
Mengalihkan fikiran sebelum memulai pertempuran yang sebenarnya, itulah yang sedang di lakukan oleh Zaydan. Tapi Elivia tidak tau akan hal itu. Pria itu bahkan tidak mengaktifkan ponselnya sama sekali seharian penuh. Sejak ia mendapat telfon dari ibunya tadi pagi walaupun dia tidak mengangkatnya.
“Hai.” Sapa seorang pria berkulit putih yang nampak seumuran dengan Zaydan. Pria itu baru saja membuka pintu dan menutupnya kemudian duduk di hadapan Zaydan dan Elivia. “Maaf menunggu lama. Kapan kau datang?” Imbuh pria itu.
“Aku sudah beberapa hari disini.” Jelas Zaydan.
Elivia masih terpaku menatap pria teman Zaydan itu. Wajah familiar itu, Elivia masih mengingatnya dengan jelas.
“Abil?” Lirih Elivia. Ia tetap menatap kepada pria itu.
Pria yang mengenakan kaca mata itu mengernyitkan keningnya. Berusaha mengingat wajah Elivia.
“El? Kau kah itu?” Tanya Abil tidak percaya.
“Iya, ini aku, Elivia.”
“Astaga! Aku tidak percaya. Ternyata kau Elivia?!” Abil mengulurkan tangan yang segera di sambut oleh Elivia.
Sementara Zaydan hanya bengong saja. Ia tidak mengerti kenapa temannya bisa mengenal Elivia.
“Kalian saling kenal?” Tanya Zaydan penuh kecurigaan.
“Tentu saja. Elivia adalah mantan kekasihku saat masih di sekolah.” Jelas Abil sambil tertawa. Ia tidak menyadari jika ada pria yang terkejut sampai membelalakkan matanya karna dia terus fokus kepada Elivia.
“Apa?!!!” Pekik Zaydan. Ia bahkan sampai berdiri dan melotot kepada Abil dan Elivia.
“Tapi, bagaimana bisa kau datang dengan Zaydan?” Tanya Abil kepada Elivia. Ia benar-benar tidak peduli dengan keterkejutan yang sedang di rasakan oleh Zaydan.
“Dia istriku!” Tegas Zaydan kemudian duduk kembali di samping Elivia.
“Apa?!!” Kali ini Abil yang terkejut bukan main. Yang ia tau, kekasih Zaydan adalah Sadila, kenapa jadi Elivia yang jadi istrinya? Dia bahkan tidak pernah mendengar kabar apapun mengenai pernikahan Zaydan dan Elivia.
“Ceritanya panjang.” Jelas Elivia singkat. Ia hampir tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi zadyan yang nampak tidak suka saat mendapati kenyataan kalau ternyata istrinya adalah mantan dari temannya sendiri.
“Astaga. Aku tidak percaya ini. Tapi ngomong-ngomong, selamat atas pernikahan kalian. Nanti aku akan mengirimkan kado sebagi ucapan selamat dariku.” Janji Abil.
“Tidak perlu.” Hardik Zaydan.
“Ada apa denganmu? Apa kau sedang cemburu karna aku merupakan mantan kekasih dari istrimu?” Seloroh Abil. Ia sedang menahan tawa.
“Diam kau. Sialan.” Dengus Zaydan.
Abil dan Elivia kompak tertawa dengan tingkah Zaydan itu.
“Jadi, bagaimana rasanya menikah dengan seorang Zaydan, El?”
“Tidak mudah seperti perkiranku. Menikah dengan pria sempurna sepertinya sangat tidak mudah.” Seloroh Elivia. Ia mendapat lirikan dari Zaydan, tapi ia tidak peduli.
“Sempurna?” Tanya Abil.
“Tentu saja. Aku baru tahu kalau tidak ada yang tidak bisa di lakukan oleh dan. Dia mahir berbagai macam bahasa. Mahir dalam olah raga apapun. Aku rasa tidak ada yang tidak bisa dilakukan olehnya. Perbedaan kami sangat jauh.” Celetuk Elivia.
“Tapi ada satu hal yang tidak bisa dia lakukan.”
“Hei! Kalian membicarakanku sementara aku ada disini? Yang benar saja.” Zaydan kembali mendengus.
“Apa itu?” Desak Elivia. Ia tidak sabar untuk mengetahui kelemahan dari Zaydan.
“Awas kalau kau sampai memberitahunya.” Ancam Zaydan.
Tapi Abil tidak peduli. Ia semakin suka melihat Zaydan merasa terpojok seperti itu.
“Cepat beritahu aku.” Elivia kembali mendesak Abil untuk memberitahu kelemahan Zaydan.
“Berenang. Dan itu tidak bisa berenang.” Jawab Abil dengan nada puas.
“Sialan kau.” Zaydan melempar Abil dengan kacang yang ada di atas meja.
“Benarkah itu?” Elivia menatap Zaydan meminta jawaban.
“Waahh, ternyata dari sekian banyak perbedaan kita, ada satu persamaan. Aku juga tidak bisa berenang.” Jelas Elivia kemudian.
Zaydan hanya menatap Elivia pias kemudian tersenyum. “Tidak apa-apa. Kalau kau tenggelam, aku akan menyuruh Lucas menyelamatkanmu.”
Plak!
Sebuah pukulan dari Elivia berhasil mendarat di lengan Zaydan.
Hahahahahaha.
Selebihnya, mereka mengobrol ringan tentang apa saja. Sampai tidak terasa kalau malam sudah hampir larut dan zadyan harus kembali ke hotel.
“Kalau tau Abil itu mantan kekasihmu, aku tidak akan sudi membawamu kesana.” Dengus Zaydan sambil mengemudikan mobil menuju ke hotel tempat mereka menginap.
“Hahahahah. Apa kau sedang cemburu dengan temanmu?”
“Sama halnya saat kau cemburu melihatku bersama dengan Sadila. Aku juga cemburu melihatmu bertemu dengan Abil.”
“Hubungan kami sudah lama berakhir. Sedangkan hubunganmu dengan Sadila baru saja berakhir.”
Zaydan terdiam. Ia tidak bisa menampik kenyataan itu. Membahas masalah Sadila membuat suasana menjadi canggung untuk keduanya. Dan Zaydan tidak suka itu.
“Tapi aku benar-benar tidak menyangka kalau kau ternyata tidak mahir berenang. Bukankah kau punya kehidupan yang sempurna sebagai seorang pangeran? Kenapa sampai tidak bisa berenang?”
“Karna aku takut.”
“Takut?”
“Ya. Karna aku takut dengan air yang banyak. Aku pernah hampir tenggelam saat masih kecil. Dan sampai sekarang aku masih trauma.”
“Ah, apa karna itu juga di istana tidak ada kolam renang?”
Zaydan mengangguk. “Kalau kau? Kenapa tidak bisa berenang? Apa kau juga takut?”
“Tidak. Aku bukan takut. Tapi aku membenci air. Terlebih sungai. Karna sungai telah membuatku kehilangan kedua orang tuaku. Sehingga aku harus menjalani kehidupan berat seperti ini. Walaupun itu sudah kehendak takdir, tapi aku tetap membenci sungai.”
Penjelasan yang langsung menusuk kedalam jantung Zaydan. Seketika ia merasa takut jika Elivia tau kenyataan kalau ialah yang menyebabkan kedua orang tua Elivia meninggal. Ia takut gadis itu akan meninggalkannya dan membencinya. Gadis itu pasti akan menyalahkannya atas semuanya.
“Dan, awas!” Pekik Elivia sambil menunjuk ke arah depan.
Seketika Zaydan menginjak pedal rem dengan sangat kuat. Sementara satu lengannya melindungi tubuh Elivia agar gadis itu tidak terbentur dashboard.
Tadi Zaydan sempat melamun dan fikirannya terbang ke masa lalu. Mengingat setiap kejadian saat ia hampir tenggelam. Maka dari itu ia tidak sadar jika ada seorang pengendara motor yang ada di hadapan mereka di jalanan yang sepi dan hampir menabraknya.
Pria yang hampir di tabrak oleh Zaydan hanya melengos saja kemudian kembali melajukan sepeda motornya walau sempat berhenti sejenak. Sementara mobil Zaydan berhenti tepat saat ban mobil menyentuh trotoar.
“Kau tidak apa-apa?” Tanya Zaydan panik. Ia meneliti wajah Elivia kemudian melepas sabuk pengamannya dan langsung memeluk Elivia dengan sangat erat. Elivia bahkan sampai terkejut di buatnya. “Maaafkan aku. Aku yang salah.”
“Dan? Aku tidak apa-apa.”
Tapi yang terjadi selanjutnya adalah, Zaydan malah terisak di balik bahu Elivia. Elivia fikir itu karna Zaydan hampir membahayakan nyawanya.
“Maafkan aku. Aku sungguh minta maaf. Hiks, hiks.”
“Dan, aku tidak apa-apa. Sungguh.”
Elivia masih bingung kenapa Zaydan bisa sampai terisak seperti itu hanya karna mereka hampir kecelakaan. Padahal penyesalan Zaydan bukan di sebabkan oleh hal itu.
*****
kok tiba-tiba Mak kefikiran ini ya, kalian pernah gak sih suka sama seseorang yang udah milik orang lain? teman kampus? tetangga? rekan kerja? teman sekelas?
atau kalian pernah gak sih kagum sama orang yang baru pertama kalian temui tapi orang itu udah punya gandengan? kalo Mak, pernah!
hahahahahahahahahahahahahahhahhahaha.