DAN, Love Me Or Hate Me

DAN, Love Me Or Hate Me
Emosi Zaydan.



Taksi yang membawa Elivia sampai di depan sebuah kantor polisi yang di beritahu oleh Luna. Ia segera turun dan menghubungi ponsel Luna untuk menanyakan keberadaannya.


Luna memberitahu kalau ia sedang berada di dalam. Tapi Luna bersedia untuk menjemputnya di depan di lobi kantor polisi tersebut.


“Luna!” Panggil Elivia saat melihat kedatangan Luna.


Luna langsung menghampiri Elivia dan memeluknya. Nampak sekali kalau wajahnya sembab akibat menangis.


“Kau baik-baik saja?” Tanya Elivia yang sedang mengkhawatirkan temannya itu. Ia mengelus punggung Luna untuk menenangkannya.


“Terimakasih sudah datang, El. Aku butuh bantuanmu.” Ujar Luna kemudian mengajak Elivia masuk kedalam.


Luna mengantarkan Elivia ke depan sebuah ruangan yang lebih mirip seperti ruangan interogasi. Sementara Luna tidak ikut masuk. Didalamnya, nampak dua pria berbadan tegap sedang duduk di depan pria yang wajahnya penuh luka.  Bahkan lebih parah dari luka yang


ada di wajah Zaydan semalam.


Dan betapa terkejutnya Elivia saat tahu kalau pria dengan wajah lebam itu adalah Sota. Model pria yang ia temui di studio kemarin.


“Anda nona Elivia?” Tanya salah satu petugas polisi itu.


Elivia mengangguk. “Iya, benar. Saya Elivia.”


“Kalau begitu silahkan duduk, Nona. Kami akan meninggalkan kalian sebentar.” Ujar polisi itu.


Beberapa saat kemudian, dua petugas polisi beserta dengan Luna, pergi meninggalkan ruang interogasi. Meninggakan Elivia yang kebingunan bersama dengan Sota.


Baru saja Elivia hendak duduk di kursi, tiba-tiba Sota menerobos dan langsung bersimpuh di hadapannya. Membuat Elivia terkejut bukan


main.


“Apa yang kau lakukan?” Tanya Elivia yang sempat memundurkan kakinya.


“Maafkan aku. Maafkan aku. Aku minta maaf karna sudah mengganggu dan menjelek-jelekkanmu.” Ujar Sota dengan tersedu.


Elivia semakin di buat bingung dengan situasi itu. “Kenapa kau begini? Ada apa?”


Dua polisi yang tadi keluar akhirnya masuk kembali dan membantu Sota untuk duduk di kursinya. Salah seorang dari mereka menunjukkan rekaman cctv kepada Elivia yang kini juga sudah duduk di hadapan Sota.


Elivia memperhatikan rekaman itu dengan seksama.


Nampak Zaydan yang baru keluar dari dalam studio dengan memakai masker. Dia berjalan melewati Sota dan teman-temannya yang sedang asyik menceritakan sesuatu.


Tiba-tiba Zaydan menghentikan langkahnya saat ia mendengar Sota membicarakan Elivia dengan buruk. Sota bahkan berniat untuk membuat pelajaran dengan Elivia karna sudah berani mempermalukannya di depan teman-temannya. Ia akan membuat Elivia menyesal dan sebagai pelajarannya, dia akan meniduri gadis itu.


Tentu saja Elivia merasa sangat terkejut dengan ucapan Sota itu. Ia menatap marah kepada Sota yang sedang menundukkan wajahnya. Tidak berani menatap Elivia.


Elivia menghentikan video itu. Ia menoleh kepada petugas yang berdiri di sampingnya.


“Apa teman saya mendengarkan pembicaraan ini?” Tanya Elivia.


“Tidak, Nona. Teman anda sedang menunggu di ruangan lain.”


Elivia mengangguk kemudian kembali melanjutkan memutar video.


Ia bisa melihat kalau Zaydan menjadi kalap setelah mendengar ocehan dari Sota. Pria itu menghajar Sota habis-habisan. Tidak tinggal diam, Sota membalas setelah mendapatkan kesempatan sampai membuat Zaydan tersungkur karna tinjunya.


Tidak tinggal diam, Zaydan kembali melayangkan pukulannya. Dan begitulah keduanya saling menyerang dan memukul. Sampai pemilik studio muncul dan berusaha untuk melerai perkelahian itu.


Seketika nyali Sota langsung menciut. Ia terkejut sampai memundurkan tubuhnya sehingga menendang sebuah pot bunga dan membuatnya terjungkang.


“Ya ya Yang Mulia? Maafkan saya. Saya tidak tau kalau itu adalah anda.” Jelas Sota terbata.


Zaydan menepis pegangan tangan pemilik studio kemudian berjalan mendekati Sota. Ia berjongkok dan mencengkeram kerah baju Sota.


“Aku tidak akan memaafkanmu karna sudah menjelek-jelekkan Elivia. Kau harus meminta maaf padanya sampai dia memaafkanmu. Sebelum dia memaafkanmu, aku akan memastikan kau mendekam di penjara seumur hidupmu.” Ucap Zaydan penuh penekanan. Sorot matanya di penuhi dengan kemarahan.


Lucas yang baru datangpun langsung menghampiri Zaydan. Ia panik saat melihat lebam di wajah tuannya itu.


“Kau urus dia. Bawa dia ke kantor polisi. Dan jangan biarkan dia bebas sebelum mendapatkan pengampunan dari Elivia.” Perintah Zaydan.


Dan Elivia baru tahu kalau ternyata Lucas berbohong pada Elivia atas perintah Zaydan.


Saat rekaman cctv telah berakhir, Elivia menatap kepada dua.petugas polisi dan bertanya.


“Jadi selanjutnya bagaimana, Pak?”


“Pangeran Zaydan sudah berpesan kepada kami. Permasalahan ini tergantung dengan anda. Kalau anda bersedia memaafkannya, maka kami akan.membebaskannya.”


“Tolong maafkan aku. Aku berjanji tidak akan mengganggumu lagi. Ingatlah hubungan baikmu dengan Luna. Bukankah kalian berteman baik?” Pinta Sota. Ia terus memohon agar Elivia mau memaafkannya.


“Dan kau merencanakan sesuatu yang gila padaku, yang merupakan teman baik Luna? Kau pasti sudah gila. Menurutmu bagaimana perasaannya saat mengetahui jika kekasihnya berniat meniduri temannya?”


“Aku tidak akan memberitahu kejadian yang sebenarnya kepada Luna. Jadi aku mohon, tolong maafkan aku. Tolong jangan buat aku kehilangan pekerjaanku. Aku benar-benar memohon padamu, Elivia.”


Elivia terdiam. Ia sedang memikirkan apakah dia harus memaafkan pria itu? Jika tidak, dia merasa tidak enak kepada Luna. Jika dia bisa memperbaiki keadaan dengan memaafkan pria ini, maka Elivia akan melakukannya.


“Aku akan memaafkanmu, tapi dengan syarat. Jangan sampai kau beritahu Luna masalah ini. Aku tidak ingin melihatnya bersedih karnamu. Juga, jangan sekali-kali kau berani menyakiti Luna, atau aku akan menghajarmu saat itu juga.” Elivia mendengus kesal kepada Sota.


Tapi berbeda halnya dengan Sota. Pria itu terus mengangguk demi berjanji kepada Elivia. Ia merasa lega karna Elivia mau memaafkannya. Ia bersungguh-sungguh mengucapkan terikmakasih kepada Elivia. Berjanji tidak akan mengulangi perbuatan bodohnya lagi. Siapa yang tau kalau Elivia ternyata punya Zaydan di belakangnya? Kalau Sota tau, ia tentu tidak akan memantik permasalahan. Di negara ini, tidak ada yang berani punya masalah dengan seorang Zaydan.


Elivia berjalan keluar dari ruangan interogasi. Luna yang.melihat itu langsung berlari menghampiri Elivia.


“Bagaimana, El? Apa yang terjadi dengan Sota?” Tanya Luna.


“Kau tenang saja. Tidak akan ada yang terjadi dengannya.”


“Benarkah?”


Elivia mengangguk. Dia berusaha menyunggingkan sebuah senyuman.


“Terimakasih, El. Tapi, sebenarnya apa masalahnya? Kenapa Sota memintaku untuk memanggilmu?”


“Maafkan aku, Luna. Tapi aku tidak bisa menjawabnya. Lebih baik kau tanyakan langsung pada Sota.”


Luna nampak sedikit kecewa. Tapi kemudian ia mengangguk mengerti.


“Kalau begitu, aku pergi dulu. Nanti aku akan menghubungimu.”


Luna mengantarkan Elivia sampai di depan lobi kantor polisi. Ia melambaikan tangannya saat Elivia masuk kedalam sebuah taksi yang kemudian membawa Elivia menghilang dari pandangannya.


Ada perasaan lega yang dirasakan oleh Elivia. Ternyata keputusannya untuk memaafkan Sota, membuat perasaannnya jauh lebih ringan. Ia sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan Zaydan. Kalau saja ia tahu bahwa luka memar di wajah pria itu di sebabkan oleh dirinya, dia akan merawatnya dengan jauh lebih baik.