
Pagi ini Elivia bangun lebih awal. Ia bahkan sudah berpakaian rapi saat Zaydan baru bangun tidur.
“Sepagi ini kau sudah mau pergi?” Tanya Zaydan dengan suara beratnya.
“Aku tidak ingin terlambat di hari pertamaku bekerja.” Jawab Elivia dengan santai.
“Sama saja. Kita akan pergi bersama.” Zaydan menyibakkan selimutnya kemudian turun dari ranjang.
“Kenapa kita harus pergi bersama? Aku tidak ingin dilihat orang lain saat datang bersama denganmu. Apa yang akan mereka fikirkan nanti?”
Zaydan tidak peduli. Ia terus berjalan masuk kedalam kamar mandi. Meninggalkan Elivia yang mencibir ke arah pintu kamar mandi.
Elivia lebih dulu turun ke bawah untuk sarapan bersama dengan Ibu Suri. Di pertengahan makan, barulah Zaydan muncul dengan sudah
berpakaian lengkap.
“Kalau begitu aku pergi dulu, Nek.” Pamit Elivia kepada Ibu Suri.
Ibu Suri yang terkejut mendapati bahwa ternyata Elivia tidak pergi bersama dengan Zaydan hanya mengernyit saja.
“Kau akan pergi lebih dulu? Bukankah kau pergi bersama dengan Dan?” Tanya Ibu Suri.
Elivia menghentikan langkahnya. Ia tidak ingin membuat Ibu Suri mencurigainya. “Maksudku, aku akan menunggu Dan di depan, iya, di depan. Hehe.” Ujar Elivia pada akhirnya.
Zaydan hanya tersneyum simpul melihat Elivia yang seperti mati kutu di hadapan Ibu Suri. Ia terus menyuapkan sarapannya sambil sesekali tersenyum.
Elivia tidak punya pilihan lain, ia tidak ingin
memperlihatkan hubungan buruknya dengan Zaydan kepada Ibu Suri. Jadilah dia benar-benar menunggu Zaydan di dalam mobil yang sudah di siapkan oleh Lucas.
Tidak berapa lama kemudian, Zaydan datang dan Lucas langsung membukakan pintu mobil untuknya.
Sepanjang perjalanan ke kantor, Elivia memilih tidak banyak bicara. Ia masih kesal karna harus pergi bersama Zaydan. Ia sibuk memikirkan bagaimana jika seseorang melihat ia satu mobil bersama dengan Zaydan.
Sesampainya di kantor, Elivia mengikuti Zaydan turun dari mobil. Beberapa orang yang melihat kedatangan mereka nampak berbisik-bisik.
Membuat Elivia merasa semakin tidak nyaman.
Bahkan di hari pertamannya bekerja di kantor, ia sudah mendapatkan gunjingan yang tidak sedap.
Elivia nampak kebingungan. Apa yang harus dia lakukan? Dia harus kemana? Harus bagaimana?
“Ikuti aku.” Ujar Zaydan kepada Elivia sambil melangkahkan kaki masuk kedalam gedung kantor.
Dengan menundukkan kepalanya, Elivia terus mengikuti langkah kaki Zaydan sampai kedalam kantornya.
“Kau bisa menggunakan meja ini.” Ujar Zaydan kepada Elivia sambil menunjukkan sebuah meja kosong yang masih berada di dalam ruangan Zaydan. Meja itu hanya di pisahkan oleh dinding kaca. Jadi dia bisa melihat dengan jelas jika Zaydan duduk di kursinya.
“Kenapa aku disini?”
“Mulai sekarang kau adalah aistenku. Jadi ini mejamu.”
“Hah? Asisten? Kau bilang aku asistenmu?” Elivia nampak terkejut dengan posisi yang diberikan oleh Zaydan. Ia tidak suka bekerja dekat dengan pria itu. Apalagi satu ruangan dengannya.
“Kenapa? Tidak suka?”
“Bukan, aku fikir kau akan menempatkanku di bagian yang lain.” Elivia jelas menunjukkan kekecewaannya.
“Dengan kualifikasi sepertimu, tidak ada pekerjaan yang cocok selain menjadi asistenku.”
Elivia mendengus kesal. Ia mendudukkan dirinya di kursi dan melirik kepada Zaydan.
“Lantas, apa yang harus aku lakukan?”
“Hah??”
Zaydan tersenyum puas. “Sekarang buatkan aku kopi dengan banyak krim susu, tanpa gula. Jangan terlalu panas, juga jangan terlalu dingin. Hangat-hangat kuku. Dapur ada di seberang tangga. Kau bisa bertanya kepada karyawan lain jika sulit menemukannya.” Perintah pertama Zaydan.
Dan, perbudakan Zaydan pun baru saja di mulai.
Saat itulah Elivia baru menyadari kalau dirinya sedang dikerjai sepenuhnya oleh Zaydan. Ia mendengus kesal sementara Zaydan berjalan menuju ke meja kerjanya dengan senyum kemenangan.
“Huufff...” Elivia meluapkan kekesalannya. Seketika rasa penyesalan karna sudah menerima tawaran Zaydan memenuhi rongga dadanya. Tapi dia sudah tidak punya pilihan lain.
Elivia berjalan menuju ke dapur yang di beritahu oleh Zaydan. Tidak sulit menemukannya karna dia bertanya kepada karyawan lain.
Setelah selesai membuatkan minuman, Elivia kembali masuk ke dalam ruangan Zaydan dan langsung meletakkan gelas berisi kopi pesanan pria
itu.
Zaydan mengernyitkan alisnya menatap kepada Elivia yang berdiri di depannya. Ia meraih gelas itu kemudian mulai menyeruputnya.
Pria itu terbelalak saat minuman itu mengaliri
tenggorokannya. Ia menatap cangkir yang di pegangnya dengan tatapan tidak percaya.
“Kenapa kau bisa membuat persis seperti yang kumau?” Tanya Zaydan heran.
Yang dia lupa adalah bahwa Elivia pernah bekerja di restoran selama bertahun-tahun. Yang tentu saja sangat berpengalaman dalam membuatkan pesanan para pelanggannya. Bahkan yang aneh sekalipun.
Elivia tersenyum bangga. “Kalau begitu saya permisi ke meja saya dulu, Pak. Kalau anda butuh sesuatu, silahkan panggil saya.”
“Hei!” Teriak Zaydan saat Elivia sudah berlalu dari hadapannya.
Elivia tidak jadi melanjutkan langkahnya. Ia berbalik dan menatap kepada Zaydan. “Apa masih ada yang anda butuhkan, Pak?”
“Jangan begitu.” Dengus Zaydan. Membuat Elivia mengernyitkan keningnya.
“Apa maksud Anda?”
“Jangan bicara begitu padaku. Bicara biasa saja.”
“Tapi tadi anda yang menyuruh saya untuk berbicara dengan sopan kepada anda.”
“Iya, tapi aku tidak suka mendengarnya.”
“Lantas apa maumu? Kau mau semua orang menganggapku kurang ajar dan tidak sopan kepada atasan? Kau mau mereka tau hubungan kita?”
Zaydan nampak berfikir sejenak. “Ya sudah. Kalau begitu, bicara sopan padaku saat ada orang lain saja.” Zaydan memilih jalan yang aman bagi mereka berdua.
Elivia menggeleng-gelengkan kepalanya saja. Lantas ia kembali ke mejanya begitu saja.
Sisa hari itu dihabiskan Elivia dengan hanya duduk menganggur menunggu perintah Zaydan. Tapi pria itu seolah mengabaikannya dan tidak pernah memanggilnya. Membuatnya bosan setengah mati. Berkali-kali Elivia mendengus karena saking kesalnya.
Sudah bosan, ditambah bingung mau mengerjakan apa, kondisi sempurna untuk memanggil rasa kantuk. Elivia perlahan tertidur di mejanya dengan bertumpu pada kedua lengan. Ia bahkan sampai tidak menyadari kalau Zaydan sudah lama berdiri di depan mejanya dan terus memperhatikan wajahnya lekat.
“Bisa-bisanya dia tertidur di saat begini?” Lirih Zaydan.
Tanpa dikomando, jari jemarinya bahkan berani menyingkirkan rambut yang tergerai di wajah gadis itu. Jari telunjuknya berhenti tepat di ujung hidung Elivia. Membuatnya gemas setengah mati seakan ingin menggigit hidung itu.
Tapi kali ini Zaydan berhasil mengendalikan dirinya. Ia sudah tidak ingin terlihat bodoh lagi di depan Elivia. Apalagi kalau sampai tiba-tiba dia menciumnya, Elivia bisa berang setengah mati. Apalagi sampai di anggap menodai bibir gadis itu lagi.
Akhirnya Zaydan memutuskan untuk kembali ke mejanya dan melanjutkan tugasnya. Walaupun matanya selalu melirik ke arah Elivia saat ia sedang bekerja.
Elivia benar-benar sedang bermimpi indah. Dia tertidur lama sekali karna semalam dia tidur hanya sebentar saja.