
Suasana berkabung sedang berlangsung di seluruh negeri. Kerajaan bahkan menetapkan hari berkabung selama tujuh hari kedepan. Semua orang merasa sangat kehilangan atas kepergian ibu suri. Bahkan pejabat-pejabat dari negara tetangga ikut datang melayat ke rumah duka.
Tidak terkecuali Elivia dan Widya. Mereka yang memang sudah mengenal baik ibu suri merasa sangat kehilangan. Widya bahkan sampai menangis meraung-raung saat mendengar ibu suri telah meninggal dunia.
Acara pemakan di siarkan ke seluruh negeri oleh stasiun-stasiun tv. Semua media membahas berpulangnya wanita paling di hormati itu. Banyak karangan bunga yang di kirimkan ke rumah duka. Banyak ucapan bela sungkawa yang mengalir lewat media-media sosial.
Dengan setelan hitam lengkap, Zaydan dan putra mahkota duduk di samping peti jenazah sang nenek. Zaydan tidak bisa menghentikan laju airmatanya. Begitu juga dengan anggota keluarga yang lain. Bahkan Sadila yang
juga hadir dan duduk di kursi yang berada tak jauh dari Zaydan, juga nampak meneteskan airmata.
“Turut berbelasungkawa, Dan. Tabahlah.” Ujar Kafa sambil memeluk sahabatnya itu.
Zaydan hanya mengangguk dan membalas tepukan Kafa di punggungnya.
Satu hal yang pasti, bahwa dengan susana duka seperti ini, acara pertunangan zadyan dan Sadila sangat tidak mungkin di lakukan. Itu berarti mereka harus mengundur dan mengatur jadwal lagi.
Sadila sedikit kecewa, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Banyak sekali orang yang melayat ke rumah duka untuk mengucapkan salam perpisahan terakhir kepada ibu suri.
Raja dan ratu beserta dengan putra mahkota sedang sibuk melayani pelayat. Sedangkan Zaydan hanya bisa memandang peti jenazah itu dengan tatapan tidak percaya. Air mata tidak henti-hentinya mengalir dari kedua matanya.
Kehilangan ibu suri, itu terasa sangat menyakitkan bagi seorang Zaydan. Ia masih tidak menyangka kalau ia harus kehilangan neneknya seperti ini.
Semua ucapan ibu suri semalam kembali terngiang di benaknya. Siapa yang akan menyangka kalau ibu suri akan pergi setelah keadaannya justru telah membaik? Sungguh, kematian itu adalah sebuah misteri dan kepastian.
Setelah dirasa-rasa, sepertinya Zaydan tidak mampu untuk berada lama di dekat jenazah neneknya. Ia sudah tidak sanggup merasakan kehilangan yang sangat menyakitkan itu. Jadi ia berjalan menyingkir dari aula persemayaman dan pergi ke taman yang berada di belakang istana.
Zaydan memejamkan mata dengan menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Fikirannya sedang kosong. Ia seolah tidak tau harus melakukan apa. Kepergian ibu suri seolah melemparkannya dari puncak gunung dan melayang tanpa arah.
Sebuah pelukan hangat yang menempel di punggungnya membuat Zaydan terkejut dan mengalihkan tubuhnya sambil menoleh ke arah belakang.
“Sayang, ini aku. Kenapa kau terkejut seperti itu?” Tanya Sadila yang tidak menyangka kalau ternyata Zaydan terkejut dengan kedatangannya yang tiba-tiba.
“Oh, maaf. Aku kira siapa.” Ujar Zaydan.
Sadila melangkahkan kaki dan ikut duduk di samping Zaydan. Ia menatap kepada calon tunangannya itu dengan tatapan pias. Ia seperti bisa merasakan kesedihan yang nampak jelas di wajah Zaydan.
“Aku tidak tau bagaimana harus menghiburmu.” Lirih Sadila.
Zaydan hanya terdiam. Dia tidak merniat untuk menanggapi ucapan itu.
“Aku akan menghubungi pihak hotel JE untuk mengatur ulang jadwal pertunangan kita.” Saran Sadila. Padahal ia sangat ingin bertunangan sepcepatnya, namun keadaannya berubah menjadi seperti ini dan dia tidak mungkin memaksakannya.
Di benak Zaydan sama sekali tidak terbersit sedikitpun masalah pertunangan mereka. Dia malah merasa sedikit sebal saat Sadila membahasnya.
*****
Elivia sedang serius membuatkan minuman di dapur untuk Widya. Sesekali ia melirik kepada Widya yang masih meraung-raung di sofa sambil menatap lurus ke arah tv.
Di tv, masih dengan acara yang sama tentang kabar duka dari istana. Dan Widya sudah menghabiskan hampir satu bugkus tisu untuk menyeka air matanya.
Bukan Elivia tidak sedih, ia juga merasa sedih dan kehilangan. Apalagi ibu suri begitu baik padanya dan adiknya. Kalau boleh jujur, sebenarnya Elivia ingin pergi ke istana untuk menyampaikan salam perpisahannya yang terakhir. Namun ia tidak punya keberanian itu. Lagi pula, hanya tamu-tamu penting saja yang boleh masuk kedalam istana dengan penjagaan yang super ketat.
Elivia sudah selesai membuatkan minuman teh panas kemudian di berjalan menghamipri Widya di sofa dan meletakkan gelas minuman itu di atas meja di depan Widya.
“Sudahlah, Wid. Kau sudah menangis terlalu lama. Lihatlah wajahmu itu sudah membengkak.” Ujar Elivia. Namun ia hanya mendapatkan lirikan tajam dari Widya.
“Apa kau tidak sedih? Ibu suri terlalu baik pada kita, El.”
“Sedih. Aku juga merasa sedih. Tapi apa yang bisa kita lakukan? Aku juga ingin menangis, tapi aku merasa kalau nenek tidak akan suka melihatku menangis. Karna itu aku menahan diri sekuat tenaga.” Jawab Elivia.
Widya menyeka airmatanya sambil menatap Elivia. “Apa menurutmu begitu?”
Elivia mengangguk. “Nanti kita kan mengunjungi makamnya.”
Widya berhasil di tenangkan oleh Elivia. Padahal perasaannya sendiri sedang berkecamuk dengan kesedihan. Ia mengalihkan pandangannya ke arah tv yang menampilkan foto ibu suri semasa hidup.
Rasa rindu kembali menyerbu Elivia. Kenangan demi kenangan mulai berputar. Dari sejak pertama ia bertemu dengan ibu suri, lantas mereka tinggal bersama selama lebih dari satu bulan. Bahkan kenangan saat mereka pergi ke pusat perbelanjaan dengan gaya sederhana dan memborong barang-barang, semua itu berputar di kepalanya.
Perlahan air mata Elivia menetes. Namun ia segera menyekanya dan menghela nafas dalam. Ia berusaha untuk menabahkan hatinya.
Tiba-tiba fikirannya beralih kepada Zaydan saat wajah pria itu muncul di layar tv. Raut kesedihan nampak jelas di wajah Zaydan.
“Dia pasti merasa sangat kehilangan.” Lirih Elivia dengan tetap menatap terenyuh ke arah tv.
“Hah? Kau bilang apa?” Tanya Widya yang seperti mendengar kalau Elivia mengatakan sesuatu.
“Oh? Tidak, tidak ada.” Jawab Elivia segera.
Selebihnya, Elivia membiarkan saja Widya melanjutkan kesedihannya. Ia hanya fokus menatap layar ponselnya dimana terdapat sebuah foto Zaydan yang mengenakan pakaian bapak pemilik penginapan saat mereka pergi ke luar negeri waktu itu. Ia ingin menelfon pria itu namun ia sudah menghapus nomor Zaydan dan memblokirnya.
Ada rasa berat di hatinya saat memikirkan seperti apa kesedihan yang sedang di alami oleh Zaydan. Karna ia pernah mengalaminya dulu. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa. Karna kematian merupakan misteri sekaligus kepastian.
Elivia bangkit dari sofa dan berjalan ke luar rumah. Ia duduk di tangga di depan pintu sambil menatap lepas ke langit yang terbentang di atasnya. Seolah ia sedang mengucapkan salam perpisahan kepada ibu suri yang sudah sangat baik padanya. Ia berfikir kalau Arina juga pasti sedang merasakan hal yang sama seperti dirinya.