DAN, Love Me Or Hate Me

DAN, Love Me Or Hate Me
Makan Malam Romantis?



Di perjalanan pulang, Elivia memilih untuk beristirahat sambil menunggu mereka sampai di istana. Ia menyandarkan kepalanya di jendela mobil.


“Kenapa kau diam saja?”


“Memangnya aku harus bagaimana?” Tanya Elivia dengan masih di posisi yang sama.


“Kenapa tadi kau lama sekali?”


“Kenapa tidak kau tanyakan saja kepada kekasihmu? Dia sudah menipuku.”


“Apa maksudmu?”


“Sudahlah, aku tidak ingin membahasnya. Tadi aku bertemu Kafa sebentar.”


“Kafa? Kenapa dia datang menemuimu?”


“Entahlah, mungkin dia merindukanku.” Seloroh Elivia tiba-tiba. Membuat mata Zaydan terbelalak. “Sudahlah, jangan menggangguku. Aku.ingin istirahat.”


Zaydan mendengus kecil sambil membenarkan sandarannya..Suasana kembali hening. Saat itulah Zaydan di kejutkan oleh suara perut Elivia.


“Apa itu? Apa kau lapar? Kau belum makan?”


“Memangnya aku punya waktu untuk makan? Aku bahkan lupa kalau aku sedang kelaparan.”


“Lucas, pesankan tempat private untukku.” Ujar Zaydan kepada Lucas.


“Baik, Yang Mulia.”


Lucas segera menghubungi seseorang, kemudian mengubah tujuan. Sedangkan Elivia nampak tidak peduli.


Setelah beberapa saat, mereka berhenti di sebuah.restoran  yang sudah nampak sepi. Bahkan tidak ada satupun pengunjung disana. Sepertinya restoran itu sudah tutup sejak tadi.


“Dimana ini?” Tanya Elivia sambil mengedarkan pandangannya.


“Sudah, jangan banyak tanya, ikuti saja aku. Aku akan.mentraktirmu jadi kau bisa makan sepuasnya.” Jawab Zaydan yang langsung masuk ke dalam restoran saat Lucas membukakan pintu untuknya.


“Apa ini restoran? Kenapa sepi sekali?”


“Karna restoran ini sebenarnya sudah tutup sejak sore hari, Nona. Tapi karna Yang Mulia Dan yang meminta, mereka bersedia untuk buka lebih lama.”


“Oooo...” Jawab Elivia sambil mengangguk-angguk. Ia menyadari betapa besar pengaruh pangeran itu.


“Silahkan duduk, Nona.” Lucas mempersilahkan Elivia untuk duduk.


“Katakan, kau mau makan apa?” Tawar Zaydan.


“Apa saja. Perutku bisa mentolerir semua makanan yang masuk.” Jawab Elivia santai.


Zaydan mengangguk kepada Lucas yang segera pergi ke dapur untuk memesankan makanan.


Elivia merebahkan tubuhnya di sandaran sofa. Gadis itu benar-benar berbuat sesuka hatinya walaupun ia sedang berhadapan dengan seorang pangeran.


“Apa kau cemburu?” Ucap Zaydan tiba-tiba.


“Apa maksudmu?”


“Kenapa tadi kau mengendap-endap begitu? Kau pasti sedang cemburu melihatku bersama dengan Sadila.


“Apa kau sudah gila? Kenapa aku harus cemburu? Seperti tidak ada kerjaan saja.” Elak Elivia.


“Tapi benarkah tadi dia menipumu? Jadi tidak ada barang di resepsionis? Tapi kenapa dia melakukan itu?”


“Kenapa kau malah bertanya padaku? Aku ini korban. Yaa mungkin dia yang cemburu karna aku berada dalam satu ruangan bersama dengan kekasihnya."


Zaydan terdiam. Entah kenapa dia tidak suka mendengar Elivia berkata seperti itu.


Tidak lama kemudian, makanan telah siap di sajikan. Zaydan.benar-benar memesan banyak sekali makanan. Elivia sampai berfikir bagaimana cara menghabiskannya.


Elivia segera mengambil menu yang ada dihadapannya, sebuah steak yang langsung menarik perhatian begitu di sajikan. Hidangan itu nampak mendominasi.


“Apa tidak ada makanan pembuka? Aku kira orang-orang seperti kalian sangat mempedulikan etika makan.”


“Sudah tidak ada waktu. Kau bilang sudah lelah dan lapar? Apa kau masih bisa menunggu sampai makanan penutup di sajikan?”


“Memang sih, aku tidak akan bisa menunggu selama itu.” Ujar Elivia yang masih mencoba memotong daging steak.


Tiba-tiba fikiran jahil muncul di benak Elivia. Ia berpura-pura seolah kesulitan memotongnya. Ia ingin tau reaksi Zaydan saat melihatnya seperti itu. Ia tersenyum samar saat teringat sebuah adegan dalam film. Dimana si pria akan mengambil alih piring dan memotongkan daging untuk si wanita.


Tapi rasanya itu tidak mungkin. Mengingat sifat Zaydan yang selalu acuh padanya.


Tidak seperti yang Elivia duga, Zaydan benar-benar mengambil piring itu dan mengiriskan dagingnya, kemudian kembali memberikannya kepada Elivia.


Apa ini? Apa dia sedang bersikap seperti pria romantis? Apa ini termasuk makan malam romantis bersama pasangan? Astaga. Aku pasti sudah gila karna memikirkan itu. Batin Elivia.


“Kenapa malah melamun? Cepat makan.”


“Kau tidak makan?”


“Kau makanlah untukku.”


“Hah?? Bagaimana bisa begitu?”


Zaydan kembali acuh dan membiarkan Elivia makan sepuas hatinya. Pria itu hanya memakan sedikit salad buah untuk mengganjal perutnya.


Perut Elivia terasa sangat kenyang. Ia hampir memakan semua makanan yang ada di meja. Zaydan bahkan sampai tidak tau harus bilang apa. Ternyata nafsu makan gadis itu lumayan besar. Padahal kalau di istana Elivia selalu makan secukupnya saja.


“Ah, kenyang. Terimakasih makanannya.”


Mereka telah selesai makan. Dan sekarang sedang berada di dalam mobil yang akan membawa mereka pulang ke istana.


Perut kenyang merupakan kelemahan bagi Elivia. Karna ia akan mudah sekali mengantuk. Saat ini ia sudah berkali-kali menguap. Sampai akhirnya ia tidak bisa lagi menahan kantuknya.


Perlahan Elivia mulai terlelap. Ia menyandarkan kepalanya di jendela untuk menopang tubuhnya.


Zaydan menyadari hal itu. Ia menunggu gadis itu sampai benar-benar pulas sebelum memindahkan kepala Elivia dengan hati-hati ke pundaknya. Ia bahkan sempat mengelus pipi mulus dan bibir ranum milik Elivia.


Gadis itu semakin merasa nyaman. Sehingga membuat tidurnyansemakin pulas saja.


Mobil yang membawa mereka sudah sampai di istana. Sementara Elivia masih saja tertidur.


“Apa saya harus membangunkan nona Elivia, Yang Mulia?” Tawar Lucas.


“Tidak, biar aku saja yang menggendongnya.” Zaydan tidak  berniat untuk membangunkan Elivia, ia justru membopong tubuh gadis itu dengan hati-hati dan membaringkannya di


kamar. Sementara Lucas mengikutinya dari belakang dan membawakan barang-barang Zaydan dan Elivia.


Elivia hanya melenguh kecil saat tubuhnya sudah terbaring sempurna di atas tempat tidur. Zaydan menyelimutinya dengan perlahan. Ia tidak peduli jika masih ada Lucas di sana yang sedang menaruh tas milik Elivia ke atas meja.


“Apa menurutmu aku terlalu jahat padanya?”


“ya?” Lucas tidak mengerti.


“Aku benar-benar ingin membuatnya senang tinggal disini. Aku ingin membuatnya tetap berada di dekatku. Tapi aku tidak tau, apakah menjaganya untuk tetap di sisiku adalah yang terbaik baginya. Aku sama sekali tidak ingin lagi menyakiti hatinya.” Ujar Zaydan. Entah ucapannya itu ditujukan kepada siapa. Yang jelas hanya ada Lucas yang ada disana. Sementara Zaydan berbicara tanpa menoleh kepada Lucas.


“Apa anda sudah mulai menyukai nona Elivia?”


Suka? Zaydan bahkan tidak tau apakah ia sudah mulai menyukai gadis itu. Tapi yang jelas, ia merasa kosong jika Elivia tidak ada di dekatnya. Dia mulai panik saat gadis itu menghilang dari pandangannya. Apa dia menyukainya?


Zaydan kembali memperhatikan wajah Elivia yang terlelap. Nampaknya dia nyenyak sekali sampai tidak merasa terganggu dengan kehadiran Zaydan.


“Kalau boleh saya berbicara, sepertinya anda sudah tau jawaban atas pertanyaan anda, Yang Mulia. Jadi saya tidak perlu menjawabnya. Saya ikut senang jika anda merasa seperti itu. Kalau begitu, saya permisi dulu.”


Zaydan tidak mempedulikan Lucas yang sudah keluar dari kamarnya. Ia hanya terus menatap wajah yang perlahan mampu membuat hatinya berdesir itu, lama.