
Elivia mendudukkan dirinya di sebuah bangku taman yang ada di pusat kota. Di tangannya, ia menenteng sebuah tas berisi berkas-berkas lamaran pekerjaannya.
Sudah enam cafe dan empat restoran tempat saji yang ia datangi selama dua hari ini. Namun belum ada satupun dari mereka yang menghubunginya.
Di sela lelahnya, Elivia menengguk sisa air mineral yang ia bawa. Cuaca hari ini lebih terik dari biasanya, seolah tidak berpihak padanya.
“Nona?” Sapa seorang wanita dari arah belakangnya membuat Elivia langsung menoleh.
“Widya??” Tanya Elivia yang nampak terkejut karna bertemu denagn Widya secara kebetulan.
“Nona sedang apa di sini?” Tanya Widya yang kemudian ikut duduk di samping Elivia.
“Ah,, ini. Sedang mencari pekerjaan.” Jawab Elivia jujur. “Kamu sendiri sedang apa?”
“Oh, sama. Aku juga baru saja kembali dari hotel. Aku melamar pekerjaan di sebuah hotel.” Jawab Widya.
“Pekerjaan? Apa kau sudah tidak bekerja lagi di istana?”
Widya mengangguk. “Aku sudah tidak bekerja di sana lagi, Nona.”
“Sejak kapan?” Tanya Elivia ingin tau. Karna kemarin saat ia pergi dari istana, ia masih melihat Widya di istana.
“Kemarin.”
“Ooooooh.” Sebenarnya Elivia ingin sekali menanyakan alasan kenapa Widya sampai keluar dari istana. Tapi ia merasa tidak enak kalau harus mencampuri urusan pribadi seperti itu. Ia yakin kalau Widya punya alasannya tersendiri.
“Lalu, apa kau sudah di terima bekerja di hotel?”
“Iya, Nona. Hotel itu adalah milik dari suami sepupuku. Dia juga yang menawariku untuk bekerja disana.
“Berhentilah memanggilku Nona. Pangil saja El, seperti yang lain. Kita sudah tidak di dalam situasi yang mengharuskanmu menghormatiku.”
“Bolehkah?”
“Tentu saja. Aku akan senang mendengarnya.”
“Baiklah, El. Hehehe.”
“Nah begitu. Bukankah itu terdengar lebih akrab?”
“Ya, kau benar.” Widya mulai membiasakan diri untuk bersikap santai kepada Elivia. Memang benar kata Elivia kalau dia sudah tidak harus memberi hormat kepada Elivia karna gadis itu sudah bukan bagian dari keluarga kerajaan.
“Hahahahhaa.” Pertemuannya dengan Widya membuat rasa lelah Elivia perlahan menghilang. Ia senang bisa punya teman mengobrol yang punya nasib yang sama dengannya.
“Apa kau sudah di terima bekerja?” Tanya Widya kemudian.
Elivia menggeleng. “Belum ada satupun tempat yang menerimaku.” Jawab Elivia dengan menundukkan wajahnya.
“Kenapa kau tidak mencoba melamar di tempat kerjamu dulu? Barangkali masih ada tempat.” Usul Widya kemudian.
Elivia kembali menggelengkan kepalanya. “Aku sudah mencobanya, tapi restoran itu sudah ganti pemilik. Sudah tidak ada lowongan lagi disana.” Jelas Elivia kemudian. Bahkan Luna sudah tidak bekerja di restoran itu.
Widya nampak berfikri sejenak. Kemudian muncullah sebuah ide di benaknya untuk mengajak Elivia bekerja di hotel bersama dengan dirinya.
“El, bagaimana kalau kau bekerja di hotel saja bersamaku? Masih ada beberapa lowongan lagi. Kurasa pengalamanmu di restoran sudah cukup menjadi pertimbangan disana.” Ujar Widya berapi-api. Ia mendapat ide cemerlang untuk membantu Elivia.
Tentu saja Elivia juga langsung sumringah mendapat tawaran itu. Walaupun ia ragu kalau ia akan di terima disana karna ia sama sekali tidak punya pengalaman di bidang perhotelan.
“Sebentar ya, aku akan bertanya dulu pada sepupuku.” Ujar Widya lagi. Elivia mempersilahkan Widya untuk menelfon.
Beberapa saat kemudian, Widya sudah selesai menelfon sepupunya. Kemudian ia kembali menghampiri Elivia dan kembali duduk di sampingnya. Elivia menatap Widya dengan tatapan harap-harap cemas. Ia sungguh berharap kalau ia bisa di terima bekerja di hotel itu bersama Widya.
Widya juga menatap Elivia, kemudian perlahan ia menganggukkan kepalanya kepada Elivia. Pertanda kalau Elivia di terima untuk bekerja di hotel milik sepupu Widya tersebut.
“Benarkah?? Benarkah aku boleh bekerja disana?” Tanya Elivia tidak yakin.
“Benar, El. Aku sudah bertanya pada sepupuku. Dan dia bilang dia akan melihat resumemu dulu. Kau bisa memberikanku resume itu. Nanti aku yang akan memberikannya padanya.”
Elivia sangat bahagia mendengar kabar itu. Ia langsung mengeluarkan resume miliknya dari dalam tasnya dan menyerahkannya kepada Widya.
“Terimakasih, Wid. Beruntung sekali aku bertemu denganmu.”
“Aku juga tidak menyangka kalau aku akan bertemu denganmu di sini. Baiklah, nanti aku akan menghubungimu lagi. Tapi aku yakin, kalau kau pasti akan di terima nanti.” Widya memberi semangat kepada Elivia.
Dan Elivia benar-benar berharap kalau ia akan di terima. Melihat ekspresi Widya seolah itu memberinya sebuah harapan besar.
“Baiklah kalau begitu, aku akan pulang dulu. Nanti ku hubungi.” Pamit Widya kemudian ia berjalan meninggalkan Elivia.
Elivia mengantarkan kepergian Widya dengan tatapannya. Ia tersenyum sekaligus merasa bersyukur karna sepertinya ia mempunyai harapan tentang pekerjaan. Walaupun Elivia sangat ingin tau tentang banyaknya gaji bekerja di hotel, tapi saat ini bukan masalah gaji yang jadi prioritasnya, melainkan status pekerjaan itulah yang sedang ia kejar. Kebutuhannya sedang terdesak untuk biaya pengobatan Arina yang sudah setengah jalan.
Rasa penat Elivia belum sepenuhnya menghilang. Jadi ia memutuskan untuk beristirahat di sana lebih lama lagi sambil menunggu malam yang sudah hampir datang.
Ia menelfon Arina dan menanyakan kabar adiknya itu hari ini. Karna hari ini ia belum sempat mampir ke rumah sakit. Dan sepertinya ia tidak akan sempat ke sana hari ini. Elivia merasa sangat lelah, jadi ia mengatakan kepada Arina kalau ia akan pulang dulu ke kosnya.
Sebelum menutup telfon, kalimat dari Arina membuat Elivia terkejut dan ternganga. Ia tidak jadi menutup telfon itu.
“Kenapa dia datang mencariku?” Tanya Elivia setelah mendengar kabar bahwa Zaydan datang ke rumah sakit untuk mencari dirinya.
“Entahlah. Karna aku langsung mengusirnya setelah dia menyebut namamu dan menyuruhnya untuk berhenti menemuimu. Aku bahkan Mengancamnya kalau ia berani menemui kakak lagi, aku tidak akan pernah memaafkannya. Mungkin dia ingin meminta maaf atau apa. Enak saja.” Dengus Arina kesal.
Ada rasa yang berdesir di hati Elivia saat mendengar nama Zaydan di sebut. Apa masih ada sisa rasa itu di dalam hatinya? Ia fikir selama dua hari ini ia sudah melupakan pria itu karna terlalu sibuk untuk mencari pekerjaan.
“Kakak jangan mau menemuinya ya.” Pesan Arina mewanti-wanti.
“Ya sudah. Kau istirahatlah. Sudah malam. Aku harus pulang ke kos.” Pamit Elivia kemudian ia menutup sambungan telfon itu.
Elivia menggenggam erat ponsel itu seolah sedang menyalurkan perasaannya. Entah perasaan kesal, atau perasaan rindu. Yang jelas, ada sesuatu yang aneh yang dia rasakan di hatinya. Dan ia tidak suka itu.
Setelah berhasil menenangkan hatinya yang gundah, dan setelah berkali-kali menghela nafas dalam, akhirnya Elivia beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ke sebuah halte yang tidak jauh dari taman untuk kemudian pulang ke kosnya.
*****
pagiiii geeessss,,,,
huuufffhhh,,, akhirnya daku kembali ke peradaban. Alhamdulillah udah bisa apdet rutin lagi. maaf ya kemarin sempet bolong apdet,di kebun gak ada sinyal gess,, maklumlah, kebunnya di hutan.
oke. selamat mencaci bang Dan lagi.. 🤣🤣🤣🤣🤣
love,, love,, love,, sekebon kopi..
😘😘😘😘😘