DAN, Love Me Or Hate Me

DAN, Love Me Or Hate Me
Berhentilah Mendambakan Suamiku!



Rumah tangga Zaydan dan Elivia berjalan dengan damai dan aman sentosa. Tidak ada gangguan yang berarti, bahkan dari Sadila sekalipun. Bahkan selama satu bulan ini hubungan mereka semakin harmonis saja.


Sudah selama satu minggu ini Elivia sibuk mengurusi hotel, dengan bantuan dari Vanye tentu saja. Sedikit-sedikit ia mulai bisa mengerti aturan-aturan permainannya. Padahal Zaydan sudah sering melarangnya untuk ikut mengurusi hotel, namun Elivia tidak mau dan memilih untuk merawat sendiri pemberian ibu suri padanya itu.


Seperti biasa, siang ini Elivia sedang duduk di ruangan manajer bersama dengan Vanye. Ada beberapa dokumen yang harus mereka tinjau. Ada sepasang selebriti terkenal dari hollywood yang akan menginap di hotel JE selama empat malam. Dan itu cukup membuat Elivia dan Vanye sibuk mempersiapkan semua keperluan mereka.


“Nona, sebaiknya anda makan siang dulu. Ini sudah hampir jam dua siang.” Vanye memperingatkan Elivia. Karna sepertinya Elivia sangat sibuk sehingga lupa untuk makan siang.


“Aku masih belum lapar, kak.”


“Jangan begitu. Tubuh itu bukan hanya milikmu sendiri. Banyak orang yang akan khawatir jika anda jatuh sakit. Dan lebih, aku tidak mau dimarahi oleh pangeran Zaydan.” Seloroh Vanye sambil tersenyum simpul.


Eliviapun membalas senyuman itu. “Baiklah. Kalau begitu aku akan pergi makan siang dulu.” Pamit Elivia kemudian.


Elivia berjalan meninggalkan ruangan manajer dan berjalan turun ke lobi untuk menuju ke restoran. Namun saat ia hendak melewati meja resepsionis, seorang wanita yang sedang berdiri di sana mengejutkan Elivia. Ia langsung menghentikan langkahnya seketika. Menatap nanar kepada wanita yang kini juga sudah melihat kearahnya.


Sadila menatap pias kepada Elivia yang berdiri tak jauh darinya. Ia kemudian melangkahkan kakinya mendekat kearah Elivia.


Dari tatapannya, Elivia nampak malas sekali bertemu apalagi berhadapan dengan Sadila. Entah karna rasa bersalah, atau karna apa, yang jelas, melihat wajah Sadila dari jarak dekat begitu, membuat Elivia sakit hati. Namun ia tetap tidak ingin pergi menghidari wanita itu.


“Bisa kita bicara sebentar?” Lirih Sadila dengan wajah setengah tertunduk.


“Aku tidak tau apa masih ada hal yang bisa kita bicarakan.” Jawab Elivia dengan nada suara tegas. Rasanya ia ingin segera mengusir Sadila dari hadapannya.


“Ada. Masih ada hal yang ingin ku katakan padamu.” Nada suara Sadila terdengar lebih ramah dari sebelumnya. Tatapan sinisnya juga sudah tidak terlihat di manik netranya.


Dan itu membuat Elivia tidak bisa memalingkan wajahnya. Ia juga penasaran apa kira-kira yang ingin di sampaikan oleh Sadila. Apa wanita itu ingin meminta maaf atau bagaimana.


“Ayo kita bicara di restoran.” Ajak Elivia kemudian. Ia berjalan mendahului Sadila.


Dengan senyum simpul yang muncul di sudut bibirnya, Sadila nampak sumringah dan langsung mengikuti Elivia dan berjalan di belakangnya.


“Apa yang ingin kau bicarakan?” Tanya Elivia langsung pada intinya. Kini mereka sedang duduk berhadapan di sebuah meja yang ada di restoran itu.


“Elivia, saat aku melangkahkan kaki masuk kedalam hotel ini, aku sudah membuang semua harga diriku demi menemuimu.” Sadila mulai menjelaskan maksudnya.


Sedangkan Elivia hanya bisa mengerutkan keningnya saja. Ia masih berfikir kalau Sadila mungkin ingin meminta maaf padanya. “Langsung saja bicara ke intinya.” Ujar Elivia dengan ekspresi datar.


Sadila menarik nafas kemudian menatap Elivia. Entah kenapa Elivia merasa ada yang berubah dari tatapan itu.


“Tolong lepaskan Dan.”


Sebuah kalimat yang mampu membuat Elivia ternganga tidak percaya. “Apa maksudmu?”


“Lepaskan Dan. Dia sama sekali tidak cocok bersanding denganmu.”


“Aku benar-benar memohon padamu, Elivia. Aku butuh Dan. Aku sangat membutuhkan dia.” Imbuh Sadila dengan ekspresi memohon.


Bukan apa, kehidupan Sadila benar-benar berantakan setelah di tinggal oleh Zaydan. Terlebih masalah keuangannya yang mulai menipis dan membuatnya kesulitan untuk membayar hutang-hutangnya dan ibunya. Hanya Zaydanlah satu-satunya orang yang bisa menyelamatkannya dari situasi genting itu.


Elivia menatap tajam kepada Sadila. Ingin rasanya ia melempar Sadila dengan gelas air yang ada dihadapannya saat ini.


“Maaf. Tapi aku tidak bisa melakukan itu.” Tegas Elivia lagi.


Sadila kembali mengernyitkan keningnya. Ia tau kalau tidak akan semudah itu untuk merayu Elivia. Tapi ia tidak menyangka kalau Elivia akan tegas menolaknya.


“Karna bayiku sangat membutuhkan sosok ayahnya.”


Seperti sambaran petir, kalimat itu terdengar sangat menyayat hati Sadila. Ia tambah ternganga dengan dada yang semakin bergemuruh. Emosinya memuncak namun ia masih berusaha untuk menahan diri.


“Ap,, a,, maksudmu?”


“Aku sedang mengandung buah hati kami. Kau salah jika memintaku untuk meninggalkan suamiku.”


Elivia tidak berbohong. Tadi pagi memang dia sudah melakukan tes pack diam-diam di kamar mandi. Dan terdapat garis dua yang masih terlihat samar sehingga Elivia belum berani menyimpulkannya. Rencananya, sore ini ia akan pergi memeriksakan diri ke dokter. Setelah ia positif hamil, kemudian ia akan memberikan kejutan untuk Zaydan. Itulah rencananya.


“Kau pasti berbohong.” Sanggah Sadila.


“Tidak ada untungnya aku berbohong. Sadila, berhentilah mengejar suamiku. Sudah saatnya kau mencari kebahagiaanmu sendiri. Aku yakin di luar sana akan ada pria yang mencintaimu dengan tulus.”


Sadila terdiam. Ia menundukkan wajahnya dengan genangan air mata yang sudah siap tumpah di pangkuannya.


“Kalian sangat egois. Kau sangat egois, Elivia. Kau merebut kebahagiaan yang sudah mati-matian ku pertahankan. Kau bahkan berani mencintai pria yang sudah jelas-jelas sudah ada pemiliknya.” Lirih Sadila.


Elivia tau kalau Sadila mungkin saja sedang merasakan kehancuran karna pengakuannya. “Tidak, saat itu dia bukan milikmu. Dia belum punya pemilik karna dia belum menikah dengan siapapun. Wanita yang di nikahi oleh Dan, dialah pemilik sesungguhnya.” Balas Elivia.


Mendengar hal itu tentu saja membuat emosi Sadila semakin naik. Ia hampir saja tidak bisa mengendalikan emosinya. Ia menatap Elivia dengan bola mata yang memerah. Nafasnya bahkan sudah tidak bisa teratur lagi.


“Aku tidak ingin mempermalukanmu, Sadila. Tapi berhentilah mengurusi rumah tangga kami. Berhentilah mendambakan Dan. Dia sudah menjadi suamiku sekarang. Kuharap kau bisa mengerti apa yang sudah ku katakan. Karna sudah tidak ada yang harus di sampaikan, aku pergi dulu.” Pamit Elivia kemudian langsung beranjak dari duduknya. Bahkan rasa laparnya sudah menghilang entah kemana.


“Dasar wanita licik.” Lirih Sadila. Ia sudah sepenuhnya di kuasai oleh emosi dan sakit hati. Rasa tidak terima itu terus memenuhi rongga dadanya dan membuat emosinya membuncah tak terkendali.


Sadila menggenggam gelas yang ada di atas meja dengan eratnya. Ia seolah ingin melampiaskan emosinya disana. Kemudian ia meminum air putih yang ada di dalam gelas itu sampai habis dan seketika ia bangkit dengan gelas yang masih berada di genggamannya kemudian melemparkan kearah Elivia.


Prak!!!!


Gelas itu mendarat tepat di belakang kepala Elivia. Dia bahkan tidak sempat terkejut karna langsung jatuh tersungkur ke lantai dengan wajah yang menghantam lantai dengan kerasnya. Seketika Elivia langsung tidak sadarkan diri.