DAN, Love Me Or Hate Me

DAN, Love Me Or Hate Me
Aku Akan Tidur Disini.



Didalam kamar, Zaydan melemparkan jasnya ke sembarang arah. Entah kenapa, perasaan marah memenuhi hatinya. Setelah mandi dan berganti pakaian, dia turun kelantai bawah untuk makan malam. Dia melewati Ibu Suri yang sedang menoton tv.


“Kenapa dengan wajahmu?” Tanya Ibu Suri.


“Tidak apa-apa, Nek.” Zaydan ikut duduk di sofa didekat neneknya. Dia tidak jadi makan.


“Dimana istrimu?”


“Tidak tau, mungkin dia pulang ke kosnya,”


“Kamu ini bagimana sih? Sama sekali tidak perhatian dengan istri. Harusnya kamu jemput dia dan bawa dia pulang kesini.”


“Nek,, Dan juga banyak kerjaan. Tidak mungkin terus menerus mengawasinya.”


Ibu Suri hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Selama satu bulan ini dia membiarkan cucunya itu agar bisa lebih dekat dengan Elivia dengan sendirinya. Tapi ternyata tidak berhasil. Sepertinya dia harus mulai bertindak.


“Besok kita akan ke Istana Besar. Nenek berencana mengenalkan Elivia kepada kerabat-kerabat kita.”


“Nek.! Kenapa tiba-tiba ingin mengenalkannya? Bukankah dia sudah mengajukan syarat untuk tidak memberitahu publik tentang pernikahan kami?”


“Hanya dengan kerabat. Mereka tau bagaimana untuk menjaga mulut.”


“Apa Nenek sudah memberitahunya?”


“Belum. Nenek akan memberitahunya nanti setelah dia pulang.”


“Terserah Nenek saja.” Zaydan benar-benar tidak bisa membantah Ibu Suri.


Elivia sudah sampi ke Istana Kecil. Dia disambut oleh pelayan yang membungkukkan badan kepadanya. Elivia sangat risih dengan sikap


itu.


“Yang Mulia Ibu Suri sedang menunggu anda, Nona. Mari,,,” kata salah seorang pelayan wanita. Eliviapun segera mengikuti pelayan itu ketempat Ibu Suri berada. Dia melihat Zaydan yang juga ada disana.


“Nek,,” panggil Elivia. Ibu Suri yang sedang serius menonton drama di tv pun langsung melihatnya.


“El..! Kamu sudah pulang? Sini, duduk,,” kata Ibu Suri menepuk sofa kosong yang ada disebelahnya. Eliviapun segera duduk disana.


“Ada apa nek?”


"El, besok akan ada acara di Istana Besar. Semua keluarga besar kita akan hadir. Nenek harap kamu juga bisa hadir.”


“Tapi nek, kenapa El harus hadir?”


“Kamu itu istrinya Dan, jadi kamu harus hadir.”


“El harus bekerja nek.”


“Minta libur saja. Atau nenek yang akan memintakan kamu ijin libur?”


Ha? Bisa bahaya kalau sampai Ibu Suri yang memintakan ijin liburnya.


“Tidak usah nek. Baiklah, aku akan datang nek.”


“Kamu dengar itu Dan? Kalian harus datang bersama. Awas kalau datang sendiri-sendiri.” Ancam Ibu Suri. Dengan tanpa merasa bersalah dia bangkit dan meninggalkan cucu dan cucu menantunya itu.


Elivia memandang kearah Zaydan yang sedang memakan cemilan sambil menatap ke layar tv.


“Yang Mulia, seharusnya anda menolaknya. Kenapa anda malah diam saja.?”


“Apa kamu pernah melihatku menentang perkataan nenek?”


Ya mana Elivia tau. Gadis itu mendengus kesal. Lalu pergi meninggalkan zaydan dan masuk kedalam kamar.


“Apa kamu sedang memakiku?” Tanya Zaydan tiba-tiba. Dia sudah berdiri di pintu kamar. Membuat Elivia terkejut. Dia bangun dan duduk, melihat kearah Zaydan dengan kesal.


“Benar kan? Kamu sedang memakiku kan?” Tanya Zaydan memastikan pendengarannya.


“Tidak, Yang Mulia. Mana mungkin saya berani memaki Yang Mulia Pangeran Dan.” Kata Elivia. Ada nada sinis disana.


Zaydan melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar. Dia masih memegang plastik bungkus camilannya dan terus mengunyahnya. Dia melongokkan kepalanya kesofa, dia melihat tubuh Elivia yang sudah tertutupi selimut. Bahkan sehelai rambutnya pun tak nampak.


“Malam ini aku akan tidur disini.” Ucap Zaydan. Membuat Elivia sontak bangun dan menatap kearah pria itu.


“Tidur disini? Kenapa?!” Elivia terkejut. Tidak pernah-pernahnya Zaydan tidur dikamar ini sejak ada dirinya.


“Kenapa? Ini kamarku.!” Kata Zaydan berjalan keruang ganti untuk mengganti pakaiannya dengan piyama tidur.


“Iya, saya tau ini kamar anda. Tapi kan saya juga ada disini Yang Mulia.!” Kata Elivia tidak terima. Ogah banget dia kalau harus tidur sekamar dengan si kodok itu.


“Iya, terus kenapa? Apa masalahnya?” Zaydan keluar dari ruang ganti dan berjalan menuju ranjang.


“Apa kata orang nanti kalau mereka tau kita tidur satu kamar?!”


“Memangnya kenapa? Apa yang akan mereka katakan? Kita ini suami istri. Apa kamu lupa?”


Hah.! Sejak kapan dia begitu serius menganggap pernikahan ini? Batin Elivia


Elivia hanya terdiam. Dia tidak menyangkal kenyataan itu. Yang dikatakan Zaydan adalah benar. Mereka suami istri. Walaupun bukan pasangan suami istri yang normal seperti orang lain. Elivia menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan kesal. Dia kembali menarik selimut dan menutupi tubuhnya.


Zaydan sibuk dengan ponselnya. Beberapa kali terdengar pesan masuk, tapi tidak dipedulikannya. Pesan dari Sadila. Hari ini dia sedang malas meladeni kekasihnya itu.


“Hei... Apa kamu sudah tidur?” Tanyanya. Suaranya sangat pelan sehingga hanya dirinya sendiri yang mendengarnya.


“Hei,, sudah tidur?” Kali ini dia mengucapkannya dengan agak keras. Tapi Elivia tidak menyahut, gadis itu benar-benar sudah terlelap. Zaydan memutskan untuk memejamkan matanya.


Elivia sedang bermimpi indah. Mimpi tentang kedua orang tuanya. Sosok yang sangat dia rindukan.  Samar terdengar suara nafas yang sedang memburu. Seperti suara seseorang yang sedang kelelahan. Elivia mencoba membiarkannya dan berusaha melanjutkan mimpinya. Tapi suara itu semakin keras dan semakin keras.


Dia mengibaskan selimutnya dengan kasar. Menoleh kearah sumber suara. Dia melihat Zaydan yang tengah gelisah. Menoleh kekiri dan kekanan, tangannya mencengkeram selimutnya dengan keras. Perlahan Elivia bangun dan mendekati Zaydan. Dia melihat keringat yang membanjiri sekujur tubuhnya.


“Yang Mulia,,” panggilnya. Tapi Zaydan tidak merespon.


“Yang Mulia,,” panggilnya lagi. Zaydan tetap tidak merespon.


“Yang Mulia.!” Kali ini Elivia menggoncang tubuh Zaydan. Karna jaraknya yang sangat dekat dengan Zaydan, dia merasakan hawa yang sangat panas dari tubuh pria itu


“Yang Mulia, Anda kenapa?” Tanya Elivia, dia berubah menjadi panik. Dia terus menggoncang-goncangkan tubuh Zaydan yang tengah menggigil.


“Ttoo,,tolong aku,,, tolong aku,,,!!” Zaydan mulai meracau. Dia gelagapan seperti sedang didalam air. Tangannya memengang lehernya dengan kuat.


Elivia yang melihat itu langsung berusaha menarik tangan Zaydan dari lehernya. Tapi cengkeraman tangan pria itu lebih kuat dari tenaga Elivia yang kesadaranya belum kembali seutuhnya dari alam mimpi. Elivia sangat panik melihat Zaydan yang sudah hampir kehabisan nafas. Dia segera berdiri dan hendak keluar dari kamar. Dia hendak memanggil siapapun yang ada disana.


Sebuah cengkeraman menghentikan langkah Elivia. Zaydan mencengkeram lengan Elivia dengan kuat. Membuat gadis itu menghentikan langkahnya dan menoleh.


“To,, lo,, ng aku,,” kata Zaydan lagi. Matanya masih terpejam.


“Yang Mulia, anda kenapa? Bangunlah Yang Mulia!!” Elivia hendak melepaskan tangannya tapi tidak bisa. Karna Zaydan terus menggenggam tangannya dengan kuat. Akhirnya Elivia membiarkan Zaydan terus menggenggam tangannya.


Perlahan Zaydan mulai tenang, tapi terus saja menggenggam tangan Elivia. Gadis itu meraih handuk kecil yang ada didekat meja lampu, dan mengusap peluh yang membasahi wajah Zaydan. Dia memandangi wajah pucat itu dalam-dalam.


“Anda sedang bermimpi apa Yang Mulia? Kenapa anda nampak sangat ketakutan?” Lirih Elivia.


Rasa kantuk Elivia mulai datang kembali. Dia tidak bisa memaksa matanya untuk terus terbuka. Akhirnya dia terlelap dipinggir ranjang dengan tangan yang masih digenggam oleh Zaydan. Sedangkan tubuhnya terduduk dilantai.