DAN, Love Me Or Hate Me

DAN, Love Me Or Hate Me
pilihan Ayah Dan Ibu.



Rumah sakit menjadi tempat pelarian Elivia. Waktu sudah lewat tengah malam saat dia mengendap-endap dan pergi dari istana. Untungnya masih banyak taksi yang lewat sehingga dia memberhentikan salah satu taksi dan pergi ke rumah sakit.


Arina sangat terkejut dengan kedatangan Elivia dengan mata yang sembab seperti habis menangis. Gadis itu baru saja keluar dari kamar mandi dan mendapati sang kakak yang sudah duduk di samping ranjang.


“Kak El?” Tanya Arina.


“Oh, Arin. Kau dari kamar mandi?” Elivia melihat adiknya itu yang sudah sedikit lancar berjalan.


“Kenapa kakak datang ke mari malam-malam begini? Apa terjadi sesuatu? Aku kira kakak belum pulang dari luar negeri.”


“Kakak merindukanmu. Malam ini kakak akan menginap di sini untuk menemanimu.” Ujar Elivia sambil membantu adiknya itu ke atas ranjang.


Arina tau, sepertinya Elivia sedang ada masalah. Tapi ia menahan diri untuk tidak menanyakannya kepada kakaknya itu. Ia menunggu Elivia untuk menceritakannya sendiri.


Elivia menggenggam erat tangan adiknya. Tangan yang dulu kurus itu kini sudah lebih berisi. Tulang-tulang di tangan Arina sudah tidak terlihat menonjol.


“Kakak lega melihatmu, Arin. Kesembuhanmu sudah di depan mata. Aku senang sekali.” Uajr Elivi asambil tersenyum. Tapi yang membuat Arina heran adalah, Elivia justru menangis saat bibirnya sedang tersenyum.


“Sudah terjadi sesuatu kan kak?” Arina tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.


“Tidak, tidak ada apa-apa.” Elivia masih mengelak dan enggan untuk menceritakannya. Ia tidak ingin menambah beban fikiran adiknya. Tapi ia juga butuh untuk menumpahkan segala apa yang sedang ia rasakan agar hatinya sedikit lebih ringan.


“Ada apa, kak?” Desak Arina.


Elivia terdiam sebentar. Ia menatap lurus ke netra Arina sambil mengumpulkan keberanian untuk menceritakan perihal kedua orang tua mereka dan Zaydan.


“Apa kau masih ingat wajah Ayah dan Ibu?” Tanyanya kemudian.


“Tentu saja. Aku tidak akan pernah melupakan wajah mereka. Tapi bukan wajah penuh senyuman yang ku ingat. Melainkan wajah pucat pasi saat mereka di bungkus kantung jenazah dan di masukkan kedalam ambulance.” Lirih Arina.


Ya, Elivia juga tidak bisa melupakan wajah itu.


“Ibu dan Ayah, apa mereka sedang menyaksikan kita dari atas? Apa kira-kira mereka akan kecewa denganku karna aku tidak bisa memberikan kehidupan yang layak untukmu? Apa mereka akan memaafkanku karna aku menikah dengan Zaydan?”


“Kak, El. Sebenarnya kakak kenapa?”


Air mata Elivia semakin deras mengalir. “Ayah dan Ibu, aku sangat merindukan mereka. Mereka bahkan tikak pernah datang ke dalam mimpiku. Apa kau fikir mereka membenciku?”


“Kak, mereka tidak akan mungkin membenci putri yang sangat mereka sayangi. Kenapa kakak berfikir seperti itu?”


“Arin, maafkan kakak. Kalau seandainya kakak tau lebih awal, kakak tidak akan mau menikah dengan aydan.”


“Memangnya kenapa dengan kak Dan, kak?”


“Dan, dialah yang menyebabkan Ayah dan Ibu pergi meninggalkan kita.” Jawab Elivia pada akhirnya.


“Apa? Benarkah itu?” Arina seperti sedang meyakinkan dirinya sendiri lewat pertanyaan itu.


Arina hanya ternganga saja tidak percaya. Selama ini mereka meyakini kalau kejadian itu murni karna kecelakaan dan bukan karna sebab lain.


Lama keduanya terdiam dan sibuk dengan fikrian masing-masing. Mendengar penjelasan kakaknya, Arina bahkan tidka menangis sedikitpun.


“Aku fikir, akan lebih baik kalau aku segera berpisah saja dengan Zaydan.” Lirih Elivia.


“Kak, kalau menurutku, itu adalah pilihan orang tua kita. Kita harus bangga karna punya orang tua yang hebat yang bahkan rela mengorbankan nyawa demi menolong orang lain. Aku bangga pada Ayah dan Ibu. Lagipula, kak Dan saat itu masih kecil. Dia tidak tau apa-apa.”


“Apa kau sedang membela Zaydan sekarang?” Entah kenapa Elivia merasa kecewa dengan reaksi adiknya. Seharusnya Arina marah seperti dirinya. Seharusnya Arina kesal dan menangis seperti dirinya.


Tapi bagi Arina, Elivia bukan hanya sedih perihal orang tua mereka. Tapi juga sedih karna sepertinya kakaknya itu sudah menaruh hati kepada Zaydan.


“Aku tidak membela dia, kak. Tapi aku mencoba untuk mengerti situasinya.”


“Situasi?”


“Kak El, apa kakak menyukai kak Dan?”


Sebuah pertanyaan yang membuat Elivia terhenyak. Air matanya bahkan langsung berhenti mengalir.


Suka? Bahkan bukan sekedar suka. Dia sudah jatuh hati sepenuhnya kepada pria itu. Tapi ia tidak berani menjawab pertanyaan Arina itu dan malah terdiam dan menundukkan kepalanya.


Arina semakin yakin dengan dugaannya.


“Kak, aku bukannya ingin membela kak Dan. Tapi ini semua sudah di tulis oleh takdir. Mungkin rencana tuhan memang mempertemukan kakak dengan kak Dan dengan cara dramatis seperti ini. Agar kak dan membayar semuanya kepada kakak lewat hati dan perasaannya. Aku tau kalau kakak dan kak Dan saling mencintai. Dan aku rasa, Ayah dan Ibu juga tidak akan senang kalau mereka menjadi hambatan bagi cinta kalian berdua. Ayo kita hormati pilihan Ayah dan Ibu, kak.”


Entah kenapa, kata-kata Arina membuatnya sedikit tenang. Apa karna Arina sedang membela cintanya? Apa tidak apa-apa kalau perasaannya itu lebih condong dibandingkan rasa kecewa dan rasa bencinya? Apa tidak apa-apa jika rasa bersalah telah kalah oleh perasaannya kepada pria itu?


Elivia menenggelamkan wajahnya di lengannya yang terlipat di sisi ranjang. Perasaannya sedang berperang. Antara rasa bersalah dan perasaan cinta. Ia merasa menjadi anak kurang ajar karna sudah berani mencintai pria yang menyebabkan orang tuanya meninggal.


“Tapi, bukankah aku tidak seharusnya begini?”


“Tidak apa-apa, kak. Aku yakin kalau Ayah dan Ibu pasti akan berkata hal yang sama sepertiku. Kakak sudah terlalu lama terpaku pada masa lalu. Kita harus tetap melanjutkan hidup dan berjalan ke depan. Kakak harus memperjuangkan cinta kakak, kan?  Jadi ayo keluar dari masa lalu, kak.”


Elivia mengangkat wajahnya dan menatap Arina. Ada rasa bangga karna ternyata adiknya bisa bersikap sebijak ini.


Bijak? Bukankah itu sebuah pembenaran bagi Elivia untuk mengabaikan orang tuanya?


Tidak, mungkin yang dikatakan oleh Arina ada benarnya. Mungkin akan lebih baik kalau dia juga berusaha untuk menghormati pilihan ayah dan ibunya. Tapi rasa bersalah itu masih terasa di sudut  hatinya.


Banarkah tidak apa-apa kalau ia tetap mencintai Zaydan? Ia takut jika rasa bersalah itu akan semakin membesar seiring waktu. Ia takut termakan oleh penyesalan itu.


Elivia merengkuh tubuh adiknya dan memeluknya erat sekali. Ia ingin berbagi rasa penyesalan itu dengan Arina. Setidaknya agar hatinya merasa sedikit tenang dan ringan.


Di penghujung malam itu, Elivia terlelap di sofa tanpa selimut. Ia berusaha menjemput mimpi dan berharap agar bisa bertemu dengan kedua orang tuanya demi mengobati rasa rindunya. Dia ingin meminta maaf pada ayah dan ibunya. Semoga saja mereka bisa bertemu malam ini.