
Hujan deras sedang mengguyur seluruh kota. Malam ini, Elivia terpaksa harus pulang ke Istana Kecil. Karna besok dia sudah mulai bekerja di perusahaan Zaydan. Ia tidak ingin terlambat di hari pertamanya bekerja.
Selama hampir satu minggu ini, Elivia sama sekali tidak pernah pulang ke Istana Kecil demi fokus menemani adiknya. Dia bahkan juga tidak tau kalau selama dia tidak ada di istana, Zaydan lebih memilih untuk menginap di hotel.
Elivia yang tidak membawa payung hanya bisa menunggu hujan reda di halte yang terletak di depan istana. Tubuhnya bahkan sudah menggigil karna malam sudah semakin larut. Ingin ia nekat dan menembus hujan, tapi ia masih menyayangi dirinya sendiri. Ia tidak ingin sakit di hari pertamanya bekerja.
Kendaraan yang berlalu lalang semakin sepi. Elivia melirik jam di ponselnya yang ternyata sudah hampir jam sebelas malam. Tapi hujan belum juga menunjukkan tanda-tanda akan mereda.
Sebuah ide muncul di benak Elivia, ia harus menghubungi Widya atau siapapun untuk membawakannya payung. Untung saja ia punya nomor Widya. Sebenarnya dia juga bisa meminta tolong kepada Zaydan, tapi harga dirinya tidak membiarkannya melakukan itu.
Elivia mengirimkan pesan teks kepada Widya dan memintanya untuk menjemputnya di halte didepan istana.
Lama sekali Elivia menunggu, tapi Widya tak kunjung datang. Elivia berfikir mungkin Widya sedang sibuk atau tidak membaca pesannya.
Sangat tidak mungkin untuk Elivia menunggu lebih lama. Hari semakin larut dan dia sedang kedinginan.
Akhirnya dengan menggunakan tas kecilnya sebagai pelindung kepala, Elivia nekat menerobos hujan demi sampai di istana.
Ia sedang berdiri di depan gerbang menunggu gerbang itu dibuka. Tubuhnya sudah lumayan basah karna hujan memang turun lumayan deras.
Saat gerbang terbuka, Elivia segera melangkahkan kakinya masuk. Tapi kemudian dia menghentikan langkahnya saat tiba-tiba seseorang berhenti tepat di depannya.
Zaydan sedang memayungi Elivia dengan tatapan marah.
“Kau ini! Tidak bisa apa menunggu sedikit lebih lama? Kenapa nekat sekali? Lihat kau sampai basah kuyup begitu!” Ujar Zaydan. Ia tidak tau kalau hati Elivia sempat berdesir karna kemunculannya itu.
“Kenapa kau ada disini?” Tanya Elivia berusaha mengendalikan hatinya.
“Sudah, jangan banyak tanya. Ayo.” Zaydan langsung mendekap bahu Elivia untuk mendekatkan tubuh gadis itu agar tidak terkena air hujan. Mereka berlindung dibawah satu payung sampai ke istana.
“Terimakasih.” Ujar Elivia lirih saat mereka sudah sampai di istana. Ia mengibas-ngibaskan bajunya yang basah dengan tangannya.
“Cepat mandi dan ganti pakaianmu.”Perintah Zaydan.
“Aku tau. Tidak perlu memberitahuku.” Dengus Elivia kemudian ngeloyor meninggalkan Zaydan lebih dulu.
Setengah jam kemudian, Elivia sudah kembali dengan sudah mengganti pakaiannya. Ia merasa sangat lapar. Jadi ia terus menuju ke dapur untuk makan.
Salah seorang pelayan yang sedang berada di dapur langsung melayani Elivia. “Apa Nenek sudah tidur?” Tanya Elivia kepada pelayan itu.
“Belum, Nona. Ibu Suri sedang mengobrol besama dengan Pangeran Dan.” Jawab pelayan itu.
Elivia ingin bergabung dengan mereka. Sudah beberapa hari dia tidak bertemu dengan Ibu Suri. Jadilah dia mempercepat makannya dan segera berjalan ke ruang santai tempat dimana biasanya Ibu Suri berada.
“Oh, El! Kau sudah pulang? Sudah makan?” Tanya Ibu Suri.
“Sudah, Nek. Aku baru saja selesai makan.” Jawab Elivia. Ia mengambil duduk di sebelah Ibu Suri.
“Jadi, bagaimana keadaan Arina? Apa dia baik-baik saja?”
“Sudah jauh lebih baik, Nek. Berkat perhatian Nenek.”
“Syukurlah. Aku ingin sekali menjenguknya, tapi aku masih belum punya waktu.”
“Tidak apa-apa, Nek. Arina pasti mengerti.”
Mereka melanjutkannya dengan obrolan ringan seputar Arina. Elivia menceritakan detail perkembangan adiknya itu kepada Ibu Suri.
Zaydan nampak tidak peduli. Ia terus fokus dengan ponselnya. Padahal dia sedang duduk di hadapan Elivia dan Ibu Suri.
“Dan, Nenek rasa sudah waktunya untuk memanggil ibumu.” Ujar Ibu Suri tiba-tiba.
Ucapan itu berhasil menarik perhatian Zaydan. Ia menaruh ponselnya di atas meja dan fokus memandang kepada neneknya. Zaydan tersenyum senang. Ia sangat tahu sifat neneknya itu, walaupun berkali-kali ia mengusir menantunya itu dari istana, tapi tidak berapa lama kemudian ia akan memanggilnya kembali jika kemarahannya sudah mereda.
“Baiklah, Nek. Besok aku akan mengabari Mama.” Ujar Zaydan sumringah. Sekilas ia melirik kepada Elivia yang sedang sibuk mengunyah buah.
Elivia sudah berkali-kali menguap, tapi ia masih enggan untuk beranjak dari tempat duduknya. Ia masih merindukan Ibu Suri.
“Bukankah besok kau sudah bekerja?” Tanya Ibu Suri.
“Iya, Nek.”
“Kalau begitu tidurlah.”
“Baiklah, Nek. Kalau begitu aku akan ke kamar dulu.” Pamit Elivia.
Sepeninggalnya Elivia, Ibu Suri memberikan wejangan penting kepada Zaydan.
“Dan, perlakukan dia dengan baik di kantor. Kalau bisa jauhkan dia dari Sadila.”
Zaydan agak terkejut mendapati kalau neneknya sudah tau perihal Sadila yang bekerja di kantornya. Padahal dia tidak pernah memberi tahu Ibu Suri.
“Baik, Nek.”
“Sudah, cepat sana tidur.”
Zaydan menyeret kakinya pergi dan menuju ke kamarnya. Sesampainya disana, Zaydan mengernyitkan keningnya mendapati Elivia yang sudah bersiap untuk tidur di sofa. Gadis itu nampak mebolak-balikkan bantal untuk mencari sesuatu.
“Kau sedang apa?” Tanya Zaydan.
“Dan, apa kau melihat foto yang biasa ku letakkan disini?” Tanya Elivia menunjuk ke bawah bantal.
“foto?”
Elivia mengangguk. “Foto kedua orang tuaku.”
Zaydan berjalan mendekati nakas dan membuka lacinya. Ia mengambil foto yang waktu itu sempat di jatuhkan oleh Elivia dan menyimpannya.
“ini?” Ujar Zaydan sambil menyodorkan lembaran foto yang telah usang.
Elivia langsung menyerobot foto itu dari tangan Zaydan. Ia bisa bernafas dengan lega. Sebelumnya ia sempat berfikir kalau ia sudah kehilangan foto itu.
“Terimakasih. Dimana kau menemukannya?”
“Dilantai. Aku kira sudah tidak terpakai. Hampir saja aku membuangnya.” Seloroh Zaydan.
“Enak saja dibuang. Ini adalah benda yang sangat penting untukku.” Ujar Elivia sambil menaruh foto itu di bawah bantal, kemudian memposisikan dirinya untuk tidur.
“Apa yang kau lakukan? Kenapa tidak tidur disini?” Tanya Zaydan meminta Elivia untuk tidur di ranjang.
Gadis itu nampak berfikir sejenak. Kemudian ia bangun dan berpindah ke ranjang. Tidak lupa Elivia mengenakan masker untuk menutupi
mulutnya.
“Kenapa memakai masker?” Tanya Zaydan heran.
“Aku tidak ingin kau hilang kendali dan menodai kesucian bibirku.”
Zaydan ternganga. Tidak habis fikir dengan fikiran konyol Elivia
“Apa? Menodai kesucian bibirmu?!”
“Sudah. Jangan ganggu aku. Aku lelah dan ingin istirahat.”
Elivia berkata seperti itu dan langsung menutup matanya. Membelakangi Zaydan yang berdiri di sisi sebelahnya.
“Wahhhh.... Wahhh..... Waaaahhh,,,” Zaydan sampai kehabisan kata-katanya. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Harga dirinya merasa ternodai mendengar ucapan Elivia.
Sedangkan Elivia tidak peduli. Ia tetap melanjutkan untuk menjemput mimpinya.