
Elivia sedang menyandarkan tubuhnya disofa, memikirkan tentang sikap kasar pangeran Zaydan padanya. Tiba-tiba ponselnya berdering tanda ada sebuah pesan yang masuk.
“El? Dimana kamu?” Tanya Kafa.
“Dirumah,,, ada apa?”
“Kenapa tidak memberitahuku kalau kamu sudah pulang?”
“Maaf,, kulihat kau sedang sibuk, jadi aku pulang tanpa berpamitan padamu.”
“Yaaahhhh.....”
“Maaf.”
“Baiklah, selamat malam, selamat istirahat El.”
Dan Kafa pun mengakhiri percakapan itu. Elivia merasa sangat lelah. Tenaganya terkuras habis karna hari ini restoran lumayan kebanjiran pelanggan. Belum lagi saat dia meronta mencoba melepaskan diri dari cengkeraman Zaydan. Lama kelamaan Eliviapun tertidur disofa.
Zaydan yang baru selesai mandi mendapati Elivia yang sudah tertidur pulas disofa. Perlahan dia mendekatinya dan memperhatikan wajah lelah Elivia dari dekat. Dia terus memandangi wajah itu sampai lama. Setelah puas memandangi, Zaydan pun berpakaian dan keluar dari kamar. Sebelumnya dia sudah menyelimuti tubuh Elivia dengan selimut.
“Lucas, antar aku ke hotel.” Perintah Zaydan kepada asistennya.
Lucaspun mengantarkan tuannya itu ke hotel. Sesampainya di kamar hotel, ternyata Sadila dan Sophia sudah ada disana. Kedua wanita itu tersenyum saat Zaydan datang.
“Kau sudah datang, Dan?” Sadila segera menyambut dan bergelayut dilengan Zaydan.
“Kenapa kalian disini?” Tanya Zaydan dengan nada malas. Dia lelah, dia ingin istirahat.
“Dan, Ibu Suri memberitahuku, besok dia akan mengadakan rapat umum pemegang saham dan membahas masalah perusahaan. Sudah dipastikan kalau kau akan menjadi pemilik penuh. Mama sangat senang, Dan.” Ucap Sophia dengan mata berbinar.
“Selamat ya sayang.” Ucap Sadila tak kalah senang.
Zaydan tidak menanggapi. Wajahnya berubah dingin. Entah kenapa dia merasa sangat terganggu dengan Elivia.
“Kalian pulanglah, aku lelah, ingin istirahat.”
“iya, baiklah. Besok adalah hari yang penting.
Istirahatlah.” Pesan Sophia. Kedua wanita itupun meninggalkan Zaydan.
“Tante, kenapa sikap dan dingin begitu?” Tanya Sadila.
“Dingin bagaimana? Mungkin dia hanya lelah.”
“Bagaimana wanita itu, Tante?”
“Kamu jangan khawatir Sadila sayang. Selama menikah dan tidak pernah tidur dirumah. Hubungan mereka terus memburuk setiap harinya.” Sadila merasa senang dengan penjelasan Sophia.
**********
Hari ini hari yang sibuk bagi Ibu Suri dan Zaydan juga Sophia. Tapi tidak dengan Elivia. Hari ini dia libur bekerja, jadi dia berencana
menemani Arina dirumah sakit. Berkali-kali Ibu Suri menawarkan Elivia untuk ikut pergi keperusahaan. Segala rayuan sudah dilancarkan oleh Ibu Suri tapi Elivia tak berkutik. Dia sama sekali tidak tertarik dengan hal itu.
Elivia menaiki bis menuju ke kostnya untuk mengambil beberapa baju ganti untuk Arina. Saat sampai, dia melihat Kafa yang sudah ada didepan kostnya. Pria itu sedang berdiri di samping mobilnya sambil memegang ponselnya.
“Kafa?” Panggil Elivia.
“Elivia! Dari mana kamu? Kenapa dari luar?” Tanya Kafa penasaran.
“Em,,, aku,, dari,,, lari pagi,, ya,, aku baru selesai lari pagi.” Jelas Elivia tergagap.
“Kamu berolah raga dengan pakaian seperti itu?”
“Kenapa? Aku nyaman berolah raga seperti ini. Kenapa kamu kesini?"
“Tidak ada, aku hanya ingin menemuimu saja. Ayo kita jalan-jalan.” Ajak Kafa.
“Aduh,, maaf Kafa, hari ini aku tidak bisa. Aku harus kerumah sakit.”
“Kerumah sakit? Kamu sakit?”
“Bukan, bukan aku yang sakit.”
“Tidak perlu, aku biasa pergi sendiri.”
“Hei. Kau tidak boleh menolak bantuan dari orang lain. Terlebih dariku hahahaha..” Elivia hanya geleng-geleng kepala saja.
“Baiklah, terserah kau saja. Tunggu sebentar.”
Setelah mandi dan mengganti pakaian, Elivia diantar kerumah sakit oleh Kafa. Sesampainya dirumah sakit, Elivia langsung menuju kelantai VVIP dimana Arina dirawat. Dia masuk dan tidak menemukan Arina disana. Elivia langsung panik dan berlari keluar. Dia bertanya kepada suster jaga yang ada disana.
“Nona Arina sedang dibawa jalan-jalan ditaman oleh dokternya, Nona.”
Elivia segera pergi ketaman, dia bahkan tidak ingat kalau ada Kafa disana.
“Hei,, hei,, hei,, pelan-pelan El. Nanti kau terjatuh.” Kata Kafa mencoba menghentikan kepanikan Elivia. Dia memegangi lengan Elivia. Gadis itu menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan, mencoba mengusir rasa paniknya.
Kafa menemani Elivia pergi ketaman. Gadis itu mengedarkan pandangannya ke segala arah. Mencari keberadaan Arina.
“Arin!” Teriak Elivia, dia segera menghampiri adiknya itu yang sedang duduk dikursi roda dan memandangi bunga-bunga.
“Kak El?!”
“Aku mencarimu kemana-mana.” Kata Elivia. Dia memeluk Arina dengan hangat. Kafa merasa terenyuh melihat kehangatan itu. Ia bisa melihat kalau Elivia sangatlah menyayangi adiknya.
“Siapa itu, Kak?” Tanya Arin menunjuk kearah Kafa.
“Oh,, iya, perkenalkan, ini Arina, adikku. Arin, ini Kafa, teman kakak.” Arin mengangguk ramah kepada Kafa. Begitu juga dengan Kafa.
“Kamu sedang apa disini?” Tanya Elivia kepada adiknya.
“Sedang melihat ini, Kak,” Arina menunjukkan live streaming dari ponselnya. Itu adalah acara rapat umum pemegang saham yang sedang berlangsung di perusahaan. Elivia melihat Zaydan yang sedang berdiri diatas podium. Kafa sempat melirik sedikit.
“Wah,, dia benar-benar mendapatkannya.” Gumam Kafa.
Elivia, Kafa dan Arina mengobrol lama di taman sampai tidak terasa hari sudah siang. Kafa menawarkan untuk memesan makanan secara online. Kedua gadis itupun menyutujuinya.
Saat sedang menyantap makanannya, ponsel Elivia berdering. Telfon dari Ibu Suri.
“Ya, Nek?” Sapa Elivia.
“Elivia sayang. Kamu dirumah sakit? Jangan terlambat pulang ya, malam ini ada makan malam keluarga dirumah.” Kata Ibu Suri memberitahu.
“Iya Nek, aku akan segera pulang.” Jawab Elivia. Kemudian menutup telfonnya. Disebelahnya, rupanya Kafa juga sedang menerima telfon.
“Maaf Elivia, sepertinya aku harus pergi. Ada urusan penting.” Jelas Kafa.
“Baiklah, trimakasih sudah mengantarku. Hati-hati dijalan ya,,”
Kafa hanya mengangguk dan langsung pergi dari rumah sakit.
“Kakak menyukainya kan?” Tanya Arina tiba-tiba.
“Jangan gila kamu. Itu tidak mungkin.”
“Tapi sepertinya dia menyukaimu Kak. Bagaimana dengan suamimu? Kakak bahkan tidak pernah mengenalkannya padaku. Atau membawanya kemari. Aku hanya bisa melihat wajahnya dari internet.”
“belum saatnya Arin. Lagipula menurutku itu kamu tidak perlu mengenalnya.”
“Kenapa? Karna kalian akan segera berpisah?”
Hufffhhhh,, Elivia menarik nafas panjang.
“Kamu tidak perlu mengenal si kodok itu. Sikapnya saja kasar padaku. Yang ada dia hanya akan mengejekmu saja.” Celetuk Elivia.
“Apa dia seburuk itu?”
“Lebih buruk. Jangan kau fikir, mentang-mentang dia seorang pangeran dia akan memperlakukanmu dengan baik. Dia selalu memanggilku gadis kampungan. Betapa menyebalkannya dia.”
Arin merasa itu semua karna dirinya. Kalau saja keadaannya tidak seperti ini, Elivia tidak akan mengorbankan masa depannya untuk Arina. Dia merasa kasihan dengan Elivia. Kalau seandainya nanti Elivia jadi berpisah dengan Zaydan seperti yang mereka rencanakan. Itu berarti Elivia akan menjadi janda.
“Aku akan baik-baik saja, tidak perlu menghawatirkanku Arin. Kamu fokus saja pada kesembuhanmu, oke?” Kata Elivia mencoba menenangkan Arina yang gelisah.
Saat hari sudah menjelang sore. Elivia mendorong kursi roda adiknya untuk masuk kedalam kamar. Dia harus bergegas pulang ke istana kecil. Seperti pesan Ibu Suri, dia harus menghadiri acara makan malam keluarga.