
Setelah kabar pertunangan antara dirinya dan Sadila tersebar, Zaydan tidak ingin mengulur waktu lagi. Ia ingin segera meresmikan pertunangannya itu. Maka dari itu hari ini ia mengajak Sadila untuk mencari gedung yang akan mereka gunakan untuk acara pertunangan mereka.
Sadila sangat antusias dengan hal itu. Ia bertanya kepada teman-temannya dan meminta pendapat mereka.
Sebagian besar dari teman-teman Sadila menyarankan untuk menggelar acara pertunangan itu di hotel JE. Karna belakangan ini hotel JE menjadi tempat resepsi pertunangan dan pernikahan di kalangan artis-artis papan atas. Tentu saja Sadila tidak ingin kalah dengan mereka.
Saat memberitahu keinginannya itu kepada Zaydan, pria itu langsung menyetujuinya begitu saja. Membuat Sadila semakin senang saja.
Zaydan dan Sadila sedang mendengarkan arahan dari pemilik hotel, yaitu Sarah. Mereka sedang berjalan menuju ke ballroom untuk melihat-lihat. Zaydan tidak begitu antusias, ia hanya mengikuti Sadila kemanapun wanita itu ingin pergi. Hatinya sudah mati rasa.
Dan saat ia melihat sesosok gadis yang berdiri mematung tak jauh darinya, hatinya berdesir luar biasa. Ingin rasanya ia berlari dengan sangat kencang dan memeluk gadis itu. Namun entah kenapa kakinya seolah tidak bisa di gerakkan.
Rasa rindu yang sudah menggunung dan siap meledak itu membuat desiran di dadanya semakin kuat. Sungguh, Zaydan ingin berlari secepat kilat menghampiri Elivia.
Wajah tirus Elivia membuat hati Zaydan terasa bagaikan di iris. Apalagi tatapan sayu yang sempat bertemu dengan tatapannya, membuat hatinya terasa seperti di sobek dengan paksa. Bukankah Elivia bahagia setelah berpisah dengannya? Tapi kenapa Zaydan seperti tidak melihat kebahagiaan itu dari sorot mata Elivia? Dimana kebahagiaan itu bersembunyi?
Saat Elivia berjalan melewatinya, ingin ia menghentikan gadis itu. Namun lagi-lagi, tubuhnya tidak bisa bergerak. Ia sepenuhnya membeku disana.
“Sayang, ayo.” Ajakan dari Sadila itulah yang akhirnya mampu mencairkan dirinya.
Zaydan kembali mengikuti Sadila dan Sarah masuk kedalam ballroom. Walaupun kakinya sedang berjalan mengikuti kemana Sadila melangkah, tapi fikirannya sedang di sita oleh Elivia.
Sadila menyadari hal itu. Kini ia sepenuhnya sudah terbakar api cemburu. Ia diam-diam menjadi marah kepada Elivia dan sedang memikirkan sebuah rencana untuk meluapkan kecemburuannya.
“aku akan pergi ke luar sebentar.” Pamit Zaydan saat mereka sedang berada di ruang khusus VVIP.
Sadila yang sedang memilih dekorasi mana yang akan dia gunakan, hanya mengiyakan saja ucapan Zaydan. Padahal ia takut setengah mati kalau Zaydan akan menemui Elivia lagi.
“Boleh aku meminta bantuan?” Ujar Sadila kepada Sarah.
“Tentu saja, nona. Silahkan. Apa yang bisa saya bantu?”
“Bisakah kau memanggil karyawanmu yang bernama Elivia? Kebetulan aku sedikit mengenalnya. Aku ingin dia yang membantuku.” Ujar Sadila memulai aksinya.
“Tentu saja, nona. Silahkan tunggu disini sebentar.” Ujar Sarah kembali.
Sebenarnya Sarah bisa mencium aroma mencurigakan dari Sadila. Namun ia tetap tidak bisa membahayakan hotelnya. Acara pertunangan itu akan berdampak besar bagi hotelnya. Dan ia tidak ingin kehilangan kesempatan baik itu. Sarah kemudian menyuruh karyawan yang sedang menemaninya untuk memanggil Elivia.
Sambil menunggu Elivia datang, Sadila mencoba beberapa gaun yang memang sudah di siapkan oleh pihak hotel.
Tidak lama kemudian, Elivia sudah muncul dengan ekspresi datar dan biasa saja. Membuat Sadila semakin berang. Ia sudah termakan oleh kecemburuan dan ketakutan akan kehilangan Zaydan.
“Ada yang bisa saya bantu, nona?” Sapa Elivia dengan sopan. Ia menyadari kalau Sadila merupakan tamu penting sehingga ia tidak mau merugikan hotel tempatnya bekerja.
“Hai. Lama tidak berjumpa. Bisakan kau membantuku?” Ujar Sadila kemudian.
“Baik, nona.”
“Kalian bsia meninggalkan kami.” Perintah Sadila kepada Sarah dan karyawan yang lain.
Dan mereka benar-benar pergi meninggalkan Sadila berdua dengan Elivia.
“Tolong pasangkan ini.” Perintah Sadila meminta Elivia untuk memasang ornamen di kepalanya. Ia berniat menjadikan Elivia sebagai pesuruhnya dan mempermalukan Elivia di depan Zaydan.
“Au!!” Pekik Sadila tiba-tiba. Membuat Elivia terkejut bukan main. Ia sampai memundurkan tubuhnya.
“Anda tidak apa-apa, nona?” Tanya Elivia panik. Ia berfikir sudah menyakiti kulit kepala Sadila dengan kancing ornamen itu. Padahal ia belum sepenuhnya memasangkannya.
“Apa kau ingin membunuhku?!!” Sadila berang.
“Tidak, nona.”
“Kau sedang ingin balas dendam padaku kan? Iya, kan??!”
“Tidak, itu tidak mungkin nona. Saya tidak punya dendam kepada anda.” Elivia berusaha untuk menenangkan Sadila dan berusaha untuk tidak terpancing. Karna Elivia bisa menebak tujuan Sadila memintanya membantunya.
“Mengelak saja kau ini! Sudah nyata kau menyakitiku!”
“Tidak, nona. Itu sama sekali tidak benar. Saya hanya tidak sengaja.”
Plak!!!!
Sebuah tamparan berhasil mendarat di pipi Elivia. Gadis itu sampai tercengang karna terkejut.
Perih. Itulah yang di rasakan oleh Elivia. Ia memegangi pipinya dan menatap marah kepada Sadila. Elivia sudah terpancing.
“Apa yang baru saja anda lakukan, nona?” Sebuah suara menghentikan Elivia untuk membalas perbuatan Sadila.
Vanye berdiri dengan bersandar di pintu sambil menyilangkan kedua tangannya di dada. Kemudian ia menurunkan tangannya dan berjalan mendekati Sadila dan Elivia. Ia menatap Elivia dan Sadila bergantian. Ternyata Vanye sudah berada disana dari tadi.
“Siapa kau?” Tanya Sadila.
“Sepertinya anda orang terhormat. Namun kenapa sikap anda sama sekali tidak mencerminkan kalau anda wanita terhormat?” Ucapan Vanye membuat Sadila bertambah marah. Padahal tadinya ia kira akan mendapat pembelaan dari Vanye.
“Apa kau bilang?” Ternyata ucapan Vanye sudah melukai harga diri Sadila.
“Saya Vanye. Manajer hotel ini. Dan sepertinya karyawan saya tidak sepenuhnya salah. Apa harus anda menamparnya seperti itu hanya karna hal sepele?”
“Hal sepele katamu? Dia sudah berusaha untuk membunuhku!”
“Hemh.” Vanye hanya tersenyum sinis kemudian merebut ornamen dari tangan Elivia.
“Jadi menurut anda, benda ini bisa di gunakan untuk membunuh?” Tanya Vanye sambil menunjukkan ornamen yang ada di tangannya kepada Sadila. “Entahlah, saya tidak begitu yakin. Ah, bagaimana kalau kita mencobanya saja. Untuk membuktikan apakah benda ini benar-benar bisa di gunakan untuk membunuh?” Imbuh Vanye. Ia menatap Sadila dengan tatapan tajam. Ditambah dengan senyuman sinis yang membuat bulu kuduk Sadila berdiri.
Entah kenapa Sadila merasa terintimidasi oleh Vanye. Ia hanya bsia menatap marah tanpa bisa melakukan apapun.
“Jadi bagaimana? Apa kau memerlukan permintaan maaf dari nona terhormat ini?” Kali ini Vanye bertanya kepada Elivia dengan nada yang jelas mengejek Sadila.
Elivia terdiam sebentar. “Tidak, Bu. Saya baik-baik saja.” Elivia tetap ingin mengakhiri semuanya dengan baik.
“Aku akan melaporkan kalian.” Ancam Sadila pada akhirnya.
“Benarkah? Sepertinya anda ingin acara pertunangan anda berganti dengan kabar murahan. Apa anda benar-benar ingin merusak reputasi anda sebagai calon istri dari seorang apngeran? Bukankah calon anggota keluarga kerajaan harus mempunyai sikap yang lemah lembut dan tidak mudah marah?”
Lagi-lagi, Sadila merasa terpojok dengan ucapan Vanye. Sementara Vanye menyuruh Elivia untuk pergi meninggalkan ruangan itu.