DAN, Love Me Or Hate Me

DAN, Love Me Or Hate Me
Ini Adalah Cara Takdir Mempertemukan Kita.



Cuaca hari ini sedikit mendung, namun udaranya tetap terasa panas. Elivia meraih tas selempangnya dari gantungan yang ada di belakang pintu kamar kemudian sekali lagi merapikan pakaiannya sebelum pergi ke luar rumah.


Kali ini, Elivia memilih untuk pergi dengan menggunakan taksi karna dia belum belajar mengemudikan mobil. Jadilah mobil yang terparkir di depan rumahnya sampai berdebu.


Taksi yang membawa Elivia berhenti di sebuah taman pemakaman mewah khusus anggota kerajaan. Ya, hari ini dia berniat untuk mengunjungi makan ibu suri setelah sekian lama ia berkutat dengan keraguannya sendiri.


Elivia bertanya pada seorang penjaga makam tentang letak makan ibu suri. Penjaga itu segera menunjukkan dan mengantarkan Elivia sampai di depan makan ibu suri. Setelah mengantarkan penjaga makam segera pergi meninggalkan Elivia sendiri.


Lama Elivia memandangi nama dan foto yang terpatri di nisan yang ada di hadapannya. Wajah mendiang ibu suri yang tersenyum di foto itu, membuat Elivia semakin merindukannya.


Setelah menghela nafas dalam, Elivia segera meletakkan bucket bunga yang ia bawa di atas pusara ibu suri.


“Nek, aku datang.” Lirih Elivia setelah meletakkan bucket bunga itu.


“Apa nenek baik-baik saja di sana? Apa nenek sudah bertemu dengan ayah dan ibuku? Tolong sampaikan pada mereka kalau aku baik-baik saja, ya nek.” Imbuh Elivia. Air matanya mulai menetes.


“Maafkan aku, nek. Aku sempat marah pada nenek. Maaf juga aku baru bisa datang sekarang. Ahh, banyak sekali yang ingin kubicarakan pada nenek.” Elivia menghentikan kalimatnya untuk menyeka air matanya.


“Kenapa nenek memberikan semua itu padaku? Bagaimana aku bisa menerimanya saat nenek tiba-tiba pergi dan memberikan semuanya untukku? Nenek benar-benar egois. Tidak bisakan nenek menemuiku dan mengatakkannya langsung padaku? Kenapa harus lewat Widya? Nenek pasti sangat sedih karna tidak bisa menemuiku. Maafkan aku, nek... Hiks.”


Di kejauhan, seorang pria yang mengenakan kemeja berwarna hitam dengan lengan yang di lipat sampai ke siku, nampak serius memperhatikan Elivia. Pria itu juga membawa bucket bunga di tangannya.


Zaydan menghentikan langkahnya sebentar di tempat yang tidak jauh dari Elivia. Ia terus memperhatikan gadis itu sambil menikmati debaran di hatinya yang tiba-tiba muncul. Barulah setelah beberapa saat memperhatikan, Zaydan kembali melanjutkan langkahnya ke makam neneknya.


Elivia yang masih sibuk menyeka airmatanya, tidak mengetahu kedatangan Zaydan yang sudah berdiri di sampingnya. Ia terkejut saat ada seseorang yang mengulurkan sapu tangan padanya. Saat ia menoleh, barulah ia terkejut mendapati Zaydan yang sudah berdiri disana.


“Seka air matamu. Nenek tidak akan suka melihatnya.”


Alasan Zaydan membuat Elivia menerima sapu tangan dari pria itu.


Sementara Elivia sibuk dengan air matanya, Zaydan merangsek maju mendekati makam neneknya. Ia segera meletakkan bunga yang ia bawa tepat di sambing bucket bunga yang di bawa Elivia.


“Aku datang lagi, nek. Apa nenek sudah merindukanku?” Lirih Zaydan.


Elivia hanya memperhatikan saja Zaydan yang sedang mencurahkan kerinduannya itu. Ia seperti bisa merasakan kesedihan Zaydan lewat mata pria itu.


Pemakaman yang berada di atas bukit menampilkan pemandangan indah yang terbentang di depan mata. Elivia duduk di depan makam ibu suri sambil memandangi pemandangan yang tersaji di hadapannya. Tidak lama kemudian, Zaydan ikut duduk di samping Elivia.


“Kau baik-baik saja?” Kali ini Elivia yang lebih dahulu membuka suara.


“Tidak.” Jawab Zaydan singkat. Entah kenapa ia tidak ingin menutupi kesedihannya saat di depan Elivia.


“Em. Terimakasih.” Jawab Zaydan.


Mereka sama-sama tidak tau ada dua hati yang sedang bergemuruh karna kerinduan.


“Kau? Baik-baik saja?” Zaydan kembali bertanya.


“Ya, beginilah.”


Masih ada suasana canggung di antara mereka. Keduanya kompak memandang jauh ke depan sambil menghela nafas.


“Jadi bagaimana? Apa kau merasa jauh lebih baik setelah pergi dariku? Apa kau sudah berhasil membenciku?” Pertanyaan Zaydan itu sontak membuat Elivia menoleh padanya.


Elivia mengernyitkan kening dengan menatap pria yang tetap memandang lurus ke depan itu. Entah kenapa memandang wajah Zaydan sedekat ini, membuat mata Elivia berembun. Sudah lama sekali ia tidak memandang wajah itu dengan dekat seperti ini.


“Tidak. Ku fikir cara melupakanmu adalah dengan berlari menjauh darimu dan menciptakan jarak yang sejauh-jauhnya. Tapi aku lupa, kalau segala tentangmu bersemayam di ingatan yang selalu kubawa kemana-mana. Aku berharap kalau waktu akan menyembuhkan lukaku, tapi ternyata waktu tak pernah bisa menyembuhkan apapun. Aku hanya di paksa untuk terbiasa dengan luka yang masih tersisa.” Lirih Elivia. Ia berusaha sekuat tenaga agar air matanya tidak tumpah.


Entah kenapa dia jadi gadis cengeng setelah bertemu dengan Zaydan. Padahal dulu dia jarang sekali menangis. Padahal dulu dia adalah gadis yang kuat dan melewati rintangan apapun tanpa meneteskan airmata.


“Apa kau masih menganggap kalau pertemuan kita adalah sebuah kesalahan? Pernahkah kau berfikir kalau ini semua bukan sebuah kesalahan? Melainkan cara takdir mempertemukan kita?”


Elivia terdiam. Ia bahkan tidak pernah berfikir ke arah sana. Benarkah semua ini adalah ulah takdir untuk mempertemukan keduanya?


“Aku pernah berfikir, jika mencintaimu adalah luka, tapi kenapa meninggalkanmu tidak membuatku bahagia? Apa aku benar-benar jatuh cinta padamu atau bagaimana? Tapi kenapa cinta itu terasa sangat menyakitkan?”


“Aku juga merasakan hal yang sama, El. Kau adalah orang pertama yang membuatku jatuh cinta sedalam ini, meskipun sekarang sudah ada penggantimu, namun tidak ada yang bisa menggantikan posisimu di sini, El.” Ujar Zaydan sambil memegangi dadanya. Ia menatap pias kepada Elivia.


Saat pandangan mereka bertemu, debaran di hati mereka semakin menjadi-jadi. Kalau mereka tidak menahan diri, mereka pasti sudah saling tenggelam dalam pelukan masing-masing.


“Tidak bisakah kita berhenti untuk saling menyakiti? Aku benar-benar tersiksa, El. Jalanku benar-benar kehilangan arah. Aku bahkan tidak tau apa yang harus kulakukan sekarang. Tanpamu, dan tanpa nenek. Aku tidak tau bagaimana aku akan melanjutkan hidupku. Aku merasa seperti sedang berdiri di puncak gunung yang hancur berkeping-keping. Aku takut terkubur, namun aku tidak tau caranya untuk menyelamatkan diri.”


Zaydan mencurahkan seluruh apa yang dia rasakan. Dalam hati kecilnya, ia ingin meminta Elivia untuk kembali padanya, namun ia masih terlalu pengecut untuk mengutarakannya. Banyak hal yang menjadi pertimbangan. Termasuk perihal Sadila.


“Kan ada Sadila. Kenapa kau bingung begitu?” Sebenarnya Elivia malas memabahas perihal itu. Tapi ia sudah tidak tau harus menjawab apa. Lagipula ia sedang kesulitan untuk mengendalikan debaran di hatinya saat ini.


“Kan sudah ku bilang, tidak ada seorangpun yang bisa menggantikanmu disini.” Zaydan kembali menunjuk ke arah dadanya. Ia menatap Elivia seolah ingin menegaskan akan hal itu.


Elivia menghela nafas dalam. Ia membuang wajahnya ke depan karna merasa sudah tidak sanggup untuk menatap Zaydan lebih lama lagi.