalan di belakangnya bersama dengan dua pengawal lain yang mendorong koper milik Zaydan dan Elivia.


Awalnya Elivia berfikir kalau mereka akan naik pesawat komersial. Tapi anggapan itu langsung terbantahkan saat dia melihat sebuah pesawat pribadi berlambangkan kerajaan di hadapannya. Membuatnya tertegun dan menghentikan langkah untuk memandangi pesawat itu.


“Mari, Nona.” Ujar Lucas kemudian. Membuyarkan lamunannya.


Elivia tidak bisa menghentikan lututnya yang gemetar saat menaiki tangga pesawat itu. Sebenarnya ia sudah berusaha menekan diri agar tidak terlihat kampungan. Tapi tubuhnya tidak bisa diajak kompromi.


“Selamat datang, Yang Mulia.” Sapa dua orang pilot dan tiga orang pramugari yang berdiri di dalam pesawat untuk menyambut mereka.


Zaydan terus membimbing Elivia ke sebuah sofa mewah kemudian mereka duduk disana.


Tidak bisa di bohongi. Perasaan Elivia menjadi was-was tidak karuan. Fikiran-fikiran tentang berbagai macam kecelakaan pesawat sedang menghantuinya.


Bagaimana kalau pesawat yang mereka tumpangi ini jatuh? Hal itulah yang selalu terlintas di fikrian Elivia.


Sepanjang perjalanan, Elivia sibuk melihat pemandangan awan-awan yang nampak bergerumbul di beberapa titik. Sementara Zaydan sibuk memotret gadis itu diam-diam di berbagai kesempatan.


“Berapa lama lagi kita sampai?” Tanya Elivia.


“Sekitar, dua jam lagi.” Jawab Zaydan setelah melihat jam tangannya.


“Kenapa? Kalau mengantuk tidur saja. Nanti akan kubangunkan kalau kita sudah sampai.”


Rasa kantuk Elivia datang karna ia merasa bosan. Ia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Tapi Zaydan menariknya sampai kepala gadis itu bertengger dengan nyaman di pundaknya.


“Tidur disini saja.”


Elivia tidak berniat untuk membantah Zaydan kali ini. Pundak kekar Zaydan terasa sangat nyaman untuk bersandar. Sampai akhirnya iapun tertidur dengan lelapnya.


“El, bangun.” Ujar Zaydan sambil menyentuh pipi Elivia untuk membangunkannya.


“Heeemmmmp. Sebentar lagi. Kau bilang masih dua jam lagi kita sampai. Biarkan aku tidur dulu.” Rengek Elivia tanpa membuka matanya.


“Tapi ini sudah dua jam. Ayo, bangun. Kita sudah sampai.” Jelas Zaydan.


Huaaaaammmmh. Elivia menguap dan memaksa matanya untuk terbuka. Ia melirik ke arah jendela, dan benar saja kalau ternyata pesawat sudah mendarat.


“Ayo.” Ajak Zaydan. Kali ini ia mengulurkan tangannya dan disambut oleh Elivia.


Bahkan Zaydan tetap menggenggam tangan elvia setelah mereka keluar dari pesawat. Saat gadis itu hendak menarik tangannya, Zaydan tidakmemperbolehkannya.


“Nanti di lihat banyak orang.” Bisik Elivia lagi.


“Disini tidak ada yang mengenaliku. Jadi aku bebas melakukan apapun yang ku mau.” Zaydan balas berbisik.


“Yang Mulia, saya sudah mempersiapkan hotel untuk anda menginap malam ini.” Ujar Lucas.


“Baik. Terimakasih.”


Lucas sudah menyiapkan segala kebutuhan Zaydan dan Elivia selama berada di negara itu. Sementara dirinya kembali pulang tanpa mendampingi Zaydan. Benar-benar hanya ada Zaydan dan Elivia saja. Sepertinya Ibu Suri yang memerintahkannya agar Zaydan bisa menghabiskan waktu berdua saja bersama dengan Elivia.


Bahkan Zaydan sudah tidak heran lagi karna ia bisa membaca rencana neneknya.


“Pegang erat tanganku. Jangan sampai terlepas. Kalau kau hilang dan tersesat, aku bisa repot.” Zaydan memang sengaja menakut-nakuti Elivia agar dia bisa menggenggam tangan Elivia lebih lama.


Zaydan menghentikan sebuah taksi yang akan membawa mereka menuju hotel. Dan Elivia benar-benar mengikuti perintah Zaydan untuk tidak melepaskan tangannya. Tentu saja hal itu membuat Zaydan girang bukan kepalang.nDia berhasil membodohi Elivia.


“Malam ini kita menginap dulu di hotel. Dan besok pagi kita akan pergi ke peternakan.” Jelas Zaydan dengan tersenyum.


“Kenapa kau terus tersenyum?” Tanya Elivia heran.


“Tidak apa-apa. Memangnya kenapa?”


“Kau pasti menganggapku lelucon. Menakut-nakutiku agar aku tidak melepaskan tanganku, kan? Aku tidak sebodoh itu. Aku tidak takut untuk melepaskan tanganmu.” Sebuah pengakuan yang membuat Zaydan terbelalak.


“Jadi kau sudah tau?”


“Tentu saja aku tau rencanamu.”


“Lantas kenapa kau tidak melepaskan tanganku sejak tadi?”


“Aku hanya tidak ingin saja. Kau bilang disini tidak ada orang yang mengenalimu, jadi aku akan menggenggam tanganmu sesuka hatiku.”


Jawaban Elivia membuat detak jantung Zaydan meningkat pesat. Membuat wajahnya bersemu merah. Hatinya terus berdesir tanpa henti. Sampai ia tidak bisa lagi mengendalikan dirinya dan mendaratkan sebuah kecupan singkat di bibir Elivia secara tiba-tiba.


“Hei.” Elivia memperingatkan karna sopir taksi sempat melirik kepada mereka lewat kaca spion.


Zaydan hanya cekikikan saja. Ia sama sekali tidak peduli jika orang lain memperhatikan tingkahnya. Ia sedang bahagia. Menggenggam tangan gadis yang di cintainya tanpa harus memikirkan konsekuensi menjadi bahan pemberitaan di media.