DAN, Love Me Or Hate Me

DAN, Love Me Or Hate Me
Pusat Perhatian.



Elivia sedang bersiap-siap mematut dirinya di depan cermin. Hari ini, mereka berencana untuk mengunjungi makam ibu suri. Sedangkan Zaydan sudah selesai sejak tadi dan sedang memperhatikan istrinya dari pintu kamar ganti. Ia bersedekap dengan tatapan yang tidak lepas dari Elivia.


“Sudah belum?” Tanya Zaydan tidak sabar.


“Tunggu. Sebentar lagi.” Jawab Elivia. Ia terus memperbaiki rambutnya yang sebenarnya sudah rapi.


“Kenapa lama sekali? Kau itu sudah cantik.” Puji Zaydan di tengah rasa kesalnya karna Elivia tak kunjung selesai berdandan.


“Sedikit lagi.”


“Astaga. Kenapa wanita selalu lama sekali kalau berdandan? Padahal sudah terlihat sempurna begitu?”


Mendapat komentar begitu, Elivia langsung melirik tajam kepada Zaydan. Entah kenapa ia tersinggung mendengarnya. Membuat moodnya hilang seketika.


“Ah, bukan begitu maksudku, sayang. Kau itu sudah terlihat cantik. Dandananmu sudah sempurna. Aku tidak ingin kau lebih cantik dari ini dan membuat pria lain melirikmu.” Zaydan beralasan untuk meredakan emosi Elivia. Ia berjalan mendekati istrinya itu dan langsung memeluknya dari belakang.


Padahal jantungnya sudah berdegup kencang sekali. Ia tahu arti dari lirikan Elivia barusan. Ia merasa takut karna sudah salah bicara dan menyinggung hal paling sensitif bagi wanita.


Untungnya rayuan Zaydan itu berhasil. Elivia tidak jadi melanjutkan marahnya dan malah tersenyum kepada Zaydan. Barulah Zaydan bisa menghela nafas lega.


“Sudah, ayo.” Ajak Elivia yang langsung pergi mendahului Zaydan.


“Huffhhh...” Zaydan mengikuti Elivia dan langsung menggenggam tangannya.


Di luar istana, Lucas dan beberapa anak buahnya sudah bersiap untuk mengantarkan Zaydan dan Elivia. Elivia sempat bingung melihat ada dua mobil yang sudah siap di depan istana. Namun ia hanya mengikuti saja Zaydan yang memintanya masuk ke dalam salah satu mobil.


Saat mobil keluar melewati gerbang istana, barulah Elivia mengerti kenapa kali ini mereka menggunakan pengawalan yang lebih ketat. Karna mobil mereka langsung saja di serbu oleh awak media yang memang sudah menunggu di sana. Bahkan untuk beberapa saat, mobil yang di tumpangi oleh Zaydan dan Elivia sampai tidak bergerak karna terhalang oleh mereka. Tapi untungnya anak buah Lucas dengan sigap menghalau para pencari berita itu hingga mobil Zaydan dan Elivia bisa kembali melanjutkan perjalanan


“Apa itu?” Tanya Elivia penasaran kenapa ada banyak sekali wartawan disana.


“Mulai sekarang, kau harus bisa menyesuaikan diri dengan keadaan seperti ini. Menjadi anggota keluarga kerajaan sangat tidak mudah. Banyak hal yang harus di perhatikan. Sedikit saja kau salah bersikap, akan menjadi perhatian seluruh negeri.”


“Bagaimana aku bisa begitu? Ahhh,, sepertinya ini akan sulit.”


“Tidak apa-apa. Banyak orang yang akan mengajari dan membimbingmu nanti. Dan tentu saja akan ada aku yang selalu di sampingmu.” Hibur Zaydan.


Entahlah, itu terdengar tidak mudah bagi Elivia.


Mobil mulai melaju menuju ke taman pemakaman di mana ibu suri di makamkan. Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai di sana.


Tetapi setelah sampai di pemakaman, Elivia kembali di buat terkejut dengan adanya sosok raja dan ratu yang juga baru datang dan turun dari mobil. Kemudian di susul oleh putra mahkota dan Helen, istrinya.


Di sekitar mereka, sudah berkerumun orang-orang yang ingin melihat keluarga kerajaan dari dekat walaupun di halangi oleh para pengawal kerajaan. Tidak terkecuali beberapa reporter kerajaan yang memang di tugaskan untuk meliput acara  hari ini.


“Ada apa ini? Kenapa Yang Mulia Raja dan Ratu ada disini? Aku kira hanya kita yang datang.” Bisik Elivia.


Zaydan tersenyum. “Aku juga tidak tau kalau ternyata mereka juga akan kemari. Putra Mahkota baru memberitahuku tadi pagi.” Zaydan balas berbisik.


“Kenapa tidak memberitahuku?”


Zaydan mengajak Elivia untuk menghampiri raja dan ratu juga putra mahkota dan istrinya.


“Yang Mulia Ratu, bagaimana kabar anda?” Sapa Elivia sambil membungkuk hormat kepada ratu.


“Oh, El. Kabar kami baik-baik saja. Selamat datang kembali di keluarga kami. Aku senang sekali mengetahui kau sudah kembali bersama dengan Dan.” Ujar ratu yang langsung memeluk erat Elivia.


“Benar, El. Apa kau tau betapa kami sangat kehilanganmu saat kau memutuskan pergi dari istana?” Timpal putri mahkota yang nampak tidak menggendong bayi tersebut.


“Oh, maafkan saya, Putri. Pasti saya sudah membuat anda khawatir. Tapi, dimana putri kecil?” Tanya Elivia kemudian karna tidak melihat putri Helena.


“Oh, kami tidak membawanya. Dia ada di istana bersama dengan pengasuhnya.” Jelas putri mahkota.


“Ayo, kita pergi.” Ajak raja kepada seluruh keluarganya.


Dan semua anggota keluargapun berjalan mengikuti raja dan ratu yang berjalan paling depan. Sementara Zaydan dan Elivia berjalan paling belakang dengan Zaydan yang terus menggenggam erat tanagn Elivia.


Sebenarnya Elivia malu karna sorot kamera terus saja mengarah kepadanya dan Zaydan. Namun ternyata karna itulah Zaydan enggan melepaskan tangannya.


“Dan, tanganku berkeringat.” Bisik Elivia berharap Zaydan mau melepaskan tangannya.


“Sama... Aku juga.” Balas Zaydan juga sambil berbisik. Namun ia tetap tidak mau melepaskan genggaman tangannya.


“Kalau begitu lepaskan tanganku.” Bisik Elivia lagi. Rasanya sangat tidak nyaman karna tangannya terasa lengket.


“Tidak mau. Di saat-saat seperti ini, kita harus menunjukkan kemesraan kita pada mereka.” Balas Zaydan masih dengan berbisik.


“Apa hubungannya? Menurutku ini malah seperti pura-pura karna ada kamera.”


Tiba-tiba Zaydan menghentikan langkahnya dan menghadap Elivia. Ia menatap Elivia dengan tatapan dalam dan tegas tapi penuh ketulusan. Elivia sampai tercengang dan menjadi salah tingkah karna kini mereka semakin menjadi pusat perhatian dari orang-orang yang ada disana.


“Kenapa berhenti?” Tanya Elivia kemudian.


Zaydan yang semakin mendekatkan wajahnya terus menatap dalam ke netra Elivia. “Aku ingin sekali menciummu.” Lirih Zaydan lagi. Membuat Elivia semakin membelalakkan matanya.


“jangan lakukan. Atau kau akan menerima akibatnya.” Ancam Elivia.


Gila saja jika Zaydan menciumnya di tempat umum seperti itu dengan banyak pasang mata yang menyaksikan. Ditambah dengan kamera yang sudah pasti akan merekam adegan itu.


“Hahahahahahahaa. Ayo.” Ajak Zaydan melanjutkan langkahnya dan menyusul raja dan ratu yang sudah jauh di depan.


“Kau ini mengejutkanku saja.” Keluh Elivia merasa kesal karna di kerjai oleh Zaydan namun tetap berusaha untuk mengimbangi langkah pria itu.


Zaydan hanya tersenyum karna berhasil membuat wajah Elivia merona di tengah terpaan sinar matahari.


“Aku mencintaimu.” Bisik Zaydan kemudian dengan senyum yang terus mengembang di wajahnya dengan pandangan tetap lurus ke depan.


Sementara Elivia tambah tersipu saja. Ia mengeratkan gandengannya di lengan pria itu karna merasakan jantungnya yang sedang melompat-lompat kegirangan. Debaran itu semakin sulit di kendalikan. Kalau saja mereka tidak sedang berada di tempat umum, mungkin Elivia sudah melompat kedalam pelukan pria itu dan meraup bibirnya dengan beringas.