DAN, Love Me Or Hate Me

DAN, Love Me Or Hate Me
Pembalasan.



Elivia keluar dari ruangan itu dan pergi kekamar mandi. Ia bisa melihat kalau pipinya nampak sedikit merah. Tamparan Sadila lumayan keras dan terasa sakit.


Kemudian ia membasuh mukanya untuk mendinginkan emosinya. Setelah itu Elivia kembali menatap wajahnya di cermin. Tapi ia tidak merasa emosinya sudah turun. Yang ada kemarahannya semakin memuncak jika mengingat kejadian yang baru saja menimpanya.


Saat Elivia keluar dari kamar mandi, ia belum berhasil meredakan emosinya. Lalu iapun berjalan dengan langkah cepat untuk kembali kedalam ballroom. Ia melihat Sadila yang baru saja keluar dari ruangan vitting dan langsung menghampirinya.


Plak!!!!


Kali ini, tamparan dari Elivia yang mendarat di pipi Sadila.


“Kau?!” Pekik Sadila yang terkejut karna mendapatkan serangan tiba-tiba itu. Ia melotot kepada Elivia sambil memegangi pipinya.


Sementara Sarah dan Vanye yang ada di belakang Sadila ikut terkejut dengan keadaan itu. Mereka kompak ternganga dan menutup mulut mereka.


“Bagaimana? Sakit kan? Memang, karna saya melakukannya lebih keras dari anda sebelumnya. Anda salah memilih berurusan dengan saya. Saya adalah tipe orang yang akan membalas perbuatan apapun yang saya terima. Karna saya tidak suka berhutang. Jadi saya mengembalikan tamparan anda.”


Sadila yang dengan susah payah di bujuk dan di tenangkan noleh Sarah dan Vanye, kini kembali marah. Bahkan terlihat lebih marah dari sebelumnya. Ia sudah bersiap mengangkat tangan dan akan kembali menampar Elivia.


“Apa yang kau lakukan?!!!!”


Teriakan dari Zaydan sontak membuat semua yang ada di dalam ballroom menoleh padanya. Zaydan yang berjalan dengan aura kemarahan langsung menghampiri Elivia. Sedangkan Sadila tidak jadi melayangkan tamparan keduanya karna ada Zaydan disana.


“Kau baik-baik saja? Apa kau terluka?” Tanya Zaydan kepada Elivia dengan ekspresi penuh kekhawatiran.


Membiarkan Sadila dengan kemarahan yang semakin menjadi karna Zaydan lebih memperhatikan Elivia di bandingkan dirinya.


Sementara dua penonton yang lain hanya saling pandang saja. Belum bisa mencerna keadaan yang sebenarnya. Sarah dan Vanye heran kenapa pangeran Zaydan lebih mengkhawatirkan Elivia dibandingkan dengan calon istrinya?


Elivia menatap jengah kepada Zaydan kemudian menampis tangan Zaydan yang ada di bahunya, lantas ia pergi dari ballroom begitu saja. Sama sekali tidak memikirkan jika pekerjaannya sedang terancam. Yang penting dia puas karna sudah membalaskan tamparannya.


Yang tidak disangka Elivia adalah, ternyata Zaydan mengejarnya keluar dari ballroom dan mengikutinya sampai ke taman samping hotel.


Elivia terkejut saat Zaydan menarik pergelangan tangannya.


“Apa kau baik-baik saja? Kau tidak terluka, kan?” Zaydan mengulangi pertanyaannya. Ia memperhatikan pipi Elivia yang masih terdapat bekas merah disana. Tanpa dia Sadari, tangannya sudah hampir menyentuh pipi Elivia kalau saja gadis itu tidak mengalihkan wajahnya.


“Sepertinya calon istri anda yang membutuhkan perhatian anda saat ini, Yang Mulia.”


“El....”


Panggilan itu. Panggilan yang sangat Elivia rindukan. Ia mencengkeram samping bawahannya untuk mengendalikan dirinya agar tidak menghambur kedalam pelukan pria itu.


“Saya baik-baik saja. Pergilah Yang Mulia.” Usir Elivia.


“Tapi kenapa aku tidak melihat kalau kau baik-baik saja? Itu sakit, kan? Pipimu, bukankah itu terasa sakit?”


“Siapa yang peduli itu sekarang?!” Teriak Zaydan. Ia sudah tidak sabar menghadapi keras kepalanya Elivia. Ia prustasi memikirkan betapa ia sangat mengkhawatirkan gadis itu. Namun kenapa Elivia sepertinya tidak peduli?


Kali ini Elivia tidak lagi menanggapi Zaydan. Ia menghela nafas kasar kemudian pergi dari hadapan pria itu.


Zaydan tidak lagi menyusul Elivia. Ia mengacak rambutnya dengan kasar lalu berteriak dengan sangat kuat. Ia melampiaskan seluruh kekesalannya. Tidak peduli kalau beberapa tamu dan karyawan hotel terkejut dengan tingkahnya itu.


Dengan masih dalam suasana hati yang prustasi, Zaydan kembali ke dalam ballroom dan mendapati kalau Sadila masih berada disana bersama dengan Sarah dan Vanye. Sadila sudah mengganti pakaiannya dengan yang semula dan sedang duduk bersilang tangan di sebuah kursi.


“Kau baik-baik saja?” Kali ini Zaydan memaksa dirinya untuk terlihat mengkhawatirkan Sadila. Padahal sejujurnya dia sama sekali tidak peduli.


Sadila menatap Zaydan dengan tatapan marah dan kecewa. Nampak sekali kekesalan dari raut wajahnya.


“Maafkan kami atas apa yang terjadi, Yang Mulia. Kami akan lebih mendisiplinkan karyawan kami lagi. Kami akan memberi sanksi yang pantas untuk karyawan kami. Dan untuk membayar semua kerugian anda, kami akan menggratiskan seluruh biaya jika anda tidak membatalkan acaranya dan tetap memilih hotel kami.” Ucap Sarah dengan hati-hati. Ia tidak peduli kalau Vanye menyenggol lengannya untuk memperingatkannya kalau temannya itu sama sekali tidak setuju dengan idenya.


Dan ucapan Sarah itu menyadarkan Zaydan kalau pekerjaan Elivia sedang terancam. Jadi ia segera menyanggahnya.


“Tidak. Tidak perlu. Kami akan tetap menggelar pertunangan kami di sini. Dan kami tetap akan tetap membayar seluruh biayanya sebagaimana seharusnya. Banarkan, Dila?”


Sadila hanya melengos saja sambil mengangguk. Di satu sisi ia sangat marah kepada Zaydan. Tapi di sisi lain, ia tidak berani membantah pria itu karna takut di putuskan.


“Masalah ini, tolong jangan di besar-besarkan lagi. Aku tidak ingin media tau tentang hal ini.” Imbuh Zaydan.


Tentu saja hal itu membuat Sarah dan Vanye sumringah. Tidak menyangka kalau Zaydan memilih untuk menutupi masalah ini.


“Kalau begitu terimakasih banyak, Yang Mulia dan nona Sadila. Kami akan berusaha untuk memberikan yang terbaik dan mengerahkan seluruh kemampuan kami agar acara bahagia anda berjalan dengan sempurna.” Janji Sarah.


Di sisa sore itu, Sadila dan Zaydan kembali melanjutkan memilih dekorasi dan gaun yang akan mereka kenakan di acara penting itu.


Kini Sadila bisa bernafas lega karna ternyata Zaydan tetap melanjutkan pertunangan mereka. Padahal awalnya ia sudah khawatir kalau Zaydan akan kembali kepada Elivia setelah pertemuan mereka hari ini.


Dan Elivia, kembali kepada aktifitasnya bekerja. Ia tidak mau menjawab walau Widya sudah bertanya berkali-kali tentang alasan kenapa ia di panggil oleh Sadila.


“Tapi pipimu merah, apa dia menamparmu?” Widya masih belum menyerah untuk mengulik kisahnya.


“Tidak. Ini cuma gatal saja. Jangan di lebih-lebihkan.” Dan Elivia masih berusaha untuk mengelak.


Jadilah Widya mengalah dan tidak menanyakannya lagi. Walaupun ia penasaran setengah mati.


Setelah selesai bekerja, Elivia di panggil ke ruangan Sarah. Awalnya ia berfikir kalau ia sudah pasti akan di pecat dari pekerjaannya. Tapi ternyata Sarah hanya memperingatkannya saja agar hal seperti ini tidak terjadi lagi.


“Terimakasih banyak, Bu. Terimakasih banyak.” Ujar Elivia kemudian keluar dari ruangan itu dengan hati yang lega.


Itu semua juga tidak lepas dari bujukan Vanye. Sang manajer yang merupakan sahabat baik dari pemilik  hotel itu masih mendengarkan saran dari Vanye setelah Vanye menceritakan semua yang dia lihat.