
Elivia langsung melanjutkan pekerjaannya setelah di antarkan oleh kafa kembali ke hotel JE. Saat ini, ia sedang membersihkan kamar suite yang baru saja di tinggalkan oleh tamu penginapnya. Setelah selesa mengganti seprei,
Elivia duduk di pinggiran ranjang sambil menatap ke luar jendela. Pemandangan kota di sore hari hampir saja tidak terlihat karna tertutup hujan deras yang baru saja turun.
Melamun sambil menatap rintik hujan yang menerpa jendela kaca, membuat fikiran Elivia melalang buana. Banyak sekali hal yang dia rencanakan di masa depan. Namun sebuah pertanyaan muncul, bagaimana hubungannya dengan Zaydan kedepan? Apa mereka masih akan berhubungan baik?
“Kau sedang memikirkanku?” Sebuah suara yang berasal dari pintu kamar yang memang sengaja di biarkan terbuka oleh Elivia. Ia terbelalak saat mendapati Zaydan yang sedang tersenyum sambil berdiri di pintu.
“Dan? Bagaimana kau bisa ada disini?” Tanya Elivia heran.
“Tentu saja untuk mencarimu.” Jawab Zaydan santai. Ia berjalan masuk setelah menutup pintu kamar itu dan menguncinya dari dalam.
“Bagaimana kau bisa tau kalau aku disini?” Elivia masih saja penasaran. Ia bahkan tidak menyadari kalau Zaydan telah mengunci pintunya.
“Aku bertanya dengan manajermu.” Kali ini Zaydan duduk di tepi ranjang yang ada di sisi seberang Elivia.
“Ada apa mencariku?”
“Karna kau sangat merindukanmu.”
“Jangan bahas itu. Ayo keluar, kita mengobrol di lobi saja.” Ajak Elivia. Ia langsung berdiri dan berjalan melewati Zaydan.
Namun tentu saja Zaydan tidak menggubris ajakan Elivia. Ia malah langsung menyambar tangan Elivia dan menariknya sampai gadis itu terjatuh di pangkuannya
“Apa yang kau lakukan?” Tanya Elivia yang setengah terkejut dengan perlakuan Zaydan itu.
“Aku akan menyembuhkanmu, El. Kalau lukamu berasal dariku, maka aku yang akan menyembuhkan luka itu. Kau hanya perlu percaya padaku. Bisakah kau melakukan itu?”
Saling pandang dalam jarak yang sangat dekat seperti itu, membuat jantung Elivia lepas kendali. Begitu juga dengan Zaydan. Ada gelora yang tumbuh menggantikan setiap debaran hati keduanya.
“Apa maksudmu bicara begitu?” Elivia terbata. Nampak sekali kalau ia sedang berusaha mengendalikan diri.
“Aku hanya mencintaimu, El. Tidak pernah ada tempat untuk wanita manapun selain kamu. Kaulah penguasa atas seluruh hati milik seorang Zaydan. Kaulah pemenangnya. Jadi kumohon, kembalilah padaku. Kali ini, aku akan benar-benar melindungimu. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu. Siapapun, tanpa terkecuali.”
Janji yang terucap dari mulut Zaydan sungguh menggetarkan hati Elivia. Apalagi saat ia menemukan sebuah ketulusan dan kesungguhan dimata pria itu. Hatinya luluh seketika.
“Benarkah?” Lirih Elivia.
Entah kenapa ia malah bertanya begitu. Seolah ingin menyetujui permintaan Zaydan namun ia masih sedikit ragu.
Zaydan mengangguk mantap dengan senyuman manisnya.
“Lalu, bagaimana dengan Sadila?” Sebuah pertanyaan yang selalu menggangu fikiran Elivia.
“Kamu tidak usah khawatir. Aku dan dia bahkan belum bertunangan. Soal kabar yang sudah tersebar, nanti aku yang akan mengurusnya.” Ujar Zaydan kembali. Ia seperti sudah mendapatkan lampu kuning dari Elivia.
“Apa kau tau, kalau kau masih berstatus sebagai istri sahku? Karna aku tidak pernah menceraikanmu sebelumnya.” Zaydan terus memandangi netra Elivia bergantian.
Elivia tidak tau harus bicara apa. Ucapan Zaydan ternyata mampu meluluhkan hatinya. Kejujuran yang ia temukan di kedua netra pria itu, membuatnya yakin kalau seharusnya ia memang mempertahankan pria itu. Kini hatinya semakin condong kepada untuk kembali kepada Zaydan.
Pandangan pias itu perlahan berubah menjadi pandangan nafsu. Kini netra Zaydan sudah menjelajahi seluruh wajah Elivia dengan liar. Apalagi saat netranya berhenti di bibir ranum Elivia, membuat darahnya mendidih dan ingin melahap bibir itu.
Pertahanan Elivia memang sudah runtuh saat ia melihat kesungguhan di netra Zaydan sebelumnya. Kini, darahnya juga sedang mendidih saat mendengar hembusan nafas pria itu yang perlahan semakin mendekat ke wajahnya.
“Aku mencintaimu, Elivia. Kaulah pemenang dari segala perasaanku.” Suara Zaydan sudah terdengar berat. Bahkan wajahnya sudah lebih dekat dari sebelumnya.
Dan tidak menunggu waktu lama untuk Zaydan meraup bibir itu tanpa perlawanan yang berarti. Karna ternyata Elivia bahkan menyambutnya dengan sangat baik.
Dua insan itu tengah terbakar api kerinduan. Perasaan yang terus di pendam kini membuncah dan sudah tidak bisa di cegah lagi. Keduanya saling membalas luma**n dengan ganas. Bahkan tangan Zaydan sudah bergerilya menggerayangi bagian tubuh Elivia.
Pertahanan Elivia runtuh dengan sempurna saat Zaydan mengalihkan tubuhnya ke atas ranjang. Untuk sesaat, Zaydan melepaskan pagutannya dan manatap dalam Elivia. Pagutan itu memang berhenti, namun tidak dengan tangannya. Karna kini tangan itu telah menelusup ke balik baju yang di kenakan Elivia.
sentuhan demi sentuhan terus di lancarkan oleh Zaydan. ia membawa elivia terbang melayang menembus sejuta kenikmatan.
Dengan perlahan namun pasti, tangan Zaydan dengan lincah mulai melepaskan satu-persatu kancing kemeja Elivia. Namun gadis itu sudah pasrah seutuhnya karna ia juga sedang terbakar oleh gairah. Sentuhan-sentuhan Zaydan mampu membangkitkan hormon testosteronnya dan membuatnya pasrah saja walaupun Zaydan sudah memakan habis kedua buahnya
Tiba-tiba Elivia menghentikan tangan Zaydan saat tangan itu hendak menelusup ke dalam celananya. Tindakan Elivia itu membuat Zaydan menghentikan permainannya di da*a dan beralih menatap Elivia. Ia bisa melihat sebuah kekhawatiran di netra gadis itu.
“Percayalah padaku, El.” Bisik Zaydan.
Elivia seperti sudah tersihir sepenuhnya oleh pesona seorang Zaydan. Ia melepaskan tangan Zaydan yang tadi ia tahan dan membiarkan pria itu memainkan tangannya sesuka hati. Tubuhnya bahkan sampai menggelenjang demi menahan serangan itu.
Zaydan tidak menyia-nyiakan lampu hijau yang sudah menyala itu. Ia segera melucuti pakaiannya dan juga pakaian Elivia. Keduanya melakukan penyatuan dengan sempurna walaupun di iringi oleh rintihan kesakitan dari Elivia. Namun itu malah membuat keduanya semakin bergairah untuk melanjutkan aksi mereka.
Dan pada akhirnya, tubuh Elivia sedikit kejang sampai ia lemas. Begitupun dengan Zaydan. Dengan nafas yang terengah-engah, Zaydan menjatuhkan dirinya di samping Elivia yang juga sedang terengah. Kemudian ia memiringkan tubuhnya dan menatapi tubuh polos sempurna yang terbentang di hadapannya itu. Kemudian ia melayangkan sebuah kecupan di kening Elivia lama sekali sampai Elivia bisa merasakan kehangatan yang mengaliri hatinya.
“Aku mencintaimu, Elivia. Dan aku akan membawamu pulang keistana. Aku akan membuatmu selalu berada di sisiku, tempatmu yang seharusnya.”
Elivia hanya mengangguk sambil tersenyum. Tenaganya belumpulih setelah pertempuran besar mereka yang baru saja terjadi. Sudah tidak ada jalan bagi Elivia untuk kembali. Tidak ada lagi tempat untuk menyembunyikan gengsi dan ke egoisannya dari Zaydan. Kini, dia telah sempurna menjadi milik dari seorang pangeran Zaydan. Dan dialah pemenangnya.
*****
udah??
senang kelen semua ha??
🤣🤣🤣🤣🤣
nulis bab ini penuh perjuangan. udah di tolak sampe beberapa kali sama editor entun.. ya ampunnn...