
Dengan perasaan kecewa, Elivia berjalan menjauh dari konter penyewaan peralatan ice skating. Sebenarnya ia sangat ingin bermain. Tapi apalah daya otaknya terus menolak keinginan itu demi sedikit uang yang dia punya.
Lebih baik jika ia membeli sesuatu yang bisa ia nikmati berdua bersama dengan Arina.
Bagi Elivia, ia bisa menahan diri untuk tidak
bersenang-senang demi adiknya. Ia bisa berkorban apapun untuk adiknya. Dia boleh terluka, tapi tidak dengan adiknya. Dia boleh tidak bahagia, tapi adiknya harus bahagia. Dan dia akan mewujudkan semua itu. Itulah kasih sayang tulus dari seorang kakak. Kalau bisa, adiknya jangan gagal seperti dirinya. Arina harus sembuh, dan bisa melanjutkan impiannya.
“Kak!” Panggil penjaga konter itu saat Elivia sudah lumayan jauh meninggalkannya. Gadis cantik itu berlari kecil menghampiri Elivia.
“Saya?” Tanya Elivia. Karna dia tidak yakin kalau dirinyalah yang di panggil.
“Iya, saya panggil Kakak. Kenapa Kakak tidak jadi bermain?”
“Uang saya tidak cukup untuk menyewa peralatannya.” Jujur Elivia.
Tapi gadis itu malah tersenyum ramah. “Begini saja, bagaimana kalau saya meminjamkan kepada kakak secara gratis? Apa kakak mau?”
Tentu saja Elivia terkejut sekaligus senang dengan penawaran itu. “Apa kau yakin?”
Gadis itu mengangguk dengan yakin. “Kakak boleh memakai peralatan milikku sepuasnya.”
Ah, gadis itu pasti sedang mengasihani Elivia sekarang. Terlihat dari senyuman yang entah kenapa nampak sayu dimata Elivia.
Elivia nampak berfikir sejenak. Ia tidak ingin di kasihani. Tapi ini juga kesempatan langka yang mungkin tidak akan datang lagi kepadanya. Mungkin saja tuhan sedang menolongnya melalui gadis itu.
“Baiklah. Terimakasih banyak.” Ujar Elivia sambil mengangguk kepada gadis itu.
Gadis yang mempunyai senyuman manis itupun mengajak Elivia untuk mengambil peralaan ice skating miliknya di dalam konter. Kemudian Elivia menjinjing sepatu seluncurnya menuju ke sebuah kursi yang ada di pinggir lapangan.
Dengan perasaan yang senang sekali ia mengenakan sepatu yang ternyata sangat pas di kakinya.
Ada rasa kebahagiaan tersendiri yang menghampiri Elivia. Ia senang sekali. Bahkan ia tidak tau bagaimana cara mengungkapkan kebahagiaannya itu.
Lama dia asyik memandangi sepatu yang kini telah melekat di kakinya itu. Ia bahkan mengambil foto dengan ponselnya. Sebagaikenang-kenangan jika ia pernah mengenakan sepatu impiannya.
Sambil memandangi foto yang ada di ponselnya, Elivia terus tersenyum senang. Dia mengirim foto itu kepada Arina. Kemudian bersiap untuk meluncur.
Satu hal yang tidak diduga oleh Elivia, menyeimbangkan tubuh di atas tumpuan sepatu seluncur tidaklah mudah seperti kelihatannya. Ia bahkan langsung terjatuh saat mencoba berdiri di atas es. Lumayan membuatnya terkejut.
Ia menarik nafas sekali lagi untuk menenangkan diri, kemudian mencoba untuk terbangun. Dan ternyata memang susah. Ia bahkan menjadi bahan tertawaan anak-anak kecil yang bahkan lebih mahir darinya. Berkali-kali jatuh dan gagal untuk berdiri menyeimbangkan tubuhnya.
Tapi dia tidak peduli. Ia akan terus mencoba sampai bisa.
Zaydan yang ternyata belum pergi hanya meringis saat melihat Elivia jatuh tersungkur di atas es. Berkali-kali pula ia hendak bangun dari duduknya dan menghampiri Elivia. Tapi harga dirinya terlalu tinggi untuk menghampiri gadis itu. Jadilah dia hanya memperhatikan saja dari tempat duduknya yang terhalang oleh tiang.
Setengah jam mencoba, akhirnya Elivia berhasil berdiri di atas sepatu seluncurnya. Tentu saja ia senang bukan main. Ia mencoba berjalan dengan memegang besi pegangan yang ada di pingging trak. Sambil sesekali melirik anak-anak kecil yang lincah meluncur melewatinya dan mempelajari gerakannya.
Zaydan ikut tesenyum senang melihatnya. Ia lega juga saat melihat Elivia sudah bisa berdiri dengan sempurna. Dan sekarang, ia berniat benar-benar pergi dari sana. Iapun melangkahkan kakinya menjauhi area itu.
Elivia yang masih berjuang dengan sepatu seluncurnya. Ia bahkan di ajari oleh seorang anak kecil yang menertawakannya tadi.
Bruk!!
Mencoba meluncur tanpa berpegangan, akhirnya Elivia tersungkur dengan sempurna di atas es. Wajahnya hampir saja mencium permukaan es yang kasar itu.
Ia meringis menahan sakit di pergelangan kakinya. Membuatnya kesulitan untuk berdiri.
Tiba-tiba seorang pria berparas tampan yang juga sedang berseluncur mendekat ke arahnya dan mengulurkan tangannya kepada Elivia. Pria itu hendak membantu Elivia berdiri.
Untuk beberapa saat, Elivia tertegun memandangi wajah tampan yang tersaji di hadapannya itu. Ia bahkan baru tau kalau Zaydan bukanlah satu-satunya pria tampan yang pernah dia lihat. Pria yang sedang berdiri mengulurkan tangan padanya itu lebih tampan dari Zaydan. Bahkan Kafa sekalipun.
“Aku baik-baik saja. Terimakasih.” Jawab Elivia dengan wajah bersemu merah. Ia mengulurkan tangannya hendak menyambut pria tampan itu. Tapi tiba-tiba seseorang menampik tangan pria itu dengan kasar.
Plak!!
Pria itu nampak sangat terkejut. Tapi Elivia lebih terkejut lagi mendapati bahwa pria kasar itu adalah Zaydan. Ia membelalakkan matanya tidak percaya.
Zaydan mengulurkan tangannya menggantikan pria tampan itu kepada Elivia. Tapi gadis itu tidak langsung menyambutnya.
“Kau lebih memilih tangan orang lain ketimbang tangan suamimu?”
Kalimat yang diucapkan Zaydan membuat Elivia tambah mengerutkan alisnya. Sementara pria tampan itu hanya bisa ternganga untuk yang kedua kalinya. Tidak menyangka jika gadis manis yang ingin dia tolong ternyata
sudah bersuami.
“Cepatlah. Kau bisa sakit jika berlama-lama seperti itu.” Dengus Zaydan.
Membuat Elivia tidak punya pilihan lain selain menyambut uluran tangan Zaydan. Lagipula beberapa orang kini tengah melihat ke arahnya.
“Auh!” Pekik Elivia saat mencoba untuk berdiri. Pergelangan kakinya terasa sakit. Tapi ia tetap memaksakan diri untuk bangun.
“Kenapa? Kau terluka?” Tanya Zaydan lagi.
Elivia menggeleng. “Tidak, tidak apa-apa. Hanya terkilir sedikit.”
“Sudah tau tidak bisa main ice skating, kenapa malah mencobanya tanpa bantuan? Kau kan bisa memintaku mengajarimu.” Dengus Zaydan lagi sambil membantu Elivia untuk duduk di bangku.
“Apa kau kembali hanya untuk mengomeliku?”
Zaydan tidak menggubris. Ia berjongkok di hadapan gadis itu untuk membantu Elivia melepaskan sepatu seluncurnya.
“Padahal aku sudah menyewakanmu peralatan yang paling mahal.” Zaydan tidak sadar kalau dia sudah kecelposan.
“Apa? Jadi kau yang menyewakan peralatan ini?” Tanya Elivia mengernyit. Ia melemparkan pandangannya kepada gadis penunggu konter yang sedang berpangku tangan sambil tersenyum kepadanya itu.
Seketika membuatnya menyesali semua kesenangannya. “Hei! Kanapa malah dilepas? Aku masih ingin bermain.”
“Apa kau sudah tidak ingin menggunakan kakimu? Kakimu sudah cidera. Kalau kau memaksanya kau tidak akan bisa berjalan.”
Zaydan tidak peduli walau Elivia memberontak dan terus menggerakkan kakinya. Pria itu terus membantu melepaskan sepatu seluncur dari
kaki Elivia. Kemudian meletakkannya di atas bangku di sampingnya.
Tidak dipungkiri, perlakuan Zaydan itu mampu menggetarkan hati Elivia. Ia menatap mata Zaydan yang juga tengah menatapnya. Tapi kemudian ia segera membuang pandangannya kearah lain. Keburu salah tingkah.
*****
selamat hari senin gessss.... selamat kembali berkutat dengan kesibukan. doa mak, semoga kalian tetep sehat2 yaaaa...
kemarin ada yang DM gini, 'kak, kalimatnya jangan putus-putus dong, jadi susah bacanya. gak masuk emosinya" awalnya mak gak mudeng gesss,, nah tadi pas mak lihat, kok ternyata memang kalimatnya putus-putus padahal pas nulisnya gak begitu. tapi pas udah terbit kok jadi begitu? jadi dua baris, dua baris doang. inyong jadi bingung geesss. nanti mak coba tanya sama editor dulu ya kenapa kok begitu, maafkan diriku gesss, yang kurang peka. kalian psati gak enak bacanya. aku aja ngerasa gak enak gitu bacanya. maafken ya geesss...
lope,, lope,, lopee sekebon kopi.
😘😘😘😘😘