DAN, Love Me Or Hate Me

DAN, Love Me Or Hate Me
Kau Membuatku Bingung.



Semalam Elivia benar-benar menginap di rumah sakit. Dan itu membuat Zaydan murka. Selama di kantor, ia terus mengabaikan keberadaan Elivia. Ia bahkan membalasnya dengan sengaja bermesraan bersama dengan Sadila di ruangannya. Ia berharap kalau setidaknya Elivia akan cemberut, atau setidaknya merasa cemburu karna ulahnya.


Hati Zaydan sakit luar biasa saat gadis itu bilang sedang bersama dengan kafa. Dia merasa selalu selangkah di belakang temannya itu jika perihal Elivia. Dia tidak pernah punya waktu yang tepat.


Ditambah saat semalaman ia menunggu kepulangan gadis itu yang ternyata benar-benar tidak pulang sama sekali.


Bahkan saat Elivia membuatkan kopi seperti yang biasa diminta oleh Zaydan dan meletakkannya di meja pria itu, Zaydan tetap teguh untuk mengabaikan Elivia.


“Kau marah?”


Zaydan tidak menjawab. Ia hanya fokus dengan pekerjaannya.


“Baiklah. Mungkin sebaiknya kita saling mengabaikan saja.”


Sebuah ucapan yang berhasil membuat Zaydan menatap kepada Elivia. Sementara gadis itu sudah berbalik dan hendak pergi ke mejanya.


Elivia tidak jadi melanjutkan langkahnya. Tubuhnya membeku di tempat saat tiba-tiba Zaydan memeluknya dari belakang.


“Jangan begitu. Aku tidak berniat untuk mengabaikanmu. Aku hanya sedang marah karna kau menghabiskan malam bersama dengan kafa.”


“Menghabiskan malam bagaimana?”


“Kau tidak pulang semalaman. Bukankah kau pergi bersama kafa?”


“Astaga. Semalam aku tidur di rumah sakit.” Jelas Elivia. Pelukan Zaydan benar-benar membuatnya mati kutu. Perasaanya semakin dalam mengalir lewat setiap pembuluh darahnya, setiap tarikan nafasnya, dan setiap degup jantungnya.


Zaydan langsung melepaskan pelukannya dan membalikkan tubuh Elivia. “Benarkah kau menginap di rumah sakit semalam?” Zaydan masih ingin memastikanbkalau Elivia tidak sedang membohonginya.


“Kenapa? Apa kau cemburu?”


“Tentu saja aku cemburu. Pria mana yang tidak cemburu mendengar istrinya pergi dengan pria lain?”


Istri? Apa sekarang Zaydan telah menganggap Elivia sebagai istrinya? Istri yang sesungguhnya?


“Jadi karna itu kau sengaja bermesraan dengan Sadila di hadapanku? Untuk membuatku cemburu?”


“Tentu saja. Kau cemburu kan melihatku dengan Sadila?”


Elivia menggeleng. “Tidak. Aku sama sekali tidak cemburu. Kalian pantas melakukannya. Kalian kan sepasang kekasih.”


“Hei. Sudahlah. Jangan bahas itu lagi. Aku hanya memintamu bersabar untuk menungguku sebelum aku menemukan cara untuk mengakhiri hubunganku dengannya.”


“Dan, apa kau tau rasanya menjadi diriku? Menjadi orang ketiga sangatlah tidak nyaman. Ini menyiksaku. Aku terus di hantui oleh rasa bersalah karna merebutmu dari Sadila. Hubungan kita ini, seolah kita sedang berselingkuh di belakangnya.”


“Aku bisa mengumumkan pernikahan kita sekarang juga. Agar ini menjadi lebih mudah bagimu, bagiku, dan bagi Sadila.”


“Kau gila? Tidak perlu sejauh itu.”


“Lantas aku harus bagaimana? Kau melarangku mengumumkan pernikahan kita. Kau juga melarangku untuk mengakhiri hubunganku dengan Sadila. Sementara kau berkata kalau kau merasa tersiksa dengan hubungan ini. Kau ingin aku bagaimana, el? Kau membuatku bingung dan putus asa.”


Elivia tidak berani menjawabnya. Ia menatap netra Zaydan yang pias. Entahlah. Ia sendiri juga bingung.


Di satu sisi, ia ingin terus berada di dekat Zaydan. Tapi di sisi lain, perasaan sebagai orang ketiga, membuatnya sangat tersiksa. Ia mencintai pria itu, tapi juga ada Sadila yang mencintainya. Sangat berat untuk mengakui kalau posisinya salah. Berat saat dia memutuskan untuk mengeraskan hatinya. Apalagi saat ia tahu kalau Zaydan juga mempunyai perasaan yang sama.


Tok, tok, tok. Terdengar pintu di ketuk dari luar.


“Masuk.” Perintah Zaydan.


“Persilahkan masuk.”


Tidak lama kemudian, Ibu Suri sudah berjalan dari arah belakang Lucas. Ia tersenyum sumringah melihat Zaydan dan Elivia.


“Nenek.” Ujar Elivia yang langsung memeluk Ibu Suri.


“Kalian sedang membahas apa? Sepertinya serius sekali.” Tanya Ibu Suri sambil berjalan menuju ke sofa.


“Biasalah, Nek.” Zaydan yang menjawab. Senyumnya terlihat aneh. “Kenapa Nenek kesini?”


“Aku mau minta tolong padamu, Dan.” Ujar Ibu Suri mulai membicarakan tujuannya datang ke kantor.


“Ada apa, Nek?”


“Nenek berencana untuk membeli sebuah peternakan kuda di luar negeri. Tapi ada masalah dengan akuisisinya. Apa kau bisa membantu?” Jelas Ibu Suri lagi.


“Nenek membeli peternakan? Untuk apa, Nek?”


“Kau kan tau kalau Nenek sangat suka dengan kuda. Peternakan itu adalah peternakan kuda. Kuda-kuda yang berasal dari peternakan itu selalu berhasil keluar sebagai juara di berbagai pertandingan. Sudah lama Nenek ingin membeli peternakan itu. Tapi pemiliknya tidak pernah mau menjualnya.”


“Kalau pemiliknya tidak mau menjualnya, lantas kenapa Nenek mau membelinya?”


“Nenek dengar, belakangan ini pemiliknya sedang kurangnsehat. Dan dia berniat untuk menjual peternakanya itu. Tapi ia tidak mau menjualnya kepada sembarang orang. Sudah banyak yang menawarnya dengan harga yang tinggi, namun ia belum tertarik.”


“Aku rasa, bukan masalah harga yang sedang menjadi taruhan disini, nek.”


“Nenek juga berfikir begitu. Itulah kenapa Nenek sangat penasaran dengan alasannya. Apa alasan selain harga yang membuatnya pilih-pilih pembeli?”


“Baiklah, aku akan mencoba apa yang bisa ku lakukan dan mencari tau alasannya. Semoga saja aku bisa mengambil hatinya.” Ungkap Zaydan kemudian.


Ibu Suri langsung sumringah mendapatkan jawaban itu dari cucunya. Ia senang membayangkan jika rencananya akan berhasil.


“Elivia, kau temanilah Dan.” Perintah Ibu Suri lagi.


“Apa? Aku Nek? Tapi kurasa, aku tidak akan berpengaruh disana Nek. Tidak ada yang bisa ku lakukan.” Tentu saja Elivia langsungnmenolaknya dengan halus. Ia tidak mungkin pergi ke tempat yang jauh sementara ia harus mengurusi Arina.


“Kau hanya perlu menemani Dan saja. Ikuti apapun yang dia perintahkan. Kalau kau mengkhawatirkan Arina, kau tidak perlu khawatir karna aku yang akan menjaganya selama kau pergi.”


“Tapi Nek.......” Elivia tidak melanjutkan kalimatnya karna Zaydan segera menghentikannya dengan memegang lengannya.


“Baiklah, Nek. Aku akan menyelesaikannya untuk Nenek. Semoga saja berhasil.” Janji Zaydan. Ia tidak peduli mendapat lirikan tajam dari Elivia.


Setelah Ibu Suri pergi, Elivia baru bisa menyalurkan kekesalannya kepada Zaydan. Ia mendengus karna merasa tidak diberi kesempatan untuk mengutarakan alasannya.


“Tidak perlu khawatir. Tidak akan terjadi apa-apa dengan Arina. Kau temani saja aku. Kapan lagi kau bisa pergi ke luar negeri kalau tidak bersamaku?”


“Apa kita hanya akan pergi berdua saja?”


“Tentu saja. Memangnya kita harus mengajak siapa?”


“Bukan begitu. Tapi kenapa aku merasa kalau perjalanan ini seperti bulan madu? Astaga.” Seloroh Elivia.


“Hahahahahha. Kau bisa menganggapnya begitu jika kau mau.”


Elivia hanya mencibir saja. Kemudian ia berjalan kembali kenmejanya. Perasaannya tidak enak tentang hal ini. Entah apa yang akan terjadi kepada mereka disana. Tapi yang jelas, bepergian dengan hanya berdua bersama Zaydan, itu sangat tidak baik untuk hatinya.