
Sesampainya di istana. Ibu Suri langung menyambut Elivia dan memeluknya dengan erat. Dia sangat merindukan Elivia. Dia menyayangi Elivia seperti dia menyayangi cucunya sendiri.
“Kamu kemana saja sayang? Kenapa tidak pernah memberi kabar kepada kami?” Tanya Ibu Suri. Dia mengelus-elus wajah Elivia.
“Maafkan El, Nek. Sudah membuat Nenek khawatir.”
“Tidak, tidak apa-apa. Sekarang kamu baik-baik saja, itu sudah cukup. Sekarang istirahatlah, kamu pasti lelah.”
“Tidak Nek, aku ingin bersama Nenek.” Elivia memeluk Ibu Suri lagi. Dia juga merindukan Ibu Suri. Kemudian mereka duduk diruang televisi dan menonton drama kesukaan nenek sambil bercengkerama.
Zaydan terus saja memperhatikan kedua wanita itu dari ruangan di sebelahnya. Dia tidak pernah melepaskan pandangannya. Dia senang dengan kembalinya Elivia ke istana. Dia berjanji dalam hati, kalau akan memperlakukan Elivia dengan baik. Prioritasnya sekarang adalah Elivia. Dia akan membalas semua hutang budinya kepada gadis itu.
Ternyata selama ini bukan Elivia yang telah berhutang budi pada neneknya. Melainkan dirinyalah yang mempunyai hutang budi kepada gadis itu. Hutang budi yang bahkan tidak dapat di nilai dari banyaknya materi.
Setiap Elivia tertawa, dia akan ikut tertawa. Tentu saja hal itu dilakukannya tanpa sadar. Sepertinya hatinya ikut merasakan kebahagiaan yang tengah dirasakan oleh Elivia. Sedikit demi sedikit ada kehangatan yang mengalir kehatinya.
Kedua wanita itu terus mengobrol sampai malam. Bahkan setelah makan malam. Sampai mereka berdua lelah dan kehabisan bahan obrolan.
Elivia pamit kepada Ibu Suri untuk istirahat. Kemudian diapun pergi kekamar. Saat berjalan, matanya jelalatan mencari sosok Zaydan, tapi tidak menemukan pria itu.
Setelah masuk kedalam kamar, Elivia segera bersiap-siap untuk mandi. Dia membuka pintu kamar mandi dan mendapati Zaydan yang tengah mandi.
“Aaaa...!!!!!!!” Teriaknya kemudian menutup pintu kamar mandi.
“Apa-apaan sih?! Kenapa dia tidak mengunci pintunya?!”
Zaydan yang terkejut hanya bisa melongo dan mengedip-ngedipkan matanya. Dia baru sadar kalau dia dalam keadaan polos. Dia jadi malu sendiri. Kesalahannya karna dia lupa mengunci pintunya.
Sedangkan Elivia duduk di sofa dengan wajah yang memerah. Matanya sudah menangkap sesuatu. Sesuatu yang seharusnya tidak dilihatnya.
Saat Zaydan selesai dan keluar dari kamar mandi, Elivia jadi salah tingkah. Dia merasa sudah melakukan sesuatu hal yang sangat memalukan. Dia bahkan tidak berani menatap langsung kearah Zaydan. Sama halnya dengan Zaydan, dia berusaha mengendalikan rasa malunya dan langsung pergi ke ruang ganti.
Elivia mengatur nafasnya saat sudah berada dikamar mandi. Dia segera menghidupkan kran air dan mengisi bathub dengan air hangat. Kemudian merendam tubuhnya didalamnya.
Zaydan menyibukkan dirinya dengan membaca buku dan bersandar di ranjangnya. Sambil sesekali membalas pesan dari Sadila.
Saat Elivia keluar dari kamar mandi, dia melihat rambut basah Elivia yang tergerai. Tiba-tiba ada sesuatu yang berdesir dihatinya. Dia segera mengalihkan pandangannya ke buku. Berusaha mengusir perasaan aneh itu.
Elivia bersiap untuk tidur, dia menata bantal dan selimutnya. Dan segera merebahkan diri di sofa.
“Apa tidur disitu nyaman?” Tanya Zaydan tiba-tiba.
“Eh? Apa?”
“Sofa, apa yaman tidur disitu?”
“Lebih nyaman dari kasur tipisku yang ada di kost.” Jawab Elivia spontan.
“Kalau tidak nyaman, kamu bisa tidur disini.”
“Dimana?”
“Disini, di ranjang, bersamaku.”
“Hah????!!!!” Elivia tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
“Tidak, bukan begitu, maksudku.... Emm..”
“Apa yang anda fikirkan Yang Mulia?”
“Maksudku, tidak ada salahnya kita tidur bersebelahan. Lagipula aku tidak akan berani menyentuhmu.”
“Waaahhhhh,,,,,” Elivia menatap Zaydan tidak percaya. Begitu gampangnya pria itu berkata seperti itu.
“Tidak perlu, trimakasih. Saya bisa tidur disini.” Kata Elivia kemudian dia menarik selimutnya sampai menutupi seluruh tubuhnya.
“Aaaa.!!!!! Apa yang kamu lakukan Dan?! Turunkan aku!!” Elivia terus berontak dan menggerak-gerakkan tubuhnya agar terlepas dari gendongan Zaydan. Tapi tenaga Zaydan bukanlah tandingannya. Kemudian Zaydan membaringkan tubuh Elivia diatas ranjang.
Elivia memelototkan matanya kepada Zaydan. Dia bersiap untuk bangun dari ranjang.
“Sssssppppp.. ck!!!” Ancam Zaydan. Dia meletakkan ujung jari telunjuknya di jidat Elivia untuk mencegah gadis itu bangun. Dan itu membuat Elivia tak berani lagi berkutik.
Zaydan menyelimuti tubuh Elivia dengan lembut. Kemudian beralih ke sisi lain ranjang dan mulai merebahkan dirinya juga. Menyisakan rasa bingung untuk Elivia.
“Maafkan aku El. Begitu banyak rasa sakit yang kuberikan padamu.” Kata Zaydan tiba-tiba. Membuat Elivia menoleh kearahnya. Sedangkan Zaydan tengah menatap langit-langit. Fikirannya menerawang jauh.
“Apa maksudmu? Kenapa tiba-tiba meminta maaf? Menakutkan.”
“Hanya,, ingin. Aku baru menyadari kalau selama ini aku memperlakukanmu dengan buruk. Padahal kamu itu istriku.”
“Apa? Kenapa tiba-tiba kamu menganggapku sebagai istri? Jangan bilang,, kamu mulai menyukaiku?”
“Apa??!! Apa kamu sudah gila! Tidak mungkin aku menyukaimu!” Kata-kata itu spontan keluar dari mulut Zaydan.
“Ya sudah, kenapa harus teriak begitu?” Kata Elivia. Dia terdiam sejenak “Aku juga minta maaf, sejak kedatanganku, hidupmu jadi kacau. Aku tidak tau apa yang membawa kita sampai seperti ini. Tapi tenang saja, aku akan mencari waktu yang tepat, aku akan bicara dengan nenek agar melepaskanmu. Dan kita, tidak harus saling berhubungan lagi.”
“Kenapa seperti itu?”
“Aku merasa tidak enak dengan Sadila. Aku merasa menjadi penghalang kebahagiaan kalian berdua.”
Ayo kita jangan mempedulikan satu sama lain, agar perasaan ini, tidak semakin dalam untukmu, Dan. Batin Elivia.
“Baiklah.” Kata Zaydan kemudian terdiam. Saat dia melihat kearah Elivia, ternyata gadis itu sudah tertidur.
Zaydan bangun secara perlahan agar tidak membangunkan Elivia. Kemudian dia berjalan keruang kerjanya. Dia menghidupkan laptopnya dan mengerjakan beberapa pekerjaannya yang belum terselesaikan.
Sakit hatinya saat mendengar Elivia berkata seperti itu. Apa perasaannya mulai tumbuh? Dia sudah berusaha keras untuk mengusir perasaan itu. Tapi semenjak dia tau tentang kedua orangtua Elivia, sepertinya perasaan itu terus tumbuh dengan sendirinya. Bahkan lebih besar dari sebelumnya.
Berkali-kali Zaydan menghembuskan nafasnya dengan berat. Dia berusaha fokus dengan pekerjaannya. Tiba-tiba Lucas datang dengan segelas kopi dan sepiring makanan ringan.
“Kenapa belum tidur?” Tanya Zaydan.
“Saya baru saja hendak berangkat tidur, tapi saya melihat anda masuk kesini, jadi saya membawakan anda kopi, sepertinya anda sedang butuh kafein."
“haha,, kamu memang paling tau apa yang aku butuhkan.”
Lucas meletakkan nampan berisi kopi dan makanan diatas meja kerja Zaydan. Dengan segera Zaydan menyeruput kopinya.
“Apa ada yang mengganggu fikiran anda Yang Mulia?” Tanya lucas.
“Entahlah. Sebenarnya apa yang sedang kufikirkan. Bahkan aku tidak bisa fokus dengan pekerjaanku.”
“Apa karna nona Elivia?” Sontak Zaydan melihat lucas yang sedang berdiri disampingnya.
“Elivia? Memangnya kenapa dengannya?”
“Bukankah anda yang lebih tau?”
“hm,,, dia bilang akan membujuk nenek. Agar kami bisa segera berpisah. Sepertinya tinggal disini merupakan siksaan yang berat untuknya.”
“Ya,,, itu karna anda yang memberikan siksaan tanpa henti.” Gumam lucas.
“Apa kamu bilang?”
“Oh,, tidak Yang Mulia, tidak ada.”
Lucas segera melarikan diri keluar dari ruangan itu semelum Zaydan menyemburnya dengan kopi panas.