DAN, Love Me Or Hate Me

DAN, Love Me Or Hate Me
Kali Ini Karna Apa?



Zaydan dan Elivia sudah sampai di Istana Kecil. Elivia meringis menahan perih dipergelangan kakinya saat ia berjalan. Ditambah dengan sikunya yang lecet. Zaydan hanya melihatnya.saja dari belakang.


Setelah masuk kedalam kamar, Elivia segera membersihkan diri. Setelah itu mengambil selimutnya dan mulai berbaring disofa. Dia sama sekali tidak mempedulikan keberadaan Zaydan. Dia tidak peduli kalau Zaydan masih berada disana. Dia hanya ingin segera beristirahat untuk melepas penat.


“Kemarikan sikumu.” Kata Zaydan yang sedang berdiri di samping sofa. Kemudian dia duduk disebelah kaki Elivia. Elivia yang merasa tidak enak langsung bangun dan menurunkan kakinya.


“Kenapa anda belum pergi Yang Mulia?”


“Bisa tidak, berhenti memangilku Yang Mulia, Yang Mulia. Kemarikan sikumu.” Kata Zaydan lagi. Dia meletakkan kotak obat di meja.


Elivia hanya melihat sikunya sebentar. “Tidak apa-apa Yang Mulia, ini hanya luka kecil.” Kata Elivia menolak dengan halus.


Zaydan meraih lengan Elivia dengan paksa. Kemudian dia mulai membersihkan luka itu dan memberikan obat.


“Au!” Pekik Elivia.


“Dasar lemah. Begitu saja tidak tahan. Kau bilang ini hanya luka kecil.” Dengus Zaydan.


Apa-apaan sih dia ini?


“Pelan-pelan Yang Mulia. Kalau anda menekan seperti itu ya tetap terasa sakit walaupun hanya luka kecil.” Protes Elivia.


“Cerewet sekali kamu ya.”


Lihatlah perkataannya. Bagaimana banyak orang yang tergila-gila dengannya? Batin Elivia


“Kenapa kamu tidak berhenti saja dari pekerjaan yang merepotkan itu?”


“Mana ada pekerjaan yang tidak merepotkan Yang Mulia? Semua pekerjaan itu merepotkan, karna itu kita dibayar untuk pekerjaan itu.”


“Kamu ini. Selalu saja punya cara untuk menjawabku!” Zaydan masih sibuk dengan siku Elivia.


“Kamu kan dekat dengan Kafa. Kenapa tidak meminta bantuannya untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik?”


“Memangnya ada pekerjaan yang lebih baik?”


“Ya banyak.”


“Baik bagi siapa?”


“Apa maksudmu?”


“Tidak ada yang seperti itu Yang Mulia. Semua tergantung dari diri kita masing-masing. Dunia ini, tidak sesederhana seperti yang anda kira. Sebagian orang, bahkan setelah berusaha mati-matianpun, masih belum mendapatkan apa yang diinginkan.”


“Dasar cerewet! Sedekat apa hubungan kalian? Apa kalian berpacaran?” Zaydan mencoba mengorek informasi tentang kedekatan Elivia dan Kafa.


“Maksud anda saya dengan Kafa? Heiii,,, kami hanya berteman. Dia sudah banyak membantu saya.”


“Ya,, ya,, ya,,” Zaydan menjawabnya dengan mengejek. Sampai tidak terasa kalau dia sedikit menekan luka Elivia.


“Aduh! Pelan-pelan Yang Mullia. Anda ingin mengobatiku atau bagaimana?” Dengus Elivia.


“Dasar cengeng!”


“Aku sudah tau semua ceritanya.” Kata Zaydan.


“Cerita apa?”


“Bahwa kamu dipaksa oleh Nenek untuk menikahiku.”


“Jadi anda baru menyadarinya sekarang? Padahal aku sudah jelas-jelas menunjukkan kalau aku tidak menyukai anda.”


Zaydan jadi terbelalak mendengar jawaban Elivia. Selama ini Zaydan menganggap kalau Elivia lah yang sudah memanipulasi neneknya demi kesembuhan adiknya. Dia kira semua sikap yang ditunjukkan Elivia merupakan bagian dari rencana gadis itu. Dia fikir Elivia serendah itu.


“Tenang saja Yang Mulia. Saya sudah berjanji tidak akan mengganggu kehidupan pribadi anda. Saya akan berusaha untuk meyakinkan ibu suri agar mengijinkan kita berpisah. Soal hutang budi saya terhadap Ibu Suri, saya akan memikirkannya nanti.” Jelas Elivia.


Ya,, biar bagaimanapun dia merasa tidak enak terhadap kekasih Zaydan. Dia merasa seperti orang ketiga yang merebut kebahagiaan mereka. Padahal di media sudah gencar pemberitaan tentang Zaydan dan kekasihnya itu.


Zaydan hanya terdiam saja. Kini ia sudah selesai membalut luka disiku Elivia. Pria itu meniup-niupnya sebentar.


Kini, ia berailih untuk mengobati luka di pergelangan kaki Elivia. Dia kembali mengoleskan salep luka disana.


“Sudah.” Katanya lagi. Elivia melihat lukanya yang sudah terbalut dengan rapi.


“Trimakasih Yang Mulia.” Kata Elivia.


Saat ia hendak mengangkat wajahnya, tatapannya bertemu dengan mata Zaydan. Pria itu juga sedang memperhatikan Elivia dengan seksama.


Perlahan Zaydan mendekatkan wajahnya kewajah Elivia. Gadis itu hanya diam saja. Dia terpesona dengan ketampanan wajah Zaydan yang berada sangat dekat dengannya. Pria itu memandangi mata dan bibir Elivia bergantian. Wajah mereka semakin dekat. Dan Zaydan menempelkan bibirnya ke bibir Elivia. Ada perasaan hangat yang mengalir ke dada gadis itu. Perlahan dia mulai memejamkan matanya, menikmati sentuhan bibir Zaydan.


Elivia dengan spontan membelalakkan matanya dan mendorong tubuh Zaydan. Dia juga memundurkan tubuhnya untuk menjauh dari Zaydan. Wajahnya memerah. Kemudian Elivia berlari masuk kedalam kamar mandi.


Gila! Apa yang sudah kulakukan?!! Bodoh!!! Gumam Elivia. Ia memaki dirinya sendiri. padahal kemairn dia sangat membenci ciuman dari Zaydan. kenapa kali ini dia malah pasrah? dia pasti sudah tidak beres.


Jari jemarinya meraba bibirnya dengan perlahan. Kemudian dia meraba dadanya yang sedang berdetak sangat kencang.


Kenapa aku berdebar seperti ini?ada apa denganku? Aku pasti sudah gila!


Lama sekali Elivia berada dikamar mandi. Dia mencoba menenangkan dadanya yang sedang berdebar. Beberapa kali menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Dia melakukannya berulang ulang sampai perasaannya menjadi sedikit lebih tenang.


Elivia menempelkan telinganya ke pintu kamar mandi untuk mendengar apa Zaydan masih ada disana. Dan dia sudah tidak mendengar suara dari luar. Mungkin Zaydan sudah pergi. Batinnya. Dia menarik nafas dalam dan menghembuskannya sekali lagi. Lalu dia membuka pintu itu.


Jeder..!!!


Elivia kembali menutup pintu itu saat dilihatnya Zaydan yang sudah berdiri dibaliknya.


Kenapa dia belum pergi? Kenapa dia berdiri disana? Gumam Elivia kembali. Ia menahan pintu kamar mandi dengan tubuhnya.


“Hei! Cepat buka pintunya! Aku sakit perut!” Teriak Zaydan dari luar.


Alasan Zaydan tidak bisa ditolak oleh Elivia. Saat ini Zaydan sedang ingin mengunakan kamar mandi, dia tidak mungkin menahannya. Berkali-kali pria itu mengetuk ngetuk pintu. Akhirnya Elivia memberanikan diri untuk keluar dari kamar itu. Setelah Elivia keluar, Zaydan segera masuk kedalamnya.


Ada apa denganku? Kenapa aku tiba-tiba menciumnya? Terakhir kali mungkin karna alkohol, tapi ini? Zaydan mulai bergumam dengan dirinya sendiri. Meratapi kebodohan sikapnya yang terpancing dengan bibir ranum milik Elivia.


Zaydan menggerutu didalam kamar mandi. Sakit perut hanyalah alasannya untuk melarikan diri dari situasi canggung itu. Dia mengacak-acak rambutnya dengan kasar. Tidak menyangka dia akan terbawa suasana dan menempelkan bibirnya ke bibir gadis itu.


“Aaaarrggghhh..!!!!!”


Elivia menutupi dirinya dengan selimut. Bahkan sehelai rambutnyapun tak tampak. Dia memaki dirinya sendiri dalam hati. Dia menendang-nendang selimutnya.


Zaydan yang baru keluar dari kamar mandi heran melihat selimut yang bergerak- gerak itu. Dia melongokkan kepalanya dari balik sofa. Dan dia tersenyum melihat tingkah aneh Elivia. Pria itu menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian beralih ke ranjangnya sendiri.


**********


“Ma, bolehkan aku jatuh cinta dengan gadis biasa?” Tanya Kafa, dia sedang makan malam dengan ibunya yang merupakan seorang perdana menteri.


“Wah, kalau dia bisa membuatmu jatuh cinta, itu berarti dia bukan gadis biasa.” Kelekar ibunya. Dia senang mendengar pengakuan putra semata wayangnya itu.


Selama ditinggal pergi oleh tunangannya tiga tahun yang lalu, Kafa sama sekali tidak pernah membuka hatinya kepada wanita lain. Dan sekarang putranya itu berkata bahwa dia sedang jatuh cinta. Tentu saja dia sangat senang mendengarnya.


“Dia gadis yang baik Ma. Walaupun dia berasal dari kalangan biasa.”


“Itu tidak akan jadi masalah Nak. Selama kau mencintainya, Mama akan sepenuh hati mendukungmu. Segeralah perkenalkan dengan Mama.” Kata wanita paruh baya itu. “Apa kamu sudah menyatakan perasaanmu?”


“Belum. Aku masih menunggu waktu yang tepat.”


“Tidak ada waktu yang tepat untuk itu. Cepatlah, atau gadis itu akan diambil orang.” Ejek ibunya.


“Trimaksaih, Ma. Mama memang yang terbaik!” Kafa bangkit dari duduknya dan memeluk ibunya dengan erat.


Sambil menghabiskan makanannya, Kafa tersenyum senyum sendiri. Dia mulai menyusun rencana untuk mengungkapkan perasaannya kepada Elivia. Gadis yang sudah mencuri perhatiannya. Akhirnya dia tau kenapa dia merasa nyaman berada didekat gadis itu. Dia merasa senang melihat Elivia tertawa. Hatinya selalu berdebar saat Elivia menelfonnya. Dan saat itulah dia yakin, bahwa dia menyukai gadis itu.