
Dari balik pilar, Zaydan terus saja memperhatikan sahabat dan istrinya yang sedang duduk berdua di bangku taman. Ia sangat penasaran tentang apa yang mereka bicarakan. Perlahan rasa penasaran itu membuat percikan api cemburu membakar hatinya. Ia tidak tenang melihat pemandangan itu.
Tapi raut wajahnya berubah sumringah saat ia melihat Kafa yang pergi meninggalkan Elivia. Segera ia menghampiri gadis itu dan langsung duduk di sampingnya.
“Apa saja yang kalian bicarakan?” Zaydan langsung bertanya saking penasarannya.
“Aku menjelaskan semuanya kepadanya. Ternyata dia sudah menyiapkan sebuah cincin untukku. Astaga, ternyata masih ada pria romantis begitu.” Seloroh Elivia. Ia sengaja memancing kecemburuan Zaydan.
“Apa? Cincin? Cincin apa? Apa dia berniat melamarmu?” Zaydan benar-benar terpancing.
“Hahahahahahaa.”
“Mulai sekarang, kau kularang untuk dekat dengan pria manapun. Terlebih Kafa.” Sikap over protektive Zaydan muncul. Sebesar itu rasa cemburunya sampai ia mengeluarkan dekrit seperti itu.
“Kenapa jadi aku yang kena imbasnya?” Elivia jadi menyesal karna sudah berani memancing kecemburuan Zaydan.
“Jangan membantah. Atau aku akan menciummu disini.” Ancam Zaydan.
Seketika Elivia langsung menutup mulutnya dengan tangan. Matanya menelisik keadaan di sekitar mereka. Bahaya sekali jika sampai Zaydan benar-benar melakukan itu.
“Ayo kita kembali ke dalam.” Ajak Zaydan.
Elivia menganggukkan kepalanya dan mengikuti Zaydan untuk masuk kedalam ruangan pesta.
Keadaan di sana masih sama. Para wanita dan pria berkelas sedang berkumpul dan membicarakan hobi sampai pekerjaan. Kali ini, Zaydan tidak meninggalkan Elivia sendiri. Ia tetap menemani Elivia sehingga gadis itu tidak merasa sendirian.
Perlahan, Elivia berhasil membawa diri ke dalam suasana pesta. Ia mulai bisa berbaur dengan beberapa tamu yang hadir. Dan itu membuat dia senang bukan main.
Sampai sebuah pemandangan merusak kesenangannya dan membuat Elivia mengerutkan keningnya. Perasaan senang itu berubah menjadi rasa sebal saat ia melihat Sophia yang sednag berjalan bersama dengan Sadila mendekat kearahnya.
“Dan?” Sapa Sadila ramah. Seperti tidak pernah terjadi sesuatu di antara mereka.
“Oh, kau datang?” Zaydan sudah merasa tidak enak. Ia tau kalau itu adalah rencana ibunya yang membawa Sadila ke mari.
Elivia berusaha menunjukkan hormat kepada Sophia. Tapi wanita itu hanya melengos saja seperti tidak menganggap Elivia ada.
Ah, menghadapi tipe mertua seperti Sophia, sangatlah merepotkan. Tapi Elivia harus bertahan. Ia harus memenangkan pertarungan ini. Tekad Elivia dalam hati.
Entah keberanian itu muncul dari mana, Elivia kemudian melingkarkan tangannya di lengan Zaydan. Membuat Sophia dan Sadila terbelalak. Ia sengaja menunjukkan kemesraan itu untuk mengintimidasi keduanya. Elivia berani mengambil resiko walau ia tau Sophia akan semakin membencinya.
“Nenek!” Panggil Elivia saat melihat ibu suri yang sedang berbincang dengan temannya di meja yang tidak jauh darinya. Elivia sangat tau dimana mencari perlindungan di situasi seperti ini. Untung saja ada ibu suri disana.
“Oh, kalian dari mana? Nenek tidak melihat kalian.” Ibu suri yang tau bahwa ada Sophia dan Sadila disana, langsung mendekati Elivia.
“Kami dari luar, Nek. Mencari udara segar.” Zaydan yang menjawab. Kali ini, ibu suri yang bersikap seolah tidak menganggap keberadaan Sadila.
Dua wanita itu, masing-masing punya perlindungannya sendiri. Tapi jelas posisi Elivia yang jauh lebih unggul di bandingkan Sadila. Dan itu membuat Sophia semakin tidak menyukai Elivia. Berani sekali Elivia menunjukkan kemesraan bersama dengan putranya tepat di hadapannya.
“Elivia, bolehkah aku berbicara denganmu sebentar?” Sadila buka suara. Ia mengembangkan senyuman yang nampak seolah menyembunyikan pisau di balik senyumannya itu.
Sadila mengangguk.
“Baiklah.”
Zaydan tidak bisa menghalangi dua wanita itu. Ia khawatir, itu sudah pasti. Tapi ia ingin memberikan Elivia kesempatan untuk membela dirinya di hadapan Sadila. Ia ingin mempercayai kalau gadis itu mampu.
Sadila mengajak Elivia ke tempat sepi di luar ruangan pesta. Wanita itu tetap terlihat anggun bahkan saat dalam kondisi marah sekalipun.
“Bagaimana rasanya? Apa kau senang?”
“Maksud anda?”
“Aku bertanya, apa kau senang karna sudah berhasil mendapatkan perhatian Dan?”
“Apa anda melihatku begitu, Nona?” Jawab Elivia dengan berani.
“Aku hanya ingin memberitahumu ini. Tolong jangan terlalu senang. Karna tidak ada jaminan kalau Dan tidak akan meninggalkanmu seperti apa yang dia lakukan padaku. Cinta? Kau fikir itu adalah kelebihanmu karna merasa Dan mencintaimu? Jangan salah sangka. Dia juga berkata begitu padaku dulu. Tapi lihatlah buktinya, dia bahkan berani meninggalkanku bahkan setelah bertahun-tahun kami bersama.”
“Sebenarnya apa yang ingin anda bicarakan, Nona Sadila? Anda ingin menyuruhku untuk meninggalkan Dan, begitu?”
Sadila menggeleng sambil tersenyum ngeri. “Aku hanya ingin bilang, kalau aku akan memastikan kau menepati janjimu.”
Janji. Ya, Elivia masih punya hutang janji kepada Sadila. Dia pernah mengatakan kepada Sadila kalau wanita itu tidak perlu khawatir tentang hubungannya dengan Zaydan. Tapi sekarang apa? Dia malah merebut Zaydan dari wanita itu. Sungguh melukai harga dirinya. Apa dia masih bisa di bilang punya harga diri setelah merebut kekasih orang?
Setelah berkata begitu, Sadila berbalik dan hendak meninggalkan Elivia. Namun tidak jadi karna wanita itu kembali menatap Elivia.
“Apa kau tahu masa lalu apa yang sedang di sembunyikan oleh Dan? Kau pasti akan terkejut mendengarnya. Ini tentang kedua orang tuamu.”
“Bagaimana anda bisa tau tentang kedua orang tua saya?” Ucapan Sadila sontak membuat Elivia mengerutkan kening. Ia menatap Sadila menuntut jawaban.
“Tidak penting bagaimana aku bisa tau semua itu. Asal kau tahu, penyebab kedua orang tuamu meninggal adalah Dan. Mereka meninggal demi menyelamatkan Dan.”
Sudah, Elivia sudah tidak mampu berkata-kata lagi. Lututnya melemas setelah mendengar penuturan dari Sadila. Ia seperti sedang tertampar oleh sesuatu yang menyakitkan. Tapi tentu, ia tidak serta merta percaya kepada wanita itu. Karna ia bisa membaca gelagat mencurigakan dari Sadila.
“Kalau anda berbicara begitu hanya agar saya menjauhi Dan, anda salah Nona. Saya tidak akan meninggalkan dia jika memang begitu rencana anda.” Elivia mencoba untuk tidak mempedulikan ucapan Sadila.
“Kalau kau tidak percaya, kau bisa bertanya langsung kepada Ibu Suri. Beliau tau segalanya tentang dirimu. Tentang asal usulmu. Dan tentu, beliau sangat tahu bagaimana kedua orang tuamu meninggal. Karna semua ini
adalah rencana Ibu Suri, kan?”
Dengan tersenyum sinis, Sadila kemudian meninggalkan Elivia yang masih mematung. Ia tidak
ingin mempercayai ucapan Sadila. Tapi juga tidak mungkin jika Sadila berbicara omong kosong tanpa memeriksa faktanya terlebih dahulu. Buktinya, wanita itu tahu tentang latar belakangnya.
Jadi apakah benar Zaydan yang menyebabkan kedua orang tuanya meninggal terbawa arus sungai?
Fikiran Elivia sedang di penuhi oleh berbagai macam pertanyaan. Bahkan ia hanya bisa menatap pias kepada Zaydan saat pria itu berjalan mendekat ke arahnya.